Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Sebuah kesalahan


__ADS_3

Dika menggeliat merentangkan ototnya yang terasa kaku."Uuuhh, perasaan cape banget sih, kayak abis ngapain aja?"


Ia pun menggeliat ke arah samping namun terkejut dengan sesuatu yang ada di sampingnya."Astagfirullah, kok elu disini sih, Ren?"Tanya dia bingung dengan terperanjat.


Nampak Iren duduk menyandar di sandaran ranjang sambil menutupi seluruh tubuhnya sampai batas leher dan ia menangis dengan lirih.


"Ren, kok elu ada disini?"Tanya dia lagi namun Iren tak menjawab apapun kecuali tangisan.


"Elu kenapa, apa yang terjadi?bilang ama gue siapa yang nyakitin elu?"Tanya dia lagi sambil duduk di ranjang.


"Ren, "Dika memcoba menyentuh lengan Iren yang terbungkus selimut.Namun dengan cepat Iren menyingkir membuat Dika semakin bingung.


"Hiks..hiks..huuaaaa"Iren malah menangis dengan kencang.


"Ren, jangan bikin gue bingung dong!Elu belum jawab pertanyaan gue yang tadi, sekarang udah bikin gue tambah bingung." Dika mengacak rambutnya dan ia pun akan turun dari ranjang.


Saat tangannya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan siap untuk menapakkan kakinya, ia semakin terkejut dengan penampilannya sendiri.


"Astagfirullahaladzim"Dika langsung terduduk di bawah ranjang.


"Kok gue, bug*l sih?"Ia menatap dirinya sendiri dan menatap Iren.


Ia pun berpikir sejenak dan menebak apa yang telah terjadi.


"Jangan bilang kalau kita...????"Ia menatap Iren yang sedang menangis tersedu.


"Ya ampun, gak mungkin"Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Oh, ya Allah!"Di jambaknya kasar rambut lurusnya itu, ia pun berlari ke kamar mandi dengan keadaan polos.


Saat di kamar mandi, ia menatap dirinya di cermin.terlihat bekas cakaran kuku dan gigitan gigi seseorang di bahunya.


Dia pun yakin kalau itu milik Iren karena dengan melihat kondisi Iren yang seperti itu.


"Ya tuhan, apa yang sudah gue lakuin ini?" Dika menundukkan kepalanya sambil meneteskan air mata.


"Gak mungkin kan kalau gue..?"Ia melihat entong junior yang ternyata ada noda darah sisa semalam.Ia pun menyentuhnya.


"Ya ampun,"Dika menutup mulutnya.Ia tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Haaaaaaaaaaaaaa"Teriaknya kencang sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Sementara itu, Iren yang terus menangisi nasibnya yang harus berakhir seperti ini.Ia terus memeluk dirinya yang tertutup selimut tebal sambil menangis tersedu.


Flasback


Sherly yang pulang dari tempat kost Iren di hadang di pertengahan jalan menuju pulang.


Beberapa orang berbadan besar itu menghentikan mobilnya yang sedang melaju dengan cara melemparkan paku-paku kecil supaya terlindas oleh ban Sweaty.


Alhasil, sweaty yang sedang melaju kencang pun melambat dan berhenti di tengah jalan.


Para preman bayaran itu langsung menghampiri Sherly saat dirinya keluar untuk mengecek kondisi mobilnya.Ia sedang menunduk untuk mengecek apa masalah yang di derita sweaty, saat itu para preman itu beraksi.


Krup


Sebuah karung hitam masuk dan menggulung badannya yang sedang tidak siap untuk apa-apa.Ia pun meronta namun badan dan tangannya langsung diikat dengan tali.


Tubuhnya pun di gotong dan di masukkan kedalam sebuah mobil jeep dan di bawa entah kemana.


"Lepasin gue, dasar kurang asyem, kalian!" Ia terus meronta namun tak di hiraukan oleh para preman itu.


Tangan Sherly di pegang ke belakang oleh salah satu dari mereka.


Karung penutup itu pun di lepaskan saat mereka telah sampai di tempatnya.


"Kita ambil gambar dulu untuk mengancam si tuan muda.Dia tidak akan berani macam-macam kalau istrinya ada di tangan kita. Hahahaaa..."Preman itu tertawa.


Cekrek.


Fhoto Sherly saat tangannya terikat ke belakang dan wajahnya di pegang dan di dongakkan ke atas oleh preman itu terkirim ke nomer ponsel Zidane.


"Kalau mau selamatkan istrimu, datanglah ke club city sekarang juga.kami tidak ada waktu bermain denganmu"Pesan itu langsung terkirim ke nomor ponsel Zidane.


"Kau benar, setelah pekerjaan kita selesai, selain kita akan mendapatkan bayaran, kita juga mendapatkan tubuh indah nyonya muda ini.Hahahaaa" Mereka terlihat senang dan tertawa bahagia dan menelpon seseorang.


"Lepasin gue.siapa yang nyuruh kalian buat nyulik gue?harus kena nih!"Ia terus meronta untuk membebaskan diri.


"Kau tidak perlu tahu, nyonya muda.karena kami akan memperlakukanmu dengan sebaik mungkin"Ucap si preman.


"Nyonya muda?Jangan-jangan ini ulah musuh si king ice"Batin Sherly mengira-ngira.


"Gue akan bayar kalian seperti yang mereka berikan bahkan bisa lebih.Asalkan kalian melepaskan gue"Tawar Sherly.


"Kami tahu kau bisa membayar kami dengan lebih, nyonya muda.Tapi bukan cuma uang yang kami inginkan, kami menginginkanmu untuk melayani kami semua seperti yang telah di janjikan tuan kami.Bagaimana, kau mau menerimanya, nyonya muda?"Kata mereka dengan senyum nakal.


"Tuan?benar dugaan gue, pasti musuh si king ice."Batin Sherly menatap mereka satu persatu.


"Kalian ingin di layani?Oooohh, baiklah.Gue akan melayani kalian semua dengan senang hati.Tapi, lepasin dulu tangan gue, sakit"Kata Sherly dengan nada manja sambil tersenyum.


"Benarkah, nyonya muda?Waaaah, kalau dari tadk kau begitu menurut, mungkin kami tidak akan susah payah mengikat tanganmu segala."Tuturnya sambil melepaskan ikatan tangan Sherly.


"Bodohnya!"Sherly tersenyum manis.


"Aku kan cuma gadis yang lemah dan tak berdaya, bagaimana aku bisa melawan kalian semua dengan tubuh kecilku ini, hemm?"Ia berkata dengan bersikap manja.


"Baiklah nyonya muda, kami akan memperlakukanmu dengan baik dan tidak akan kasar kok.Asalkan kamu nurut dan tak memberontak.bisakan?"Preman itu berkata dengan mendekat ke arah Sherly.


"Bagaimana aku melayani kalian semua?mau satu persatu, atau semua sekaligus?"Tanya Sherly yang terus bernada manja.


"Waaah, kau ternyata nakal ya?kalau kita meminta kau melayani semua sekaligus, apa kau sanggup?"Tatapannya mulai berbinar mendengar pertanyaan Sherly.


"Dengan senang hati"Dia tersenyum ke arah para preman itu.


Mereka pun terpancing dan langsung memegang tangan Sherly.

__ADS_1


Krekkkk..


Tangan itu di pelintir oleh Sherly ke belakang sebelum menyentuh tubuhnya.


"Aaaahhh"Preman itu menjerit seketika saat Sherly memelintirkan tangannya.


"Uppsss, sorry.kekencengan ya?"Sherly menutup mulutnya dan berpura-pura meminta maaf.


"Hei, kau berbohong.Ayo, seret gadis itu dan tunjukkan padanya bagaimana sikap yang baik untuk melayani kita"Salah satunya mendekat dan diikuti dua orang lagi.


Dan terjadilah yang seharusnya.Sherly melayani dengan setulus dan senang hati memperlakukkan mereka sebaik mungkin sampai mereka mengalami patah tulang dan wajah yang babak belur.


"Bagaimana, apa kalian masih sanggup melayaniku, hemhhh?"Sherly yang terus bersikap manja.


"Aa...ampuni kami, nyonya muda.kami tidak akan melakukkannya lagi"Mereka bersujud memohon maaf pada Sherly.


Sherly pun mendekati mereka dan menarik salah satunya."Katakan, siapa yang menyuruh kalian?"Tanya Sherly dengan nada dingin.


"Kaa...kami tidak tahu nama mereka.Tapi mereka bilang sakit hati kepadamu karena tuan muda memperlakukanmu dengan baik dan memecat mereka dari pekerjaannya." Tutur mereka.


"Memecat mereka?Apa kedua satpam itu atau kedua resepsionis itu?"Tanya Sherly.


"Mereka berempat yang meminta kami dan memberikan kami imbalan."Jelas mereka.


"Hemh, ya sudah.ini ambilah"Sherly memberikan sejumlah uang kepada mereka.


"Sebagai permintaan maaf gue.bagikan yang rata biar gak pada ngiri."Lanjutnya sambil melangkah pergi.


Mereka saling pandang kemudian menatap punggung Sherly yang perlahan menghilang di balik pintu.


"Dia kuat sekali sih!"Kata salah satu dari mereka.


"Pantas dia di perlakukan sepesial oleh tuan muda, ternyata dia wanita yang istimewa"


"Iya, walaupun dia tahu kita disuruh untuk menculiknya, dia tetap memberikan kita uang untuk kompensasi setelah memukuli kita"


"Wanita yang baik pasti bersanding dengan pria yang baik pula.semoga mereka selalu langgeng"


"Semoga mereka terhindar dari fitnah dan kejahatan seseorang"


Para prema itu mendo'akan Sherly yang baik-baik, walaupun mereka sebelumnya telah merasakan kerasnya pukulan gadis itu di sekujur tubuhnya.


Sementara di basecamp, Zidane yang datang menggunakan mobil kesana karena permintaan Sherly untuk datang.Ia telah menunggu kehadirannya.


Dika yang datang menggunakan motor, berbarengan dengan mobil Zidane yang masuk ke pekarangan basecamp.


"Hai, apa kabar?"Mereka saling menjabat tangan.


"Apa mereka belum datang?"Tanya mereka berbarengan.


Mereka pun saling pandang dan tersenyum canggung.


"Masuk saja dulu, kita tunggu mereka di dalam!"Kata Dika mengajak Zidane masuk layaknya tuan rumah karena ini memang tempat And the genk.


Zidane pun melangkah masuk dengan mengekor di belakang Dika.


"Silahkan diminum!"Ia menaruh dua minuman kaleng dingin di meja.


"Maaf, cuma ada ini.mungkin Sherly lupa mengisi kulkas dengan makanan."Lanjut Dika.


Zidane menatap minuman kaleng dingin itu. Ia tak berani menyentuhnya sedikit pun.


Karena Zidane cuma menatapnya saja, Dika pun bertanya dengan penasaran.


"Apa elu gak suka dengan minuman kaleng?"


Zidane mendongakkan kepala dan menggeleng.


"Suka kok"Dengan ragu Zidane mengulurkan tangannya dan mengambil minuman dingin itu lalu meminumnya sedikit.


Saat bibirnya menyentuh kaleng minuman yang dingin itu, ia langsung gemeteran seketika.Namun dengan cepat Zidane menyembunyikan tangannya di bawah meja.


Perasaan Zidane tak karuan saat kaleng minuman yang dingin itu ia sentuh dan air dingin itu tertelan olehnya, seketika semua bayangan bermunculan di pikirannya.


"Jangan sekarang, ya tuhan."


Dika melihat kegugupan di wajah Zidane, rasa cemas dan ketakutan terlihat namun Dika berpura-pura tidak tahu.


"Apa dia fobia air dingin?tapi kenapa dia mau meminumnya?kalau dia gak bisa minum juga kan gue gak bakal maksa"Dika merasa bersalah.


Mereka saling diam dan terlihat canggung.


Zidane sudah merasa tak tahan.Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.Ia tampak gemeteran.


"Maaf, toiletnya dimana?"Tanya Zidane sambil menahan rasa yang Zidane sendiri pun sulit mengungkapkannya.


"Dari sini lurus saja terus belok kiri"Jawab Dika.


"Terima kasih!"Ucap Zidane dan ia pun langsung melangkah ke kamar mandi.


Di dalam toilet, Zidane mengepalkan kedua tangannya dan ia memandang dirinya di cermin besar.Tampak semua bayangan itu muncul seketika.


Ia pun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Yaa Allah, aku mohon jangan sekarang."Ia membasuh wajahnya dan mengusapnya berulang kali.


Di luar, Dika menunggu Zidane yang tak kunjung keluar dan teman-temannya pun tak terlihat.


"Haish, dia ke toilet mau ngapain sih?masa sudah setengah jam kagak keluar?apa dia beneran fobia air dingin?Bagaimana keadaannya sekarang ya?"Dika tak tenang.


Bip


Sebuah pesan bergambar masuk di ponsel Zidane.


Dengan ragu-ragu Dika melirik ponsel Zidane tapi ia tak berani."Itu privasi dia"

__ADS_1


Kriing...kriiiing..


Ponsel Zidane berdering menandakan panggilan masuk.


"Hei tuan muda, ponsel elu berbuyi"Teriak Dika namun tak ada jawaban dari Zidane.


Ponsel itu terus berbunyi membuat Dika kesal.


Dengan ragu, ia menerima panggilan masuk itu."Hallo"


"Tuan muda, apa kau tidak membaca pesan dari kami?"Tanya orang di sebrang.


"Apa?"Tanya Dika lagi.


"Lihatlah pesan dari kami supaya kau mengerti" Panggilan itu pun terputus.


Dika pun mendengar teriakkan gadis yang ia cintai dari sebrang sana."Lepasin gue"


"Kaya suara Sherly."Di bukanya layar ponsel Zidane yang tak terkunci.


Terlihat Sherly dengan tangan terikat dan wajah yang di dongakkan oleh mereka.


"Kalau mau selamatkan istrimu, datanglah ke club city sekarang juga.kami tidak ada waktu bermain denganmu"Isi pesan mereka.


"Kurang ajar, mereka menculiknya."Dika pun langsung menyambar kunci motornya dan ia melajukkan motor dengan kecepatan penuh menuju club city.


Sementara Zidane tengah pingsan di dalam kamar mandi yang tidak di ketahui oleh Dika.


Dika menyusuri lorong club malam itu dengan terburu-buru.


Mereka yang sudah berkomplot dengan para penjahat itu pun tak tahu jika itu orang lain.


Mereka mengira jika Dika adalah Zidane dan mereka pun langsung menjalankan rencananya.


"Tuan muda, nyonya muda disana"Kata si penunjuk arah.Dia sengaja mengarahkan pria itu ke sebuah kamar.


"Katakan, dimana dia?"Tanya Dika saat sudah berada di kamar itu.


"Minum dulu ini, baru kami akan memberitahu mu"Wanita itu memberikan segelas air untuk di minum Dika.


Tanpa berpikir panjang, Dika pun langsung meminumnya."Kok, rasanya kaya gini?" Pandangannya mulai kabur, perasaan tak nyaman dan juga kepanasan.


"Selamat bersenang-senang tuan muda." Mereka meninggalkan Dika yang sedang tak karuan itu di kamar sendirian.


"Kurang ajar, gue di jebak.Ya tuhan, Sherly. Dimana elu sekarang?"Ia pun menggeser warna hijau di ponselnya dan memanggil nama yang tertera disana.


"Tolongin gue"Ucap Dika lirih.


"Elu kenapa?"Tanya orang di sebrang.


"Gue di jebak oleh mereka"Cuma itu yang keluar dari mulutnya.


"Elu dimana?"


"Di club city kamar nomor tujuh"Dan panggilan itu pun terputus.


Dua wanita menghampiri Dika yang sedang terkulai lemas di ranjang.


"Tuan muda, kami akan melayanimu"Dua wanita itu ternyata bekas pegawai Zidane yang di pecat kemaren gara-gara Sherly.


Dibaliknya tubuh pria itu yang ternyata bukan Zidane."Eh, dia bukan tuan muda"Mereka pun saling menatap.


"Menyingkirlah dari hadapanku!"Teriak Dika.


Saat mereka saling pandang dan bingung, tiba-tiba pintu di tendang seseorang.


Braakk.


Gadis itu memukul kedua wanita yang sedang duduk di ranjang.


Terlihat Dika tak berdaya.


"Kurang ajar kalian"Ia memukul kedua wanita itu dengan sekuat tenaga membuat keduanya kabur.


Ia pun menghampiri Dika."Kau baik-baik saja?"Tanya gadis itu.


"Sherly, tolongin.mereka memasukkan obat." Ucap Dika lirih.


"Obat?"Gadis itu menatap Dika namun pemuda itu langsung menyerangnya.


Dika langsung mengurung gadis itu di bawah kungkungannya.Ia melum*t bibir gadis itu dengan kasar serta melepaskan pakaiannya.


"Maafin gue, gue udah gak kuat!"Dia terus menyerang gadis itu yang tak bisa melawan karena kekuatannya kalah.


"Elu sudah nolongin gue dari penjahat, sekarang gue juga akan nolongin elu." Batinnya menatap pemuda itu dengan berurai air mata.


"Sherly, i love you"Bisiknya lirih.


"Hei, pandang gue, lihat mata gue, siapakah gue?"Tanya gadis itu.


Dika pun mengerjapkan mata dan memperjelas pandagannya.


"Iren, ya tuhan.Maafin gue, gue gak bermaksud..."Ia beranjak turun dan melepaskan pelukannya.


"Tidak, jangan lepaskan.gue ikhlas jika itu bisa membantu elu!"Kata Iren sambil terisak dan memeluk Dika.


"Iam so sorry, Ren.gue gak berdaya"Ucapnya.


"Ini akan terasa sakit, pasti elu bakalan gak kuat, lepaskan saja ya?"Lanjutnya lagi.


Renita menggeleng."Gue siap, Dik."Dan Dika pun menyalurkan hasratnya karena pengaruh obat yang di masukkan kedua wanita itu.


Sampai menjelang pagi, Dika tersadar bahwa ia telah melakukannya dengan Renita.


Kisah mereka pun berawal dari kejadian hari ini.Semua rasa solidaritas dan persahabatan mereka akan menjadi berantakkan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2