Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kematian nyonya Fransisca


__ADS_3

Nyonya Fransisca sangat terpuruk dengan kabar yang mengejutkannya. Putri bungsunya kini tak bisa di temukan dan tak di ketahui dimana keberadaannya.


Tak ada kabar atau titik terang dimanakah putri bungsunya kini berada. Walaupun ia tahu bahwa putrinya itu bukan seorang gadis yang harus selalu ada di sampingnya, karena dia sudah memiliki keluarga sendiri.


Suaminya kini bertanggung jawab atas keselamatan dan kebahagian putrinya itu. Namun, tetap saja jiwa seorang ibu akan merasa khawatir jika putrinya tak di ketahui keberadaannya.


Apa dia bahagia? Apa dia hidup layak? Apa dia tidak merindukan keluarganya? Apakah suaminya baik dan memperlakukan dia dengan baik pula?


Semua pertanyaan berputar di kepala nyonya Fransisca. Padahal, tuan Hadi dan Aldrian selalu menenangkannya dan bilang kalau Zidane adalah pemuda yang baik dan bertanggung jawab.


Tapi, nyonya Fransisca tetap saja khawatir terjadi apa-apa kepada putri bungsunya itu. Berhari-hari dia mencari kabar tentang Sherly, entah itu dari orang suruhannya atau dari berita-berita di media elektronik ataupun cetak.


Berharap akan menemukan kabar tentang mereka. Secara Zidane seorang yang terkenal di kalangan pebisnis.


Namun hasilnya nihil. Tak ada satupun kabar berita yang memuat tentang Zidane si raja bisnis.


Kekhawatiran nyonya Fransisca bertambah saat mengetahui jika Zidane memberikan aset perusahaan kepada orang-orang terdekatnya, termasuk putra sulungnya, yaitu Aldriansyah Grisheld Prayoga.


"Bagaimana nasib Sherly? Apa yang dilakukan Zidane sekarang ini? Kenapa dia memberikan semua aset perusahaan?"


Nyonya Fransisca tak habis pikir dengan menantunya itu.


Semakin dia berpikir dengan keras, semakin kondisi jiwanya terganggu. Sehingga, dia pun depresi dan tak merespon apapun interaksi yang di lakukan orang lain dengannya. Termasuk suami dan putranya.


Yang diinginkan mommy yaitu cuma satu, putri tercintanya.


Pikiran mommy kosong dan dia sering melamun sendiri. Sampai suatu saat, dirinya berteriak histeris.


Mommy berteriak seperti melihat sesuatu yang mendekatinya, padahal ada apapun di sana yang mengganggunya.


Berhari-hari mommy terus berteriak histeris seperti orang gila dan ia pun menyakiti tubuhnya sendiri.


Sampai tuan Hadi dan Aldrian di buat bingung oleh kondisi si mommy ini.


Berbagai pengobatan telah di lakukan untuk penyembuhan sang mommy, namun tetap saja tak membuahkan hasil.


Semakin hari kondisi mommy semakin memburuk. Dia terus memanggil satu nama yang selalu di rindukannya, yaitu putrinya. Sherly.


"Sherly ... Sherly ..., mommy kangen sayang. Pulanglah!" Gumam mommy saat ia tak sadarkan diri.


Semua keluarga sangat sedih dengan kondisi mommy saat ini. Bagaimana tidak? Dia terus mengigau memanggil nama Sherly, Sherly, dan Sherly.


Keadaan ini di manfaatkan oleh seseorang yang suka melihat mereka menderita. Ya, siapa lagi kalau bukan Hendri Prakoso. Adik kandung dari ayah Zidane, tuan Hery Prasetyo. Paman dari Zidane sendiri.


Hendri mencoba mengganggu jiwa nyonya Fransisca untuk memancing supaya Sherly dan Zidane pulang. Ia mengirimkan jin untuk berjaga di rumah kediaman keluarga Grisheld.


Bila Hendri sedang menginginkan pertunjukan menarik, maka ia menyuruh jin itu mengganggu nyonya Fransisca.


Akibatnya, sang nyonya berteriak histeris karena ketakutan dengan sosok makhluk mengerikan itu.


Nyonya Fransisca yang selalu melamun, mengakibatkan dia mudah di rasuki dan diganggu makhluk halus.


Sehingga, itu sangat mempermudah jalan Hendri untuk menemukan Sherly dan Zidane.


Suatu ketika, tak sengaja jin peliharaan Hendri menemukan hantu wanita teman Sherly dan Zidane. Dia adalah Nania dan Alea.


Nania dan Alea yang menghilang dari rumah kontrakan Zidane dan Sherly, ternyata mereka menghilang dan akan pulang ke rumah Sherly.


Namun sebelum mereka masuk ke dalam, tiba-tiba sosok besar dan hitam menyerang mereka dan kedua hantu wanita itu pun terpental ke luar dengan jarak yang cukup jauh.


Saat keadaan mereka yang terpojok, jin peliharaan Hendri dengan mudah menangkap kedua hantu wanita itu dan menyerahkan kepada tuannya.

__ADS_1


Hendri sangat senang telah menemukan kedua hantu wanita itu. Dia pun mengurung dan membelenggu mereka dengan rantai ghaib.


Di tempat lain, anak buah Hendri pun mendapatkan informasi tentang keberadaan Sherly dan Zidane. Saat Sherly menghubungi Indra, tanpa mereka ketahui, sambungan internet mereka di retas oleh anak buahnya Hendri.


Maka, dengan mudah anak buahnya Hendri bisa menemukan keberadaan Zidane dan Sherly.


Hendri yang senang karena mendapatkan kabar menggembirakan itu. Ia sampai mau bersusah payah datang menjemput Sherly ke Yogyakarta. Namun apa yang terjadi? Sherly dan Zidane sudah tak ada di rumah yang mereka tinggali.


Hendri sangat marah. Ia menyuruh jin peliharaannya untuk menghabisi nyonya Fransisca supaya memancing kehadiran Sherly dan Zidane di rumahnya sendiri.


Ternyata, cara ini berhasil. Zidane sendiri yang membawa istrinya pulang atas permintaan kak Aldrian. Tentunya dengan memberikan kabar mengenai kondisi sang mommy.


🍁🍁🍁


"Emmm, dimana ini?" Sherly mengerjapkan matanya dengan memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Lu sudah sadar, beib?" Suara itu yang sudah lama tidak di dengar Sherly.


"Masih sakit, kah?" Tanya orang tersebut.


"Iren? Ah, gue kenapa?" Tanya Sherly dengan memegangi kepalanya.


Dia pun berusaha untuk duduk namun di cegah sama Iren.


"Sudah, lu berbaring saja. Jangan memaksakan diri." Kata Iren dengan menyentuh bahunya.


"Ren, ini kamar gue?" Matanya melirik kiri dan kanan.


"Ini memang kamar lu." Kata Iren lagi.


"Kok gue ada di kamar gue lagi? Bukankah gue di rumah kontrakan, ya?" Iren menautkan alisnya mendengar perkataan sahabatnya.


"Lihatlah, bukankah itu fhoto lu semua." Tangan Iren menunjuk ke arah dinding yang diikuti tatapan mata Sherly.


"Iya juga. Ini memang kamar gue." Sejenak Sherly terdiam sebelum berkata.


"Berarti yang tadi bukan mimpi, dong!" Dia langsung berdiri dari tidurnya.


"Hei, lu mau kemana?" Dengan cepat Iren beranjak berdiri dan menarik tangan Sherly.


"Mommy ... mommy, Ren." Wajah Sherly berubah cemas dan panik.


"Tenanglah, Sher. Gue mohon!" Iren langsung memeluk tubuh sahabatnya.


"Gue gak bisa tenang, Ren. Mommy ... mommy!" Ia terus memanggil ibunya.


Kak Aisyah masuk untuk melihat keadaan adik iparnya.


"Dek, tenangkanlah dirimu!" Isak yangisnya tak dapat di bendung lagi. Mereka bertiga pun berpelukan.


"Aku ingin ketemu mommy, kak. Aku mohon!" Kak Aisyah mengangguk sambil mengelus kepala adik iparnya.


"Tapi kamu harus sabar dan kuat, ya dek!"


"Ya, aku akan berusaha."


Mereka bertiga keluar dari kamar Sherly dan menuntunnya ke bawah.


Semua orang menatap haru ke arah mereka terutama Sherly.


"Sayang, kenapa dia dibawa turun?" Bisik kak Al kepada istrinya.

__ADS_1


"Biarkan dia bertemu mommy untuk yang terakhir kalinya, mas." Jawab kak Aisyah pada suaminya.


Sherly terus melangkah mendekati peti ibunya.


Zidane mendekat dan merangkul bahu istrinya pertanda memberikan semangat untuknya.


Mereka berjalan beriringan dan tertunduk di depan peti ibunya.


Mommy, maafkan Zidane karena membawa Sherly dari rumah ini tanpa memberitahukan mommy. Sehingga mommy menjadi sakit karena memikirkan kami. Maafkan Zidane, mom!


Zidane tertunduk dan mengungkapkan permohonan maafnya kepada sang ibu mertua.


"Hiks ... hiks. Mommy, maafin aku mom. Aku tak pernah memberikan kabar sama mommy, sampai mommy sakit seperti ini karena memikirkan kami. Aku gak tahu jika keadaan mommy akan seperti ini. Hiks ... aku menyesal mom." Ucap Sherly lirih.


"Jika aku tahu mommy akan merindukan aku, mungkin aku akan menelpon mommy sesering mungkin supaya mommy tidak tersiksa dengan rasa rindu ini."


Zidane termenung mendengar ucapan istrinya.


Aku yang salah karena tidak memperbolehkanmu menghubungi keluargamu walaupun sekali saja. Maafin aku, Machan.


"Mommy, semoga mommy bisa tenang dan bahagia disana." Lanjut Sherly lagi.


Zidane memeluk istrinya dari samping dan mengecup pucuk kepalanya.


"Kamu kuat, sayang." Sherly menoleh wajah tampan di sampingnya dengan tersenyum manis.


Tuan Hadi dan Aldrian menghampiri dan memeluk putri bungsunya sambil mengecup keningnya.


"Kita makamkan mommy sekarang ya!" Sherly mengangguk perlahan..


Peti mommy pun diangkat dan di gotong oleh beberapa orang termasuk Aldrian dan Zidane.


Mereka memakamkan nyonya Fransisca tak jauh dari komplek perumahannya.


Liang lahat yang sudah di siapkan untuk memasukan peti kedalamnya sudah tersedia.


Jasad mommy di turunkan bersama petinya dan di tutupi tanah diatasnya sampai tertutup rapat.


Batu nisan bertuliskan Fransisca Grisheld Prayoga lengkap dengan tanggal kelahiran dan tanggal kematian, serta fhoto berbingkai dan juga bunga yang cantik di atas pusara mommy.


Setelah berdo'a, mereka pulang satu persatu meninggalkan makam mommy.


"Ayo, sayang! Biarkan mommy kamu neristirahat dengan tenang." Ajak daddy.


"Iya, dad." Suaranya sangat parau karena terus menahan tangis.


"Mom, kami pulang dulu ya.!" Ucapnya dengan menyentuh batu nisan sang ibu.


Mereka berdiri dan meninggalkan makam sang mommy dengan sesekali menoleh ke belakang.


Dari kejauhan seseorang mengintip dari balik pepohonan dan menyeringai nampak senang.


"Akhirnya kalian muncul juga, bocah nakal."



"Saya akan mencari cara supaya kalian menyerahkan diri kepada saya dengan suka rela."


Tanpa mereka sadari, orang itu tersenyum senang melihat mereka dalam keadaan terpuruk seperti ini.


Lanjut gaess ..

__ADS_1


__ADS_2