Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Zidane dan Sherly


__ADS_3

Malam ini begitu sepi. Tak ada yang berteriak untuk sekedar menyuruh mereka makan malam.


Mereka hanya termenung di sofa ruang tengah dan tak satupun yang mengeluarkan suaranya.


Sampai seorang pelayan menghampiri.


"Tuan, makan malam sudah siap di meja." Ucapnya dengan menunduk.


Mereka menoleh ke arah sumber suara kemudian saling pandang.


Tuan Hadi mengangguk. "Iya, mbok. Nanti kami akan kesana."


"Ayo anak-anak, kita makan malam dulu! Tak baik jika menahan lapar. Walaupun keadaan kita sedang berduka, tapi tak baik jika terus berlarut dalam kesdihan." Ucap tuan Hadi.


"Tapi dad, aku malas." Sherly terlihat tak bersemangat.


"Ayo sayang, kita harus sehat demi mommy. Kita tak boleh membiarkan mommy melihat kita terus bersedih!" Zidane menarik tangan istrinya uang perlahan berdiri.


Mereka tersenyum melihat Sherly yang gampang sekali menurut kepada suaminya. Padahal, dia terhitung anak yang agak susah menurut.


"Dika, Iren. Ayo, kita makan bersama!" Ajak tuan Hadi kepada pasangan suami istri sahabat putrinya.


"Tidak om, kami akan pulang saja sekarang." Tolak keduanya.


"Hei, kalian mau ninggalin gue disaat seperti ini?" Sherly berbalik dan menegur keduanya.


"Bu-bukan gitu, beib. Maharani nunggu kita di rumah. Jadi, kita sebaiknya pulang sekarang."


"Makan dulu baru pulang." Kata Sherly.


"Tapi, beib!"


"Makan dulu baru pulang." Ia mengulangi perkataannya.


Keduanya saling pandang dan mengangguk pasrah. "Oke!"


"Yeeeaaahhh, ayo makan!" Sherly terlihat senang karena kedua sahabatnya mengiyakan permintaannya.


Dika dan Iren pasrah saat tangan Sherly menggandeng keduanya. Sedangkan yang lain hanya tersenyum melihat mereka bertiga.


"Masih sama seperti dulu. Hanya kurang Indra dan Geri." Kata tuan Hadi.


"Daddy benar. Jika mereka berkumpul, rumah ini akan terasa ramai lagi. Apalagi di tambah suara teriakan anak-anak mereka, mungkin daddy gak akan bisa bersantai di malam hari." Kak Al terkekeh.


"Iya Al. Hemh, kapan kalian memberikan daddy cucu, Zidane?" Zidane menoleh ke arah ayah mertuanya.


Dia tersenyum menanggapi pertanyaan ayah mertua. "Insyaallah, dad. Jika Allah menghendaki, mungkin tak lama lagi."


Tuan Hadi tersenyum mendengar jawaban menantunya.


Mereka pun sampai di meja makan dan duduk di tempat masing-masing.


Seketika suasana menjadi hening kembali saat menatap kursi kosong tempat mommy.


Zidane menoleh ke arah Dika dan mereka saling tatap.


"Sayang, ambilkan nasi dan sayur untukku!" Sherly melirik piring kosong yang di sodorkan suaminya yang meminta diambilkan nasi dan sayur.

__ADS_1


Tuan Hadi mengerti akan maksud Zidane. Ia pun mengikuti cara Zidane tersebut.


"Daddy juga mau diambilin." Hal samapun di lakukan ayahnya.


"Gue juga dong, beib." Dika ikut-ikutan.


"Eh, kakak juga mau!"


Empat piring kosong di hadapan Sherly meminta untuk segera diisikan. Dia melirik satu persatu pemilik tangan yang memegang piring kosong tersebut.


"Hemh, kenapa semuanya ke aku? Kak Al kan ada kak Aisyah, dan elu ada Iren. Ambil sendiri." Tolak Sherly.


"Aku akan mengambilkan nasi untuk daddy dan king ice." Ucapnya.


"Yaaahhh!" Tingkah mereka yang sedang mengeluh membuat tertawa semuanya.


"Kalau Rei diambilin siapa dong, aunty?" Akhirnya si kecil membuka suaranya.


"Rei mau diambilin makanan sama siapa? Sama mama atau aunty?" Tanya Sherly balik.


"Sama aunty saja deh!" Pintanya yang langsung di turuti Sherly.


"Siap bos. Aunty akan ambilin makanan untuk bos kecil ini." Rei senang dengan perlakuan tantenya sampai dia tersenyum gembira.


Mereka makan dengan lahap dan sedikit bercanda di meja makan. Walaupun sang mommy tak ada, tapi ini bukan akhir dari segalanya, bukan?


"Kami pulang dulu ya, beib. Takutnya Rani ngamuk mencari kita." Iren mencoba meminta izin pulang pada sahabatnya.


"Kenapa kalian tadi membiarkan Rani pulang sama neneknya? Kalau tidak kan kalian bisa menginap disini." Ujar Sherly dengan mengerucutkan bibirnya.


"Besok kita bawa Rani deh buat nginep disini. Sekarang kita balik dulu ya!" Kata Dika.


"Ya sudah, kita balik dulu. Om, kak Al, kak Aisyah, Zidane, kami pamit pulang ya." Keduanya berpamitan pada mereka.


"Gak nginep disini, Dik?" Dika menggelengkan kepalanya.


"Rani di bawa pulang enyak sama babeh, kak. Takutnya nanti nangis nyariin kami." Jawab Dika.


"Baiklah kalau gitu. Hati-hati di jalan ya."


Keduanya keluar dari rumah besar itu setelah berpamitan kepada semua penghuni rumah.


Duduk di ruang tengah sambil nonton televisi, itulah yang di pilih mereka. Namun, walaupun televisi menyala, tapi pikiran mereka menerawang entah kemana dan tidak memperhatikan tayangan televisi.


Tuan Hadi diam menatap layar televisi yang menyala tapi dia tak memperhatikan siaran itu. Kak Al termenung dengan memangku dagunya. Kak Aisyah membawa Rei untuk tidur di kamar. Sedangkan Sherly bersandar di bahu suaminya.


"King ice."


"Ya."


"Apa jika orang meninggal itu semua masuk syurga?"


Pertanyaan Sherly sontak menarik perhatian ketiga pria berbeda usia di ruangan itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Ketiganya memperhatikan mimik wajah Sherly.


"Bukankah di akhirat itu ada syurga dan neraka?" Mereka pun mengangguk mendengar pertanyaan Sherly.

__ADS_1


"Jadi, apa mommy akan masuk syurga atau neraka?"


Mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Wallahualam. Masuk syurga atau neraka tergantung amal perbuatan kita."


"Sayang, manusia meninggal membawa amal perbuatannya. Amal baik atau buruk, itulah yang di bawanya kelak. Bukan harta benda atau kekuasaan. Jadi, mereka akan di timbang amal baik dan buruknya." Zidane menjeda ucapannya.


"Jika timbangan kita berat di amal kebaikan, maka kita akan masuk syurga. Namun jika sebaliknya, maka ya kita tahu konsekuensinya." Jelas Zidane.


Sherly mengangguk. "Jika kita non muslim, apa kita akan masuk neraka?"


Zidane tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya. "Semua agama mengajarkan umatnya untuk berbuat kebaikan di dunia supaya mendapat keberkahan di akhirat. Tujuannya sama, yaitu ingin masuk syurga."


Zidane berkata dengan lembut kepada istrinya dengan mengelus kepalanya.


"Apapun agama yang kita yakini, kita hanya bisa berikhtiar kemudian tawaqal untuk mencapai ridhonya sang ilahi."


"Apa itu ikhtiar dan tawaqal?"


"Ikhtiar artinya kita berusaha sebaik mungkin untuk mencapai sesuatu yang kita tuju atau kita inginkan. Setelah berikhtiar kita tinggal tawaqal. Tawaqal sendiri artinya bersabar menyerahkan segala keputusan kepada tuhan. Apapun hasilnya, kita patut bersabar dan bersyukur." Jelas Zidane.


Sherly mengangguk mengerti dengan penjelasan suaminya.


"King ice."


"Hemm?"


"Kamu, daddy, dan kak Al kan rajin beribadah juga orang yang baik. Kalian pasti masuk syurga dong ya."


Zidane menggelengkan kepalanya. "Semua itu tidak menjamin, sayang. Kita tidak tahu akan masuk syurga atau neraka. Itu semua kehendak Allah SWT."


"Oooh, jadi itu semua kehendak tuhan?" Zidane mengangguk.


"King ice."


"Ya, sayang!"


"Apa setelah kita meninggal akan bertemu lagi diakhirat nanti?"


"Insyaallah. Jika Allah menghendaki, maka segalanya akan terjadi." Jelas Zidane dengan lembut.


Tuan Hadi dan Aldrian yang menyimak pembicaraan mereka hanya tersenyum karena Zidane memberi pengertian kepada Sherly dengan sabar.


"Kita tidak salah memilih dia untuk Sherly, Al. Dia pria yang benar-benar baik dan sabar. Mudah-mudahan mereka tetap bersama selamanya."


"Daddy benar. Zidane bisa membimbing Sherly ke jalan yang benar. Semoga mereka di jauhkan dari marabahaya."


"Amiiin." Ucap keduanya bersamaan.


Segala sesuatu yang kita inginkan belum tentu kita dapatkan Begitu juga permohonan yang belum tentu terkabulkan. Hanya tuhan yang menghendaki segalanya.


Dibalik kesetiaan dan kesabaran Zidane, ada orang yang menginginkan mereka berpisah untuk selamanya.


Dia tidak puas jika hanya melihat mereka terpisahkan saja. Rasa iri hati dan dengki menguasai dirinya dan membuat dia ingin mendapatkan segala yang diinginkan.


Rencana jahat dia susun sedemikian rupa hanya untuk memisahkan keduanya. Entah apa lagi yang akan di lakukannya untuk memisahkan Zidane dan Sherly.

__ADS_1


Bahaya apa yang menunggu Zidane dan Sherly di depan?


Apa mereka bisa melaluinya dengan kesabaran dan keikhlasan?


__ADS_2