Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kabar mengejutkan


__ADS_3

Sebuah mobil meluncur di jalan beraspal menuju kediaman Grisheld.


Setelah sampai di halaman rumah megah itu, kedua orang yang berada di dalam mobil turun dan melangkah ke dalam rumah besar itu.


Ditekannya bel rumah pertanda kedatangannya. Bukan mau ikutan kuis siapa cepat dia dapat.


Teng nong..


Anggap lah itu bunyi bel rumah yang di tekan oleh tamu yang datang.


"Siapa ya?"Seorang asisten rumah tangga membuka pintu rumah.


"Maaf, cari siapa ya?"Pertanyaan asisten membuat keduanya saling pandang.


"Mau cari yang punya rumah!"Jawabnya datar.


"Apa sudah ada janji?"Tanya asisten lagi.


"Belum, mbak.Tapi, kami ada kepentingan yang mendesak!"Ucap tamunya lagi.


"Baiklah, silahkan tunggu sebentar.Biar saya panggilkan nyonya dulu"Ucap asisten.


Saat tamu itu mau masuk ke rumah, si asisten langsung menutup pintu sehingga kening si tamu kepentok pintu rumah yang terbuat dari kayu jati.


"Aduh, sakitnya!"Di pegangnya kening yang terbentur tadi sedikit merah.


"Hei, hati-hati!"Di elusnya kening yang sedikit benjol tadi oleh suaminya.


"Rese nih, pembokat.Masa pintu di tutup gitu aja.Nyuruh nunggu tapi pintu di tutup" Gerutunya dengan kesal.


"Dia tidak kenal kamu, sayang?" Tanya suaminya.


"Gue aja gak kenal dia!"Ketusnya.


Kening yang merah sedikit benjol itu di tiup oleh suaminya."Cepet sembuh ya, jenong" Ia terkekeh sambil mengelusnya.


"Huuuhh, sebel deh.masa, cantik cantik jenong!"Ia terus mengelus keningnya.


Sebuah mobil masuk ke halaman rumah megah menyusul mobil yang tadi.


Tampak sebuah keluarga kecil turun dari mobil itu.


"Aunty!"Teriakan si kecil memanggil tantenya sambil berlari.


"Cintaku!"Berlari dan memeluk si kecil dengan melupakan rasa sakitnya.


"Dek, kamu pulang?"Kakak terjeleknya langsung menghampiri dan memeluk serta mencium keningnya."Lho, kok!"Di perhatikannya kening si adik yang merah dan sedikit jenong.


Ia langsung menatap malas.Di edarkannya tatapan mata ke arah belakang kakaknya. Seorang wanita cantik yang berjalan ke arahnya."Kakak ipar durjana, apa kabar?"Tanya adiknya.


"Hush, kamu itu!"Di tepuknya kening yang merah tadi oleh si kakak jeleknya.


"Aduh...sakit tahu!"Ia merengek layaknya anak kecil."Rei, tiup dong.ini sakit!" Pintanya pada si kecil yang dari tadi memperhatikan.


"Kok, aunty Ily jenong?"Pertanyaannya bikin sebel dan kesel.


"Iihh, Rei.Ini ulah si penjaga pintu, tuh.Sebel tahu!"Ia mengadu pada ponakannya.


"Siapa?"Bukan Reihan yang bertanya, tapi bapaknya.


"Enggak tau, pembokat baru, kali"Jawabnya malas.


"Oooohh!"Ucap mereka serempak.


"Hai, apa kabar?"Tanya kak Al ke belakang adiknya dan langsung berjabat tangan.


"Baik.Kalian sendiri gimana?"Bertanya balik.


"Seperti yang kau lihat, kami juga baik" Kak Al mundur dan memperlihatkan penampilannya.


"Pamer!"Cibir Sherly.


"Pamer apa?"Tanya kak Al gak ngerti.


"Itu, jaket baru!"Tunjuk Sherly.


"Hahahaaa...kamu tahu aja, dek!"Kak Al terbahak karena adiknya mengetahui niatnya.


"Cih!"Ia memutar bola matanya dengan jengah.


Kreeekkk..


Pintu di buka dari dalam oleh seseorang.


"Eh, mana tamunya?"Ia celingukan dan menemukan kedua tamu tadi sedang bercanda dengan tuan mudanya.


"Eh, tuan Aldrian.Maaf mengganggu.Saya disuruh menanyakan nama tamu ini!" Tunjuknya pada Sherly dan Zidane.


"Maaf mbak, namanya siapa?soalnya, nyonya menanyakannya!"Tutur pembantu.


"Kami ini adalah tuan dan nyonya Prasetyo. Rekan bisnis pak Hadi Prayoga!"Penuturan Sherly membuat mereka terkekeh.Sedangkan si pembantu itu cuma menggaruk kepala dengan heran karena semuanya pada tertawa.


"Baik, mbak."Di langkahkannya kaki ke dalam untuk menemui si pemilik rumah dan menyampaikannya.


"Pffttt...hahahaaaa...Rasain kamu, dek!" Ledek kakaknya.


"Nona muda di perlakukan kaya tamu!Hihii" Kakak ipar durjana ikut menertawakannya.


"Aunty, itu penjaga pintunya?"Tanya Rei yang diangguki tantenya.


"Itu sih bi Mumun, pembantu baru di rumah Oma."Lanjutnya.


"Enggak tau lah Rei, aunty kan baru pulang. Tapi, udah di perlakukan kaya gini!"Sherly cemberut dan merengek pada ponakannya.

__ADS_1


"Yuk, masuk!"Ajak kak Al merangkul bahunya Zidane dengan akrab.


Zidane mengikuti langkah kak Al dan berjalan ke teras rumah.


"Ihh, kok kakak gak ngajak aku sih. Sebenarnya, siapa adiknya kakak?"Sherly merajuk.


"Dia!"Jawaban singkat kak Al membuat adik tersayang cemberut."Huhh"


"Hahaaa"Mereka menertawakan tingkah Sherly yang cemberut.


Pintu di buka lagi oleh seseorang.Namun bukan bi Mumun yang keluar, mainkan mommy yang datang terburu-buru menghampiri lalu memeluk putri bungsunya.


"Kesayangan mommy!"Di peluknya tubuh putri yang sudah beberapa hari gak ketemu itu."Sayang, mommy kangen!"Di ciumnya terus menerus pipi kiri dan kanan si putri.


"Aku juga kangen mommy!"Sherly balas memeluk ibunya.


"Sayang, kenapa kalian tak ada kabar, sih?" Melirik Zidane yang sedari tadi diam di tempatnya.


Zidane menghampiri dan mencium punggung tangan ibu mertuanya."Maaf, tante!"Cuma itu yang keluar dari mulut Zidane.


"Hei, kenapa tante?mommy dong!"Kak Al meralat panggilan Zidane kepada ibunya.


"Anu...emmhh"


"Iya dong, nak Zidane.Saya ini kan sudah jadi mommy kamu juga!"Ucapnya lembut.


"Terima kasih, mom!"Ucap Zidane sopan.


"Yuk masuk, kenapa diem diluar terus!" Mommy menuntun menantu barunya.


"Tuh kan. tadi kak Al merangkul bahu dia dan mengajaknya masuk.Sekarang, mommy juga menuntunnya masuk.Sedangkan aku gak ada yang merhatiin lagi.huaaaa"Ia merengek lagi dan lagi.


"Heheheee...mommy lupa kalau ada kamu disini!"Sherly melotot dengan perkataan mommy nya.


"Mommy..."Mereka harus menutup telinganya karena teriakan dari si gadis berisik itu.


"Hahahaaa"


🍁🍁🍁🍁


Seorang pemuda berlari mengejar gadis yang terlihat berjalan menyebrangi jembatan menuju perkampungan.


Dia terus mengikuti gadis itu dengan diam-diam takut ketahuan.


Gadis itu masuk ke sebuah rumah kontrakan yang kecil dan kumuh di daerah pemukiman padat penduduk di area pinggiran kali.


Dia berhenti dan menunggu gadis itu keluar lagi.Namun, gadis itu tak nampak keluar.


"Sedang apa dia disini?"Pertanyaan menari di pikirannya.


Karena penasaran, ia pun bertanya pada tetangga kamar kontrakan yang terlihat keluar dari kamarnya dengan membawa seorang anak bayi.


"Permisi, mbak.saya mau tanya.apa disini ada kamar kontrakan kosong?"Ia berpura-pura menanyakan kamar kosong.


"Oh, gitu ya.Emh...maaf, yang disana cewek apa cowok, ya.Barang kali bisa ngontrak berdua, gitu?"Pancingnya.


"Kayaknya gak bisa deh, mas.Soalnya, yang ngontrak cewek, mas"Jelas mbaknya.


"Owh, gitu ya.Boleh tahu, namanya siapa?mungkin pacarnya ada ngontrak juga disini, biar ikut barengan, gitu."Ia terus memancing.


"Kalau gak salah, namanya Reni deh!"Jawab si mbak."Tapi, kayaknya dia gak punya pacar. Soalnya, gak pernah liatin dia jalan sama cowok.tapi gak tahu juga sih"Dia ragu.


Pemuda itu mengangguk."Ya sudah, mbak. Saya permi..."


Ceklek


Pintu kamar kontrakan ujung terbuka membuat ia menoleh.


Terlihat gadis itu keluar dengan pakaian rapi. Sepertinya, dia akan pergi keluar.


Dia melangkah namun terhenti setelah melihat pemuda yang selalu ia cintai, berdiri dengan menatapnya.


"Indra?"Ia terlihat syok saat melihat pemuda itu di sana.Terlihat raut wajah kebingungan yang tak bisa diungkapkan.


Indra mendekat ke arahnya."Sedang apa kamu disini?"Pertanyaan pun keluar.


"Aaa...aku!"Iren sangat bingung harus menjawab apa.


"Lho, kok kalian saling kenal?"Tanya si mbak yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


Keduanya menoleh ke arah si mbak.


"Dia calon istriku, mbak!"Indra menoleh ke arah Iren yang selalu menunduk.


"Oh, si mas nya tadi lagi menyelidiki, ya?pantesan dari tadi banyak nanya mulu. Lagian, kamar kan banyak bukan cuma kamar itu saja.Tapi, yang ditanyain cuma kamar itu!"Panjang lebar ucapan si mbak.


"Anggap saja begitu"Singkat Indra.


"Ayo, ikut aku!"Di tariknya tangan Iren dan membawanya berjalan dengan terburu-buru.


"Indra, lepasin tangan gue.sakit tahu!"Ia memukul-mukul tangan Indra yang menggenggam erat tangannya.


Indra tak menghiraukan rengekan Iren dan terus berjalan dengan cepat.


Iren berjalan dengan sedikit terseret oleh tarikan tangan Indra.


Namun, langkahnya harus terhenti karena merasakan sesuatu.Perutnya terasa sakit dan ia meringis kesakita.


"Aaakkhhh"Ia memegangi perutnya sambil memejamkan mata.


Iren terduduk di tanah dengan menahan kesakitannya.


"Kamu kenapa?"Terlihat raut wajah cemas di wajah tampan Indra.

__ADS_1


"Sa...kittt...ba...ngett"Tangannya terus memegangi perut dengan keringat bercucuran.


Indra panik melihat kondisi Iren seperti itu. Di gendongnya tubuh Iren dan membawanya kedalam mobil.


Mobil itu di lajukannya dengan kencang menuju rumah sakit.


"Dokter...dokter!"Panggil Indra dengan menggendong tubuh Iren ke dalam rumah sakit.


"Kenapa, mas?"Seorang suster menghampiri.


"Tolongin saya, sus.dia kesakitan!"Indra sangat cemas dan panik saat itu.


"Baiklah, mas.Ayo, kita bawa kesini!"Di bukanya pintu kamar perawatan oleh suster dan ia segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan pasien.


Seorang dokter memasuki kamar perawatan itu dan segera memeriksa kondisi pasiennya.


Dokter itu melirik Indra yang terlihat dengan raut wajah cemas.


"Maaf mas, bisa kita ngobrol sebentar di ruangan saya!"Ucap dokter setelah memberikan suntikan pereda nyeri pada Iren dan ia pun tertidur setelahnya.


Dokter melangkah keluar dan diikuti Indra.


"Silahkan duduk, mas!"Dipersilahkannya Indra untuk duduk di kursi sebrangnya.


"Bagini mas, kondisinya saat ini sangat lemah. Ia juga kekurangan gizi.Jadi, saya sarankan untuk menjaga pola makannya. Apalagi, dalam kondisi saat ini!"Perkataan dokter tak dapat di pahami Indra.


"Maksud dokter?"Indra kebingungan.


"Begini, mas.Di masa sulit seperti ini, ibu hamil harus lebih banyak makan sayuran dan buah-buahan supaya kandungannya kuat.Bila perlu, ia harus minum susu ibu hamil dan menkonsumsi obat penambah darah.Biar fisiknya kuat.Periksa kandungan setiap satu bulan sekali, itu bisa mengontrol tumbuh kembang janin di dalam rahimnya."Jelas dokter.


Deg...


Hancur sudah hati Indra.Rasanya seperti di tindih betonan.Tangannya gemetar dan ia tak sanggup mengatakan sesuatu.


Inikah alasanmu putus denganku?Kenapa kamu tak mengatakannya, dan siapa ayah dari anak yang ada di rahimmu?


"Mas...mas!"Panggil dokter saat melihat Indra yang melamun.


"Oh...eh...iya dok!"Indra tersadar dari lamunannya.


"Berapa bulan usia kandungannya, dok?" Indra bertanya dengan nada bergetar membuat dokter heran.


"Usia kandungannya sudah menginjak dua belas minggu, atau tiga bulan, mas.Tapi, kenapa anda terlihat syok?apa istri anda tak memberitahukannya?"Tanya dokter.


Indra bingung harus menjawab apa. Jangankan tahu tentang kehamilan Iren, tentang alasan putus saja dia gak pernah tahu."Saya belum tahu, dok.Rencananya, istri saya itu mau mengajak ke suatu tempat dan memberikan kejutan kepada saya.Mungkin ini kejutannya.Tapi, di perjalanan dia malah kesakitan.saya buru-buru bawa kesini" Indra berbohong menutupi rasa malunya.


"Saya terlalu sibuk bekerja, sampai tak memperhatikan dan tak mengetahui apapun tentang kehamilannya!"Lanjutnya sambil mengepalkan tangan di bawah meja.


"Oh, begitu.ya sudah, saya ucapkan selamat ya, mas.Anda akan menjadi seorang ayah!" Tangan dokter terulur dan langsung di jabat oleh Indra.


"Terima kasih, dok!"Senyuman pahit harus dia umbar.Rasanya sakit sekali.


"Oh iya dok, bisa tidak kalau merahasiakan ini darinya.Anggap saja dokter tak pernah mengatakan apapun kepada saya.Saya ingin dia sendiri yang mengatakannya supaya dia merasa sukses memberi kejutan untuk saya!" Pinta Indra.


Dokter pun tersenyum dan mengangguk. "Tentu, mas.Saya tidak akan merusak kejutan dari istri anda.Beruntung sekali ya dia, punya suami yang pengertian seperti anda!"Pujian dokter bukan membahagiakan hati Indra.Tapi, lebih ke menyakitkan.


Indra tersenyum."Baiklah dok, saya permisi. Dan terima kasih untuk berita gembira ini!"Ia pun melangkah keluar ruangan dokter.


Dilangkahkan kakinya ke luar menuju taman dan Indra termenung disana.



Kenapa seperti ini?siapa yang membuatmu jadi begini, yank?Kenapa kamu tak mau menceritakan semua kesedihanmu kepadaku?


Seburuk itukah aku sampai kamu melakukannya kepadaku?


Terlihat wajah frustasinya saat ia termenung.


"Aaarrrggghhhh"Teriakan Indra mengundang tatapan semua orang.


Mungkin mereka menganggap Indra gila atau sakit kali ya.Soalnya, ia menjambak kasar rambutnya sambil terduduk berjongkok di tanah.


Diambilnya ponsel di kantong celananya yang kemudian menscrol nomor kontak di ponselnya.


"Dia hamil!"Ucapnya singkat membuat seseorang di sebrang sana kebingungan.


"Maksud lu, siapa?" Tanya orang di sebrang.


"Renita hamil!"Ucapnya lagi.


"Apa???" Suaranya terdengar syok.


Tut..tut..tut..


Di putusnya langsung sambungan telpon itu dan ia melangkah masuk kedalam kamar perawatan Iren.


Di tatapnya wajah cantik yang sedang memejamkan mata.


"Kenapa yank, kenapa?"Tangannya bergetar saat menyentuh menggenggam tangan si gadis cantik di hadapannya yang terbaring lemah.


"Apa salahku sampai kamu berbuat itu kepadaku?"Tak terasa air mata Indra membasahi pipinya.


Indra menunduk sambil terisak.Ia tak bisa menyembunyikan kesedihan dan ke kecewaannya kepada gadis di hadapannya.


"Apa jika aku tak mengetahuinya sekarang, kamu gak akan pernah mengatakannya kepadaku?"Lirih suara Indra yang terus menahan tangisnya.


Ia termenung mengingat saat dirinya diputuskan waktu melamar di pantai. Saat menemukan buku panduan menjaga kehamilan yang tertinggal di mobilnya waktu Iren minta diantar pulang sehabis dari toko buku.Saat Iren selalu menghindar darinya jika ia menciumnya.


"Jadi ini alasannya?"Di usap wajah tampannya dengan menggunakan kedua telapak tangan.


"Aku harap kamu mengatakan sejujurnya kepadaku, yank!"Ucapnya lirih dan membelai tangan yang terpasang imfusan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2