
Sertakan selalu ritualnya gengs.
Like, komen, vote, rate 🌟5, favoritkan dan follow otor.
*Happy readin**g*....
"Hiks...hiks..."Terdengar sayup-sayup suara tangisan seseorang.
Sherly terbangun karena terganggu dengan suara tangisan itu.
"Siapa yang malem-malem nangis?"Ia keluar dari kamarnya dan turun menuju ke ruangan tengah.
"Hiks..hiks..huhuuuuuu.."Tangisan itu kembali terdengar.
Gadis itu pun mempertajam pendengarannya dan memperhatikan sekeliling.
"Gak ada siapa pun disini?"Ia kembali melangkahkan kakinya .
Saat dia sedang berjalan dan memperhatikan sekeliling, tiba-tiba lampu di rumah mati membuat ia terkejut."Hegh, kaget gue.kenapa tiba-tiba lampu di rumah mati sih?"Ia meraba sekeliling untuk menuntunnya berjalan karena disana sangat gelap.
"Mommy, dady, mbok Iyem, bi Murni, pak Tejo,!"Teriaknya memanggil orang tuanya dan juga pembantu di rumah.
"Mommy, dady.."Teriaknya lagi.
"Haish, pada kemana nih semua orang?"Ia terus meraba sekeliling yang gelap gulita.
Saat tangannya yang terulur di udara dan meraba sekeliling, tiba-tiba tangannya itu menyantuh sesuatu.
Grep..
Sesuatu yang tersentuh dan terpegang olehnya membuat ia penasaran.Ia pun meraba-raba sesuatu itu dan menebak apakah itu.
"Apaan ini?"Ia meraba dan terus meraba.
"Kaya rambut?panjang bener dah"Ia menyentuh dan menariknya untuk memperkirakan itu.
"Yang ini kaya mata, hidung..astaga!"Ia yang meraba dan menelusuri sesuatu seperti bentuk wajah seketika melepaskannya dan mundur ke belakang.
Tangan dan kakinya gemetar dan perasaannya pun tak karuan."Aa..apa itu tadi ya?"Ia mencoba berjalan ke arah lain namun karena keadaan gelap gulita, ia pun tak mampu melihat jalan seperti mata kucing yang menyala saat malam hari.
Deblugh..
Akhirnya, bokongnya pun mencium lantai yang dingin karena ia terjatuh setelah menabrak sesuatu.
"Aduh, ssttt...aww."Ia meringis karena bokong dan sikutnya terbentur lantai dengan keras.
"Sakitnya tuh di sini!"Gadis itu memegang pinggang yang terkilir.
Mesti pinggangnya yang kena, wes lah kaya nenek, ntar.
"Mommy..dady.."Teriaknya namun tak ada yang mendengarkan.
Gluuudduughh...Duuuuaaarrrr...
Petir menyambar dan hujan turun dengan sangat lebat membuat ia sekali lagi terkejut.
"Mommy..dady..."Ia terus berteriak sambil menahan sakit di bokong, pinggang, dan juga sikutnya.
Gadis itu mencoba berdiri walau kesusahan dan berjalan lagi. Tapi, ia berhenti saat mendengar suara tangisan lagi." Hiks..hiks.. Huhuuuu"
"Siapa itu?"Ia menengok kiri kanan yang terlihat tidak ada apa-apa, apalagi pohon cemara karena itu bukan puncak gunung, melainkan mension.
Suara itu terdengar seperti di samping kirinya membuat ia menoleh ke kiri.Namun terdengar lagi di sebelah kanan membuat ia menoleh ke kana.Tapi suara tangis itu terdengar lagi dari belakang membuat ia ragu untuk menoleh.
Tangisan itu terdengar lirih membuat bulu kuduknya meremang seketika.
Dengan perlahan, ia menoleh ke arah belakang yang terdengar tangisan itu.
Perlahan kepalanya menoleh dan matanya menyipit di ujung sambil menahan rasa takut itu ia terus menengokkan kepalanya sedikit demi sedikit diikuti pergerakan badannya.
Saat seluruhnya sudah sempurna, tiba-tiba...
Duaaaaarrrr.. Kilatan petir menyambar dengan cahaya yang masuk melalui jendela menampakkan sosok di depan Sherly.
"Haaaaaaa"
Jeritannya berbarengan dengan suara petir yang menyambar.
Terlihat sosok wanita dengan wajah tertutup rambut yang panjang dan lebat dengan tangan terulur seperti ingin menyentuhnya.
Betapa terkejutnya dia sampai lagi lagi jatuh ke belakang dan bokongnya mencium lantai kembali.
"Aduuuuuhh...saaakiit!"Rengek
__ADS_1
Sosok itu terus maju dan menghampirinya membuat ia mundur sambil terduduk.
"Ja...jangan de..ketin gu..gue!"Ia terus mundur untuk menghindar dari sosok wanita yang terus maju dan mendekat ke arahnya.
"Be..berhenti, jangan kesini! Ka..kalau tidak, gue lempar lu pake ini."Ia mengacungkan sesuatu yang ia temukan saat meraba di sana dengan tangan yang sedikit gemetaran.
Benda seperti sebuah sendal.
Namun, sosok itu terus menghampirinya sampai ia pun tak ada pilihan lain selain melemparkan sendal di tangannya.
Plakk..Plakk..
"Aduh..."Sosok itu mengaduh karena sendal yang di lempar gadis itu mendarat tepat di wajahnya.
"Weeehh??"Gadis itu merasa heran, kenapa sosok itu mengaduh karena lemparannya.
"Kenapa kau melempar itu?"Tanya sosok itu pada Sherly.
"Gue takut lah, makanya gue lempar!"Tutur Sherly pada sosok yang sedang memegangi wajahnya yang pasti tak terlihat olehnya.
"Lagian, elu nakutin gue sih!"Lanjutnya.
"Kenapa harus itu?"Tanya sosok itu lagi.
Sherly pun bingung, kenapa tuh hantu nanya mulu kaya lagi ikutan kuis.
"Yang ada cuma itu, ya gue lempar itu lah. Coba kalau yang ada disini tuh duit kertas berwarna merah bergambar presiden dan wakilnya, ya gue kantongin."Tutur Sherly.
Kalau nemu yang kek gitu, aturan lempar ke otor aja mbak.Otor dengan senang hati dan lapang dada menerimanya.
"Justru itu masalahnya, kenapa harus itu?Hiks..hiks"Dia nangis lagi.
Sherly semakin bingung, nih hantu sebenarnya dari tadi kok protes mulu ya?
"Emang kenapa dengan itu?"Tanya dia bingung.
Klik..Lampu menyala.
Sambil terisak dan menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya, sosok itu pun berkata dengan lirih.
"Soalnya tuh sendal ada kotor*n ayamnya. Nih lihat, kena hidung gue kan.bau tahu!"Ia terisak sambil mengelap sisa kotor*n di hidungnya dengan pakakaian dinasnya.
"Bhahaaaa"Sherly tertawa sampai berguling-guling di lantai, ia melupakan sakit di pinggangnya gegara lihatin wajah hantu itu yang belepotan kena t** ayam.
"Huuaaaaaa..dia ngetawain gue!"Hantu itu menangis dengan kencang membuat Sherly menutup telinganya.
▪▪▪▪▪▪
Sherly yang pulang setelah menemani Zidane ke salah satu rumahnya untuk mengantarkan Rian yang terluka.
Ia pulang kembali ke ibu kota di temani Zidane dan di antarkannya ke rumah.Namun Sweaty terpaksa di bawa oleh Zidane ke rumahnya karena mobilnya yang tertinggal di butiq kak Aisyah.
Sherly pun tak masalah dengan itu karena sepertinya Sweaty akrab dengan pemuda itu.
Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang sudah sunyi sepi dan di buka kan pintu oleh mbok Iyem saja yang terbangun karena bel rumah yang di tekannya.
"Mom and dad, sudah pada tidur, mbok?" Tanya Sherly pada Art itu.
"Sudah non, orang ini sudah jam sebelas malam, tuan sama nyonya sudah pada tidur lah"Jawab mbok Iyem.
"Lagian, non Sherly dari mana sih jam segini baru pulang?"Tanya nya.
"Abis nganter teman yang terluka, rumahnya jauh dari pusat kota.Jadi, ya pulang terlambat deh!"Jawab Sherly.
"Ya sudah mbok, tidur lagi.maaf ya ganggu tidurnya!"Ucapnya sopan.
"Enggak apa-apa non, sudah jadi tugas saya. Oh iya, mau mbok siapin makan dulu atau...?" Pertanyaan mbok Iyem di potong langsung olehnya.
"Gak usah mbok, aku tadi udah makan sama teman.Aku mau langsung tidur saja!"Kata Sherly.
"Baiklah non, kalau gitu mbok pamit undur diri."Ucap mbok yang di jawab iya oleh Sherly.
Mbok Iyem pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya.Sedangkan Sherly langsung menaiki tangga menuju kamar atas, yaitu kamarnya sendiri.
Ia langsung memasuki kamar mandi setelah mengambil handuk di tempat jemuran khusus handuk yang ada di kamarnya.
Setelah mandi, ia pun membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk yang tak lupa memakai pakaian sehabis mandi.
Malam semakin larut, dia pun sudah terlelap ke dalam mimpinya.
Dia tidak mengetahui kedatangan sosok makhluk halus yang dari tadi mengikutinya di perjalanan sampai ke rumah ini.
Sosok hantu wanita itu penunggu pohon nangka yang berada di ujung jalan yang di tebang oleh warga.Namanya Sevia.
__ADS_1
Karena sering muncul dan menakuti warga, akhirnya pohon itu di tebang oleh para warga tentunya bantuan dari ustadz dan diadakan syukuran untuk ketenangan jiwanya.
Karena ia belum bisa membalaskan dendam kepada orang yang membunuhnya, maka dari itu ia tetap bergentayangan.
Ia pun melihat sebuah mobil melaju melalui tempatnya.Dengan keyakinan dan harapan, ia mengikutinya supaya dapat meminta bantuan darinya.
Karena yang lain tak dapat memberikan bantuan apapun padanya.
Semasa hidupnya dulu, ia adalah seorang instruktur senam di pusat kebugaran terkenal di kota.Ia sangat di senangi para wanita mau pun pria entah itu orang dewasa atau pun para remaja karena sikapnya yang ramah pada siapa pun.
Di lain sisi, ada orang yang iri dengan kemahiran atau kedekatan dia dengan semua orang karena dirinya selalu di undang para emak untuk menjadi instruktur senam di kelurahan atau di kecamatan.
Orang itu ingin dirinya lah yang melatih senam para emak-emak, karena ia mengira melatih senam itu mudah dan tidak perlu tekhnik apapun.
Cuma bermodalkan musik, gerak sana sini dan memberi aba-aba, sudah deh dapat duit.Tapi dia tidak tahu kalau senam itu ada tekhnik dasar atau tingkatan sesuai pelatihannya.
Para instruktur harus bisa menguasai tingkatan-tingkatan dan mereka pun tak mudah hanya dengan melihat gerakan orang lain.Mereka juga belajar lagi di kelas khusus untuk menguasai semua tekhnik bukan asal-asalan gerak saja.
Dari mulai pemanasan sampai pendinginan dan tekhnik dasar untuk pemula sampai tekhnik yang sulit untuk yang sudah mahir.
Instruktur yang sudah lulus dalam semua tahapan, bisa mendapatkan sertifikat resmi dari pusat kebugaran dan ia boleh melatih senam dimana pun.
Sevia pun akhirnya sering melatih bukan cuma para remaja saja, para mamak dan bapak yang suka berolahraga dan ingin hidup sehat.
Ia selalu ramah dan tak mengharapkan imbalan apapun.Namun mereka sendiri yang sadar dan selalu memberikan uang iuran dari mereka sendiri yang ikut dalam kegiatan senam.
Orang yang iri selalu memanfaatkan kelemahan orang lain saat dirinya lengah.
Itulah yang terjadi pada Sevia.
Mereka berpura-pura baik dan ramah supaya bisa mengikuti kemana pun Sevia pergi untuk melatih senam.
Uang iuran selalu diambil oleh mereka yang iri dan tidak memberikannya pada Sevia.Namun selalu bilang kepada warga kalau sevia menginginkan lebih.
Para warga pun mulai tak suka dengan sikap Sevia yang sekarang ini.Mereka tak percaya dengan perubahan pada diri gadis itu karena ia selalu ramah dan sopan.
Tapi, mereka yang iri pada Sevia terus memfitnahnya.Akhirnya, ia pun di benci warga dan tidak melatih senam mereka lagi.
Sevia mulai sedih karena tak mengerti apa penyebab warga membencinya.Ia pun kini tak lagi ada kegiatan selain kembali berjualan obat herbal.
Saat dirinya sedang lengah, ia diikuti oleh beberapa orang dan menculiknya.Ia di cekik sampai tak bernyawa, kemudian tubuhnya di gantung di pohon nangka di ujung jalan itu supaya terlihat kalau dirinya bunuh diri karena kecewa pada mereka.
Isu pun di sebarkan oleh mereka, bahwa Sevia akan balas dendam karena tidak mendapatkan yang diinginkannya dari warga.Ia juga ingin membalas dendam pada mereka semua yang ikut pelatihan senamnya.
Padahal, Sevia sering muncul karena ingin tahu siapa pembunuh dirinya, bukan untuk meneror warga sekitar.
Ia mengikuti Sherly untuk meminta bantuan darinya karena ia pernah mendengar bahwa gadis itu pemimpin sebuah Tim pemecah kasus kematian semua korban pembunuhan.
Memang, berita itu sudah menyebar di seluruh tanah air.Sebuah tim ekspedisi penyelamat jiwa yang tersesat tak tentu arah.Jiwa mereka bisa tenang dengan pertolongan dari tim pemecah kasus seperti tim And the gank.
Sevia pun ingin supaya Sherly dapat menolongnya dan mengembalikan dia ke alamnya.
"Gimana, elu mau kan nolongin gue?"Tanya Sevia.
Sherly pun berpikir sejenak."Hemm, gue harus minta bantuan yang lain dulu supaya gue gak sendirian."Kata Sherly.
"Ini kasus yang sedikit rumit sebenarnya, soalnya menyangkut kepercayaan warga."Ia memegang dagunya.
"Bagaimana cara kita untuk membuktikan elu gak bersalah dan mereka lah yang mengambil itu semua"Lanjutnya.
Sevia pun tampak bingung."Benar juga, gimana bikin warga percaya kalau gue gak pernah menerima sepeser pun dari mereka?"
"Gini aja deh, masalah itu nanti kita pikirin, yang terpenting kita tahu dulu siapa pembunuh lu sebenarnya, oke!"Kata Sherly.
Ia pun setuju dengan usul Sherly."Oke lah, gitu aja dulu.biar gue tenang!"
"Ya udah, gue ngantuk.Hooaaammh, mau tidur lagi"Sherly merebahkan dirinya di ranjang besar miliknya di kamar.
Sevia memperhatikan gadis itu dan tersenyum sambil bergumam."Elu sepertinya mempunyai sesuatu yang tak dimiliki orang lain."
"Gue harap elu bisa memanfaatkan kelebihan lu untuk kebaikkan."Ia pun keluar dan duduk di balkon kamar Sherly.
Epilog
Sore itu, mbok iyem ke warung membeli sesuatu.tanpa sadar, sendalnya menginjak kotor*n ayam pemilik warung.
Ia tak mengetahuinya sampai sendalpun ia bawa masuk lewat pintu dapur dan menyimpannya di pojokan pintu.
Sherly yang terkejut dengan mati lampu yang secara tiba-tiba.Tanpa sadar ia berjalan menuju dapur karena saking gelapnya.
Saat ia berteriak tidak ada yang mendengar karena posisi dapur di ujung dan pintunya tertutup rapat oleh hembusan angin.Maka, suaranya pun tak terdengar oleh penghuni rumah.
Ia terkejut saat penampakan hantu di depannya yang terpapar cahaya kilat. Karena sosok itu maju terus, ia pun meraba sesuatu dan melemparnya yang ternyata sendal mbok Iyem yang terkena t*i ayam ke wajah sosok itu.
__ADS_1
Akhirnya, mendarat lah semua sisa-sisa wewangian ayam itu di wajah si hantu dan ia pun protes kepada si pelempar.
Bersambung......