Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Pemilik sesungguhnya


__ADS_3

"Ada apa ini ribut-ribut?"


Suara barito seseorang yang membuat mereka terdiam seketika dengan menundukkan kepala. Siapa lagi kalo bukan kakak tersayang namun galaknya minta ampun.


"Kak Al!"


Aldrian berdiri di samping mobilnya dengan wajah yang super duper dingin.


"Mau kemana kalian?" Bertanya dengan melipat tangan di dadanya.


Seketika, hawa dingin menyelimuti suasana di sana walaupun hari ini matahari sangat terik.


"I-itu kak, kita mau ...!"


"Jawab yang tegas, jangan gelagapan! Kamu kan lelaki." Nyali Dika semakin menciut saat mendengar bentakkan kak Al .


ketiganya mundur dan tertunduk, sampai Sherly maju untuk menyentuh tangan sang kakak.


"Aku minta mereka untuk nganterin ke rumah sakit. Boleh kan, kak!" Pintanya dengan manja.


Seketika tatapan mata Aldrian menajam menatap ketika pria tampan sahabat adiknya yang sedang menunduk pertanda takut kepadanya.


Tangan Aldrian meraup wajahnya dengan kasar. Dia gak mungkin bisa menolak permintaan adik tersayangnya. Walaupun dalam hati mau bilang tidak, tapi yang keluar dari mulutnya mesti lain lagi.


"Iya. Tapi, kamu harus hati-hati di jalan! Jangan sampai sesuatu terjadi sama kamu! Kalau tidak, mereka yang akan menanggungnya!" Ancaman Aldrian membuat ketiganya mendongakkan kepala.


Suara mereka seperti tertahan di tenggorokkan. Mau bilang iya aja susah banget, apalagi bilang tidak!


"Kami berangkat dulu ya kak!" Sherly mencium punggung tangan kakaknya diikuti ketiga sahabatnya.


Mereka pergi dengan berboncengan. Indra dengan Sherly, dan Dija dengan Geri. Sesuai apa yang di rencanakan sebelumnya.


Setelah sampai rumah sakit, keempatnya langsung masuk ke ruangan Zidane tanpa permisi. Karena, ini sudah biasa buat mereka.


Namun sesaat setelah pintu terbuka, keempatnya terkejut sampai buah di keranjang yang berada di tangan Geri terjatuh begitu saja.


Brukkk


Penghuni kamar pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan ia sangat terkejut dengan siapa yang datang.


"Sayang!"


Wajah Sherly memerah menahan amarahnya. Tangannya terkepal dengan nafas yang memburu karena emosinya.


Ketiga sahabatnya sampai harus menahan tubuh Sherly saat melihat dia hendak bertindak.


"Sabar, beib!" Dika memeluk Sherly dari samping. Dia tak mau Sherly bertindak di luar keinginan karena terpancing emosi.


Zidane hendak ingin bergerak untuk memeluk istrinya. Namun apalah daya, dia tak mampu menggerakkan tangan ataupun kakinya untuk melangkah menghampiri.


"Sayang!" Suara lirih Zidane memelas.


Semua mata tertuju kepada seseorang yang sedang memeluk Zidane dari samping sambil mengelus kepalanya dengan senyum meledek.


"Pergi kamu! Jangan menyentuhku!" Tangan kanan Zidane berusaha mendorong orang yang terus menempel ke tubuhnya.


"Kenapa kamu malu, sayang? Bukankah tadi kamu menikmati ciuman hangatku? Kenapa setelah kedatangan mereka, kamu bersikap kasar kepadaku?" Wanita itu merajuk dengan manja. "Memangnya, mereka itu siapa?"


Apa itu wanita yang menjadi istri Zidane? Hehh, cantik dan seksi aku kemana-mana lagi.


Sherly tertawa melihat ekspresi menjijikan wanita yang berada di samping suaminya. Dia tahu jika wanita itu sengaja membuatnya menjadi salah paham kepada Zidane.


Kakinya melangkah mendekat ke ranjang Zidane sambil tergelak dengan nyaring setelah melepas pelukkan Dika. "Hahaha!"


Tawa Sherly membuat semua orang terheran, termasuk Zidane.


"Kenapa sama Sherly? Dia malah tertawa melihat suaminya di goda wanita itu?" Geri menatap Indra sambil mengedikkan kedua bahunya.


Dika melangkah ingin menahan Sherly, namun tangannya di tarik oleh Indra dan Dika. "Kita lihat apa yang akan di lakukannya!"


Ketiganya diam mematung menunggu apa yang akan di lakukan Sherly.

__ADS_1


Wajah Sherly yang tadinya marah, kini malah tersenyum ceria. "Sayang, apa dia mampu memuaskanmu?"


Pertanyaan konyol macam apa yang di tanyakan istrinya? Zidane sampai mengerutkan dahinya, termasuk mereka yang mendengarkan.


"Kamu itu siapa sih? Sudah datang tanpa permisi, sekarang malah memanggil dia dengan sebutan sayang?" Ujar wanita itu sambil menyilangkan tangan di dada.


Sherly melirik wanita sombong di samping ranjang Zidane. Bibir Sherly tersungging kemudian menundukkan wajahnya dekat dengan wajah Zidane.


Tanpa menunggu lama, bibirnya langsung menyambar bibir suaminya dengan lembut. Seakan tak ada siapapun di sana, Sherly memperdalam kecupannya dan suaminya pun membalasnya dengan senang hati.


Mata mereka membulat melihat aksi yang Sherly lakukan. Entah karena dia sedang marah, ataukah dia ingin menunjukkan bahwa dia itu pemilik sah dari pria tampan yang sedang terbaring lemah di ranjangnya.


Setelah lama menikmati bibir lembut Zidane, Sherly pun melepaskannya kemudian menatap wajah tampan suaminya itu.


"Itu hukuman buatmu karena mengizinkan wanita lain menyentuh bagian tubuhmu!" Rengek Sherly manja.


Zidane tersenyum dengan rengekan sang istri, "Aku senang dengan hukumanmu ini. Jika aku membuat kesalahan dan itu sebagai hukumannya, aku rela di hukum terus olehmu!"


Cubitan tangan Sherly mendarat di dada bidang Zidane, dan suaminya itu hanya mengaduh manja. "Aduh, sayang. Kamu menyakitiku, tahu!"


Senyum di bibir Sherly mengembang. Dia langsung mengusap bekas cubitannya walaupun tidak kencang cuma hanya menempelkan tangan saja, tapi dia tetap mengelus sambil meniup bekas cubitannya.


"Maaf. Apa kamu kesakitan?"


"Tidak, jika kamu menciumnya!"


Sherly dengan senang hati menuruti perkataan suaminya. Dia pun mencium dada Zidane dengan lembut sambil melirik wanita di samping suaminya.


Wanita itu sangat kesal sekali dengan kemesraan yang di tunjukan Sherly kepada Zidane. Sampai tangannya terkepal dengan urat yang terlihat.


"Apa kalian sengaja berbuat itu di depanku, hehh!"


Pasangan suami istri pun menoleh ke arah wanita itu. Dengan senyum yang masih tersungging, Sherly membuka suaranya.


"Aku pemilik pria tampan ini, apa salahnya dengan berbuat seperti itu kepada milikku sendiri? Lagipula, siapa kamu? Kalau kamu tak mau melihatnya, kamu bisa pergi dari sini!" Kata Sherly.


Wanita itu malah maju mendekat ke arah Sherly. Tangannya melayang hendak menampar pipi Sherly, namun dengan cepat Sherly menangkap tangan itu.


Di hempaskan tangan wanita itu dengan keras oleh Sherly sampai dia hampir terjatuh.


Kuat sekali tenaganya. Aku tak bisa melawannya saat ini.


Tatapan tajam wanita itu tertuju pada Sherly. Dengan kesal, ia pergi sambil menghentakkan kakinya. "Awas kamu. Aku tak akan menyerah kepadamu. Tunggu saja!"


"Dengan senang hati!" Ucap Sherly menyindir.


"Bye ... wanita penggoda suami orang!" Ketiga pria tampan sahabat Sherly melambaikan tangan ke arah wanita itu.


Setelah kepergian wanita itu, tatapan mata Sherly berubah menajam ke arah suaminya. Hawa di ruangan berubah menjadi dingin seketika.


"Alahmak ... matilah aku!" Zidane memejamkan mata sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Hehehe ... pertunjukan seru baru di mulai!" Ketiganya hanya menertawakan penyiksaan Zidane yang sebentar lagi akan di hadapinya.




Di rumah sakit, sebelum And the genk sampai.


Terjadi keributan di depan ruang perawatan Zidane.


Dua orang wanita memaksa ingin masuk ke dalam ruang perawatan si tuan muda. Karena beberapa penjaga, keduanya pun tak bisa masuk seenaknya.


"Minggir kalian. Apa kalian tahu kalau aku ini calon istri tuan muda kalian? Beri hormat kepada nona muda!" Suara Avril meninggi membentak para penjaga.


"Maaf nona, atas izin dokter Steven Riandi, semua orang di larang masuk ke ruangan tuan muda. Dan satu lagi ... nona muda kami hanya satu, nona muda Grisheld Prasetyo." Tegas para penjaga.


"Siapa dokter Steven Riandi? Aku ingin bertemu dengannya!"


Sementara Prita hanya diam. Dia tak mau banyak bicara karena dia sudah tahu sosok yang di ! dan di pertanyakan Avril.

__ADS_1


"Siapa yang ingin bertemu dengan saya?"


Keduanya pun menoleh ke belakang. Sementara para penjaga menundukkan kepalanya. "Tuan dokter!"


Avril terdiam sejenak yang kemudian menunjukkan jari ke arah dokter tersebut setelah mengingat sosok tersebut.


"Bukankah kamu ... Rian?"


Rian terlihat biasa saja setelah melihat kedua wanita di hadapannya.


"Jadi, kau ini seorang dokter?"


Wajah Rian tetap sama. Tak menampakan ekspresi apapun kepada keduanya.


"Apa kabar kamu? Sudah lama tidak ketemu. Tahu-tahunya, sekarang sudah jadi dokter rupanya." Ledek Avril.


Rian tak menghiraukan perkataan Avril, dia melangkah pergi meninggalkan kedua wanita itu.


Melihat Rian yang akan pergi, Avril langsung bertindak dengan menarik tangan Rian dengan keras sampai dia berbalik menghadap Avril.


"Apa kau masih marah kepadaku, Rian?"


Rian tetap acuh dengan pertanyaan Avril.


"Rian, aku menyesal telah meninggalkan Zidane waktu itu. Aku mau minta maaf kepadanya!" Ucap Avril dengan sendu. "Jadi, bisakah kamu mengizinkan aku untuk menemuinya sekali saja!" Pinta Avril.


Rian melirik sekilas sebelum menjawabnya, "Aku tanya dulu pada Zidane. Jika dia mau bertemu denganmu, akupun tak bisa menghalanginya!"


Terlihat wajah Avril sumringah mendengar ucapan Rian. Walaupun kemungkinannya kecil, tapi dia tetap berdo'a supaya Zidane mau menemuinya.


Berbeda dengan Prita, dia terlihat geram karena ternyata Avril mengenali Rian dari pada dirinya.


Sialan, si Avril ternyata kenal dengan dokter Rian dari pada aku. Aku kalah saing dengan wanita licik ini.


Avril tak pernah tahu jika sahabatnya ini membenci dirinya sekarang, karena mengetahui jika dirinya mempunyai saingan baru.


Rian kembali keluar dari ruangan Zidane setelah dia bertanya pada si tuan muda.


"Kamu boleh masuk." Avril dan Prita senang bukan main atas kabar yang di bawa Rian. keduanya melangkah bersiap masuk.


"Tapi, cuma kamu saja. Temanmu tak boleh masuk!" Seketika Prita mundur sambil merutuki nasibnya.


Sialan. Cuma si Avril yang diizinkan masuk. Awas kah wanita licik!


Avril menoleh ke arah Prita. Dia tak enak kepada sahabatnya itu. "Ta, maaf ya. Kamu tak bisa ketemu sama dia saat ini. Setelah dia sembuh, aku janji akan mengenalkannya padamu."


Prita mengangguk sambil memaksakan senyumnya. "Ya sudah. Aku pulang duluan deh! Kamu hati-hati ya."


Avril langsung masuk kedalam ruang perawatan Zidane. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Kalian istirahat saja dulu. Biarkan dia mengobrol sebentar dengan wanita itu.!"


Para penjaga langsung pergi setelah memberi hormat kepada dokter pribadi tuan mudanya.


Sementara Prita telah pulang dengan hati yang kesal, karena dia tak diizinkan masuk. Sedangkan Avril bisa masuk atas perintah Zidane.


"Hai sayang, apa kabar kamu?" Zidane menoleh ke arah suara wanita yang baru saja masuk.


"Mau bicara apa? Langsung saja. Aku tak suka basa-basi." Ketus Zidane.


Bukannya menjawab, Avril malah mendekati Zidane yang terbaring di ranjang dengan lemah.


Tangan nakal Avril mengelus wajah tampan Zidane dan berhenti di bibir seksinya. Ia hendak mencium bibir itu namun Zidane menahan dengan tangan kanannya.


"Apa yang kau lakukan. Menyingkirlah dari hadapanku! Aku tak suka wanita agresif sepertimu. Aku sudah beristri dan aku sangat mencintainya. Jangan harap kamu bisa menggodaku lagi!"


Zidane terus berusaha mendorong Avril, namun karena kondisinya seperti ini, ia sangat kesusahan untuk menyingkirkan wanita itu sampai Sherly dan ketiga sahabatnya masuk melihat kejadian itu.


***☆☆☆


Dukung author dengan like, komen, dan vote ya.

__ADS_1


Hatur thank you😘😘😘***


__ADS_2