Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Menghindar


__ADS_3

Setahun telah berlalu. Kini Sherly tak pernah mengalami tanda-tanda perubahan semenjak mereka tinggal di kota ini.


Mungkin, inilah jalan alternatif yang selalu Zidane pikirkan untuk menjauhkan Sherly dari pengaruh jahat Hendri.


Diam-diam Zidane memperhatikan gerakan pamannya untuk mengetahui apa maksud di balik pendekatan sama istrinya.


Saat acara pernikahan Indra dan Andin, Zidane mengecoh Hendri dengan keberangkatan keduanya mengikuti pengantin baru.


Indra dan Andin di berikan hadiah oleh Zidane berupa jalan-jalan ke Paris dan mereka ikut bersamanya. Namun, Hendri tidak tahu kalau keduanya memasuki pesawat yang bukan tujuan Paris. Melainkan Yogyakarta.


Flasback


Hari ini adalah hari yang bahagia buat Indra dan Andin. Hubungan mereka telah di setujui oleh Zidane sebagai kakak sepupunya.


"Ndra, jaga adik saya dengan baik. Dia seperti anak kecil jika sedang marah. Jadi, kamu harus benar-benar sabar memahami tingkahnya itu." Tutur Zidane kepada adik iparnya.


"Tenang saja, bro. Gue akan jagain dan sayangi dia segenap hati. Percaya deh!" Indra tersenyum menerima uluran tangan Zidane yang memberi selamat padanya.


"Ndin, jadilah istri yang baik dan penurut. Jangan pernah membantah apa kata suami kamu. Ingat, syurganya seorang istri terletak pada suaminya. Jadi, kamu harus melayani suamimu dengan baik."


Andin malah menangis mendengar nasihat kakak sepupunya itu. Dia langsung memeluk erat Zidane sambil terisak. "Kakak!"


Sherly pun mengelus punggung adik iparnya itu dengan lembut.


Saat mereka sedang melow-melow, datanglah tiga orang sahabatnya di tambah bayi mungil yang cantik.


"Selamat, bro. Akhirnya si Jalu bakal melepas keperjakaannya." Geri terkekeh meledek sahabatnya.


"Iya dong, memangnya mas Jawir." Ledek Dika yang menggendong si kecil Maharani.


"Gue kan mau nunggu Maharani gede, Dik. Iya kan, sayang!" Tangannya mengelus si bayi yang sedang berceloteh ria.


"Najong. Gak sudi gue punya mantu kaya lu. Bisa serangan jantung, gue."


Semuanya menertawakan obrolan Dika dan Geri. "Hahahaha."


"Kalian mau bulan madu kemana?" Tanya Iren.


Andin melirik sekilas ke arah kakak sepupunya. "Kado spesial dari kak Zidane. Katanya kami dikasih tiket pesawat ke Prancis."


Senyum Indra mengembang setelah mendengar ucapan wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.


"Serius, yank?" Pertanyaannya diangguki Andin.


"Wah, syukurlah. Tadinya aku mau ngajak kamu bulan madunya nanti saja. Soalnya belum ada pemasukan dikantongku." Kata Indra jujur.


"Senengnya si Jalu. Dapet liburan gratis, dan bulan madu gratis. Gue yakin, mesti Zidane ngasih rumah gratis lagi buat mereka." Cibir Geri.


Tanpa malu, Indra menepuk bahu Sherly. "Bagus juga tuh kalau gitu."


Zidane langsung melirik tepukan tangan Indra di bahu istrinya membuat nyali si pengantin baru itu menciut.


"Sorry!" Tangan Indra pun di turunkan dari bahu Sherly.


"Kok mas Geri tahu kalau kak Zidane ngasih rumah buat kita?" Semua orang menatap ke arah Andin.


"Kak Zidane kan beliin rumah buat kita, juga buat mereka. Seminggu lagi kita akan berangkat dan meninggalkan tanah air." Jelas Andin.


"Serius? Elu mau pergi, Sher?" Iren, Dika, dan Geri menatap sahabatnya.


Sherly mengangguk dengan pertanyaan ketiga sahabatnya.


"Jadi, elu milih barengan sama si Jalu dan ninggalin kita bertiga nih?" Raut kesedihan nampak di wajah mereka.


"Anak cabang perusahaannya di Prancis membutuhkan dia. Jadi, kami harus pindah kesana untuk memulihkan keseimbangan perusahaan. Kasihan para karyawan jika perusahaan tutup." Jelas Sherly.


Mereka pun mengangguk pasrah.


Tanpa disadari, dua orang menguping dan tersenyum mendengar kabar itu.


Mudah sekali mencelakai mereka jika di luar negri. Saya akan membuat kalian terpisah selamanya.


Senyum jahatnya tak terlihat siapapun. Dia berjalan dan menghampiri kedua mempelai yag sedang di kerumuni orang-orang terdekatnya.


"Selamat ya, Andin. Om do'akan semoga kamu langgeng." Uluran tangan Hendri di sambut oleh keponakannya.


"Terima kasih, om Hen." Senyuman Andin sangat manis.

__ADS_1


"Oh iya, ini siapa om?" Lirikan mata Andin tertuju pada gadis di samping Hendri.


"Hai, aku Prita. Calon istrinya Hendri." Hendri melotot ke arah gadis di sampingnya.


"Wah, om Hendri hebat ya. Dapet wanita cantik seperti mbak Prita. Ditambah usianya yang masih muda." Wajah Prita merina mendengar pujian dari keponakan pacarnya itu.


"Terima kasih."


Sedangkan Indra dan Geri menatap sinis pada Prita. "Cih, masih berani mereka menampakkan wajahnya dihadapan Sherly dan Zidane!"


Mereka sudah mengetahui bagaimana sifat asli Hendri dan Prita. Kedua orang itu lah yang membuat Sherly berubah menjadi sosok lain dan menjadi mengerikan.


Indra dan Geri tahu tentang Sherly dari kak Al. Dia lah yang memberitahu kejadian malam itu di rumah Zidane saat Sherly berubah jadi seperti harimau.


Hendri melirik semua orang di sana yang menatapnya tak suka. Dia juga melirik Sherly dan Zidane yang bersikap acuh seperti tak menganggap keberadaannya.


"Dimana papi dan mami kamu?" Tanya Hendri sambil mengedarkan pandangannya.


"Papi sedang bersama tuan Hadi dan ayah mertua, sedangkan mami lagi di sebelah sana nemuin para tamunya." Jawab Andin.


"Om kesana dulu ya, Ndin. Mau nemuin orang tua kamu!" Pamit Hendri pada keponakannya.


"Oh, ya sudah om." Andin tersenyum sambil mengangguk.


Keduanya pun pergi dari kumpulan orang-orang yang tak suka padanya.


"Dasar manusia munafik. Baik di depan jahat di belakang." Bisik Geri pada Indra.


"Gue jadi gedek denger cerita kak Al kemarin. Walaupun dia pamannya Andin, gue gak mau dia ngedeketin keluarga gue. Apalagi jika dia ngedeketin Sherly." Indra ikut berbisik.


Hendri dan Prita melangkah meninggalkan mereka dengan perasaan tak enak karena semua menatap dengan tak suka.


"Apa mereka sudah tahu siapa kita?" Bisik Prita.


"Kemungkinan seperti itu." Jawab Hendri santai.


Prita menoleh ke arah Hendri. "Jadi, itu sebabnya mereka menatap tak suka pada kita?"


"Ya." Jawab Hendri singkat sambil mendekat ke arah seseorang yang sedang mengobrol.


"Yang sudah punya menantu tampan, adikmu ini sampai terlupakan." Wanita itu pun menoleh.


"Aduh mbak, bisa gak pertanyaannya di tambahin lagi. Soalnya kurang banyak." Semua orang tertawa mendengar ucapan Hendri.


"Maaf ...maaf, habisnya mbak kangen kamu!" Dia pun memeluk erat tubuh adiknya itu.


"Aku sangat baik. Mbak bisa melihat sendiri kalau adikmu ini tak kekurangan apapun. Lagipula, aku memang baru kembali dari luar negri. Makanya, aku juga baru tahu tentang pernikahan Andin dari Zidane." Ucapnya berbohong.


"Oh iya, kenalin dia Prita. Prita, dia kakak tercantik dan terbaikku, sekaligus adik dari ayahnya Zidane. Namanya mbak Hani." Keduanya pun saling mengulurkan tangan sambil tersenyum.


"Cantiknya. Dia siapa kamu, Hen?" Tanya ibunya Andin.


"Dia gadisku, mbak. Kami cocok tidak?" Wajah Prita kembali merona saat tangan Hendri merangkul bahunya.


"Maksud kamu, Hen?" Tante Hani penasaran.


"Dia calon istriku." Tante Hani pun memicingkan mata dengan penuturan adiknya.


"Calon istri? Lah istri sama anak kamu kemana, Hen?" Pertanyaan Hani mengundang lirikan mata semua yang mendengarkan.


"Anakku sudah meninggal lima tahun lalu, sedangkan istriku setahun yang lalu meninggal karena depresi." Tutur Hedri sedih.


Hani pun langsung memeluk adik kandungnya itu. "Maafin mbak ya, Hen. Mbak gak pernah tahu sepahit itu kehidupanmu. Mbak menyesal telah meninggalkan dan melepaskanmu sendirian. Setelah kematian mas Hery, mbak malah tidak pernah menemuimu lagi." Dia pun menangis dengan memeluk adiknya.


"Tidak apa-apa, mbak. Aku disini bersama Zidane. Walaupun ayahnya sudah tidak ada, tapi Zidane selalu menemani hari-hariku." Zidane mendelikkan mata mendengar perkataan Hendri.


"Syukurlah jika kalian hidup bersama. Mbak sangat senang mendengar kamu selalu menjaga Zidane dengan baik disini. Semenjak mas Hery pergi untuk selamanya, mbak selalu kepikiran kalian." Tutur tante Hani.


"Mbak Hani tak usah khawatir, kita selalu bersama dan saling menjaga. Iya kan, Zidane?" Hendri sengaja berkata seperti itu.


"Mbak seneng banget. Mulai sekarang, mbak akan selalu menemani kalian." Hendri pun tersenyum mendengar ucapan kakak perempuannya.


Sedangkan Zidane, dia kesal karena tante Hani tak pernah tahu bagaimana sifat dan sikap asli adik bungsunya tersebut.


Seminggu berlalu, Orang tua Andin pun berangkat lagi ke Belanda bersama kakek Hutama. Tinggalah Zidane dan istrinya, Andin dan suaminya, juga Rian dan pacarnya.


Mereka menyusun rencana keberangkatan menuju Paris.

__ADS_1


"Kak, apa kita akan selamanya tinggal di paris dan tidak kembali ke tanah air?" Tanya Andin.


"Gimana nanti saja. Aku gak bisa memastikan semuanya." Jelas Zidane tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


"Terus, kita tinggal satu rumah juga disana?" Tanya Andin lagi.


"Kenapa? Kamu gak suka jika tinggal satu rumah dengan kami?" Tanya balik Zidane.


Indra menyentuh lengan istrinya sambil menggeleng memberi isyarat. "Jangan tanya lagi." Arti dari isyarat gelengan kepala Indra.


Andin tidak mengerti maksud suaminya. Dia mengira jika Indra tidak setuju.


"Tidak, kak!" Zidane langsung menoleh ke arah adiknya. "Apa?"


Indra langsung meralat ucapan istrinya.


"Maksud Andin itu tidak masalah, tuan muda. Iya kan, sayang?" Mata Indra berkedip memberikan kode supaya Andin mengiyakannya.


Tapi Andin tetap tak mengerti. "Tadi kamu bilang ...!"


"Bilang apa?" Indra pun terhenyak saat tatapan tajam Zidane mengarah padanya.


Dia pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Haish, Kenapa kalian ribut sekali sih. Buruan beresin barang-barangnya!" Si nyonya muda menghentikan pembicaraan itu sehingga Indra terselamatkan.


Haduh, untung Sherly datang. Coba kalo kagak? Bisa mati gue di telan tatapan tajam si tuan muda.


"King ice, bantuin beresin barang kita dong!" Kata Sherly pada suaminya.


Mau tak mau Zidane berdiri dan mengikuti istrinya ke kamar.


Sebelum masuk kamar, dia pun menoleh kepada dua pasangan lain di bawah. "Awas kalian!"


Setelah Zidane masuk, keempatnya pun mengelus dadanya. "Hah, syukur lah."


"Kamu sih, yank. Kenapa banyak nanya sama kakak kamu? Sudah tahu dia orangnya galak." Kata Indra kepada istrinya.


"Iya ih. Kenapa kamu tanya mulu si tuan muda es itu. Sudah tahu kakak kamu itu raja es, pake banyak di tanya. Iyain aja napa sih." Timpal Rian.


"Iiih, aku kan cuma minta persetujuan kamu saja, sayang. Aku kira kamu geleng-geleng itu tanda gak setuju." Kata Andin.


"Aku geleng-geleng maksudnya biar kamu gak nanya terus. Eh tahunya malah ngomong enggak." Indra melipat tangannya di dada.


"Iiih, aku kan gak tahu!" Rengek Andin sambil memalingkan wajahnya.


"Ya sudah, ayo buruan beresin barang! Biar kakak kamu gak ribut lagi. Kalian kan harus berangkat pagi-pagi." Rian menghentikan perdebatan mereka.


Mereka pun akhirnya pergi ke kamar untuk mengepack barang. Sementara Rian mengantarkan pacarnya pulang.


Menjelang pagi.


"Ayo buruan, kita bisa telat!" Teriak Zidane memanggil tiga orang anggota keluarganya.


"Ya sebentar, sayang. Aku datang!" Sherly berlari menghampiri suaminya.


"Yuk, berangkat!" Pasangan baru pun sudah siap.


Mereka langsung berangkat menggunakan mobil Zidane menuju bandara internasional.


Saat mereka sedang menunggu keberangkatan pesawat, tanpa sengaja Zidane melihat seorang yang dia kenali sedang mencari mereka.


Itu Hendri. Ya tuhan, dia bisa melukai istriku lagi. Mungkin dia sengaja mengikuti kami. Aku harus membawa si Machan pergi dari sini.


Zidane menarik Sherly ke tempat lain.


Sherly yang tak mengerti dengan tingkah suaminya langsung protes. "Ada apa sih King Ice?"


Zidane menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssstt, ada pamanku. Dia sepertinya sengaja mengikuti kita?"


"Astaga, dimana?" Dia celingkukan mencari keberadaan Hendri.


"Disana! Tapi kamu gak usah melihatnya. Dia bisa tahu nanti." Cegah Zidane saat wajah Sherly akan menoleh.


"Kita pikirkan cara supaya menghindar dari dia." Jelas Zidane.


Keduanya tampak berpikir, namun sebuah tangan menepuk pundaknya membuat mereka terkejut.

__ADS_1


"Haahhh????"


Bersambung gaesss


__ADS_2