
And the gengs yang sedang menunggu kedatangan Geri di cafe sudah tak sabar lagi.mereka pun menggerutu kesal.
"Ish, si Geri kemana sih?ini sudah jam sembilan malam.masa kita nongkrong terus disini sambil nunggu tuh anak yang kagak dateng-dateng?"Indra menggerutu kesal sambil meminum jus mangga di gelasnya.
"Iya ih, Geri tumben ngaret.biasanya kan kalau soal makan dia paling cepetan.kok sekarang telat?"Iren sama halnya seperti Indra.(Dasar pasangan kompak,)
"Sabar dong Ndra, Ren, siapa tahu dia kejebak macet, jadi rada telat dikit lah!" Kata Sherly yang melirik pintu masuk.
"Telat dikit gimana?kita nunggu dari jam tujuh, sekarang sudah jam sembilan. Sebenarnya dia mau kesini kagak sih?"Idra terus memperhatikan hbjam tangannya.
"Salah sendiri lu, kenapa elu gak mau nemenin dia nganter mobil?itu kan bengkel elu, harusnya elu yang nganterin kesono!" Dika membuka suaranya setelah cukup lama terdiam.
Mereka menatap ke arah Dika dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Elu sudah sadar, sejak kapan?"Indra menempelkan telapak tangan di keningnya Dika.
"Apaan sih lu, emang dari kemaren gue pingsan apa?pake sadar segala!"Dika menepis tangan Indra yang menempel.
"Lagian, dari kemaren gak mau ngomong-ngomong.sekarang baru bersuara, apa itu gak aneh?dari kemaren kemana saja bang Mahardika?"Indra meledeknya supaya bercanda kembali.
"Gue disini aje, gak kemane-mane kang Jajang Juhana!"Dika sengaja meledek Indra dan menimpali candaannya.
"Wah, parah lu becandanya.jangan panggil gue dengan nama itu lah, gengsi dong!apa lagi elu ngomongnya kenceng banget lagi." Indra menggeplak lengan Dika.
"Kenapa elu malu, jalu.itu kan nama pemberian orang tua lu."Dika membalas pukulan Indra di lengannya.
"Eh ntong, gue kagak malu.cuma kalau cewek-cewek tahu nama asli gue, entar syok lagi.masa sudah ganteng dan keren gini namanya khas sunda banget."Indra lupa kalau pacarnya nangkring deket dia.
"Owh, jadi malu ya kalau cewek pada tahu nama asli kamu Ay?bagus lah kalau begitu!" Iren merajuk dengan berpaling muka.ia berpindah tempat dan duduk deket Sherly.
"Bukan gitu yank, aku cuma.."
"Bhahaha...rasain lu!"Dika tertawa puas.
Notif panggilan masuk di handphone Sherly mengganggu mereka untuk mengalihkan pandangan ke arah Sherly.si empunya pun menerima panggilan yang ternyata di layar menunjukan nama Geri.
"Guys, si Geri telpon, gue angkat dulu ya?" Sherly meminta izin pada mereka yang mengangguk cepat.
"Hallo Ger,elu dimana sih?"Tanya Sherly langsung saat tersambung.
"Hallo selamat malam, apa ini keluarga saudara Geriyanto?"Tanya seseorang di sebrang.
Sherly bingung dengan suara di sebrang sana ternyata bukan suara sahabatnya.ia pun menatap layar handphone nya tapi itu benar nama Geri.tapi, siapa yang sedang berbicara?
"Selamat malam juga, Iya saya keluarganya.maaf, ini dengan siapa ya?kok handphone nya ada pada anda?"Tanya Sherly setelah mendekatkan benda pipihnya di telinga lagi.
"Kami dari kepolisian, mau mengabarkan bahwa saudara Geri mengalami kecelakan di depan komplek perumahan Danau indah.saudara Geri tertabrak mobil saat ia sedang melintas" Jelas polisi.
"Apa?"Sherly berteriak karena terkejut.
__ADS_1
Mereka langsung berdiri saat melihat wajah tegang Sherly.mereka pun mendekat ke arahnya.
"Kami menghubungi anda karena panggilan masuk dan keluar di kontaknya cuma ada nomer ini saja.jadi, kami harap anda bisa datang ke rumah sakit kota untuk mengkonfirmasi keluarga korban."Kata polisi.
"Ba..bagaimana kondisinya pak?"Tanya Sherly dengan nada cemas dan khawatir.
"Untuk itu, kami meminta anda segera datang, karena kami belum bisa memastikan kondisi korban.karena korban masih di tangani dokter di dalam ruang operasi!" Jelas polisi lagi.
"Ruang operasi?ya tuhan!"Sherly menjabak rambutnya ke belakang.
"Baik pak, kami akan segera kesana.terima kasih atas informasinya.!"Sherly menutup panggilan telponnya.
"Guys, kita ke rumah sakit kota.sekarang!" Sherly langsung membereskan tasnya dan ia pun melangkah setelah berkata pada sahabatnya.
"Ada apa beib, kok tegang gitu?siapa barusan yang telpon?"Iren bertanya karena melihat ketegangan Sherly.
Sherly berhenti dan berbalik ke arah mereka.
"Geri kecelakaan, dia ketabrak mobil di depan perumahan Danau indah.kita harus kesana secepatnya!"Ia pun kembali melangkah dan berlari setelah memberitahukan itu.
"Astagfirullah, ayo buruan, kita kesana!" Mereka pun berlarian.
Mobil melaju sangat kencang membelah jalan raya.Mereka buru-buru mendatangi rumah sakit kota.tempat dimana Geri di rawat.
"Hah..hah.."Napas mereka tak beraturan, Sherly celingukan mencari polisi yang tadi mengabarkan berita itu padanya.
"Korban yang mana ya mbak?soalnya, barusan ada tiga korban kecelakaan"Kata suster itu.
"Geri, atas nama Geriyanto.tadi polisi menghubungi saya kalau..."
"Kalian keluarga saudara Geri?"Seorang polisi menghampiri mereka.
Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata seorang polisi.
"Iya pak, kami keluarganya!"Kata Sherly.
"Bapak yang menghubungi saya?"Tanya Sherly lagi.
"Oh, mbak ini toh yang tadi di telpon?iya, saya yang tadi menghubungi mbak.maaf, ini barang-barang saudara Geri."Polisi itu menyerahkan semua barang Geri.
Handphone, Dompet, dan sebuah batu permata yang berkilau berwarna merah.
Semua barang di bungkus dengan plastik.
"Apa ini?"Batin Sherly saat menerima barang-barang Geri.
"Terima kasih pak,"Ucapnya tulus.
__ADS_1
"Korban belum bisa di interogasi karena belum siuman.ia terluka di bagian kepala, tangan, dan kaki."Jelas polisi.
"Astaga!"Pekik Sherly tak percaya.
"Astagfirullahaladzim!"Indra, Dika dan Iren menutup mulut mulutnya.mereka juga merasa tak percaya dengan apa yang menimpa sahabat mereka itu.
"Ya allah, kenapa bisa begini?"Indra merasa bersalah.ia ingat kalau perumahan itu adalah tempat Geri mengantarkan mobil pelanggan.Ia menangis sambil terduduk dan menjambak rambutnya dengan kasar.
"Gue yang salah, gue yang bodoh."
"Hei, kenapa kamu Ay?jangan seperti ini?" Iren menghentikan tangan Indra yang terus menjambaki rambutnya.
"Ini semua salah aku yank, coba kalau aku tidak memaksa dia pergi mengantarkan mobil, atau tadi aku menemaninya.mungkin ini semua tidak akan terjadi"Indra menyalahkan dirinya karena penyesalan.
"Sudah lah Ndra, jangan nyalahin diri lo sendiri.ini semua sudah takdir Geri.kita do'ain saja supaya Geri baik-baik saja.oke!" Tutur Sherly dengan lembut.
"Tapi Sher, gue..gue.."Iren langsung memeluk tubuh Indra karena melihat kesedihan dan penyesalannya.
"Apa yang elu sesali heh?elu kira dengan elu menangis disini dan menyesali semuanya, keadaan bisa balik normal lagi?apa dengan elu menangis, Geri gak akan jadi seperti ini heh?"Dika berteriak dan menarik ujung atas kaos Indra.
"Percuma lu menyalahkan diri lu sendiri, Ndra.semuanya sudah takdir Geri.yang sekarang harus kita lakuin ialah berdo'a supaya Geri..supaya dia..dia.."Dika terpundur sampai tembok.tubuhnya merosot seketika ke bawah dan ia pun terduduk dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Mereka terisak saat mendengar keadaan Geri.di tambah lagi dengan kabar yang di sampaikan dokter.
"Korban kehabisan banyak darah, ia juga mengalami kebutaan sementara karena benturan keras di kepalanya, dan kakinya pun patah karena kecelakaan itu. Untuk sementara, ia harus duduk di kursi roda."Jelas dokter.
"Ya tuhan..cobaan apa ini.kenapa harus dia yang mengalaminya?hiks..hiks..huhuuuu" Mereka menangisi keadaan sahabatnya itu.
Mereka saling berpelukkan satu sama lain.
Tangis mereka pecah lagi saat melihat kehadiran ibunya Geri yang datang dan berteriak histeris sambil menangis.
"Anak ma'e kenapa neng?apa sebenarnya yang terjadi sama Geri?Tadi siang dia baik-baik saja saat pamitan sama ma'e kalau dia mau ke tempat kalian?"Ibunya bertanya sambil menangis.
"Maafkan Indra, ma'e.maaf!"Indra bersimpuh di bawah kaki ibunya Geri.
Dia menangis tersedu dan memeluk kaki ibunya Geri.
Ibunya Geri merasa aneh dengan kelakuan Indra, ia mengangkat tubuh Indra yang sedang bersimpuh di kakinya.
"Kenapa nak Indra?apa yang sebenarnya terjadi?bagaimana kondisi Geri sekarang?" Tanya ibunya Geri.
"Ini semua salah aku ma'e"Indra memegang tangan ma'e.
"Geri buta dan lumpuh gara-gara Indra!"
"Apa?"Ibunya Geri terlihat syok.ia tak kuasa dengan kenyataan ini.ia pun pingsan seketika.
"Ma'e" Teriak semuanya dan berhamburan menghampirinya.
__ADS_1