
Lisa tersenyum sinis melihat Mila yang berdiri sambil menunjuk wajahnya
“Oke Mil. Cukup sudah aku mengenal kamu selama ini. Juga kalian semua. Aku pikir kalian memang tulus bersahabat, tapi ternyata aku salah”
Dada Mila turun naik, matanya tetap tajam menatap kearah Lisa yang masih tampak senang
“Kenapa Mil, mau nampar aku? atau kamu mau banting aku? silahkan. Toh, itu yang selama ini kamu lakukan sama orang yang membuat kamu kesal?”
“Jangan pancing emosi aku Lis. Aku bakal lupa kamu siapa jika kamu terus menyudutkan aku”
Lisa dan Nanda menarik nafas panjang, sementara Rohaya dan Putri menarik tangan Mila agar dia kembali duduk, karena semua mata pengunjung café tampak menoleh ketika melihat Mila membentak sambil berdiri tadi
“Put, kamu nggak akan ngomong, hem?” Nanda menoleh kearahnya
Putri diam dan menunduk, yang membuat Nanda tersenyum tak percaya sambil menggelengkan kepalanya
“Ya Tuhan, entah apa yang merasuki kalian. Aku cuma berharap kalian tidak menyesal” lanjut Nanda sambil menyandarkan bahunya ke sandaran kursi
“Sampai kapanpun kami nggak akan menyesal. Kamu cam kan itu Nda. Kami melakukan ini demi kebaikan Dinda, agar Dinda bisa kembali lagi sama kak Tomi” jawab Mila nyolot
Nanda tertawa sinis mendengar jawaban Mila
“Kebaikan mana yang kamu bilang, hem?. Bukankah sudah jelas jika Dinda tidak mau lagi sama kak Tomi, apa kurang yang dialami Dinda. Benar yang Dinda katakan, kita nggak tahu apa yang dia rasakan, kita cuma bisa melihat dari luar”
“Tapi kak Tomi sangat menyesal. Dan kami ingin Dinda itu menyadari kesalahannya” jawab Rohaya yang sejak tadi hanya diam
“Ya Tuhan, jadi kalian masih menyalahkan Dinda. Benar-benar kalian” jawab Lisa sambil menggelengkan kepalanya tak percaya
“Iya, Dinda bersalah. Ibu kak Tomi sama kak Tomi itu sudah berulang kali meminta maaf dan berjanji akan berubah masa Dinda masih keras kepala dengan tidak mau memaafkan, kalau bukan egois, apa namanya?” sambung Vita
“Oke, kita nggak ketemu jalan tengah kalau kaya gini. Yang pastinya, aku sama Nanda ada di pihak Dinda. Sampai kapanpun kami akan mendukung keputusan Dinda. Karena Dinda benar, Dinda punya prinsip kuat walau menurut kalian Dinda itu egois. Tapi bagi kami berdua, Dinda benar dengan lebih memilih kedua anaknya di banding suaminya. Karena nggak ada yang namanya bekas anak, bekas suami banyak”
Nanda mengangguk setuju
“Baiklah, terima kasih atas kedatangan kalian. Dan terima kasih pula atas keterangan kalian yang sangat membuka mata hati aku seperti apa kalian rupanya” sambung Lisa sambil tersenyum seraya berdiri
“Lisa tunggu!” ucap Mila sambil menarik tangan Lisa
“Aku nggak suka dengan ucapan kamu ya, kamu cabut lagi ucapan kamu itu”
Lisa tersenyum menatap kearah Mila yang kembali tersulut emosi
“Kamu kenapa Mil, tersinggung? Silahkan. Toh memang benar yang aku bilang, jika tidak ada kasus ini, aku tidak tahu isi hati kalian yang sebenarnya”
“Lisa!!!” Mila kembali membentak dengan melayangkan tamparan keras ke wajah sahabatnya itu
Semua mulut langsung ternganga ketika melihat Mila menampar keras wajah Lisa. Semuanya tak menyangka jika insiden ini akan terjadi. Lisa memejamkan sebentar matanya akibat merasakan sakit terkena tamparan tangan Mila
Nanda segera berdiri, dan memegang wajah Lisa yang sudah basah oleh air mata
“Keterlaluan kamu Mila. Oke kami tahu kamu anak kapolda, karena itulah kamu arogan. Andai kamu itu anak petani seperti aku, aku yakin kamu nggak akan se arogan ini. Ingat Mil, jabatan itu hanya sementara, nggak selamanya papi kamu jadi kapolda, nggak selamanya juga beliau akan berkuasa. Selama ini kami nurut sama kamu karena kami memang sadar, diantara kita bertujuh memang kamu anak orang kaya. Tapi tidak dengan kamu seenaknya merendahkan kami”
Wajah Mila terkesiap mendengar ucapan berani Nanda
“Kita pulang Lis. Kita memang nggak pantas duduk bersama para pengkhianat macam mereka. Lagian siapa lah kita. Kita berdua anak orang kere, orang tua kita petani, terus kita juga nggak kaya-kaya amat seperti mereka”
“Nanda nggak gitu!!” sergah Putri
Nanda menoleh kearah Putri, kemudian dia menggeleng
“Selamat sukses ya ibu lawyer, kami pulang duluan”
Setelah begitu Nanda langsung membawa Lisa yang terisak keluar dari dalam café. Sementara yang lain hanya bisa terhenyak melihat keduanya pergi. Mila sampai terduduk lemas dengan menatap nanar pada sahabatnya yang lain
“Gue arogan ya?. Gue salah nampar Lisa?” tanyanya yang tidak dijawab oleh sahabatnya yang lain
**
Surat panggilan keputusan pengadilan sudah aku terima kemarin. Dan hari ini aku berencana ingin meminta cuti sehari pada pak Burlian. Dan ketika jam istirahat, aku sudah duduk di ruangan beliau. Dan beliau sepertinya sudah tahu tujuanku menghadap
“Yang kuat ya Din” ucap beliau yang ku jawab dengan tersenyum getir
__ADS_1
“Apapun yang terjadi besok, bapak harap ini adalah yang terbaik”
Aku kembali menganggukkan kepalaku mendengar ucapan beliau sebelum aku keluar dari ruangan beliau. Ketika aku berjalan menuju ruanganku, aku segera mengeluarkan hp yang menghubungi Lisa yang nomornya telah aku buka blokirnya
Besok aku sidang putusan Lis. Doain aku ya
Centang biru dan terlihat Lisa sedang mengetik pesan
Maaf banget aku nggak bisa nemenin. Tapi kayanya Nanda bisa deh. Dia kan bisa ninggalin tugas untuk siswanya😁
Aku tersenyum membaca balasan Lisa. Kemudian aku mengirimi Nanda pesan, aku tak ingin membuat kesalahan lagi dengan tidak memberitahu mereka. Cukuplah kemarin aku jadikan pengalaman, aku tak ingin kehilangan sahabatku lagi
Aku datang, aku jemput kamu. Kebetulan besok aku nggak ada jam balas Nanda yang membuat aku tersenyum lega
Sampai di dalam ruangan aku melanjutkan mengirimi pesan pada Yesa
Yes, besok aku sidang putusan. Kamu hadir lagi ya?
Centang dua tapi belum dibaca mungkin Yesa sibuk. Karena belum mendapat jawaban dari Yesa, aku memilih untuk makan. Kebetulan tadi aku sudah meminta Redho membelikan kami makan siang. Memang akhir-akhir ini seluruh teman satu ruanganku curiga karena kiriman makan siang dari Tomi sudah tidak pernah datang lagi, tapi aku beralasan jika Tomi sekarang lagi dinas luar kota, makanya dia tidak bisa meminta orang deliver makan siang untuk kami. Sebagai gantinya, Tomi memintaku membeli langsung, itu yang aku katakana pada mereka agar mereka tak lagi bertanya
Jam dua barulah hp ku berdenting pesan masuk dari Yesa
Maaf Din aku nggak bisa. Aku sibuk
Aku tertegun membaca pesannya. Sibuk? Apa iya?
Karena tak yakin, aku langsung meneleponnya. Benar dugaanku, nada suara takut dari Yesa cukup membuatku yakin jika dia khawatir hal buruk terjadi lagi sama dia
“Aku ada sama kamu. Dan aku yakinkan, mereka semua sekarang nggak bakal berani lagi macam-macam sama kamu. Kamu mau kan datang temani aku?”
Terdengar tarikan nafas panjang tapi detik berikutnya jawaban menggembirakan dari Yesa membuatku tersenyum lega.
“Ya sudah, besok aku jemput dimana? Kebetulan aku besok sama Nanda. Dia yang jemput aku di rumah”
“Aku tunggu di pengadilan langsung saja Din. Aku tunggu di parkiran”
“Yakin?”
“Oke kalau gitu, sampai ketemu besok ya Yes”
Setelah itu aku langsung meletakkan hp dan melanjutkan pekerjaanku
“Apa ada hal buruk Din?” tanya pak Kusno yang membuatku kaget
Aku yang tengah menatap layar komputer langsung menoleh kearah beliau yang ternyata bukan beliau saja yang saat ini menatap ke arahku, melainkan yang lain juga. Dengan cepat aku menggeleng dan buru-buru menatap layar komputer lagi, agar tidak ada pertanyaan lanjutan
**
Aku mendekap erat Yusuf sebelum aku berangkat bersama Nanda. Kedua orang tuaku sudah sejak tadi di rumahku. Keduanya memang sudah aku beritahu jika hari ini aku sidang putusan. Oleh karena itulah, pagi-pagi buta mereka sudah di rumahku, dengan alasan ingin menjaga Yusuf, walau sebenarnya aku tahu, kedua orang tuaku ingin memberikan dukungan moral padaku
“Itu Yesa!” tunjuk ku pada ujung parkiran, dimana aku lihat Yesa duduk termangu sendiri
Kaget tampak di wajah Nanda ketika aku begitu antusias menyebut nama Yesa
“Dia teman aku sekarang. Dia baik kok”
“Tapi Din?” tanya Nanda ragu
Aku mendecak. Segera aku melepas safety belt dan langsung turun dan melambaikan tanganku kearah Yesa yang langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arahku
“Sudah lama?” tanyaku ketika Yesa mengulurkan tangannya ke arahku
Segera kami berdua cipika cipiki yang makin membuat Nanda bengong
“Semua sudah berlalu. Toh, aku sudah berdamai dengan keadaan” ucapku sambil memegang lengan Nanda yang membuatnya tersenyum kaku
Dengan agak takut-takut Yesa mengulurkan tangannya kearah Nanda yang segera menyambut tangannya
“Ayo masuk, nanti kita terlambat” ucapku yang segera menarik tangan mereka berdua
Langkahku terhenti ketika di ruang tunggu kembali aku harus melihat keempat sahabatku ada bersama Tomi dan keluarganya. Bedanya hari ini ada ibu Tomi diantara mereka. Tampak beliau juga tertegun ketika melihatku. Dan aku hanya menganggukkan kepalaku sebentar kearah mereka kemudian aku dan kedua sahabatku sekarang memilih duduk agak menjauh.
__ADS_1
Berkali-kali aku melirik kearah Nanda yang sekarang tampak diam, dan itu menimbulkan kecurigaan di hatiku padanya
“Kamu kok nggak nyapa anak-anak?” tanyaku
Nanda menoleh
“Aku nggak bisa sahabatan sama orang yang bermuka dua Din. Apapun alasan mereka tapi aku nggak bisa terima”
Aku langsung menoleh kearah para sahabatku yang kebetulan juga menatap kearah kami. Kemudian aku kembali beralih menatap Nanda yang sekarang tampak mengobrol dengan Yesa
“Kalian berantem?”
Nanda menoleh kemudian mengangguk. Dan itu membuat mulutku langsung ternganga
“Karena aku?”
Nanda menoleh dan mendecak
“karena kamu atau tidak itu nggak penting. Yang penting itu adalah topeng mereka terbuka sekarang”
Aku menarik nafas panjang mendengar jawaban Nanda
“Lisa juga?” tanyaku masih penasaran. Nanda mengangguk yang semakin membuat mulutku ternganga. Kemudian aku tak lagi berani bertanya karena aku sudah bisa mengira seperti apa yang terjadi, aku yakin mereka pasti semakin membenciku. Bisa jadi mereka berpikir jika aku yang menghasut Nanda dan Lisa
“Kamu dipanggil tuh” senggol Nanda pada bahuku yang membuat lamunanku buyar
Aku tergagap. Dan kembali dari pengeras suara terdengar jika memang namaku disebut. Aku celingukan karena sampai sekarang pak Marsudi belum juga muncul, dengan sedikit khawatir aku berdiri diikuti Nanda dan Yesa
Kami memperlambat langkah kami, memberi kesempatan pada Tomi dan keluarganya untuk masuk terlebih dahulu. Tampak ketiga sahabatku menoleh ke belakang ketika mereka berjalan, dan aku pura-pura tak menyadari dengan terus mengajak Nanda mengobrol
Aku menarik nafas lega ketika tiba di dalam ruang sidang ternyata pak Marsudi sudah duduk di tempatnya. Beliau menarik kan kursi untukku duduk, sehingga aku langsung duduk di sebelah beliau
“Ku pikir bapak belum datang” lirihku yang dijawab beliau dengan tertawa kecil
“Sidang sebelumnya klien saya juga bu” jawab beliau sambil mempersiapkan berkas
Aku ber O panjang mendengar jawaban beliau kemudian aku sedikit mengangkat kepalaku ketika beliau bilang apakah aku siap dengan keputusan kali ini
“In Shaa Alloh” jawabku pasti
Tak lama hakim dan hakim anggota masuk, hingga membuat kami semua yang duduk langsung berdiri. Kemudian aku dan Tomi sama-sama maju, duduk di kursi paling depan mendengarkan keputusan sidang hari ini
Aku berusaha tenang ketika hakim ketua membacakan keputusan, walau sebenarnya jantungku berdegup kencang tak karuan
Aku menarik nafas lega ketika hakim ketua membacakan jika hak asuh berada di tanganku, karena itulah yang sejak tadi sangat aku takutkan. Aku takut jika Tomi bersikeras mengambil Yusuf dari tanganku, mengingat aku sudah punya anak dari pernikahan ku terdahulu
“Dengan ini pengadilan memutuskan, sidang gugat cerai antara saudari Dinda dan Saudara Tomi Mahendra dinyatakan sah secara hukum agama dan hukum negara, tok tok tok….”
Aku langsung mengusapkan kedua tangan ke wajahku, menarik nafas panjang, kemudian segera berdiri. Baru saja aku mau melangkah, tanganku dengan keras ditarik oleh Tomi yang membuatku nyaris terjatuh
Belum sempat aku menoleh, Tomi sudah memelukku dengan erat. Aku bergeming ketika Tomi memelukku. Ruang sidang yang semula gaduh karena pengunjung sidang berdiri dari duduk mereka, mendadak sepi
Seluruh mata memandang kearah kami, tak terkecuali para hakim dan hakim anggota serta para penasehat juga tampak memandang kearah kami
Aku berusaha melepaskan tangan Tomi karena aku merasa malu menjadi pusat perhatian orang seisi ruangan, tapi Tomi menggeleng kuat dengan terisak
“Tolong biarkan aku memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya Din…..” lirihnya yang membuat dadaku berdenyut hebat
Kurasakan bahuku panas oleh air mata Tomi. Tak urung itu membuat aku juga ikut menangis
“Sudah Tom. Ini sudah takdir kita. Jodoh kita cuma sampai disini. Kita harus ikhlas” lirihku sambil mengusap kepalanya
Tomi menggeleng, masih tak bersuara sedikitpun, hanya isak tangisnya saja yang jelas sekali terdengar oleh telingaku
“Lepas Tom. Malu. Kita sudah sah berpisah, jadi tidak ada alasan lagi untuk kita berpelukan seperti ini” ucapku berusaha menyadarkannya
“Nggak, aku nggak mau. Biar walau dunia melihat sekalipun aku tidak peduli” jawabnya serak
Aku menggerakkan kepalaku dengan agak kesusahan, melambaikan tanganku kearah pak Marsudi yang segera tanggap.
“Pak Tomi…..” lirih pak Marsudi sambil menepuk pelan pundak Tomi
__ADS_1
Tomi bergeming, dia kian erat memelukku dan semakin menangis kencang yang membuat air mataku kembali mengalir