
Zidane pulang saat rumah dalam keadaan sepi. Wajar, karena ini sudah hampir jam sebelas malam.
Ia melangkah dan membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa saat pulang terlambat.
Di putarnya handle pintu dan ia menutupnya kembali setelah menguncinya.
Klik
Tiba-tiba lampu menyala dengan terang dan dia mengerjapkan mata karena silau dengan cahaya lampu itu.
"Sayang, kamu belum tidur?" Zidane menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa setelah menyalakan lampu.
Namun Sherly tak menjawab apapun. Dia memilih diam dan menatap sendu ke arah suaminya.
"Ada apa?" Mata Zidane menangkap sesuatu yang aneh dari wajah istrinya.
Lagi-lagi Sherly tak menjawab sepatah katapun.
Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti itu?
"Apa kata dokter? Apa ada yang serius dengan kesehatanmu?" Zidane menjadi khawatir melihat ekspresi datar istrinya.
Apa dia marah karena aku tak mengantarkannya ke dokter? Tapi, bukankah dia sendiri yang memintaku pergi dan meminta Geri yang mengantarkannya.
"Sayang." Zidane tertunduk di bawah dan menaruh kepalanya di pangkuan Sherly.
"Apa kau marah kepadaku?"
Sherly beranjak dari duduknya dan beralih ke tempat lain. Wajahnya tetap sama, tatapan sendunya kini ia palingkan ke arah lain.
Air matanya meleleh begitu saja tanpa bisa di cegah membuat Zidane semakin tak mengerti.
"Hei, Machan! Ada apa? Coba katakanlah apa yang terjadi. Jangan membuatku semakin bingung." Zidane terlihat frustasi dengan sikap istrinya.
"Aku marah sama kamu. Aku kesel bamget sama kamu sampai aku tak bisa mengucapkan apapun." Sherly terisak.
Zidane langsung duduk di samping istrinya dan memeluk istrinya serta menggenggam tangannya.
"Kesalahan apa yang membuatmu kesal dan marah kepadaku? Katakanlah!" Ia berusaha berkata lembut pada istrinya.
"Aku marah kepadamu. Kenapa kita belum di beri momongan? Sedangkan Andin sudah melahirkan baby boy." Tutur Sherly yang protes kepada suaminya.
"Hah..Aku gak percaya ini?" Zidane sampai memalingkan wajah ke samping sambil terkekeh.
"Ya tuhan. Jadi itu yang membuatmu marah, kalau kita belum punya anak?" Sherly mengangguk pasti.
"Iya lah. Aku kan pengen punya baby, sayang." Rengekan Sherly di tanggapi gelak tawa Zidane.
"Istriku ini memang lucu. Tapi, darimana kamu tahu kalau Andin sudah melahirkan?" Pertanyaan Zidane membuat Sherly gelagapan.
"A-anu ... itu!"
"Apa kamu menghubungi Indra?" Sherly mengangguk perlahan.
"Tidak apa-apa. Pasti kamu kangen mereka, iya kan?" Zidane memeluk istrinya.
Ya tuhan, Hendri pasti bisa melacak keberadaan kita disini.
Hati Zidane menjadi tak tenang. Ia takut sesuatu yag akan terjadi di masa mendatang.
Sherly tersenyum senang karena Zidane ternyata tak marah kepadanya.
"King Ice."
"Hemh."
"Kamu gak marah?"
"Untuk apa?"
"Aku sudah menghubungi Indra tanpa memberitahumu."
"Sudahlah sayang, jangan dipikirin. Aku lelah, mau mandi dulu ya." Zidane melangkah meninggalkan Sherly.
Sherly menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.
Ia pun melangkah ke dapur dan menghangatkan sayur untuk makan suaminya.
Beberapa saat kemudian Zidane terlihat segar. Ia menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Apa kamu sudah makan?"
"Sudah, karena aku sangat lapar tadi. Jadi, tak menunggumu untuk makan bersama."
"Itu bagus, sayang. Kau tak perlu menungguku jika ingin makan. Jangan membiarkan perutmu kelaparan." Kata Zidane dengan mencium pipi istrinya.
"Ayo dimakan!" Sherly meyiapkan makanan di piring dan memberikannya pada Zidane.
__ADS_1
"Waah, sepertinya enak nih. Ayo, kamu juga harus makan lagi!" Ajak Zidane.
Sherly menggelengkan kepala. "Aku sudah kenyang. Lagi pula, jika aku makan jam segini aku bakal jadi gendut." Suaminya terkekeh mendengar ucapan istrinya.
Ia pun mulai menyendok makanannya. Namun ia berhenti sejenak dan menatap piringnya. "Ada yang kurang, sayang."
Sherly menatap suaminya yang berhenti makan. "Apa yang kurang?"
"Sepertinya kurang ... coba deh kamu cicipi sendiri." Satu sendok di suapkan ke mulut istrinya.
Sherly menerima suapan Zidane dan mulai mengunyah makanannya. "Apa sih? Perasaan segini udah pas deh!"
"Masa sih? Apa cuma lidahku saja yang merasakannya?" Ia pun mulai menyendok kembali makanan dan memasukkannya kemulutnya sendiri.
"Tuh kan, yank. Rasanya tuh sedikit ada yang kurang. Coba deh!" Satu suapan di terima Sherly lagi dan lagi sampai makanan di piring di habiskan mereka berdua.
"Alhamdulillah enak, kenyang deh!" Senyum Zidane mengembang melihat piringnya sudah kosong.
Sherly yang merasa di kerjai suaminya merengek sebel. "Iiih, kamu ngerjain aku."
"Hehehe. Maafin aku, sayang. Kalau makan sendirian rasanya kurang deh. Kalau kita makan berdua, rasanya sangat nikmat dan membuat perut kenyang. Iya kan!"
"Cih, menyebalkan. Huaaaa, nanti aku jadi gendut kalau kaya gini terus." Rengekan Sherly hanya di sambut tawa oleh suaminya.
"Hahaha ... istriku ini memang lucu." Dicubitnya gemas pipi Sherly yang semakin cemberut.
"Kalau kedua hantu genit itu melihatmu, mereka pasti akan meledekmu habis-habisan sayang." Zidane terus menertawakan istrinya.
๐บ๐บ๐บ๐บ
"Apa ini? Kenapa ada benda seperti ini disini?" Alea dan Nania saling pandang.
"Tempat ini terlihat seperti tempatnya ...?"
"Kalian benar, sayang. Ini adalah tempat saya." Seorang lelaki menyeringai mengejek kedua hantu wanita itu.
Keduanya tersentak kaget dan menoleh ke arah sumber suara. "Kau?"
"Iya sayang, ini saya. Kalian senang melihat saya lagi?" Tanya orang itu.
"Cih, kami tak sudi melihatmu walaupun dalam mimpi sekalipun."
Keduanya tak memperdulikan ejekan orang di hadapannya.
Lelaki itu mendekat kearah keduanya dan menekankan tangannya di kedua pipi hantu wanita itu.
"Katakan. Dimana mereka?" Nada bicaranya di buat selembut mungkin.
Keduanya bungkam dengan seribu bahasa.
"Oh, kalian menguji kebaikan saya. Baiklah. Lihat ini!" Dia memperlihatkan sebuah video yang memperlihatkan sebuah rumah yang di kelilingi banyak jin disana.
"Jika kalian tak mengatakannya, maka peliharaanku bisa menerobos kedalam dan menyerang penghuni rumah itu." Ancamnya.
Alea dan Nania saling pandang dan menggelengkan kepala.
"Kalian tak mau memberitahukannya? Baiklah jika itu mau kalian." Dia memejamkan matanya lalu membaca sebuah mantra.
Tiba-tiba jin yang menunggu di luar rumah itu pun masuk dan seketika sang nyonya pemilik rumah langsung berteriak histeris.
"Dia datang ... dia datang. Tolong, selamatkan aku!" Sikapnya seperti orang kerasukan. Dia bahkan membanting dan mengacak semua barang yang ada di ruangan besar di rumahnya.
Dia juga menyiksa dirinya dengan membenturkan kepalanya ke tembok sampai darah segar menetes.
Tak ada satupun yang bisa menghentikan aksinya itu.
"Tidak. mommy!" Teriak keduanya saat melihat kejadian itu di layar besar.
"Hahaha, bagaimana? Apa kalian masih mau lihat yang lain lagi?"
"Kau sungguh kejam, Hendri. Cepat lepaskan kami. Kalau tidak, kau akan tahu akibatnya!" Ancaman kedua hantu wanita itu tak bisa mempengaruhi Hendri.
Dia semakin menertawakan keduanya.
"Hahaha. Kalian tahu, saya sangat menyukai rengekan dan tangisan mereka. Itu seperti nyanyian penghantar tidur untuk saya."
"Dasar kau manusia biadab. Kau tak mempunyai hati sedikitpun, Hendri." Ucap keduanya geram.
"Memang. Memang saya tak punya hati. Kalian tahu mengapa? Itu karena keinginan terbesar saya belum terpenuhi. Jika kalian memenuhi keinginan saya itu, mungkin saja hati saya yang baik akan kembali dengan sendirinya. Bagaimana? Apa kalian bisa mengabulkannya?"
Kedua hantu wanita itu saling mendelikkan mata mereka dengan malas karena mendengar ucapan si jahat ini. Bagaimana tidak? Mereka sangat tahu betul jika orang di hadapannya ini pandai menipu.
"Kami tak sudi untuk membantumu. Kau akan berbuat lebih kejam dari itu." Tutur keduanya.
__ADS_1
"Tidak. Asalkan kalian memberitahu saya dimana si gadis bintang. Kalian tahu, setiap hari saya tersiksa siang dan malam. Hanya karena memikirkan dirinya seorang." Ucapnya dengan ekspresi sedih.
"Kami tak percaya. Lagipula, untuk apa kau memikirkannya? Dia sudah punya suami dan sebentar lagi dia punya anak. Dia akan mempunyai keluarga yang seutuhnya." Jelas Nania.
"Jadi, mereka akan punya anak?" Hendri tertegun mendengar penjelasan Nania.
"Ssstttt, apa yang kau lakukan? Dasar payah. Kenapa kau memberitahukannya kalau mereka akan punya anak?" Nania tersentak dengan peringatan dari Alea.
"Astaga, aku lupa."
"Oh sayangku, terima kasih atas informasinya. Jujur, saya sangat sangat saaaaangat berterima kasih kepada kalian." Senyum Hendri terukir di bibir tebalnya.
"Jika dia orang baik, mungkin aku akan terpikat oleh ketampanannya. Sayangnya dia orang yang keji." Cemooh Alea.
Hendri hanya memicingkan matanya mendengar cemoohan hantu wanita itu, kemudian dia tertawa lepas.
"Hahaha. Kau itu salah, sayang. Saya ini orang yang sangat baik. Saking baiknya, saya bisa mencabut nyawa seseorang dengan kedua tangan saya sendiri."
Kurang ajar memang si Hendri ini. Demi keinginannya tercapai, apapun dia lakukan. Termasuk membunuh orang.
"Baiklah, kita akhiri drama ini. Katakan, dimana mereka?" Bentak Hendri dengan nada tinggi setelah berbicara lembut.
"Kami tidak tahu keberadaan mereka. Mereka meninggalkan kami begitu saja." Ucap keduanya.
"Oh ya. Hemh, kalian mau mengatakannya sendiri atau ... mereka akan merasuki ibunya si gadis bintang dan berbuat lebih nekad lagi?" Ancaman Hendri mengendurkan semangat keduanya untuk tetap berbohong.
"Tidak. Jangan lakukan itu padanya, Hendri! Kau tahu, mommy sudah menderita selama ini gara-gara tak mendapat kabar dari mereka." Cegah Alea.
"Apa kau yakin orang tuanya tak tahu dimana keberadaan mereka?"
"Iya, kami yakin. Itu karena dia juga merindukan kel ...!"
"Ukhuk ... ukhuk!" Alea berusaha menghentikan ucapan Nania.
"Kamu kenapa Al? batuk? Masa hantu bisa batuk." Nania tak mengerti isyarat Alea yang menghentikan ucapannya agar tak membocorkan rahasia.
"Ish kau ini. Aku juga bisa batuk lah. Kan sama punya tenggorokan." Alea gemas sekali kepada Nania yang tak mengerti isyaratnya.
Hendri menatap keduanya.
"Sudah ngobrolnya. Lanjutkan ucapanmu, Nania!" Pinta Hendri.
"Hahh, ucapanku sampai mana tadi?" Dia jadi bingung sendiri.
"Kamu bilang dia juga merindukan kel ... kel apa sih?" Hendri mengulang ucapan Nania.
"Kel ... apa ya. Al, aku mau ngomong apa ya tadi? Oh ya, keluarga. Dia juga merindukan keluarganya, iya kan?" Dia bertanya pada Alea yang mengedip-ngedipkan matanya.
"jhaaa, si Alea selain tenggorokan yang gatal, matamu juga gatal? Dasar hantu gatel." Cibir Nania.
Alea membulatkan mata mendengar panggilan baru dari Nania.
"Eh bodoh, gue bukan hantu gatel. Dasar kamu hantu oon." Alea mengatainya balik.
Duh gusti, cuma si Nania hantu yang oonnya kagak ketulungan. Aku kasih kode supaya diam dia malah nyerocos mulu.
"Cukup! Apa kalian akan terus saling ejek? Cepat katakan dimana Zidane sama Sherly?" Bentak Hendri lagi.
Keduanya diam mendengar teriakan Hendri. Mereka saling pandang.
Ponsel Hendri berbunyi dan ia pun langsung menjawab panggilan itu.
"Katakan!"
"....."
"Bagus."
"......"
"Tidak. Saya yang akan turun tangan sendiri."
"......."
Hendri mengakhiri percakapannya di telpon dan menatap kedua hantu wanita itu.
"Tidak sia-sia saya kembali kedalam negri. Selain menemukan kalian, sekarang saya juga menemukan mereka. Hahaha, dunia ini rupanya sempit." Dia tertawa terbahak.
Sedangkan Alea dan Nania saling pandang. Mereka tak mengira jika Hendri akan menemukan Zidane dan Sherly secepat ini.
Kenapa mereka bisa di temukan? Ternyata koneksi orang ini sangat luas, dia bisa melacak keberadaan si King Ice dan si Machan.
Alea menatap Hendri dengan tajam. Sementara Nania hanya diam tak mengerti.
"Mungkin mereka menganggap dirinya pintar. Tapi kalian tahu, betapa bodohnya teman kalian itu. Hahaha." Tawanya menggema di ruangan sempit, gelap, dan pengap itu.
"Zidane ... Sherly ... tunggu saja, saya akan menjemput kalian berdua!" Tangan Hendri terkepal erat dan wajahnya berubah menakutkan.
__ADS_1
Bersambung gaess ....