Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Mencari tahu


__ADS_3

Dika terlihat mondar mandir di depan pintu kamar perawatan Iren.Ia sangat bingung dengan penjelasan dokter.


Setelah Indra menelponnya, ia langsung bergegas datang ke rumah sakit untuk memastikan kebenarannya.


"Hallo, Ndra.Ada apa nelpon gue?"Tanya Dika saat dia menjawab telpon dari Indra.


"Dia hamil"Ucap Indra singkat.


"Siapa?"Tanya Dika bingung.


"Renita hamil" Jawab Indra lagi.


"Apa??"Dika terkejut mendengar ucapan singkat dari Indra.


Saat ia akan menanyakan lagi, panggilan itu di putus oleh Indra.Mungkin dia sangat sedih saat ini.


Hati Dika menjadi tak tenang.Ia sangat bingung dengan kabar yang di terimanya.


Sebenarnya, Indra tak tahu kalau anak yang dikandung Iren itu adalah anak dari Dika.Ia cuma memberitahukan alasan putusnya mereka pada sahabatnya saja.


Beberapa hari yang lalu, Dika mengetahui kalau I&I putus.Maka ia bertanya kepada Indra tentang alasan putusnya mereka yang Indra sendiri tak mengetahuinya.


Dika mengusulkan untuk mencari tahu alasan Iren memutuskan Indra.Maka dari itu, atas inisiatif Dika, Indra mengikuti Iren sampai kontrakan barunya di daerah pemukiman padat penduduk.


Terungkaplah sudah alasan keputusan Iren yang membuat hati Indra hancur berkeping-keping.Entah harus menerima dengan lapang dada, atau marah kepada takdir yang mempermainkannya?


Dika mengingat setiap perkataan dokter.


"Dia sedang hamil tiga bulan, dan ini kondisi yang sangat sulit untuk ibu hamil.Karena rentan terhadap keguguran.Apalagi, dia kekurangan gizi dan kondisi kesehatannya sangat mengkhawatirkan"


Dika terlihat Frustasi.Ia duduk di bangku taman untuk menenangkan diri.



"Apa gue harus mengakui kepada semuanya kalau itu adalah anak gue?"Gumam Dika yang kemudian menggelengkan kepala.


"Ah..tidak...tidak...Gimana kalau si Indra marah tanpa mendengar penjelasan dari gue?"Ia sangat takut dengan kemungkinan yang terjadi.


Nyali Dika menciut mengingat jika semua orang akan tahu kebenaran tentang mereka. Bagaimana jika mereka tak mau memaafkannya?Bagaimana jika Indra marah besar dan persahabatan mereka hancur begitu saja?


"Aaarrrggghhh"Dika sangat pusing memikirkan semuanya.


Dia pun melangkahkan kaki menuju parkiran kemudian pergi dengan motornya ke sebuah tempat.


Sesampainya di tempat itu, ia langsung manjat ke atas rumah pohon.Tempat yang biasa And the genk tinggali hanya untuk sekedar nongkrong atau beristirahat. Kadang jika kabur dari rumah pun mereka lari kesini.


Biasa ya, anak bandel ya gitu kaburan.Hihii.


Di pandangnya sebagian fhoto berbingkai And the genk dari saat masih TK, SD, SMP, SMA, sampai kuliah.


Fhoto-fhoto kebersamaan mereka terpajang di rumah pohon itu dan kebanyakan terpajang di basecamp.


Dika tersenyum mengingat semua kenakalan mereka sedari kecil sampai dewasa.Saat mereka bercanda, tertawa, kadang saling bertengkar untuk memperebutkan hal kecil.


Namun, itu semua tak mempengaruhi persahabatan kelimanya.


"Gue kangen masa-masa itu."Mata Dika berkaca menatap semua fhoto yang terpajang disana.


Ia pun tersenyum kecil saat melihat kenakalan mereka yang sengaja di abadikan untuk kenangan.


"Sepertinya, masa itu tak akan pernah kembali lagi"Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


Dika duduk termenung di dalam rumah pohon sampai menjelang malam.Ponselnya di matikan supaya tak ada yang mengganggu kesendiriannya.


Dirumah sakit.


Renita mengerjapkan matanya.Ia mengedarkan pandangannya kesana kemari dan hanya mendapati tembok putih di sekeliling ruangan.


Bau obat-obatan membuatnya mual sehingga ia berdiri dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"Wwuueeeekk"Rasanya perut Iren seperti di aduk-aduk.Ia tak tahan dengan keadaan seperti ini.

__ADS_1


Saat Iren di kamar mandi, seseorang masuk dan mendapati kamar yang kosong tak berpenghuni.


"Lho, kemana dia?"Ia menjadi panik seketika.Namun, kecemasannya terhenti saat mendengar air keran yang menyala.


Gemericik air di kamar mandi membuat dirinya tenang.Di tutupnya pintu kamar dan ia melangkah masuk kemudian duduk di sofa.


Iren yang sudah selesai memuntahkan isi perutnya pun merasa lega.Ia keluar dengan berpegangan di tiang imfus.


Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya sangat kurus.Seperti kata dokter, ia kekurangan gizi.


Iren berjalan menuju ranjang tanpa mengetahui keberadaan seseorang di dalam sana yang sedang menunggu dirinya.


Ia merebahkan dirinya lagi di ranjang itu.


"Sabar ya sayang, bunda gak akan membiarkanmu menderita!"Dielusnya perut yang masih rata itu.Ia mencoba berinteraksi dengan janin di rahimnya.


Iren memejamkan mata mengingat perkataan dokter sewaktu dia mau berangkat ke jakarta untuk menemui Sherly.


Sebelum terbang ke jakarta, Iren merasakan perutnya yang selalu sakit dan keram jika kelelahan atau stres.Ia pun mendatangi dokter untuk berkonsultasi perihal penyakit yang di deritanya.


Namun, kabar dari dokter itu mengejutkannya. "Selamat nona, anda akan menjadi seorang ibu"Bagai di sambar petir, hati Iren menjadi hancur.


Apa ia harus senang atau sedih dengan keadaan ini.Jika dirinya sudah menikah dan ia mengandung anaknya Indra, mungkin dia akan sangat bahagia.Tapi, ini bukan anaknya Indra.Melainkan anak dari sahabat kecilnya sekaligus sahabat Indra juga.


Terlintas di benaknya niat menggugurkan kandungan.Namun, ia berpikir kembali. Melakukan itu saja sudah dosa, apalagi jika menggugurkannya?Seberapa besar dosa yang harus ia tanggung untuk semua kesalahan yang di lakukannya?


"Aku gak akan pernah menggugurkan kandunganku!"Ucapnya lirih dengan mata terpejam sambil mengelus perutnya.


"Jadi, siapa ayah dari bayi yang ada di rahimmu?"Seketika mata Iren terbuka.Ia terkejut dengan suara seorang pemuda yang selama ini dicintainya.


Indra berdiri di hadapannya dengan menahan amarah.Terlihat wajah yang merah dan mata yang berkata serta tangan yang terkepal.


"I..Indra?"Iren gugup dengan keadaan seperti ini.


"Siapa pemuda yang telah menodaimu?" Indra terlihat sangat marah.


Iren tak sanggup mengatakan apapun.Ia terlalu takut untuk mengungkap kejujuran dari pada kemarahan Indra sekarang.


Iren pun menjadi tersentak dan gemetar.Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi.


"Kamu akan mengatakannya sendiri, atau aku yang akan mencari tahunya?"Terlalu sulit untuk Iren memilih.


"Baiklah, aku akan mencari tahu siapa orang yang telah melakukan ini padamu.Akan ku pastikan orang itu akan merasakan akibatnya!" Indra melangkah pergi setelah mengatakan itu dan meninggalkan Iren yang sedang menangis.


"Indra!"Teriak Iren saat tangannya di hempaskan kasar oleh Indra.


"Hiks...hiks...huhuhuuuu"


Indra pergi dengan amarahnya.


Ternyata ia tetap tak mau mengatakannya. Cih, apa gunanya gue berada disini terus.


Dilajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan beraspal.


Pikirannya sedang kalut, ia tak mampu berpikir apapun lagi selain memikirkan tentang Iren dan pemuda yang telah merenggut kesuciannya.


"Sialan!"Teriaknya sambil menyetir.


Mobil melaju dengan kencang membelah jalanan menuju ke sebuah tempat.


Setelah sampai di tempat itu.Ia turun dari mobilnya dan menaiki tangga.


Langkahnya terhenti saat melihat sebuah kaki menjulur di lantai rumah pohon.


Di liriknya si pemilik kaki yang ternyata sahabatnya yang sedang tidur di sana.


"Dika?sedang apa dia disini?"Ia berjongkok dan menggoyangkan lengan sahabatnya.


"Hei Dik, ngapain lu tidur disini?"Tanya Indra sambil menepuk lengannya.


"Emh, apa sih nyak?aye masih ngantuk"Dika meringkukkan badannya tak mau bangun.

__ADS_1


"Eh, dodol.gue bapak lu!"Indra terus menggoyangkan lengan Dika.


"Aahh, babeh.jangan ganggu anaknya, ih!" Ia belum sadar dengan orang yang di depannya.


"Dik, gue mau cerita nih.bangun dong!"Indra berusaha membangunkannya.Namun tetap saja tak mau bangun.


Dika berbalik dan membelakangi Indra yang terus menggoyangkan lengannya untuk menyuruhnya bangun.


Tiba-tiba, Indra harus mundur dan menjauhi Dika setelah gas beracun menyerbunya.


"Duuuuutttt" Bokong Dika mengeluarkan gas tanpa asap yang pasti tanpa api juga. Suara yang merdu cukup sekali berbunyi dengan nyaring namun cukup mematikan nyamuk dan juga lalat yang lewat disana.


"Wasyem lu, gue di kentutuin!"Di tendangnya bokong Dika sampai dia bangun karena terkejut.


"Wanjaaayy, sakit dodol!"Ia bangun seketika dengan memegang bokongnya.


"Gila lu, tong.Makan apaan sih, lu?baunya bikin sakit jantung!"Di pencetnya hidung mancungnya supaya tak terkena polusi udara.


"Ah, gue tadi makan jengkol balado yang di masakin encing Wati.Rasanya enak bener nyampe gue nambah dua kali.Gue kira gak bakalan meletus disini.Sorry ya.Heheheee"Ia cengengesan dan menaruh dua jari di depan.


"Sialan emang.Gue lagi kesel tambah kesel. Gue belum punya jurus menyerap energi negatif"Indra bertolak pinggang di depan Dika yang cengengesan.


"Emang lu lagi kesel apaan sih, Ndra?"Dika duduk bersila.


"Nyalain kipas anginnya dong!Baunya bikin gue sesek napas"Hidunya masih di jepit kedua jari tangan.


"Masih bau, ya?gue kira udah ilang.Ternyata, masih beredar dimana-mana.Hehehee" Tanpa rasa bersalah, ia menambah polusi udara di sana.


"Duuuttt...prrreet...!" Ditambahkannya bumbu penyedap rasa biar tambah nikmat.


"Wasyem..sialan banget lu!"Kaki Indra melayang di udara dan mendarat di bokong Dika lagi.


"Aduh..kurang ajar lu!"Dika mengaduh kesakitan karena tendangan Indra yang cukup Kencang membuat ia terjatuh.


"Lagian sih, lu.Pake nambahin segala." Kekesalan Indra tak dapat di tutupi.


"Sorry...sorry...gue gak bisa nahan.Remnya blong."Ucap Dika terkekeh tanpa bersalah.


"Gue lagi kesel nih.jangan sampe elu gue tendang ke bawah, ya?"Ujar Indra.


"Gue heran deh.Sebenarnya elu kesel kenapa sih?"Bertanya dengan masih menepuk bokongnya yang di tendang.


"Gue mau nyari tahu siapa cowok yang menghamili Iren.Gedek banget sama tuh cowok.Apa dia gak mau bertanggung jawab atas perbuatannya?" Dika seketika menjadi diam karena perkataan Indra.Ia terlihat gugup menghadapinya.


Karena Dika yang membisu membuat Indra menepuk bahunya"Lu bantuin gue buat nyari cowok brengs*k itu, ya!"


Dika tersentak dengan tepukan Indra dan tersenyum ketir.


Kalau lu tahu cowok brengs*k itu gue, gimana? Apa yang bakal elu lakuin ke gue, Ndra?


Ia menunduk dan tak tahu harus berkata apa.


Indra melirik sahabatnya."Gue gak akan memaafkan cowok brengs*k itu.Sekalipun dia sahabat gue!"


Sekali lagi, Dika semakin bersalah.Dia memilih diam dan tak mengatakan apapun.


Walaupun sebenarnya ingin sekali Dika meminta maaf atas perbuatannya.Tapi, ia terlalu takut untuk mengakuinya.


Kedua sahabat itu pun termenung dengan pemikirannya masing-masing.


Bersambung..


♧♧♧♧


Ke jogja membeli asinan,


Tak lupa beli salak dan juga permen,


Buat para pembaca budiman,


Jangan lupa like dan juga komen.

__ADS_1


Hatur nuhun😗😗😗


__ADS_2