Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Shock


__ADS_3

Yesa menarik nafas panjang ketika mobil yang membawanya masuk ke area perumahan rumahnya.


"Saya turun di depan gang saja Pak" ucap Yesa pada Pak Bara.


"Loh, Kamu tidak mengajak saya mampir ke rumah kamu?" tanya Pak Bara yang sanggup membuat Yesa kembali menelan ludahnya dengan susah payah.


"Di rumah saya tidak ada orang Pak, kan Bapak tahu sendiri suami saya tidak di rumah. Saya takut kedatangan bapak ke rumah saya bisa menimbulkan fitnah" ucap Yesa dengan nada panik.


"Oh......, bukankah itu malah lebih bagus saya datang ke rumah kamu?" kembali pak Bara menjawab.


Yesa hanya sanggup tersenyum kaku mendengar jawaban Pak bara.


"Aduh....., harus dengan alasan apalagi ini..." batin Yesa bingung.


Mobil terus melaju dan akhirnya berhenti tepat di halaman rumah Yesa.


Melihat ada suara mobil di halaman, seseorang yang saat ini berada di dalam rumah Yesa langsung membuka pintu.


Dan wajah Yesa langsung terkesiap ketika melihat seorang lelaki keluar dari dalam rumahnya.


Tanpa disengaja Yesa dan Pak Bara saling toleh.


"Siapa lelaki itu?" tanya Pak Bara penuh selidik.


Kembali Yesa berusaha tenang dan segera melepas seat belt yang melingkar di pinggangnya.


"Oh, dia kakak saya Pak" jawab Yesa cepat dengan segera membuka pintu mobil.


Kemudian Yesa memberi kode melalui matanya kepada lelaki yang berdiri di teras.


Dan sepertinya lelaki yang berdiri di teras itu mengerti kode yang diberikan oleh Yesa.


Dan Pak Bara hanya tersenyum menyeringai sambil melepas seat belt melihat ke arah Yesa dan juga lelaki yang berdiri di teras seperti menyambut kedatangannya.


Pak Bara berjalan santai ke arah teras sambil tersenyum.


Dan lelaki tadi langsung mengulurkan tangannya menjabat hangat tangan Pak Bara lalu memperkenalkan dirinya sebagai saudara lelakinya Yesa.


Pak Bara berusaha untuk tersenyum ramah pada lelaki tersebut yang memperkenalkan dirinya sebagai kakak Yesa


"Kamu pikir saya bodoh" batin Pak Bara.


"Oh iya ayo pak, mari masuk" ucap Yesa sedikit agak gugup .


Tanpa canggung Pak Bara langsung masuk dan langsung duduk di sofa pandangannya langsung mengitari seluruh ruangan dengan seksama.

__ADS_1


"Oh iya, kalau bisa kamu harus lebih rajin lagi ya di rumah saya ini" ucap pak Bara telak.


Yesa langsung menelan ludahnya mendengar ucapan dingin Pak bara. Sedangkan lelaki yang duduk di sebelah Yesa tampak kaget


"Maksud anda apa ya?" tanya lelaki tersebut yang saat ini duduk di sebelah Yesa.


"Oh, Ini...... saya bilang sama Yesa tolong rawat dengan baik rumah saya ini" jawab pak Bara santai


"Rumah Anda, maksudnya?" tanya lelaki itu kembali dengan kening berkerut.


Pak Bara tersenyum menyeringai lalu melirik ke arah Yesa yang wajahnya mulai pucat dan duduknya pun mulai gelisah.


"Maksud saya......." ucap Pak Bara menggantung sambil terus menatap kearah Yesa


"Ya..... maksud saya, Sayang kalau rumah ini tidak dirawat dengan baik, begitu maksud saya" jawab pak Bara yang membuat Yesa menarik nafas lega.


Lelaki yang duduk di sebelah Yesa hanya tersenyum kaku mendengar jawaban Pak Bara yang sangat janggal menurutnya.


"Kalau begitu kalian berdua silakan ngobrol dulu saya akan ke dalam untuk membuatkan teh hangat" ucap Yesa mengelak.


Yesa segera berlari masuk ke dalam rumah dan segera mengeluarkan hp-nya lalu segera mengetik sebuah pesan untuk lelaki yang saat ini sedang mengobrol bersama Pak Bara.


Tolong kamu buat lelaki tua bangka itu tidak betah lama-lama berada di rumah ini.


Lelaki yang sedang mengobrol dengan Pak Bara langsung mengambil hp-nya dan membaca pesan yang barusan masuk ke dalam hp-nya dan dia tampak menarik nafas dalam.


Hingga sampai teh yang dihidangkan oleh Yesa habis tapi tanda-tanda pak Bara mau pulang belum juga terlihat


Hingga akhirnya Yesa membuat alasan jika dia ada keperluan untuk menjemput anaknya di rumah orang tuanya.


Dan Pak Bara akhirnya berpamitan pulang. Tapi sebelum pulang dia kembali mengerling ke arah Yesa sambil tersenyum penuh arti.


"Jangan lupa dengan apa yang saya katakan di jalan tadi" ucap pak Bara yang kembali membuat Yesa tercekat .


Segera pak Bara berjalan santai menuju ke arah mobilnya dan tidak menoleh ke belakang lagi sehingga mobilnya hilang di tikungan.


Yesa langsung menarik nafas lega ketika pak Bara sudah tidak terlihat dan lelaki yang sejak tadi memperhatikannya dengan curiga segera bertanya.


"Nggak ada apa-apa, kamu tahu sendiri lah bagaimana tatapan lelaki tua bangka itu ketika melihatku" jawab Yesa kesal.


Setelah itu keduanya masuk ke dalam rumah kembali, dan langsung menuju kamar. Dan selanjutnya yang terdengar adalah suara berisik aneh yang bisa kita duga apa yang sedang mereka lakukan berdua di dalam kamar.


...----------------...


Aku membuka mataku dan mengedarkan pada seluruh ruangan yang ternyata saat ini aku sedang berada di kamar tidurku sendiri.

__ADS_1


Aku segera turun dari ranjang lalu menuju ke ruang bawah untuk mencari Tommy. Karena aku ingat tadi aku tidur di pangkuan Tomi bukan di kamar.


Dan kembali seperti kemarin aku melihat bagaimana Tomi dan kedua anakku sedang salat berjamaah.


Aku segera naik kembali ke kamarku dan langsung menuju kamar mandi. Mandi dengan cepat dan tak lama sudah turun tepat di saat Tomi dan kedua anakku selesai salat.


Kemudian Tomi mengulurkan tangannya untuk mengusap Kepalaku. Tapi gerakan tangannya langsung aku hentikan


"Eits, stop!, aku sudah wudhu".


Tomi segera menarik kembali tangannya kemudian menggaruk kepalanya.


Dan aku hanya tersenyum melihat kelakuannya.


Dan setelah salat kembali kami duduk di meja makan dan lagi-lagi Tomi bersikap sangat manis kepadaku dan juga kepada kedua anakku.


"Om, Om mau nggak jadi Papa kami ?" tanya Arik yang membuatku langsung tersedak seketika.


Kemudian Tomi langsung memberikan segelas air kepadaku yang langsung aku tenggak. Kemudian aku menatap ke arah Arik dan Naya secara bergantian.


Tomi tersenyum lebar kemudian dia menatap dalam padaku


"Kalian tanya sama ibu kalian, mau tidak Ibu kalian menjadikan Om sebagai papa kalian"


Dan kembali aku harus menelan dengan susah payah nasi yang ada di dalam mulutku mendengar ucapan Tomi.


"Kalian ngomong apa sih Nak?" tanyaku kepada Naya dan Arik .


"Ya kan kami nggak punya ayah lagi dan Om Tomi ini adalah orang yang sangat baik sama kami buk...., jadi nggak papa dong kalau kami berdua itu ingin om Tomi jadi ayah kami" jawab Arik dengan polos.


Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku dan meminta kepada kedua anakku untuk jangan berbicara lagi saat makan dan meminta kepada mereka untuk segera menghabiskan makanan mereka.


Dan setelah selesai makan kedua anakku kembali bermanja-manjaan dengan Tomi yang membuatku kembali harus menelan ludahku melihat mereka bertiga dengan perasaan campur aduk.


Hingga saat jam tidur tiba kembali dengan manjanya Arik menggelendot manja di belakang Tomi yang menggendongnya.


Dan Arik dibawa masuk oleh Tomi ke dalam kamar mandi, diajaknya mencuci kaki kemudian dibawanya ke dalam kamar.


Lima belas menit kemudian Tomi keluar dari dalam kamar Arik dan menutup pelan pintu kamar dan memberi kode dengan menyatukan jari telunjuk dan jempol sambil sedikit menyipitkan sebelah matanya.


Aku menarik nafas panjang ketika Tomi duduk sebelahku. Dan Tomi langsung mengusap-usap rambutku.


"Jangan dimasukkan hati ya Tom ucapan Arik tadi" lirihku.


Tomi menghentikan gerakan tangannya lalu menatap dalam pada mataku.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak ingin aku menjadi Ayah untuk kedua anakmu?" tanya Tomi dengan nada penuh penekanan.


Aku menarik nafas panjang kemudian menunduk dalam tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Tommy.


__ADS_2