
Dua jam selanjutnya kami sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Segera kami berempat turun dan keluar dari area bandara.
Tomi langsung menyetop sebuah taksi dan meminta mengantarkan kami ke sebuah hotel.
"Loh, kok ke hotel lagi?, apa kita nggak pulang?" tanyaku.
"Masih ada sisa dua hari untuk kita memulai aktivitas. Jadi dua hari ini kita manfaatkan dengan kita berlibur di Jakarta" jawab Tomi.
Kedua anakku bukannya mereka memikirkan sekolah mereka, malah mereka melompat kegirangan ketika mendengar Papa mereka berbicara seperti itu.
"Tapi sayang, Naya sama Arik itu sekolah. Masa mereka sekolahnya libur sampai satu minggu?" .
Tomi tidak menjawab. Melainkan segera merengkuh pundakku dan mengajakku berjalan ke arah taksi yang sudah berhenti.
Karena tak ada pilihan lain, aku hanya bisa menganggukkan kepalaku dan menuruti mereka bertiga yang masuk ke dalam taksi.
Dan benar saja, taksi yang diminta Tomi tadi segera mengantarkan kami kesebuah hotel
Begitu kami masuk lobby, Tomi langsung reservasi dua kamar, kemudian porter hotel membawa koper kami dan mengantarkan kami ke kamar
"Kita istirahat dulu sayang, dua jam lagi papa akan bawa kalian jalan-jalan" ucap Tomi ketika kedua anakku masuk ke kamar mereka
Naya dan Arik mengangguk, lalu kami berpisah masuk ke kamar kami masing-masing
Aku tak langsung merebahkan badanku seperti Tomi, aku segera membuka tirai jendela kemudian membukanya
Kemudian aku langsung mengarahkan hp ku ke luar, mengambil video kemudian membuatnya status di aplikasi what's app
Tak lama hp ku mulai ramai dengan pesan yang masuk
Cieeee yang honeymoon, nggak niat pulang ya....
Aku terkekeh membaca pesan dari Redho.
"Siapa sayang?"
Aku menoleh kearah Tomi kemudian mendekat, dan duduk di sebelahnya sambil mengetik balasan
Jangan gitu Dho, serasa gimana gitu mbak jadinya
Tak lama kulihat Redho sedang mengetik pesan. Dan Tomi bangkit sambil menciumi bahuku
Canda kali mbak, jangan serius banget.
Aku tersenyum membaca balasannya
Mbak bawa banyak oleh-oleh, tapi masih di jalan karena mbak kirim pake paket
Dengan senang hati mbak, kami tunggu oleh-olehnya
Selesai membaca pesan Redho tersebut aku membaca pesan yang lain. Terutama pesan grup yang membuatku senyum-senyum sendiri
"Sayang istirahat dulu lah, nanti kita shoping lagi"
Aku menoleh cepat kearah Tomi. Dan Tomi menganggukkan kepala ke arahku
__ADS_1
"Kemarin sudah banyak Kak...."
Tomi kembali menggeleng dan mencium bahuku lagi.
"Belanja lah yang banyak, mumpung kita bisa liburan. Kalo kita sudah kerja, jangankan untuk belanja, tidur siang aja nggak bisa"
Aku terkekeh mendengar jawabannya. Tapi tak urung aku segera meletakkan hp ku lalu tidur di atas perut Tomi
Dan Tomi langsung mengusap-usap kepalaku sambil tersenyum
Kembali aku kalap ketika diajak Tomi belanja, jika kemarin waktu di Lombok aku sibuk berbelanja untukku, keluarga dan para sahabatku
Maka ketika di Jakarta aku banyak berbelanja untuk seluruh karyawanku. Bahkan aku sampai menelepon Siska dan Reni bertanya apa ukuran baju dan sepatu mereka
Dan ku suruh pula mereka berdua menanyai semua temannya. Bahkan tak luput karyawan kolam dan pembibitan juga aku telepon.
Dan Tomi yang sibuk dengan kedua anakku, hanya mengangguk setuju saja saat aku bilang jika aku mau membelikan oleh-oleh untuk karyawanku
Dan kembali kejadiannya sama seperti waktu di Lombok. Tomi dan aku sibuk mengepak oleh-oleh ke dalam kardus lalu kembali kami meminta pihak paket yang mengirim barang kami ke rumah
Selesai dari mengirimkan barang, barulah kami jalan-jalan menikmati suasana malam ibukota. Kami makan lesehan di warung-warung kecil yang banyak terdapat di pinggir-pinggir jalan. Dan juga menikmati aneka permainan yang tidak ada di daerah kami.
Dan setelah selesai semua rangkaian liburan kami, sekarang adalah waktunya kami benar-benar pulang ke rumah.
Aku sudah memberitahu keluarga besar ku jika hari ini aku pulang. Begitu juga dengan Mbak Sri, agar dia menyiapkan rumah dan masak banyak, karena keluarga besar akan berkumpul di rumah
Hingga akhirnya, dua jam selanjutnya kami sudah berada di depan rumah. Disambut hangat oleh keluarga besar ku, dan juga keluarga besarnya Tomi .
Aku dengan Tomi menjelaskan jika oleh-olehnya masih di jalan saking begitu banyaknya yang kami beli. Tentu ada raut kecewa dari mereka. Tapi setelah aku memperlihatkan resi pengiriman kepada mereka, akhirnya mereka melongok kaget.
Dan Aku menoleh tak enak ke arah ibu mertuaku.
"Maaf ya buk. Karena uang Tomi banyak habis olehku" ucapku yang dijawab beliau dengan mengusap sayang kepalaku.
"Karena Kak Tomi dan Mbak Dinda sudah pulang, itu artinya mobil yang kemarin menjadi mahar pernikahan kalian akan diantar hari ini" ucap adik kedua Tomi
Adik Tomi yang lain mengangguk setuju, sehingga membuat adik kedua Tomi langsung menempelkan HP ke telinganya dan terlihat seperti berkata dengan seseorang. Yang mengatakan segera antarkan mobil yang kemarin Tomi beli ke rumah ku.
Aku menjadi sedikit deg-degan ketika adik Tomi mengatakan itu.
Karena aku penasaran mobil seperti apa yang diberikan Tomi kepadaku.
l"Sambil menunggu, ada baiknya kita semua makan. Karena semuanya sudah tersedia di atas meja" ucap Mbak Sri yang kami jawab dengan anggukan kepala dan langsung menuju ke belakang untuk makan bersama.
Selesai dengan kami makan bersama, kami kembali ke ruang keluarga dan melanjutkan obrolan kami.
Di saat itulah terdengar suara klakson dari depan yang membuat ketiga adik Tomi langsung berdiri.
"Karena ini kejutan, jadi mata kamu harus ditutup Sayang" ucap Tomi yang langsung menutup kedua mataku ketika aku akan berjalan ke depan.
Dengan sedikit tertawa, aku membiarkan Tomi menutup kedua mataku dengan kedua tangannya. Lalu kami secara bersama-sama berjalan ke depan.
Dengan diiringi aba-aba hitungan tiga dari ketiga adiknya Tomi, Tomi melepaskan kedua tangannya yang menutupi mataku.
__ADS_1
Mulutku langsung ternganga ketika di depanku sekarang sudah berdiri mobil mewah berwarna putih.
Aku langsung menoleh ke arah Tomi, kemudian langsung menatapnya dengan sendu
"Aahhh, kakak kok baik banget sih, kan aku jadi baper..." ucapku manja sambil segera memeluknya.
Tomi segera membalas pelukanku sambil mengusap-usap punggungku.
Dan akan banyak kejutan lainnya yang masih harus kamu lihat sayang. Itu karena aku memang sangat mencintai kamu".
Aku makin mengeratkan dekapanku pada Tomi sambil menggerak-gerakkan badanku.
"Kalian apa akan terus berpelukan?, tidak mau melihat mobilnya? Ya sudah jika nggak mau. Artinya mobilnya untukku" ucap adiknya Tomi yang membuat kami berdua menoleh dan terkekeh ke arahnya.
Dengan sopan, adik keduanya Tomi memberikan kunci mobil ke tanganku. Dan aku bersama Tomi langsung membuka mobil tersebut dan langsung masuk .
Aku tersenyum lebar ke arah seluruh keluarga besar ku yang bertepuk tangan ketika aku menghidupkan mesin mobil.
...----------------...
Malamnya, ketika kedua anak kami masuk ke kamar mereka, aku dan Tomi juga naik ke kamar kami.
Selagi aku membersihkan wajahku dengan toner, Tomi mendekat sambil memainkan rambutku.
Sayang, masalah rumah yang juga aku jadikan untuk mahar itu, kapan kamu punya waktu untuk kita melihatnya?".
Aku menghentikan gerakan tanganku yang sedang mengusapkan kapas ke wajah. Lalu aku memutar badanku kemudian memegang kedua tangan Tomi.
"Terus, rumah ini bagaimana?".
"Yaaa, kalau kamu tidak keberatan, Bagaimana jika rumah ini kita sewakan saja?".
Aku langsung memanyunkan bibirku mendengar jawaban dari Tomi.
"Tapi aku sayang sama rumah ini. Rumah ini tuh banyak kenangannya".
Tomi menarik nafas panjang, kemudian menatap dalam mataku.
"Banyak kenangannya ya?" tanya Tomi sambil tersenyum getir.
Aku langsung tersenyum ke arahnya, kemudian mengambil kedua tangan Tomi lalu meletakkan di atas bahuku.
Bukan Kenangan apa-apa. Jangan cemburu dulu. Yang aku maksud di sini adalah karena rumah ini adalah rumah pertamaku, punya banyak kenangan karena memang disini aku mengasuh dan membesarkan Naya dan Arik" bujuk ku saat melihat wajah Tomi berubah sendu.
"Tapi kakak yakin, rumah yang kakak berikan pada kamu itu juga rumah impianmu. Dan kakak yakin kamu akan suka" .
Aku tersenyum, karena kembali menyadari jika Tomi begitu memperhatikan kebahagiaanku.
"Oke, besok atau lusa kita lihat rumahnya ya. Tapi nanti setelah pulang dari kantor karena nggak mungkin aku bolos lagi".
Tomi mengangguk sambil kembali mengusap-usap kepalaku.
Setelah semua selesai, barulah kami berdua beranjak menuju ranjang dan tidur. Dan seperti malam-malam sebelumnya kami melakukan ritual sebelum kami tidur.
Dan setiap selesai kami melakukan ritual kami sebagai suami istri, Tomi akan mengusap perutku yang datar sambil berbisik
__ADS_1
"Semoga penerusku segera tumbuh".