
Adi tersenyum licik saat memeluk Dinda, berhasil batinnya.
Aku terus mengelus lengan suamiku mencoba mempercayainya walau sebenarnya aku sangat meragukan itu
"Semoga dia nggak bohong" batinku
Adi melepas pelukannya, lalu mengeluarkan hadiah untukku. Sebuah cincin bermata berlian, aku yakin harganya pasti sangat mahal
"Kemarin sebelum pulang ayah mampir ke toko perhiasan, ayah yakin ibuk suka..."
Aku tersenyum senang mendengarnya, dengan segera aku mengulurkan jariku, dan tanpa ragu Adi langsung memakaikan cincin itu di jari manis kanan istrinya, karena jari sebelah kirinya sudah nyaris penuh
"Habis nanti uangnya kalau ayah foya-foya kan kaya gini?"
"Untuk ibuk apa sih yang nggak, uang bisa dicari, tapi membuat hati ibuk senang itu juga merupakan pahala. Bukankah rezeki suami akan makin melimpah jika membuat hati istrinya bahagia?"
Aku tersenyum bahagia mendengar ucapan suamiku.
"Untuk Naya sama adek mana yah?" kedua anakku muncul tiba-tiba
Adi memasang wajah bersalah karena memang dia tidak membelikan kedua anaknya hadiah
Arik memasang wajah cemberut
"Sebagai ganti hadiahnya, nanti malam kita jalan-jalan, gimana?"
"Ke time zone ya yah?"
Adi mengangguk yang membuat mata kedua anaknya berbinar
...----------------...
Semua berjalan normal seperti sedia kala, besoknya di jam istirahat kantor aku ke toko, karena sudah janjian dengan sales yang kemarin menagih
Aku membayar semua tagihan toko, dan dapat kulihat sedikit perubahan dari raut wajah suamiku ketika aku yang membayar tagihan
Apalagi ketika semua nota aku yang pegang. Adi tak bisa berkutik, dia hanya memasang senyum manis kearah istrinya
"Semua stok barang di toko kami dari produk perusahaan mas sudah di cek?"
"Belum bu"
"Oh, cek lah, nanti jika ada yang habis, mas kirim aja. Dan seperti yang sudah saya katakan kemarin, semuanya sama saya"
Adi dengan cepat menoleh kearah istrinya
"Maksudnya buk?"
Aku memasang senyum
"Nota aku yang ngurusin sekarang, kasihan mas nya jika kena marah bos nya gara-gara toko kita terlambat bayar, dosa loh menunda-nunda bayar hutang padahal kita sanggup membayar"
Adi diam, memandang kearah sales yang sekarang sedang melihat-lihat rak barang-barang toko
Aku lalu menghampiri beberapa pembeli, hanya sekedar menyapa mereka, agar mereka merasa diperhatikan dan menjadi langganan di toko kami
Lalu aku melihat jam di layar handphone, jam istirahat masih empat puluh menit lagi
"Yah, pesan makanan yuk, aku belum makan loh"
"Sebentar lagi paling pesanannya sampai buk, ayah sudah pesankan tadi"
Aku mengangguk lalu berjalan kearahnya, menarik sebuah kursi dan duduk di depan suamiku
Karena kami berdua sama-sama sibuk dengan handphone masing-masing, kami tidak lagi berbicara
Aku buka aplikasi pesan singkat. Sudah lebih dari dua minggu Tomcat tidak mengirimiku pesan, dia kemana ya??
Isi pesanku hanya dari group dan beberapa dari Vita
Eh, Jeng cuma mau ngabarin, semalam Tomi dilarikan ke rumah sakit
Aku lalu termenung setelah membaca pesan dari Vita.
"Tomi sakit?, sakit apa ya?" batinku
Langkah Siska yang mendekat dengan membawa kantong kresek membuatku segera mengalihkan perhatianku kearahnya
"Makasih ya Sis, kamu sudah makan?"
Siska menggeleng. Aku lalu menoleh kearah meja kasir. Antrian hanya beberapa orang selebihnya karyawan lain sedang sibuk mengambilkan barang pesanan
"Setelah barisan yang antri selesai, kamu makan"
"Iya buk"
Sambil menganggukkan kepalanya Siska kembali kemeja kasir
"Dia kan lagi kerja buk, nantilah istirahatnya"
Aku yang akan berdiri kebelakang mengambil piring dan sendok yang memang ada di toko ini menoleh kearah suamiku
__ADS_1
"Siska manusia, bukan robot"
Adi tersenyum kecut mendengar jawaban Dinda. Dinda memang paling peka orangnya, dia selama ini tidak pernah membedakan status antara bos dan karyawan.
Semua dianggapnya rata, karena itulah seluruh karyawannya baik yang di toko, di gudang, di bagian pembibitan sawit dan kolam semuanya segan terhadapnya
Aku lalu membukakan nasi padang yang tadi telah dipesan suamiku, meletakkan di depannya lalu menuangkan air minum juga
"Makan yah, nggak kenyang lihat handphone terus"
Adi tersenyum lalu segera meletakkan handphonenya dan mulai menyuap nasi kedalam mulutnya
"Lain kali kalau ayah pesan makan dan kebetulan ada sales di toko kita, pesankan juga mereka, hanya dua puluh ribu tak akan membuat kita rugi"
"Iya buk"
Aku mengelus kepala suamiku
"Pinteerrrr"
Adi terkekeh
...----------------...
Aku melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai ketika jam istirahat tadi
"Din, dipanggil bos tuh!"
Aku mendongakkan kepalaku yang sedang serius menulis.
"Aku?, kenapa buk?"
"Yeee, malah nanya, mana ibu tahu"
Aku tersenyum kearah bu Ros, pegawai senior di kantor kecamatan ini yang dua tahun lagi akan pensiun
Aku berdiri menatap gugup kearah bu Ros
"Kenapa ya buk?"
Bu Ros angkat bahu. Aku segera membetulkan pakaianku lalu berjalan kearah ruangan bos kami di kantor
Aku mengetuk dan mendorong pintu sambil mengucap salam. Terdengar pak Burlian, pimpinan kami menjawab salamku
Aku segera duduk di kursi di depan beliau
"Ada apa pak?, kata bu Ros bapak manggil saya?"
Aku diam, bingung kemana arah omongannya
"Saudara bapak ada yang sakit, dan dia ingin bapak menjenguknya"
Aku tersenyum kaku
"Terus?, kok ngajak saya ya pak?" perasaan saya mulai tak enak nih
"Ya karena saudara bapak pengennya kamu yang datang"
Aku menelan ludahku, menatap tak percaya pada pimpinanku
Pak Burlian menarik nafas dalam sambil menatap serius kearah Dinda yang diam
"Adik bapak itu namanya Tomi. Kamu pasti mengenal dia kan?"
Mataku terbelalak dengan mulut sedikit ternganga
"Tomi?"
"Iya, Tomi Mahendra, kamu kenalkan?"
Aku menarik nafas dalam sambil mengangguk pelan
"Semalam dia di begal orang di jalan, terus salah satu pembegal berhasil melukai perutnya"
Aku membekap mulutku
"Untunglah ada warga yang melintas sehingga Tomi bisa diselamatkan"
Tesss....
Tak terasa air mataku jatuh.
"Tomi kena begal, dan dia ditusuk? sekarang dia di rumah sakit?" gumamku seakan pada diriku sendiri
Ya Tuhan aku tidak bisa berfikir jernih lagi. Aku segera menutup wajahku, menghapus air mata yang tak sengaja lolos
"Tomi parah tidak pak?"
Pak Burlian terus menatap kearah Dinda yang nada suaranya terdengar sekali panik
Pak Burlian menarik nafas dalam
__ADS_1
"Barusan keluarga ada yang menelpon jika butuh darah dua kantong lagi"
Kembali aku membekap mulutku
"Tomi darahnya A, sama dengan saya. Ambil darah saya saja pak"
Kembali pak Burlian memandang Dinda dengan serius
"Kamu serius?"
"Serius pak, nyawa Tomi lebih berharga dari dua kantong darah saya"
Pak Burlian mengangguk
"Kalau begitu sekarang juga kita pergi"
Lalu pak Burlian meraih handphone yang ada di meja, meletakkannya di telinganya
"Saya ke rumah sakit sekarang, saya telah membawa pendonor yang siap mendonorkan darahnya untuk Tomi"
Aku yang masih duduk di kursi menatap kearah pak Burlian dengan degup jantung yang tak menentu
"Tomi, please kamu bertahan..."
Dengan cepat aku dan pak Burlian keluar ruangan, aku segera masuk kedalam ruanganku, mengambil tas
"Heh, lu mau kemana Din?"
Aku hanya menoleh sekilas kearah teman-teman sekantorku
"Ke rumah sakit"
"Siapa yang sakit?" teriak mereka yang tak ku hiraukan lagi karena segera melesat keluar kantor menuju mobil pak Burlian yang telah menyala
Aku segera masuk, dan duduk di sebelah pak Burlian
"Terima kasih ya Din atas kesediaan kamu"
Aku hanya menganggukkan kepala karena jujur saja aku sangat gugup
Pak Burlian segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Aku yang gugup hanya bisa menggigit bibirku
Handphoneku berdering
Vita
Segera kuangkat
"Ya vit?"
"Di wa ngga di balas, sibuk?"
"Nggak, ada apa?"
"Kok suara kamu gugup gitu?"
Aku melirik sekilas kearah pak Burlian yang fokus menyetir. Bagaimanapun juga aku harus tetap jaga image ku
"Kenapa Vit?"
"Tomi dibegal, dan kabarnya dia parah Din"
Aku melirik kearah pak Burlian dengan degup jantung yang kian kencang
"Kamu tahu dari mana?
"Ini satu kampung sudah heboh"
Aku menarik nafas panjang
"Makasih ya Vit buat informasinya, nanti aku hubungin kamu lagi, sekarang aku ada kerjaan yang penting, maaf ya Vit. bye..."
"Eh, Din, tunggu bentar..."
Tapi aku segera memutus panggilan dan menatap kearah pak Burlian dengan serius
"Tomi parah pak?"
Pak Burlian diam. Aku juga diam karena beliau tidak menjawab pertanyaanku
"Nanti ketika sampai di rumah sakit, tolong jangan bilang sama istrinya Tomi ya pak, jika saya teman Tomi" lirihku pelan
"Tomi itu sudah menduda lama, dia menikah hanya dua bulan dengan istrinya"
Refleks aku menoleh kearah pak Burlian
"Tomi dijebak dengan istrinya, ternyata saat mereka menikah istrinya telah hamil dan tentu saja itu bukan anak Tomi. Dan ternyata benar, hasil DNA membuktikan jika memang anak itu bukanlah anak Tomi"
Aku terhenyak, berbagai penyesalan dan kesedihan campur aduk.
"Jadi benar Tom yang kamu katakan dulu?" batinku pilu
__ADS_1