
Flashback
Sherly yang diantar Geri ke rumah sakit untuk menemui dokter karena pesan Zidane yang harus tetap memeriksa keadaannya, dengan terpaksa ia mengikuti ajakan Geri.
Sementara di bandara, Zidane sedang menunggu seseorang. Dia adalah penumpang langganannya yang selalu setia menggunakan jasa Zidane untuk mengantar barang atau bahkan mengantar jemput dirinya.
Terlihat Zidane sedang membaca majalah di taman dekat bandara sambil memakan buah apel. Dia tertawa melihat tulisan yang tertera di majalah tersebut.
CARA SUKSES MEMBUAT KUE. DIJAMIN ANTI GAGAL.
Begitulah tulisan di majalah yang di pegang Zidane.
"Ini cocok buat di baca si Machan. Dia kan ingin sekali membuat kue yang enak dan bagus di pandang mata." Zidane sampai terkekeh sendiri.
Tiba-tiba dia di kejutkan seseorang yang menghampirinya.
Suara seorang wanita muda terdengar memanggil nama Zidane.
"Permisi mas, kamu yang bernama Tyo?" Seorang wanita muda menghampiri Zidane.
Zidane yang sedang anteng membaca majalah langsung mendongakkan kepalanya sambil berdiri.
"Ah iya nona, saya Tyo." Ucapnya langsung.
Si gadis tersentak melihat seseorang yang berada di hadapannya. Ia merasa mengenalinya. "Zidane?"
Seketika raut wajah Zidane berubah. Dia terdiam menatap wanita di hadapannya.
"Hei, sudah lama kita tak berjumpa! Apa kabar?" Ucap si wanita tetap dengan senyumnya sambil mengulurkan tangannya.
Zidane terlihat cuek dengan sapaan wanita di hadapannya. "Baik." Ucapnya singkat.
"Kamu tetap sama ya dari dulu. Dingin." Ia terkekeh mengatakannya.
"Aku gak akan berubah. Selamanya akan seperti ini." Ucapnya datar.
"Maaf, aku sedang menunggu seseorang. Jadi, aku minta kamu pergi." Masih dengan ekspresi yang sama.
Wanita itu tertawa kecil melihat perlakuan dingin Zidane padanya.
"Siapa yang kamu tunggu disini? Apa istrimu, atau calon istrimu?"
"Penumpang." Jawabnya singkat.
"Jadi benar kamu hanya driver taksi online?" Tanya wanita itu sedikit terkejut.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pekerjaan itu?" Ucapnya dingin.
"Hahaha ... Zidane. Aku gak nyangka jika kamu akan tetap seperti ini." Ia malah tertawa.
"Baiklah. Antarkan aku pulang sekarang juga!" Pintanya pada Zidane.
"Maaf, sudah ku bilang bahwa aku menunggu seseorang. Kau harus memesan lewat aplikasi dulu." Tolaknya cepat.
"Iya, aku tahu kamu nunggu seseorang. Dan sangat disayangkan, orang itu adalah aku." Wanita itu menyentuh pipi Zidane.
Zidane langsung menepis tangan yang menyentuh pipinya itu dengan kesal. "Jaga sikapmu!" Ketusnya.
"Hahaha, aduh Zidane. kamu selalu membuat aku kagum." Pujinya namun Zidane semakin kesal.
"Maaf, kita batalin ini saja. Aku akan mengganti rugi untuk itu." Ia bergegas pergi namun tangan mulus itu menggandeng lengan Zidane dengan mesra.
"Tidak bisa. Kau tetap harus jadi supir pribadiku sekarang." Batin wanita itu.
"Aduh, kepalaku sakit sekali. Mungkin karena perjalanan yang melelahkan sampai aku seperti ini. Apa kau tega membiarkanku seperti ini?" Rengekan manjanya tetap sama dan itu mengesalkan di hati Zidane.
"Avril, aku minta kamu jangan seperti ini. Jaga sikapmu padaku karena aku ini sudah menikah." Wanita itu sedikit tersentak mendengar penuturan Zidane bahwa pemuda idamannya ini sudah berkeluarga.
__ADS_1
Tapi, bagi Avril itu tak masalah. Dulu saja dia bisa mendapatkan hati Zidane dengan mudah. Mungkin saja kali ini juga dia bisa memdapatkan hati Zidane kembali.
"Aku akan menelpon bu Retno dulu. Dia yang memesan taksiku kemarin." Zidane melepaskan tangan Avril dari lengannya.
Dia langsung membuka ponselnya dan menekan nomor telpon si pelanggan.
Tuuuttt ... tuuuuttt
Tak ada jawaban dari sebrang sana sampai membuat Zidane kesal.
"Percuma, ibuku gak akan menjawabnya. Dia sedang rapat di kelurahan." Zidane menoleh ke arah Avril.
"Ibu? Jadi, kau anaknya bu Retno?" Tanya Zidane.
"Menurutmu? Gak mungkin kan aku menemuimu sekarang ini jika bukan arahan dari ibuku. Dan itu membuatku bahagia karena kita bisa bertemu lagi." Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Zidane.
Zidane yang kesal dengan sikap Avril pun langsung mendorongnya. Kini ia beralih pada koper yang sedari tadi di dorong oleh Avril.
"Aku bawakan kopermu." Ia langsung menarik koper itu dan menaruhnya di bagasi.
Avril tersenyum senang sambil mengekor di belakang Zidane. "Umm, Zidane. Apa kamu bisa mengantarkanku ke restaurant termewah di kota ini? Rasanya aku sedikit kelaparan."
"Baiklah!" Jawaban singkat Zidane membuatnya sedikit kesal.
Masih sama seperti dulu. Huucchh, dasar Zidane.
"Ke restaurant mana kita akan pergi?" Avril terus bertanya sambil masuk ke dalam mobil.
"Yang terdekat saja." Lagi-lagi jawaban Zidane membuatnya kesal.
"Ish, bisa gak sih kamu jangan dingin terus sama aku?" Keluh Avril.
Zidane tak meperdulikannya. Ia membuka ponselnya dan mencoba menelpon kembali bu Retno.
"Sudah di bilangin kalau ibuku gak akan mengangkat telponnya, karena dia sedang rapat di kelurahan."
Zidane menoleh sekilas ke arah spion depan. Kemudian menatap kembali ke jalan. Ia pun mulai melajukan mobilnya di jalan.
Akhirnya, pilihan Avril jatuh di restaurant seafood yang sering ia kunjungi bersama keluarganya.
Zidane kesal karena Avril minta terus berkeliling dan mencari tempat makan sampai tiga kali putaran.
Setelah sampai di tempat tujuan, Avril masuk tanpa Zidane karena dia gak mau masuk bersama wanita itu.
"Menyebalkan dia. Hanya gara-gara dulu aku gak mau diajak kerumah kakeknya dia mutusin aku dan sekarang malah cuek lagi sama aku. Huuch, dasar ambekan."
Avril memesan makanan sendiri. Namun ia teringat jika Zidane sangat menyukai lobster saus tiram. Ia pun memesankannya untuk Zidane.
Zidane merenung di dalam mobilnya. Ia menjadi teringat masa lalu saat Avril masuk kedalam kehidupannya.
"Huuch, kenapa harus bertemu dia lagi sih? Tujuh tahun aku mencoba melupakannya namun kini malah ketemu dia disini dan ... Haaaa!" Zidane menjambak kasar rambutnya.
Avril Restidiningrat. Seorang gadis yang mampu meluluhkan hati dingin Zidane tujuh tahun yang lalu.
Zidane yang dari dulu sudah bersikap dingin kepada siapa pun, namun kalah oleh sifat periang Avril. Bisa di bilang Avril itu cinta pertama Zidane.
Dua tahun mereka bersama namun ia tak pernah menyatakan cinta. Hanya sebatas kekaguman pada gadis itu. Zidane bertekad untuk tidak pacaran dan ia ingin langsung memperkenalkannya pada kakek Hutama saat ia lulus kuliah nanti.
Namun tidak di sangka. Ternyata Avril mendekati Zidane karena ingin hartanya saja. Saat kelulusan SMA, Zidane yang sudah tahu niat buruk Avril. Ia memilih pergi ke Belanda dan kuliah disana.
Sampai dirinya mampu mengembangkan perusahaan kakeknya yang ada disana.
Perusahaan Zidane berkembang dan melebarkan sayapnya hingga mempunyai empat cabang di negara berbeda.
Suatu ketika saat ia berkunjung ke Thailand, tak di sengaja ia bertemu Avril kembali di sana.
Avril yang tahu tentang keberadaan Zidane disana pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia merayu Zidane kembali sampai pemuda itu berbaik hati lagi kepadanya dan tergoda olehnya.
Wajah lugu Avril mampu membuat gunung es itu mencair dan ia kembali jatuh ke perangkapnya.
__ADS_1
Dengan bermodalkan wajah lugunya, aset perusahaan Zidane bisa jatuh di tangan gadis itu dan Zidane pun kehilangan perusahaannya di Bangkok.
Sungguh malang nasibnya yang harus tertipu lagi oleh seorang gadis lugu.
Awalnya Zidane tak tahu jika Avril yang melakukannya. Tapi, berkat Joan sang asistennya yang mampu mengungkap kebenaran tentang Avril.
Sakit hati, rasa kecewa, dan penyesalan menghinggapi perasaan Zidane. Ia akhirnya melepas perusahaannnya yang di Bangkok namun ia serang oleh perusahaannya yang di China sehingga perusahaan itu jatuh ke titik dasar.
Zidane kembali ke Indo, dan akhirnya bertemu dengan Sherly.
Sherly gadis yang baik walaupun ia bar bar dan cerewet. Ia juga selalu bersikap ceroboh namun Zidane suka dengan sifat Sherly yang apa adanya.
Saat Zidane mengetahui jika Sherly adalah si gadis bintang yang berjodoh dengannya, ia pun tak mau melepaskan gadis itu apapun yang terjadi.
"Si Machan jauh lebih baik darinya." Gumam Zidane.
"Si macan? kamu memelihara macan dirumah? Bukankah dari dulu kamu gak suka binatang buas?" Avril yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya mengejutkan Zidane.
Zidane beringsut dari duduknya. Ia menatap tajam ke arah Avril dan seperti mengintimidasinya.
"Jangan menatapku seperti itu, sayang. Kamu nanti akan jatuh cinta kembali kepadaku!" Ucapnya percaya diri.
Zidane melengos mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Keluar!" Ucapnya singkat.
"Sayang, jangan seperti itu lah. Ayo dong!" Avril berusaha merayu Zidane dengan menyentuh lengannya.
Zidane menepis tangan yang menyentuhnya.
"Aku minta kamu duduk di belakang." Ucapnya dengan ketus.
"Sayang, aku hanya akan duduk saja disini. Oke!" Ucapnya lagi.
Zidane langsung membuka pintu mobil dan turun dari mobil. Namun, dengan cepat tangan Avril menarik tangan Zidane sehingga dia tertarik dan menindih tubuh Avril.
Geri yang tak sengaja sedang mengantarkan neneknya ke toko elektronik dekat dengan restaurant itu.
Ia melihat mobil Zidane yang terparkir di halaman restaurant, bermaksud menghampiri Zidane dan memberitahukan hasil pemeriksaan Sherly.
Namun, saat ia berdiri tepat di hadapan mobil Zidane dengan wajah tersenyum senang, harus menyaksikan kejadian yang membuatnya salah paham.
Dari luar terlihat Zidane sedang melakukan sesuatu dengan seorang gadis di dalam mobilnya.
Geri mundur ke belakang dengan menutup mulutnya tak percaya. Ia menjadi geram dan hatinya panas melihat kejadian itu.
"Kurang ajar. Istrinya sedang hamil, dia malah berbuat yang tidak-tidak dengan wanita lain. Sialan!"
Geri melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Ia mengendarai kendaraannya menuju rumah kontrakan Sherly dan memberitahukan apa yang dilihatnya. Namun, ia tak tega setelah melihat wajah cemas Sherly.
Sedangkan Zidane langsung berdiri dan menjauh dari gadis itu. Ia turun dari mobilnya.
Avril tersenyum melihat tingkah Zidane dan mengira jika Zidane malu-malu kepadanya.
Ia turun dan melingkarkan tangannya di pinggang Zidane.
"Sayang, aku tahu jika kamu masih mencintaiku."
Zidane menghempaskan tangan Avril yang melingkar di pinggangnya dan ia menjauh dari gadis itu. Semua barang Avril ia turunkan dan ia menyetop taksi yang lewat di sana.
"Antarkan dia ke rumahnya, pak." Ucap Zidane kepada supir taksi.
Avril menatap tak percaya. "Zidane, kenapa kamu melakukan ini padaku. Aku akan bilang ibu kalau kau tidak kompeten dalam pekerjaanmu. Pasti ibu akan menurunkan ratingmu!" Ancamnya namun Zidane tak perduli.
Zidane masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya di jalan beraspal.
Namun, sangat di sayangkan ban mobilnya bocor setelah tak sengaja menginjak paku di jalan. Akhirnya, dia pun pulang terlambat karena mencari tukang tambal ban yang jaraknya agak jauh dari jalan yang ia lalui.
"Kenapa bukan di rumah saja sih bocornya. Haish, ini sudah malam. Si Machan pasti nunggu aku di rumah." Ia bergegas pulang setelah ban mobilnya selesai di tambal.
**Lanjut besok ya
__ADS_1
Terima kasih ...ππ**