Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Wanita lain


__ADS_3

"Apa?" Iren terkejut dengan apa yang di dengarnya dari mulut Geri. "Jadi, Sherly kehilangan calon bayinya?"


Entah mengapa, rasanya dada Iren begitu sesak setelah mendengarkan berita duka itu. Dia berharap Sherly jadi seorang ibu, namun apalah daya karena takdir tuhan berkata lain.


Geri tertunduk lesu dengan kedua telapak tangan menangkup wajahnya. "Gue juga sedih banget waktu dokter bilang kalau kandungan Sherly tidak bisa terselamatkan. Dan parahnya lagi, Zidane akan lumpuh!"


"Ya Allah, kasihan banget Sherly. Apakah mereka sanggup dengan kenyataan ini!" Ujar Iren seraya menyentuh lengan Geri.


"Entahlah, Ren." Geri berbalik menghadap sahabatnya itu dan menyentuh kedua bahunya. "Ren, elu harus berada di sampingnya untuk jaga-jaga jika dia mengetahui ini nanti. Dia pasti sedih dan terpukul banget."


"Iya. Gue pasti akan terus di sampingnya." Ucap Iren meyakinkan Geri. "Oh ya, Ger. Katanya lu udah marriage ya, kok gak ngomong ke kita sih!"


Geri tersadar akan kabar gembira yang akan dia bawa untuk para and the genk saat dia kembali. Namun, kabar dari kak Al jauh lebih penting selain kabar pernikahannya.


Aldrian memberitahukan Geri kalau Sherly di culik oleh Hendri dan di sekap di tempat ghaib. Zidane sedang berusaha menyelamatkannya sendirian tanpa ada yang membantunya.


Itulah mengapa Geri bergegas pulang kembali ke ibukota tanpa membawa istri tercinta.


Geri menarik nafas sebelum dia menjelaskan pernikahan dadakannya bersama gadis yang baru saja di kenalinya. Awalnya dia ragu untuk menceritakannya. Tapi, bukankah sahabatnya pasti akan tahu juga nantinya?


"Sebulan yang lalu teman ma'e kembali dari singapore bersama putrinya. Kabarnya, putrinya akan menikah dengan pria pilihan kakeknya. Semua sudah di persiapkan sebaik mungkin termasuk undangan pun sudah tersebar. Namun tak di sangka, pria itu kabur dengan membawa harta peninggalan kakeknya. Dan lu bisa tebak bagaimana reaksi kakeknya!"


"Serangan jantung." Tebak Renita.


Geri menggelengkan kepala. "Bukan cuma itu. Dia meninggal tepat di hari itu juga. Namun sebelum menutup matanya, beliau meminta anaknya untuk menikahkan cucunya dengan pria baik dan meminta maaf karena memaksakan kehendaknya!"


"Kenapa si kakek bisa menjodohkan cucunya kepada pria itu?"


"Karena pria itu putra teman si kakek!"


"Udah tua dong!"


"Ya begitulah. Karena kakek terlalu percaya kepada sahabat dan putranya, sehingga tak mencari tahu dulu tentang mereka. Ternyata, mereka buronan polisi." Jelas Geri.


"Kemudian, elu jadi pahlawan kesiangan yang menyelamatkan rasa malu keluarga mereka?" Tanya Iren kesal.


"Ma'e kasihan sama temannya itu. Jadinya, gue deh yang berkorban!" Geri tertunduk lesu.


Tiba-tiba Indra datang dengan memapah Dika. "Ceweknya cantik kagak?"


Keduanya menoleh ke arah sumber suara. "Kok lu bisa disini? Bukankah tadi pulang nganterin bini sama kakek mertua lu?"


"Gue mau di samping Sherly di saat-saat tersulitnya." Jawab Indra sambil duduk setelah Dika.


"Kamu kenapa keluar, bang? Emangnya dokter bolehin kamu jalan-jalan?" Dika mendelik dengan pertanyaan istrinya.


"Kamu tega banget sih ninggalin aku sendirian di kamar! Gimana kalau ada suster genit yang godain? Kan aku takut khilaf." Rengek Dika.


Plakkk


Tangan Indra mendarat di kepala Dika dengan sempurna. "Woi, ali oncom! Bukan suster genit yang godain lu, tapi elu yang keganjenan. Dasar!"


"Wasyem lu, Ndra! Gue ini pasien, kenapa lu menganiaya gue?" Tangannya mengusap-usap bekas kasih sayang Indra.


"Berani lu ngomong gitu lagi sama bini lu, gue tampol berlipat ganda lu!" Seru Indra.


Geri dan Dika saling pandang, kemudian melirik Renita yang sedari tadi diam dan memalingkan wajahnya.


"Elu masih sayang dia?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Dika sontak membuat Indra dan Iren menatap Dika.


Indra tertawa kecil sebelum menjawab, "Kalau gue masih sayang dia?"


Dika langsung berdiri dan menatap tajam sahabatnya dengan mencengkram kerah baju Indra. "Lu kan udah punya bini, Ndra. Andin sayang dan cinta mati sama lu. Apa lu tega nyakitin dia dan juga gue?"


"Hahaha ... Dika ... Dika! Gue sayang Iren, Geri, Sherly, dan gue juga sayang elu. Kalian sahabat gue dari kecil. Apa salahnya dengan itu?"


Dika, Iren, dan Geri tercengang mendengar penuturan Indra. Memang benar kata Indra, begitupun juga mereka bertiga saling menyayangi satu sama lain. Apa salahnya dengan itu?

__ADS_1


"Gue kira ...!"


"Pikiran lu pada pendek banget sih. Untuk Andin, gue sayang dan cinta sama dia. Dia bukan cuma istri gue, tapi ibu dari anak gue." Jelas Indra.


Ketiganya tersenyum karena salah mengartikan ucapan Indra barusan. "Sorry deh, Ndra!"


Indra tersenyum meledek. "Biasa aja kali. Nasib orang ganteng suka bikin salah paham pasangan lain. Hahaha!"


"Huuuh, dasar lu asyem!"




Di ruang perawatan Sherly.


"Sayang, kamu sudah sadar?" Tanya tuan Hadi lembut.


Sherly melirik sang ayah yang sedang mengelus kepalanya. "Daddy ... Zidane gimana keadaannya?" Suaranya lirih hampir tak terdengar.


"Dia baik-baik saja. Umm, apa yang kamu rasain sekarang? Apa ada yang sakit di bagian tubuhmu?" Tanya daddy cemas.


Sherly menggelengkan kepala. "Tidak, dad. Aku ingin ketemu Zidane!" Pintanya seraya bangkit.


Tuan Hadi langsung memegang bahu putri bungsunya. "Jangan dulu bangun, sayang. Kamu masih lemah. Pikirkan keadaanmu dulu, setelah itu kita ke ruangan Zidane, oke!"


"Enggak! Aku ingin ketemu Zidane sekarang, dad. Aku kangen sama dia. Hendri ... Hendri telah melukainya begitu parah. Aku takut dia ...!"


"Ssttt, jangan katakan hal yang tak baik, sayang! Lagipula, Hendri sudah tak ada. Dia tewas saat melawan suamimu!" Jelas daddy.


Sherly terkejut sampai menutup mulutnya, "Hahh, ma-maksud daddy, Hendri sudah meninggal?"


Tuan Hadi mengangguk pertanda mengiyakannya. "Dia sudah mendapat karmanya."


"Lalu Zidane, apa yang terjadi kepadanya? Bukankah dia terkubur di reruntuhan bangunan. Kenapa dia bisa melawan si penjahat itu?" Sherly sangat penasaran.


Jelas Aldrian yang baru saja masuk ke ruangan adik tercintanya dengan di dampingi istrinya.


"Kakak!" Sherly menatap Al dengan lelehan air mata.


Dia ingat sekali saat kakaknya terkena pukulan Hendri sampai diinjak olehnya walaupun dia sudah memohon.


Aldrian berjalan perlahan ke arah adiknya yang kemudian dia peluk erat dengan perasaan sangat sedih.


Maafin kakak, dek! Kakak gak bisa menjaga kamu sampai kamu harus kehilangan calon bayi yang sudah lama kamu idamkan.


Rasa bersalah dan penyesalan Aldrian sangat ketara di wajah tampannya. Namun, itu semua tak ia perlihatkan kepada adiknya. Saat pelukannya terlepas, secepat kilat ia usap sisa air mata di pipinya yang sudah lolos dari mata.


Di kecupnya kening sang adik sebagai penyemangat dan rasa bersalahnya.


"Kak, anterin aku ke ruangan Zidane ya!" Dada Al terasa sesak mendengar permintaan adiknya.


Lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya seperti tercekat, sampai tak sanggup berbicara apapun selain diam.


"Kakak gak mau nganterin aku ke ruangan Zidane?" Seketika Al melirik ayahnya yang sedari tadi hanya memalingkan wajah sedihnya.


"Dadd?" Lirih Al memanggil ayahnya.


Tuan Hadi pun menoleh ke arahnya. Namun, beliau juga bingung harus berkata apa.


"Ya sudah kalau gak mau. Biar aku yang pergi sendiri saja!"


Sherly menurunkan kaki jenjangnya ke lantai. Belum kakinya menapak di lantai, dia merasakan sakit di bagian perutnya.


"Akkhh!" Di pegangi perutnya yang sakit terasa seperti di tusuk.


Tuan Hadi dan Aldrian langsung menahan tubuh Sherly sebelum dia terhunyung ke depan. "Sherly."

__ADS_1


"Daddy kan udah bilan jangan bangun dulu, sayang! Kamu perlu istirahat supaya cepat pulih."


"Iya, dek. Tolong perhatiin kondisi kesehatanmu ya!"


"Tapi, aku pengen ketemu suamiku!" Pinta Sherly memelas.


Aldrian dan ayahnya saling pandang yang kemudian tak bisa berbuat apapun untuk mencegah keinginan Sherly selain menurutinya.


"Tapi kamu janji ya, jangan banyak bergerak atau berbuat hal yang aneh-aneh lagi!"


Sherly mengangguk dengan ucapan kakaknya.


Di gendongnya tubuh Sherly yang kemudian di dudukan di kursi roda oleh Aldrian, yang sudah di siapkan tuan Hadi untuk membawa Sherly ke ruang perawatan Zidane.


Sesampainya di ruangan Zidane, ketiganya di sambut kakek Hutama yang selalu menunggui cucunya tersebut.


"Sayang, kenapa kamu kemari sih nak? Kondisimu belum stabil, tapi kamu malah kesini."


"Aku ingin ketemu Zidane, kek." Lirikkan mata Sherly tertuju kepada suaminya yang sedang berbaring di ranjang perawatan dengan perban di kepala, tangan, dan juga kaki.


Mata Zidane masih terpejam karena dia belum sadarkan diri selama dua hari ini.


"Maafin kakek ya, sayang! Kakek gak bisa menunggui di ruanganmu." Ucap kakek dengan rasa bersalah.


"Tidak, kek! Andaikan aku tak seperti ini, mungkin aku yang akan menjaga Zidane disini."


Tak terasa, air matanya meluncur begitu saja melihat suaminya yang terbaring tak berdaya.


Tuhan, jangan ambil nyawanya. Sembuhkanlah suamiku. Dialah satu-satunya yang menjadi penyemangat untukku mempertahankan kandungan ini.


Tangan Zidane di genggam erat dan terus di cium oleh Sherly. Seakan enggan untuk melepasnya, dia terus menempelkan telapak tangan Zidane di wajahnya.


"King ice ... tidak! Zidane suamiku sayang, bangunlah. Apa kamu ingin terus tidur dan tidak mau memelukku lagi? Apa kamu tidak ingin bercanda lagi bersamaku?"


Semua orang terisak mendengar ucapan Sherly.


"Zidane ... Zidane ... Zidane. Mulai sekarang aku akan memanggil namamu dengan benar, bukan king ice lagi! Karena, kamu sekarang udah gak bersikap dingin lagi sama aku. Kamu suami yang hangat dan penyayang, dan kamulah yang terbaik untukku!"


Sherly pun menumpahkan seluruh isi hatinya dari mulai pertama bertemu sampai dia dinikahi oleh pria dingin yang terbaring dengan lemah tanpa ada pergerakkan sedikitpun.


Lama sekali Sherly berceloteh, namun Zidane tak menunjukkan pergerakkan sedikitpun.


"Sudah, dek. Kamu harus istirahat kembali ke ruanganmu. Biarkan Zidane istirahat!" Ajak Aldrian.


"Iya, sayang. Kamu harus istirahat supaya cepat sembuh. Bukankah kamu ingin menjaga dan merawat Zidane?" Ucap daddy dan kakek bersamaan.


"Tapi, aku ingin disini bersamanya."


"Sayang, please dengerin omongan kita. Eh, itu tangan Zidane bergerak!" Semua orang menoleh ke arah tunjukan tangan Aldrian.


Jari tangan Zidane bergerak dan matanya perlahan terbuka, membuat hati semuanya senang.


"Sayang!" Zidane melirik sumber suara yang memanggilnya.


Senyumnya terukir indah dan dengan perlahan tangannya terulur menyentuh wajah cantik yang beruaraian air mata di pipi. Dengan lembut, ia mengusap air mata itu sambil berkata, "Jangan menangis lagi! Aku gak sanggup melihatmu menangis, Ichel!"


"Hahh? Ichel? Siapa dia?" Semua orang terkejut dengan nama perempuan asing yang di sebutkan Zidane. Walaupun suaranya lirih, tapi terdengar jelas di telinga mereka semua.


♡♡♡


**Kira-kira, siapa dia? Apa Zidane hilang ingatan dan mengingat nama seseorang yang di cintainya di masa lalu? Ataukah ...


Ikutin terus ceritaku ya.


Lupyuh always gengs ... 😘😘😘


Lien machan**.

__ADS_1


__ADS_2