
Putri tampak diam dan memandang serius wajahku
"Kamu yakin sekarang ingin menggugat Adi?"
Aku mengangguk
"Gini ya Din yang namanya harta gono gini itu adalah harta yang diperoleh selama perkawinan, dan wajib dibagi sama rata antara suami istri, baik yang sifatnya piutang maupun hutang"
"Terus, cara terbaik dalam pembagian harta gono gini adalah yang pertama dengan menghitung keseluruhan harta yang dimiliki bersama termasuk untuk aset kredit, benda berwujud dan tidak berwujud. Jika sudah diketahui besarannya, kemudian bisa dibagi dengan adil dan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak"
"Menurut ketentuan pembagian harta Gono-gini dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Kompilasi Hukum Islam adalah dibagi setengah dari seluruh harta gono gini antara suami dan istri. Namun, pada prakteknya hakim tidak selalu membaginya dengan aturan tersebut"
"Jadi intinya harus dibagi dua, gitu?"
Putri mengangguk dan aku menarik nafas panjang
"Tapi kamu kan tahu Put, itu semua sumbernya dari aku, bukan dari Adi"
Putri tersenyum dan mengelus bahuku
"Aku tahu Put, semua dari kamu karena kamu menggadaikan SK mu, iya kan?"
Aku mengangguk
"Tapi seperti yang aku bilang tadi, semua itukan didapat setelah kalian menikah, jadi itu semua termasuk dalam harta bersama, bukan harta kamu sendiri"
Aku memasang wajah cemberut
"Tapi hampir seluruh hutang Adi aku yang bayar Put"
Putri diam sebentar, lalu matanya berbinar
"Bagus itu Din"
"Apanya yang bagus, aku hampir bangkrut Put, depositoku nyaris terkuras, semua hasil panen ikan bulan lalu aku bayarkan semua hutang dia, hutang sama petani bibit sawit juga menumpuk"
"Akhirnya ya uang kolam, ya uang untuk beli bibit sawit semua aku bayarkan hutang Adi"
"Untung hutang sales nggak banyak, jadi masih bisa muter uang toko"
Putri terus tersenyum melihatku mengomel dengan emosi
"Makanya dengerin aku dulu bestie"
Aku diam dan memandang Putri dengan serius kembali
"Semua bukti pembayaran hutang Adi, kamu kumpulkan nanti bisa kita jadikan bukti di pengadilan"
Mataku sedikit berbinar mendengar jawaban Putri
"Begitu ya Put?"
Putri mengangguk
"Lah, tapi kalau hutang dengan petani bibit sawit ya nggak adalah buktinya Put, karena Adi ini ngambilnya bukan di PT, tapi ke perorangan, karena harganya jauh lebih murah"
"Lah terus kok kamu tahu Adi ada hutang sama mereka?"
"Ya itu aku tahu dari karyawan sawit terus sama mereka juga yang nunjukin bukti nota pembelian bibit yang belum dibayar sama Adi"
"Nah, bukti nota itu bisa kita gunakan nanti"
"Serius bisa Put?"
"Serahkan sama aku"
Aku segera memeluk erat Putri dengan senyum mengembang
__ADS_1
"Terus bagaimana langkah selanjutnya Put?"
"Ya kamu tinggal laporan ke pengadilan agama, buat surat gugatan cerai"
Aku diam sejenak tampak berpikir lalu aku mengangguk, secepatnya aku akan urus, batinku
"Terus masalah anak gimana?" tanyaku dengan nada khawatir
"Mereka masih di bawah umur, dan kamu tidak ada catatan kejahatan atau juga pemakai narkoba, jadi bisa dipastikan hak asuh anak akan jatuh ke tangan kamu"
Aku menarik nafas panjang karena merasa lega. Dan Putri kembali mengelus pundakku
"Aku yakin kamu kuat"
Kembali aku tersenyum getir, dan Putri langsung memelukku
"Kita selalu ada buat kamu Din, kamu nggak sendiri"
Aku memejamkan mataku, lalu lolos lah air mata di pipiku
......................
Setelah berkonsultasi sama Putri aku bergegas pulang ke rumah karena hari sudah mulai gelap
Dan mbak Sri begitu aku pulang, langsung berpamitan
Naya dan Arik protes karena aku terlambat pulang dan memaksa besok ikut ke toko
"Okay, iya, besok ibuk ajak. Tapi nggak boleh rewel"
Keduanya mengangguk dan memelukku erat. Sepertinya kedua anakku telah terbiasa tanpa ayah mereka, karena sejak Adi pergi, sekalipun mereka tak pernah bertanya kemana ayah mereka pergi dan kapan ayah mereka pulang
Terlebih Naya, karena dia sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan ayahnya, dia jadi lebih dewasa dan lebih mengerti keadaanku
Sedangkan Arik karena memang lebih sering denganku, jadi ada atau tidak ayahnya sepertinya tak berefek baginya
Selesai dari kamar mandi aku mengajak kedua anakku untuk shalat lalu setelahnya kami makan bersama
Setelahnya aku mengobrol dengan kedua anakku di kamar Arik, karena rencananya malam ini kami akan tidur bertiga
Aku dengarkan semua cerita mereka sampai dengan bagaimana keseruan mereka ketika di sekolah
Disaat kami sedang asyik mengobrol notifikasi pesan masuk ke hp ku
Tomi; Dek, mana alamatnya? rombongan pak Endro rencananya besok mau nemuin Adi
Aku segera mencari alamat Adi yang tersimpan di galeri hp ku, lalu aku kirimkan pada Tomi
Selanjutnya obrolan kami tak berlanjut lagi, hanya sampai di sana
Lalu aku kembali mengobrol dengan kedua anakku sampai akhirnya mereka tertidur dengan aku berada di tengah-tengah
Besok paginya, karena hari libur kedua anakku bangunnya siang
Karena sudah dari semalam jika mereka mau ikut aku ke toko, jadi mereka aku bangunkan pukul tujuh pagi
Secepat kilat keduanya bangun dan segera masuk kedalam kamar mandi
Setelah keduanya sarapan, aku segera membonceng keduanya dengan motor, lalu kami bertiga ke toko
Sampai di pasar, ternyata toko telah dibuka dengan karyawan jadi aku tinggal masuk dan membantu mengeluarkan barang-barang dan ikut juga membantu menyusun
Setelah selesai aku duduk di kursiku dan melihat bagaimana karyawanku bekerja, sedangkan kedua anakku terkadang ikut membantu mengambilkan pesanan bahkan terkadang ikut pula menyusun barang kedalam kantong kresek
Aku yang memperhatikan keduanya hanya tersenyum saja
_Sementara di Kota Sejuk_
__ADS_1
Adi sedang menggendong Karen sementara Yesa berada di belakang sedang beres-beres
Sudah beberapa hari ini Yesa berwajah masam pada suaminya karena mengetahui jika suaminya bangkrut dan tak mempunyai apa-apa lagi sekarang
Menjelang siang ketika mereka bersantai di ruang keluarga pintu di ketuk. Dan dengan malas Yesa bangkit dan membuka pintu
Wajah Yesa seketika kaget ketika dilihatnya lima lelaki berdiri di teras
"Mana Adi?" tanya pak Endro dengan nada dingin
Wajah Yesa langsung menegang dan menoleh kedalam dengan gelisah
"Siapa ma?"
Kelima orang yang tak lain adalah tauke bibit ikan segera tersenyum menyeringai ketika mereka mendengar suara Adi
"Kami mas Adi, pak Endro dan kawan-kawan"
Mata Adi langsung terbelalak dan degup jantungnya langsung berdebar kencang
Yesa yang merasa jika ini bukan tamu sembarangan segera masuk dengan setengah berlari
"Sana pa temui!"
Adi dengan tegang berjalan keluar. Lelaki bertubuh tambun dan teman-temannya tersenyum sinis kearah Adi yang berjalan pelan
"Hem, disini rupanya anda bersembunyi" sindir salah satu dari mereka
Adi tak menjawab melainkan mempersilahkan tamunya masuk
Wajah Pak Endro sudah sejak tadi berubah angker, tampak sekali kemarahan di wajahnya
"Kami tak perlu menjelaskan semuanya apa tujuan kami kemari, karena jelas mas Adi sudah tahu"
Adi hanya menelan ludah mendengar pembukaan dari bapak bertubuh besar itu
"Bagaimana mas Adi, apa solusinya?"
Adi hanya tertunduk tak tahu harus menjawab apa
"Sudah cukup kami bersabar, bertahun-tahun anda menunggak dan hanya berjanji pada kami, jadi sekarang kami tidak bisa toleransi lagi"
Yesa yang berada di ruang tivi kembali menguping dan wajahnya kian ditekuk karena lagi-lagi orang yang datang ke rumah ini untuk menagih hutang pada suaminya
"Saya sudah tak punya apa-apa lagi pak" jawab Adi lirih
Spontan pak Endro berdiri dan langsung mencengkeram keras leher Adi
Ketiga temannya spontan bergerak cepat dengan menarik tangan pak Endro
"Ku pecahkan kepala kamu jika sekali lagi kamu membohongi ku!" geram pak Endro
Yesa mengintip ketakutan dan degup jantungnya langsung berdebar keras ketika dilihatnya jika suaminya sedang dicekik
Tangan keras pak Endro yang mencekik leher Adi terlepas ketika ketiga temannya sekuat tenaga menarik tangan pak Endro
Wajah Adi memucat, terbatuk-batuk sebentar dan kemudian dia kembali tertunduk dalam
"Jadi kapan mas Adi akan membayar segala hutangnya pada kami?"
Adi bergeming dan makin menyulut kemarahan pak Endro
"Jika masih saja mas Adi belum bisa membayar hutang mas Adi pada kami, maka dengan terpaksa masalah ini akan kami bawa ke ranah hukum"
Adi mengangkat wajahnya dan matanya langsung terbelalak. Sedangkan Yesa yang mendengar hanya bisa menutup mulutnya
"Sabar kami ada batasnya mas Adi, dan mungkin ini adalah batasnya"
__ADS_1
Wajah Adi yang tegang kian memucat dan bibirnya bergetar ketakutan mendengar ucapan bapak gemuk itu