
Sebuah mobil memasuki gerbang asrama. Tampak empat anak muda turun dari mobil tersebut menghampiri dua orang paruh baya.
"Assalamuala'ikum!" Ucap mereka serempak memberi salam.
"Waala'ikumsalam, anak-anak!"
Keempatnya langsung mencium punggung tangan keduanya sambil tersenyum.
"Apa kabar dua gadis cantik ini?" Sherly mengelus kepala Rena dan Asyanti bersamaan.
"Alhamdulillah baik, tante!" Mereka menjawab bersamaan. "Tante sama om gimana?" Bertanya balik.
Bukan Sherly atau Zidane yang menjawab, melainkan si tampan yang berbicara sambil berlalu pergi. "Cih, basa basi. Mentang-mentang di bilang cantik!"
Lirikan mata semua tertuju kepada keturunan si king ice itu. Udah sifat yang mendasar dari Zyan karena turunan dari king ice, membuat dirinya bersikap natural sedingin es.
"Zyan sayang, kenapa begitu? Mereka kan hanya bertanya balik." Namun perkataan ibunya tak di hiraukan sama sekali. "Iihhhh, gemes aku. Anak kamu tuh, pap!" Kini lirikan mata Sherly tertuju ke arah suami tercintanya yang hanya mengedikkan kedua bahu saja.
Zidane sendiri hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, kemudian menyusul putranya masuk kedalam asrama.
Sherly makin kesal di buatnya. "Anak sama bapak sama-sama dingin."
"Namanya juga anaknya. Buah jatuh gak jauh dari pohonnya, tante!" Kata Andra sambil menggandeng lengan Sherly.
Sherly menoleh ke arah ponakannya itu sambil melingkarkan tangannya. "Kamu benar, Ndra. Sama sepertimu, gak jauh beda sama bapakmu. Pinter ngerayu tante biar dapet yang gretongan!"
Perkataan Sherly membuat Rena dan Ashanti cekikikan, membuat Andra salah tingkah.
"Iiih, tante apaan sih. Aku kan emang sayang tante. Bukan pengen yang gratisan terus. Tante kan tantenya Andra!" Protesnya dengan menghentakkan kedua kaki layaknya anak kecil.
"Hahaha, Andra ... Andra. Lucu sekali sih!"
Mereka langsung masuk asrama dengan terus tertawa meledek putra dari Indra, sahabat Sherly sekaligus adik iparnya itu.
Cukup lama mereka berada di asrama untuk menemui ketiga anak hantu Laila. Mereka pun pamit setelah membagi-bagi hadiah yang di bawa kepada semua anak yang berada di tempat itu, termasuk ketiga anak Laila.
"Ndra, bawa mobil gue dan anterin kedua gadis berisik ini! Gue mau balik sama orang tua gue." Kata Zyan seraya menyerahkan kunci mobilnya kepada sepupunya itu.
"Oke!" Andra pun segera menerima kunci mobil dan masuk kedalamnya untuk langsung menyalakan mesin mobil. "Yuk, kita balik!" Ajaknya kepada kedua gadis sahabatnya.
"Elu baik-baik aja kan, Zy?" Tanya Rena melihat ada yang aneh dari Zyan.
"Kenapa emang?" Seperti biasa, pertanyaan di jawab dengan pertanyaan.
"Cih, gue hanya khawatir sama lu. Ya udah, kita pulang aja Ash!" Tangan Rena menarik tangan Ashanti dan berjalan masuk ke mobil.
"Zy, kita balik ya!" Ashanti melambaikan tangan ke arah Zyan. "Bilang sama om dan tante, kita duluan!"
Cuma gumaman yang di keluarkan si tampan. "Hemh!"
Mereka pun pergi meninggalkan Zyan yang sedang melamun sendiri sepeninggalan sahabatnya itu.
__ADS_1
Tepukkan di bahunya yang dilakukan sang ayah, membuat ia sedikit terkejut. "Hahh!"
"Kenapa nak? Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan? Papi hanya menepuk bahumu pelan, tapi kamu sampai terkejut seperti itu?" Tanya Zidane kepada putranya dengan lembut.
"Ti-tidak apa-apa, pap. Beneran deh!" Senyum yang di paksakan.
Zidane tahu jika putranya mengalami sesuatu yang mengejutkan barusan. Namun, ia memilih berpura-pura tidak mengetahui apapun supaya putranya lebih berani.
"Eh, mana teman-temanmu sayang?" Sherly celingukan mencari keberadaan ketiga sahabat putranya.
"Pulang!"
"Mobilmu?"
"Dibawa!"
"Oh!" Hanya itu yang keluar dari mulut Sherly dan Zidane.
"Ya sudah, ayo kita pulang! Papi sangat lelah hari ini." Tangan Zidane melingkar di pinggang sang istri. "Kamu yang nyetir ya. Papi mau istirahat sejenak!" Ucapnya kemudian.
"Tapi pap, papi gak boleh duduk di belakang sama mami. Nanti aku kaya supir lagi duduk di depan sambil nyetir!" Protes si tampan.
"Memangnya kenapa? Papi mau sama mami istirahat di jok belakang. Hanya berdua!" Berkata dengan menekankan kata berdua kepada putranya itu.
Tentu Zyan jadi kesal di buatnya. "Uuuhh, tau gitu mending ikut Andra aja. Dia yang nyetir, aku bisa duduk santai." Gumamnya sambil masuk kedalam mobil di bagian kemudi.
Zidane terkekeh mendapat gerutuan putra semata wayangnya. "Hehehe, dasar anak mami. Manjanya sama macam maminya. Huuuh, Zyan ... Zyan!"
"Hemh, dinginnya sama kek kamu pap!" Protes Sherly dengan mencubit pinggang suaminya sampai Zidane meringis.
Dan terjadilah "perkelahian" antara sepasang suami istri itu dengan romantis membuat putranya bertambah bete.
"Hentikan kemesraan kalian itu, pap, mam. Aku kan kesal melihat kalian seperti ini! Gak tahu apa kalo anaknya masih jomblo!" Protes Zyan. "Katanya papi lelah, tapi masih bisa bercanda sama mami!" Lanjut Zyan dengan cemberut.
Protesan putranya membuat kedua orang tuanya semakin tertawa meledek. "Ya tuhan, anak mami yang ganteng ini ternyata masih single pap. Kesian amat dia!"
"Papi kira kamu playboy, nak. Ternyata masih jomblo. Hahaha!" Ledek Zidane.
"Ish, kalian kalo ngeledek putranya seneng banget ya. Bahagialah kalian di atas kesedihanku." Kata Zyan kesal.
"Hahaha. Tidak begitu, sayang. Kami hanya ... hanya tak tahan saja ingin tertawa. soalnya kamu itu aneh. Sudah jelas para gadis mengejarmu, tapi kamu malah cuek. Salah sendiri jika hari ini masih jomblo!"
"Tau ah. Mami jadi menyebalkan hari ini." Rengek Zyan.
Tak ada lagi ocehan dari si tampan, karena kesal terhadap orang tuanya yang terus meledek dirinya.
Mobil pun berhenti tepat di halaman mension besar milik Zidane. Dengan segera, si tampan berlari masuk kedalam rumah dan meninggalkan kedua orang tuanya yang tak berhenti menertawakan tingkahnya yang katanya lucu.
"Mami sama papi menyebalkan!" Kaki jenjangnya terus melangkah menaiki tangga menuju ke lantai dua.
Bi Murni melihat anak majikannya pulang, segera menghampiri karena ada sesuatu. "Den Zyan tadi ada ...!"
__ADS_1
Bukannya di dengar, ucapan bi Murni malah tak di hiraukan sama sekali.
"Papi malah ikut-ikutan mami sih sekarang! Bukannya dia orang yang jarang tertawa. Huuh, kesel deh!" Gerutunya. "Berarti om Al itu salah kalo bilang papi gue orang yang kalem. Nyatanya kalo sama mami, papi jadi ikut sengklek."
Zyan terus berjalan ke atas menaiki tangga melewati bi Murni dan tak menghiraukan pelayan rumah tangga tersebut.
"Ada apa dengannya? Tumben den Zyan menggerutu sambil menyebut papinya. Bukannya dia gak pernah bermasalah sama tuan Zidane?" Bi Murni tampak keheranan melihat anak majikannya yang pulang tanpa menyapanya juga.
Belum hilang rasa penasaran kepada Zyan, bi Murni semakin terheran melihat kedua majikannya yang masuk dengan tertawa terbahak-bahak.
"Nyonya, tuan, tadi den Zyan ...!"
"Kamu lihat itu kan pap, dia sekarang jadi ambekan. Mami gak tahan lihat tingkahnya yang seperti itu. Hahaha ...!"
"Kamu benar mam, tadinya papi pikir dia akan diam saja. Ternyata, dia bisa mengoceh juga. Hahaha ...!"
Keduanya tak menghiraukan bi Murni yang diam mematung di tempat dengan rasa penasaran melihat mereka.
"Ya tuhan, ada apa dengan mereka? Anaknya pulang dengan cemberut dan menggerutu kesal, sedangkan orangtuanya tertawa seperti itu. Sungguh membingungkan!"
Bi Murni menggelengkan kepala, kemudian berlalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Walaupun di dalam hatinya sangat penasaran, tapi ia mengusir pergi rasa itu supaya tak gentayangan.
Lho kok, gentayangan! Hantu kali ah.
∆∆∆∆
Tok tok tok ...
Pintu kamar si tampan di ketuk dari luar. Dengan suara yang nyaring, Sherly terus menggedor pintu kamar putranya karena tak mendapatkan jawaban dari si pemilik kamar.
"Sayang, makan dulu yuk! Bi Murni udah masakain makanan kesuk ...!"
Karena suara maminya yang berisik, Zyan pun akhirnya menyerah dan membuka langsung pintu kamarnya.
Ceklek
"Sayang, kamu gak apa-apa?"Tanya Sherly khawatir setelah melihat keringat bercucuran di wajah Zyan. "Kok wajah tampan anak mami pucat gitu? Kamu sakit?" Tanya-nya lagi.
"Enggak, mam. A-aku cuma ... mmmm, cuma ...!" Sepertinya Zyan sulit sekali menjelaskannya.
Ada yang tak beres dengan putranya, ia segera menarik tangan si tampan dan menuntunnya ke bawah menuju ruang makan.
"Jangan di pikirin, yuk makan dulu! Pasti kamu laper kan?" Kata Sherly lembut.
Zyan hanya menurut kepada ibunya. Tak banyak bicara atau protes sedikitpun dengan apa yang di lakukan ibunya. Tak seperti tadi sore, dia mengoceh kepada orangtuanya. Sedangkan sekarang, dia terus diam membuat kedua orangtuanya tak enak hati.
"Ada apa dengan si tampanku? Kenapa dia tak seperti biasanya? Apa dia masih marah dengan masalah tadi sore?" Batin Sherly.
Zidane hanya diam memperhatikan tingkah putranya. Dia tahu apa yang ada dipikiran si tampan tanpa perlu mendengar penjelasan.
Hebat! Papi gitu lho!
__ADS_1
Apa coba yang terjadi sama Zyan? Kenapa dia tak banyak bicara dan terlihat ketakutan?
Lanjut gaess biar gak penasaran ... cuuussss ah!