
Sabtu Pagi
Karena hari ini, adalah hari pernikahanku sama Tomi, pagi-pagi buta aku sudah bangun karena MUA yang dikirimkan oleh Lisa untuk mendandani ku sudah datang.
Aku yang tidak mengetahui di gedung mana akan diadakannya resepsi hanya bisa menurut saja ketika MUA itu mendandani ku .
Hingga akhirnya jam 08.00 pagi saat aku sudah selesai didandani keenam sahabatku muncul.
Melihatku sudah didandani memakai kebaya putih, keenam sahabatku hanya bisa bergeming menatap ke arahku.
"Aku aneh ya?" tanyaku pada mereka karena mereka sejak tadi hanya bergeming.
"Elu nggak usah banyak bicara, gue berdiri disini itu lagi nahan air mata" ucap Mila.
Yang lainnya mengangguk setuju mendengar ucapan dari Mila. Mendengar jawaban tersebut, mataku langsung berkaca-kaca.
"Lu jangan nangis, kalau lu nangis, kita semua nangis" kembali Mila bersuara yang membuatku berusaha menahan air mataku.
"Kalau mau nangis, nggak papa kok. Make up-nya waterproof" kata MUA yang berdiri di belakangku.
Mila langsung melotot tajam ke arah Mua tersebut.
"Heh, lelaki tulang lembut, lu diem ya. Nggak usah ikut campur. Elu berani bicara sekali lagi, gue tabok" .
Kami yang mendengar ucapan Mila terpaksa menahan tawa, sedangkan MUA yang tadi dibentak oleh Mila langsung menutup mulutnya.
"Kalau sudah fix semuanya, ini kita pergi" ucap Putri.
Aku menganggukkan kepalaku, lalu aku berjalan ke arah mereka. Tapi ternyata ketika aku sampai di depan mereka, keenamnya langsung menubruk ku dan air mata yang sejak tadi kami tahan langsung tumpah.
"Sumpah Din lu cantik banget" lirih mereka. Aku hanya bisa tersenyum sambil menangis mendengar pujian mereka.
"Kalian juga cantik, terutama kalian cantik hatinya" jawabku dengan nada manja yang membuat kami kembali berpelukan.
Udah ah, kok malah kita nangis sih, kan nggak lucu" ucap Mila sambil mengusap wajahnya dengan tissue.
Secara bersamaan kami menghapus air mata kami juga.
Dan aku hanya bisa menurut ketika Putri dan Nanda menggandeng tanganku.
Aku naik mobil bersama Putri, Nanda dan Vita. Sedangkan yang lainnya naik mobil bersama Mila.
"Kita nggak usah masuk dulu, kita tetap di mobil. Nanti begitu Ijab selesai, baru kita masuk" ucap Putri sambil menyetir.
Kami tidak menjawab perkataan Putri, terlebih aku. Aku lebih banyak diam karena jujur saja aku sangat gugup.
Nanda yang duduk di sebelahku segera menggenggam erat tanganku sambil menepuk-nepuk pelan.
"Don't be nervous, kan ini bukan yang pertama" godanya sambil tertawa.
Yang lain tertawa mendengar ucapan Nanda. Sedangkan aku ikut tertawa juga walaupun sebenarnya aku terus saja gugup.
"Emang kalian tahu gedungnya di mana?" tanya ku.
"Ya tahulah, kan di undangannya ada. Emang kamu nggak baca undangannya?" tanya Putri.
Aku menggeleng.
"Bagaimana aku bisa membaca undangannya, orang undangannya datang aku sembunyikan. Terus ada sisa undangannya, baru juga mau aku baca, ternyata Rohaya sama Vita datang. Terus ya gitu, asli aku nggak baca undangannya sama sekali".
Ketiganya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabanku.
"Jadi kamu nggak tahu jika Lisa berkoordinasi sama Pak Burlian tentang undangannya?" tanya Putri lagi.
Aku kembali menggeleng.
__ADS_1
"Ya udahlah, apapun itu pokoknya hari ini kamu nikah, udah selesai" jawab Vita.
Aku hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Vita.
Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Putri berbelok ke sebuah gedung yang memang sering dipakai untuk acara-acara penting.
"Kamu tahu nggak sih biaya sewa gedung ini, mahal tahu" ucap Putri sambil mematikan mesin mobil .
Aku hanya bisa terkekeh mendengar ucapannya.
"Aku ikutan apa yang dikatakan oleh Vita tadi deh Put, nggak usah berpikir macam-macam yang penting hari ini aku nikah" jawabku santai.
Nanda yang duduk di sampingku segera merangkul pundakku sambil terbahak-bahak.
Selagi kami berempat tertawa, kaca bagian luar diketuk oleh Mila.
"Buruan kita turun, nanti kita di SmackDown lagi sama dokter bar bar itu" ucapku sambil membuka pintu mobil .
"Yang nyuruh lu turun siapa?, Kan tadi udah dibilangin, kita di dalam mobil aja. Gue ngetuk jendela itu cuman pengen bilang, gue akan meriksa ke dalam. Udah selesai belum ijab qabulnya" ucap Mila ketika aku akan menurunkan kakiku.
Kembali Putri bersama yang lain cekikikan mendengar Mila memarahiku.
Mila langsung memutar badannya, dan masuk ke dalam gedung. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum getir.
_Di dalam gedung_
Tomi tampak gagah dengan pakaian serba putih. Dan dia tampak duduk di sebuah kursi, dimana di depannya duduk penghulu dan ayahnya Dinda
Kedatangan Mila ke dalam gedung langsung disambut oleh ibunya Dinda.
"Kok kamu sendirian Mil, Dinda dan yang lainnya mana?" bisik ibunya Dinda.
"Mereka di luar Tante, kami memang sengaja menyuruh Dinda masuknya nanti, selesai Ijab. Baru setelah itu kami akan ajak masuk Dinda nya" jawab Mila sambil berbisik pula.
Dan kami semua yang ada di dalam mobil langsung mengambil hp kami masing-masing begitu HP kami berdering secara bersamaan.
"Acaranya mau dimulai Bestie, aku akan siaran langsung sama kalian. Biar kalian nggak penasaran" ucap Mila.
Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar ucapan Mila.
Tomi yang duduk di sebelah pak Burlian sebagai saksinya, telah bersiap ketika penghulu mulai memberikan arahan.
Mulailah adik-adiknya Tomi meletakkan mahar yang akan diberikan pada Dinda .
Dan aku yang melihat tiga adik Tomi membawa kotak hanya bisa menelan ludah karena aku betul-betul tidak tahu mahar apa yang akan diberikan Tomi kepadaku.
Nanda yang mengetahui jika Aku gugup kembali menggenggam erat tanganku.
Sampai akhirnya setelah tiga kotak yang tadi dibawa oleh Adik Tomi diletakkan di atas meja, Acara ijab qobul dimulai.
Dadaku kian berdegup kencang ketika Ayahku mulai menjabat tangan Tomi.
Dan Dapat aku dengar dengan jelas saat Ayah ku mengucapkan kalimat ijab qobul menyerahkan diriku kepada Tomi.
Dan degup jantungku bertambah cepat ketika Tomi mulai menjawab ijab qobul dengan satu tarikan nafas.
Aku menarik nafas lega ketika kedua saksi mengucapkan kata "sah" .
Aku dengar teriakan bahagia dari keenam sahabatku. Bahkan di dalam gedung terlihat Mila mengangkat tangannya, selebrasi.
Nanda langsung mendekap ku dengan erat sambil tak terhentinya menciumi di seluruh wajahku.
Begitu juga dengan Putri dan Vita yang duduk di depan. Mereka segera keluar dari dalam mobil dan langsung membuka bagian mobil tempat ku duduk.
Keduanya berebutan memelukku hingga Nanda mengalah dengan memundurkan sedikit tubuhnya.
__ADS_1
Ternyata Lisa dan Rohaya tak mau ketinggalan. Keduanya juga terlihat rebutan masuk ke dalam mobil dan menarik paksa Vita dan Nanda untuk keluar.
Teriakan Mila di HP tidak kami gubris lagi karena kami sudah sibuk saling berpelukan.
Sampai akhirnya seorang MUA datang, yang membuat kelima sahabatku mundur.
Mua tersebut langsung merapikan make up-ku dan juga kebaya yang ku kenakan.
Baru setelah itu, kelima sahabatku berjalan di samping kiri kananku.
"Stop, gue juga ikutan!!" ucap Mila yang menghentikan langkah kami.
Aku tersenyum manis ke arah Mila yang berdiri di samping kananku.
Alunan suara musik lembut mengiringi ketika kami bertujuh masuk.
Aku melirik ke arah Ibuku dan juga kedua anakku yang berdiri dengan mata basah menatap ke arahku.
Melihat air mata tiga orang yang sangat aku sayangi, membuat air mataku langsung mengalir tanpa bisa aku tahan.
Putri yang berdiri di samping kiriku langsung memberikan tissue kepadaku ketika dia melihat bahwa aku menangis.
Semua mata satu ruangan tertuju kepada kami bertujuh, membuat aku mengembangkan senyumku.
Dan Tomi yang saat itu berdiri menatap ke arahku hanya bisa terpaku tanpa bisa mengedipkan matanya.
"Sudah...., nggak usah terlalu di pelototin, kan sudah sah" bisik pak Burlian di telinganya yang membuat Tomi menunduk malu.
Sampai di depan Tomi, keenam sahabatku masih berdiri sambil ikut menatap ke arah Tomi, sama sepertiku.
Putri langsung menarik kursi di sebelah Tomi untuk aku duduk sehingga aku duduk duluan. Dan Tomi baru tersadar ketika bahunya ditepuk pelan oleh pak Burlian.
Kelakuan Tomi mengundang tawa seluruh orang yang ada di dalam gedung. Termasuk aku yang juga tertawa kecil.
"Terpesona ya Kak, melihat kecantikan Dinda?" goda Mila.
Tomi hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapan Mila.
Hingga akhirnya, keenam sahabatku mundur. Dan duduk di barisan kursi tamu ketika Tomi akan membacakan sighat taklik untukku.
Ketika akan menandatangani buku nikah, keenam sahabatku kembali membuat kehebohan.
Rohaya sampai bersuit-suit. Yang membuat aku menutupkan kedua tangan ke wajahku.
"Teken kontrak seumur hidup....!!!" teriak Rohaya yang disambut tawa oleh orang satu gedung.
Keenam sahabatku saling tos dan berangkulan. Dan aku yang melihat kelakuan bar bar mereka hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalaku.
Dan kembali aku dibuat kaget ketika Tomi menyerahkan mahar kepadaku. Karena ketika dia tadi menyebutkan mahar pas ijab qobul aku tidak begitu jelas mendengar ucapan mahar darinya. Karena aku sangat nervous.
Mulutku sedikit ternganga ketika aku menerima kotak mahar dari Tomi secara bergantian.
Bagaimana aku tidak kaget. Karena mahar yang diberikan Tomi kepadaku berupa sertifikat rumah, kunci mobil dan juga buku tabungan yang di sana tertera nominal angka yang sangat fantastis dan tabungannya itu tertera atas namaku.
Selain itu juga Tomi memberikan sebuah hadiah tiket di dalam kotak yang sama dengan kunci mobil.
Aku hanya bisa tersenyum kaku melihat ke arah Tomi yang tampak tersenyum bahagia menatap ke arahku.
Dan acara yang paling penting itu adalah ketika Tomi melingkarkan cincin di jariku.
Aku terkesiap ketika melihat cincin tersebut. Bagaimana aku bisa melupakan cincin tersebut. Cincin itu adalah cincin pertunangan kami dulu yang pernah aku kembalikan.
Tomi menganggukkan kepalanya karena aku menatap bengong kearahnya.
"Aku bersyukur karena cincin ini kembali ke jarimu" bisik Tomi ketika dia mencium keningku.
__ADS_1