
Sherly tampak merenung di dekat jendela kamarnya. Ya, hari ini dia sudah di perbolehkan pulang ke rumahnya. Namundia tak pulang ke rumah milik Zidane, tetapi pulang ke rumah Grisheld karena ayah dan kakaknya khawatir dengan keadaannya.
Sedangkan Zidane, dia belum di perbolehkan pulang sebab kondisinya masih belum stabil. Dia juga harus melakukan beberapa pemeriksaan dan melakukan terapi untuk kedua kaki dan tangan kirinya.
"Hai beib, apa kabar lu?" Dika datang di susul Iren sang istri yang menuntun putri kecil mereka, Maharani.
Sherly menoleh ke arah sumber suara. Dia tersenyum setelah melihat siapa yang datang.
"Cantiknya aunty. Apa kabar sayang?"Degan gemasnya Sherly menciumi pipi putri kecil itu.
"Baik aunty. Aunty apa kabarnya hari ini?" Iren menjawab pertanyaan Sherly dengan menirukan suara anak kecil.
"Aunty tidak baik hari ini." Ucapnya dengan malas sambil menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Dika yang melihat ekspresi wajah sedih Sherly pun langsung menghampirinya dan tidur menyamping menghadapnya.
"Lu kenapa males gitu sih, beib? Apa karna suami lu belum boleh balik ke rumah?"
Sherly menoleh ke arah Dika, kemudian melirik Iren yang sedang duduk di sofa dengan memangku putri mereka.
"Kenapa kalian gak berterus terang sama gue, kalau gue keguguran sih!" Ucap Sherly dengan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. "Gue kecewa sama kalian."
Dika yang terkejut langsung bangkit dari tidurnya kemudian menatap istrinya yang sama halnya seperti dirinya.
"E-elu tau darimana?"
Isak tangis pun pecah, Sherly bangkit dan duduk dengan mengusap wajahnya.
"Gue kira tuhan bakal nyelamatin anak gue setelah tuhan membawa Zidane kembali ke sisi gue! Tapi, kenapa tuhan mengambilnya?"
Dika langsung memeluk Sherly dari samping untuk menyemangatinya. "Sabar, beib. Ini semua sudah takdirnya. Mungkin tuhan mempunyai rencana lain di balik peristiwa ini. Gue yakin, kalian pasti bakal punya anak lagi!"
"Kapan itu, Dik? Kalian sudah punya anak, bahkan Iren sedang hamil lagi. Sedangkan gue? Baru sekarang gue tahu dan merasakan apa itu kehamilan, tapi tuhan mengambilnya lagi. Apa tuhan membenci gue? Hiks ... hiks!"
"Elu jangan berbicara seperti itu, Sher! Elu harus kuat dan sabar. Kita yakin elu bakal jadi seorang ibu. Jika elu rapuh seperti ini, bagaimana dengan Zidane? Pasti dia sangat sedih dan merasa bersalah atas kejadian ini. Dia pasti akan menyalahkan dirinya!" Lanjut Iren.
"Benar kata Iren, Sher. Jika suami lu tau kalau lu terpuruk seperti ini, gimana dengan reaksi Zidane?"
Mereka menoleh ke arah dua orang lelaki tampan yang baru masuk ke kamar Sherly.
Keduanya duduk di samping Sherly dan merangkul bahu sahabat kecilnya itu seperti biasa.
"Elu pasti bisa melewati cobaan ini. Kita yakin itu!"
Ketiga pria tampan itu kemudian memeluk Sherly yang masih terisak karena kesedihannya.
"Gue beruntung punya kalian. Thank you so much, gaes! Kalian adalah sahabat terbaik yang gue punya." Kata Sherly dengan lirih.
__ADS_1
Mereka tersenyum dengan mengelus kepala Sherly lembut. "Kita yang beruntung punya sahabat seperti lu yang selalu menolong kita walaupun lu menderita."
"Iya Sher. Gue jadi merasa bersalah banget sama lu. Mungkin kalau waktu itu lu gak dateng ke rumah baru kita, lu gak akan di culik si Hendri!" Ujar Iren sedih.
Sherly menatap Iren, tak lama kemudian dia tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Enggak, Ren. Ini semua bukan salah kalian! Hendri memang terus mencari kelengahan gue dan sayangnya gue gak sadar akan hal itu. Gue juga udah minta maaf sama Zidane tentang ini."
"Jadi, lu udah maafin kita?" Sherly mengangguk dengan pertanyaan Iren. "Makasih ya, Sher!"
"Emh, Sher. Lu tau dari mana kalau bayi dalam kandungan lu ...?"
Sherly menoleh ke arah Geri, "Kalian jahat. Kalian gak mau ngasih tau berita ini, dan gue malah tau dari orang lain!"
Keempat sahabatnya saling menatap satu sama lain. "Siapa?"
Sebelum menjawab pertanyaan And the genk, Sherly menghela nafas panjang kemudian tertunduk lesu.
"Semalam si Prita nelpon gue. Dia bilang kalo gue harus ninggalin Zidane karena gue tak bisa menjaga amanah darinya. Gue juga udah membuat paman dan keponakan saling membunuh. Gue orang yang paling bersalah dan bertanggung jawab dengan masalah ini!"
Keempatnya tercengang mendengar penjelasan Sherly. Mereka tak menyangka jika wanita ular itu akan mengatakan dan memprovokasi Sherly.
"Kurang ajar tuh si Prita. Dia gak tahu apa kalau ini semua terjadi karena keserakahan pacarnya? Udah lah, Sher. Lu jangan terpancing omongan si jal*ng itu!"
Indra sangat kesal mendengar cerita Sherly, kalau Prita bisa mengatakan itu padanya.
"Bener kata Indra, Sher. Ini semua bukan salah lu kok! Hendri terlalu terobsesi sama lu dan kekuatan lu. Si Prita pasti cemburu karena kedua lelaki yang di cintainya malah mencintai lu, bukan dia! Jadi, lu gak usah mikirin ini semua lagi, oke!" Timpal Geri.
"Udah lah, beib. Dari pada lu mikirin hal seperti itu, lebih baik kita ke rumah sakit buat jenguk suami lu. Gimana?" Ucap Dika mengalihkan.
Sherly pun langsung setuju dan beranjak dari duduknya, kemudian mengambil baju ganti dan jaketnya.
Sebelum ia masuk kedalam ruang ganti, ia bertanya kepada sahabatnya yang masih setia duduk di tepian ranjang miliknya.
"Elu bawa motor apa mobil?" Entah Sherly bertanya kepada siapa, yang penting sahabatnya pada ngerti.
Ketiga pria tampan sahabatnya saling melirik, kemudian mata mereka tertuju kepada Iren yang sedari tadi duduk anteng menggendong putri kecil mereka yang sudah tertidur pulas.
"Ya sudah, aku pulang naik taksi saja! Antarkan dia ke rumah sakit untuk bertemu suaminya."
Iren yang mengerti akan tatapan mata ketiga pria tampan di hadapannya, ia pun berdiri sambil menggendong Rani, putrinya dengan Dika.
Dika mengambil alih Rani dari gendongan istrinya. "Gue cariin dulu taksi buat mereka, sekalian gue tunggu kalian di bawah." Kata Dika.
Keduanya hanya menunjukkan jari telunjuk dan jempol yang di bentuk huruf O menandakan kata Oke!
Beberapa menit kemudian, Sherly keluar dengan gaya santai dan cerianya seperti biasa.
"Kalo gue pake baju gini, Zidane semangat dong!" Kedua sahabatnya pun menoleh.
__ADS_1
"Cocok. Dengan gaya lu yang seperti biasa ini, suami lu bakal lebih semangat untuk sembuh. yuk, brangkat!" Ajak keduanya.
"Eh tunggu, Dika sama Iren kemana?"
"Dia nganterin Iren ke bawah buat nyariin taksi. Anaknya tidur, jadi Iren milih pulang aja." Ujar Indra.
Sherly cuma membentuk huruf O dengan mulutnya. "Ya sudah, ayo brangkat!" Ajaknya kemudian. "Eh, gue bareng siapa nih?"
Tanya Sherly sambil melangkah keluar kamar di ikuti keduanya. Mereka menuruni tangga sampai keluar rumah.
"Bareng gue aja. Gue kan adik ipar lu. Jadi, suami lu gak bakal cemburu. Kalau lu bareng Dika atau Geri, gue yakin Zidane naik darah!" Ucap Indra terkekeh.
"Kagak lah. Waktu di sana aja Zidane sering nyuruh gue nganterin istri tercintanya. Iya kan, Sher?" Geri gak mau kalah.
"Berarti yang gak boleh bonceng lu si Entong doang, dong!" Kata keduanya.
Mereka pun tertawa sampai yang di bicarakan muncul di hadapan mereka.
"Pada ngetawain apaan nih?" Tanya Dika.
Mereka melirik ke arah Dika kemudian mendorong tubuhnya untuk segera menaiki motornya.
"Kagak ade ape-ape, tong! Nyok, kite ke rumah sakit. Keburu suami si bos ngamuk!"
Tanpa protes lagi, Dika memakai helmnya kemudian mengulurkan tangannya untuk memberikan helm kepada Sherly.
"Yuk, beib. Lu bareng gue aja!"
Dengan cepat Indra menarik tangan Sherly sampai kesampingnya. "Dia kakak ipar gue sekarang. sebagai adik ipar yang baik, gue bertugas menjaga keselamatannya. Termasuk menjauhkan dia dari bahayanya gigitan buaya darat!"
Geri tertawa kecil mendengar candaan Indra yang di tujukan pada Dika.
"Asyem lu. Emangnya gue buaya darat? Enak aja lu kalo ngomong!" Protes Dika.
"Gue kan gak bilang kalo elu buaya darat, tong!"
"Tapi, tadi kan gue mau boncengin ...!"
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Keempatnya menoleh ke arah suara barito yang menegur mereka sampai terdiam seketika dengan kepala tertunduk.
▪▪▪▪
***Siapa yang bisa membuat mereka diam sampai menundukkan kepala?
Hemh, penasaran nih! Harus lanjut biar bobo nyenyak***.
__ADS_1