Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Rata dengan tanah


__ADS_3

Mereka terpojok karena para arwah gentayangan itu terus bergerak mendekat ke arah mereka. Mau tidak mau, mereka mundur karena jumlah arwah itu semakin bertambah banyak.


Hendri sengaja memanggil semua arwah penghuni bangunan tua tersebut untuk menyerang mereka supaya tak mengganggu ritual pembangkitan kekuatan ghaibnya.


Hendri saat ini dengan mudahnya bisa membuat mereka terpojok dan ketakutan karena kedatangan semua arwah gentayangan.


Namun, Hendri tak menyangka jika Sherly akan mempunyai ide gila dan cara konyol yang tak pernah dipikirkan oleh siapapun.


"Gimana caranya, dek?" Tatapan semua tertuju pada Sherly yang mengajukan cara untuk menghentikan semua arwah gentayangan untuk mendekati mereka, bahkan menghilang dari sana.


"Sebelum memberitahukan caranya, tolong papah Zidane kemari mendekat padaku, kak!" Mereka tampak bingung namun tetap menuruti permintaan Sherly.


"Geri, Indra, bawa Zidane kemari!" Titah kak Al kepada dua sahabat adiknya.


Geri dan Indra langsung mengangkat tubuh Zidane mendekat ke arah mereka di bantu Nania yang dengan cepat menghalangi gangguan arwah yang maju mendekat.


"Terus, apa yang kita lakukan?"


Hendri tampak tersenyum karena melihat tingkah mereka yang terlihat sangat kebingungan dan putus asa.


"Sudahlah, Al. Adikmu hanya ingin mati dengan tenang dan bertemu suaminya untuk terakhir kali." Aldrian menjadi geram mendengarkan perkataan Hendri.


"Kamu." Sherly langsung menghentikan langkah Al yang akan maju ke arah Hendri.


"Tidak kak! Jangan terpancing oleh perkataannya. Cukup dengarkan perkataan aku saja, tolong!" Ucap Sherly.


"Baiklah. Apa yang harus kami lakukan?" Tanya Aldrian penasaran begitu juga mereka yang ada disana.


"Cepatlah, Sher! Semua arwah semakin mendekati kita." Mereka terus waspada dengan sesekali melirik ke belakang.


"Kak, hadapkan kepala Zidane ke arahku." Mereka mengernyitkan dahi mendengar permintaan Sherly.


"Untuk apa?"


"Umm, aku ingin mencoba cara ini dengan menggapai bibir Zidane."


Mereka seketika membulatkan mata mendengar cara yang akan di lakukan Sherly. "Haaah, apa?"


Cara ini terbilang sangat konyol dan terdengar aneh. Bagaimana tidak? Sherly mengatakan cara untuk mengalahkan semua arwah gentayangan itu dengan menyatukan bibirnya dengan bibir Zidane.


"Kalau elu mau ciuman, ya nanti aja di rumah dong dodol!" And the genk berkata dengan terkekeh dan wajah yang memerah.


"Haish, apa sih yang kalian tahu selain perbuatan mesum? Gue mau buktikan kejadian waktu gue sama suami gue, dodol. Cepetan, sebelum mereka semakin banyak berdatangan!"


Mereka masih kebingungan namun tetap melakukannya.


Aldrian memegang kedua bahu di bantu Indra dan Dika yang memegangi tubuh Zidane supaya tak terjatuh. Lalu, Al mengarahkan wajah Zidane sampai bibir adik iparnya itu menempel di bibir adiknya.


"Ku mohon, bantulah kami." Sherly memejamkan mata saat bibir mereka menyatu.


Sedangkan yang lain memalingkan wajah saat melihat mereka menyatukan bibir.


Sherly tetap berusaha membangkitkan sesuatu dalam diri mereka supaya bisa mengalahkan arwah gentayangan yang terus mendekat.


Sedangkan Hendri yang melihat itu semakin memanas dan tersenyum kecut sambil mengepalkan tangannya.


King ice. Bangunlah. Selamatkan aku dan anak kita!


Sherly tetap berusaha dan berharap suaminya itu bangun dan kembali seperti sebelumnya dengan kekuatan yang dimiliki.


Cukup waktu lama membangunkan Zidane yang pingsan karena kepalanya berdarah setelah di pukul Hendri dengan sangat keras. Dia tak merespon kecupan yang istrinya berikan karena dalam keadaan pingsan dan Sherly pun dalam keadaan terikat.


"Ya tuhan, arwah itu semakin mendekat kemari. Ayo dong, Sher!"


King ice, bangunlah. Tolong kami!


Sherly tetap berusaha dan tak lama kemudian, sebuah cahaya muncul di kening Zidane dan di punggung Sherly.


Cahaya putih yang semakin lama semakin terang menyilaukan mata mereka dan membuat para arwah itu menghilang dengan sendirinya.


"Sial, apa yang terjadi? Ini sangat menyilaukan mata." Hendri pun menutup matanya karena merasa silau dengan cahaya putih yang memenuhi ruangan.

__ADS_1


Zidane membuka mata seketika dan menatap istrinya dengan perasaan rindu. Dia membalas kecupan Sherly dengan senang dan memperdalamnya. Seketika, tali yang mengikat Sherly pun terlepas dan dia terduduk di bantu oleh Zidane tanpa melepaskan pagutan mereka.


"Sayang, maafkan aku yang terlambat menemukanmu!" Ucap Zidane setelah bibir mereka terlepas.


Sherly menggelengkan kepala dengan menitikkan air mata. "Tidak. Kamu datang tepat waktu, sayang. Lihatlah, aku baik-baik saja bukan?"


"Apa yang terjadi barusan?" Yang lain pun menoleh ke arah pasangan suami istri yang memperlihatkan kejadian menakjubkan mata mereka barusan.


"Eh, sejak kapan lu lepas dari tali pengikat itu, Sher? Dan kamu Zidane, sejak kapan bangun dari pingsannya?" Semuanya penasaran menanti jawaban Sherly dan Zidane.


"Itu karena ... umm, gimana ya jawabnya?" Sherly terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan mereka.


Betul juga kata mereka. Sherly bisa lepas dan Zidane pun bangun! Dan ... kenapa Sherly dan Zidane bisa mengeluarkan cahaya putih jika mereka saling bersentuhan? Haish, ini mungkin kesaktian dari tanda lahir itu. Ya, pasti itu yang membuatnya seperti sekarang ini. Saya harus segera mendapatkan darah keduanya, atau janin yang ada di rahim Sherly.


Hendri tampak diam memperhatikan dan mendengarkan jawaban Sherly dengan seksama. Namun, usahanya untuk mengetahui jawaban Sherly sia-sia saja karena Aldrian memotong perkataan adiknya.


"Ya, kami tahu itu. Sudahlah. Yang terpenting sekarang gimana caranya mengalahkan semua arwah gentayangan dan juga si penjahat itu?" Lirikan mata Aldrian tertuju pada Hendri.


"Hemh, saya tak takut walaupun kalian semua maju." Ucap Hendri sombong.


"Ya, kami tahu. Walaupun kamu sendirian, tapi pengikutmu sangat banyak bukan? Jadi, apa yang kau talutkan?" Cibir Dika.


"Tentu saja, Dik. Dia itu siluman, pastilah temannya juga arwah gentayangan. Beda dengan kita yang manusia." Indra berkata sambil bertos ria dengan Dika.


Hendri tak menghiraukan cibiran dari keduanya, karena dia tampak serius membacakan sebuah mantra pembangkit.


Klotak ... klotakkk ... drrrrggghhhh ... prak ... blugh


Semua bendra bergerak dan berjatuhan seperti terkena guncangan dahsyat.


"Ada apa ini?" Mereka saling pandang.


"Apa mungkin ada gempa!" Semakin ketakutan sambil saling berpelukkan.


"Keluar. Ayo kita keluar semuanya, cepat!"


Mendengar teriakan Zidane yang menyuruh semua keluar dari tempat ini, tanpa di minta dua kali pun mereka langsung berhamburan keluar dengan berlari.


"Iya. Tapi, kakiku terasa sakit sekali. Gak bisa bergerak lebih cepat." Sherly meringis menahan sakit di pergelangan kakinya.


"Biar aku menggendongmu, ya."


"Tapi, disini banyak sekali penghuninya. Bagaimana jika tiba-tiba ada yang menyerang kita? Kamu gak bisa melawan mereka jika kamu menggendongku, sayang."


Aldrian langsung menggendong adiknya dan membawanya berjalan keluar.


"Kakak akan menggendong dia. Sedangkan kamu melindungi kami!" Zidane setuju dengan perkataan kakak iparnya.


Mereka berjalan turun dari bangunan tua tersebut dengan terus berlarian supaya tak terlambat keluar.


Semakin lama bangunan tua itu semakin berguncang hebat seperti terkena gempa. Semua tembok yang sudah retak mulai berjatuhan karena rubuh terkena guncangan.


"Haaaaaaa."


Jeritan terdengar dari arah depan. Sepertinya And the genk dan kapten Deni menemui kesulitan.


"Lantainya rubuh. Kita lewat mana, kapten?"


Deni pun tampak berpikir sambil mengedarkan pandangannya. "Ah, kesana!" Tunjuknya.


Mereka pun memutar arah dan mulai berjalan lagi di ikuti Zidane dan Aldrian yang menggedong Sherly.


"Awas!" Teriak Zidane saat melihat sesuatu yang melayang ke arah mereka. "Menunduklah!" Lanjut Zidane yang langsung di turuti mereka.


Tanpa berkata, Zidane berlari dan melompat menerjang benda bergerak tersebut yang ternyata siluman kelelawar.


"Cepat lari!" Teriaknya saat dia sudah memegang leher siluman tersebut.


Mereka melanjutkan langkahnya dan menuruni setiap tangga yang sudah mulai sedikit rubuh karena guncangan dahsyat yang di timbulkan Hendri.


"Tangganya sangat menakutkan, kak. Bagaimana kalau kita terjatuh?" Indra ragu saat langkahnya menginjak tangga dan tangganya malah rubuh sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Mereka tampak berpikir melihat kondisi bangunan yang sudah mulai hancur sebagian tersebut.


"Kita berjalan perlahan. Biar saya dulu yang melewatinya." Deni berhati-hati saat menginjakkan kaki di tangga.


Keringat sudah membasahi seluruh tubuh mereka karena lelah berlarian dengan ketakutan.


Saat sedikit lagi sampai di ujung, Deni pun melambaikan tangannya menyuruh mereka turun satu persatu.


Dimulai dari Dika, Indra, dan disusul Geri. Ketiganya bisa melewati tangga yang sedikit hancur tersebut.


"Aldrian, biarkan adikmu berjalan perlahan. Kau tak bisa membawa adikmu turun dengan menggendongnya. Bebannya terlalu berat dan bisa membuat tangganya rubuh!" Teriak kapten Deni.


"Benar apa yang dikatakan kak Deni, kak. Biarkan aku berjalan sendiri untuk menuruni tangga ini." Kata Sherly meminta persetujuan.


"Aku akan mendampinginya, kak!" Nania meyakinkan Aldrian.


Aldrian melirik si hantu wanita di samping adiknya. Dia pun pasrah karena ini jalan satu-satunya untuk turun dari tempat ini. "Baiklah, tetap berhati-hati ya dek!"


Sherly mulai bergerak turun menginjakkan kaki di setiap anak tangga yang sedikit roboh tersebut. Ia terus berjalan perlahan sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya yang tergesek tali.


Sedangkan Nania terus mengawasi langkah Sherly takut dia tergelincir dan jatuh.


Walaupun sedikit tertatih,


"Gue bisa ... gue bisa." Gumamnya sambil bergerak perlahan.


Tak lama kemudian, kakinya pun menginjak anak tangga terakhir. Dia langsung berbalik dan melambai ke arah kakaknya.


Aldrian langsung bergerak menuruni anak tangga dengan perlahan dan ia pun sampai juga di bawah.


Mereka langsung bergerak lagi untuk segera pergi dari tempat ini. Namun, Sherly tak mau pergi dan terus menatap ke atas.


"Dek, ayo pergi!" Ajak Aldrian.


"Tidak. Aku akan menunggu suamiku, kak. Dia masih berkelahi dengan siluman kelelawar itu."


Sherly tetap tak mau beranjak dari tempatnya berdiri. Dia tak mau pergi tanpa suami tercintanya.


Bangunan itu perlahan runtuh sedikit demi sedikit menyisakan puing-puing yang masih kokoh berdiri.


Tak ada pilihan lain, Aldrian langsung menggendong adiknya keluar untuk menghindar dari reruntuhan bangunan yang akan terjatuh.


Sherly meronta karena kakaknya membawa paksa dirinya untuk keluar tanpa suaminya.


"Kenapa kakak lakukan itu?"


"Kakak gak mau kamu kenapa-kenapa, dek. Kakak bertanggung jawab untuk melindungi kamu." Bentak Al.


"Tapi, Zidane ...!"


"Itu Zidane!" Tunjuk Indra yang melihat Zidane baru keluar dari bangunan tua tersebut.


"Sayang." Saat Sherly akan berlari menghampiri Zidane untuk memeluknya, tiba-tiba Hendri muncul dengan wajah yang menyeramkan dan ia melompat dari atas.


Zidane yang sedang merentangkan tangan untuk menyambut istrinya kedalam pelukan, di tarik oleh Hendri ke dalam bangunan tua lagi.


Dan tiba-tiba saja ....


Bluuuugghhhh


Bangunan itu hancur rata dengan tanah.


"Tidakk!"


**Selalu dukung author ya dengan like, komen, dan votenya. Jangan lupa hadiah juga.


Salam manis dari otor termanis ... Lien machan.


Terima kasih๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Lupyuh always**

__ADS_1


__ADS_2