Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Kembali Tomi Yang Menolongku


__ADS_3

Cukup lama aku terdiam sementara seluruh karyawanku ikut terdiam juga


"Eh, kalian ayo makanlah, ibuk nggak apa-apa" ucapku tergagap dengan langsung mengusap wajahku


Siska dan yang lain masih menatap ke arahku dengan tidak percaya


"It's ok, kalian makanlah atau kalau ada yang tidak bawa bontot, ini beli" tambahku lagi sambil merogoh uang dalam saku baju dinasku


"Kami bawa semua kok buk" jawab salah satu dari mereka yang tadi menjemputku


"Nggak apa-apa, ambil untuk jajan. Nanti pasti banyak gerobak yang lewat" tambahku lagi bicara padanya yang segera maju dan menerima uang yang aku ulurkan


"Kami makan dulu ya buk" pamit Siska


Aku mengangguk dan mereka segera meninggalkan aku sendiri yang hanya melihat bagaimana mereka bertujuh duduk melingkar dan membuka bekal mereka


Aku kembali merogoh saku bajuku, mengambil hp dan segera mencari nomor pak Endro


Begitu ketemu kontak beliau secepatnya aku mendial nomor beliau


"Pak, ada yang ingin aku bicarakan masalah toko" ucapku setelah berbasa basi dan beliau menanyakan keadaanku


"Lah, kan tokonya jadi toko mbak Dinda lagi, jadi apa yang mau dibicarakan" jawab beliau yang kembali mampu membuatku kaget


Aku memijit keningku dengan perasaan campur aduk


"Selesai dengan penyerahan surat kemarin kan aku mendapat insiden penusukan oleh mas Adi tuh pak, jadi aku tidak mengetahui persis bagaimana toko ini jadi milik aku lagi" jawabku menuntut penjelasan rinci dari beliau


"Begini, waktu mbak di rawat, seminggu setelah toko ini kami ambil alih, kakak mbak yang bermana Tomi Mahendra itu nemuin kami, beliau menanyakan berapa toko ini hendak kami jual, terus kami bilanglah nominal yang kami tawarkan, dan beliau langsung menyetujui dan langsung transaksi"


Aku menahan nafas sepanjang pak Endro bercerita bagaimana Tomi hanya sebentar menemui mereka karena setelahnya dia langsung kembali lagi ke rumah sakit karena dia menungguiku yang sampai saat itu belum juga sadar


Dadaku bergemuruh mendengar bagaimana khawatirnya Tomi karena aku belum sadar-sadar, dan dia juga bilang akan melakukan apapun asal aku sembuh dan tidak sedih lagi


Karena Tomi yakin jika aku sangat terpukul toko hasil dari keringatku dijual gara-gara perilaku buruk mantan suamiku


Aku hanya bisa mengangguk dan menjawab seadanya saat pak Endro menjelaskan semuanya dan mengucapkan terima kasih pada beliau karena sudah mau mengembalikan toko padaku lagi


"Oh iya pak, apakah ada istrinya mas Adi menghubungi bapak?" tanyaku sebelum aku mengakhiri obrolan


"Ada kemarin pagi nomor Adi menelepon, tapi langsung saya blokir mbak, saya tak ingin berurusan dengan Adi atau istrinya, karena sekarang semuanya telah selesai dan yang paling penting uang kami telah kembali"


Aku tersenyum getir mendengar jawaban beliau, kembali aku mengucapkan terima kasih dan menitipkan salam pada bapak-bapak yang lain


Selesai obrolan dengan pak Endro aku kembali termenung, berfikir apa yang harus aku katakan pada Tomi


Bukan sedikit uang yang dikeluarkan oleh Tomi untuk menebus kembali toko ini, dan kemana aku harus mengembalikannya, tidak mungkin aku berutang lama pada Tomi, kolam ikan juga baru jalan dan setidaknya butuh empat sampai lima bulan baru panen


Aku menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan diriku walau sebenarnya aku jadi gelisah


Kulihat seluruh karyawanku sudah bersantai, yang laki-laki ada yang sedang merokok sambil maen hp, dan yang perempuan ada merebahkan badan mereka di lantai dan sambil maen hp juga


"Ini apa nggak ada yang sholat?" tanyaku yang membuat mereka refleks menoleh ke arahku


"Nanti buk sebentar lagi" jawab yang perempuan sementara yang laki-laki hanya nyengir

__ADS_1


Aku tersenyum kearah mereka yang nyengir lalu melihat jam di hp


"Nanti antar ibuk lima menit lagi, ya?" ucapku pada karyawanku yang tadi menjemput ku


"Siap buk"


Aku menganggukkan kepala kearahnya lalu menoleh kearah hp karena hp ku berdenting


Sayang kamu dimana? 😁😁


Aku mendecak dengan memutar malas mataku membaca pesan masuk dari Tomi, terlebih ketika melihat emoticon di akhir pesannya


Kesannya dia memanggil sayang itu hanya candaan, tidak serius


"Loh, kok aku marah?" batinku cepat menyadari diriku yang kembali marah tak jelas pada Tomi


Pesan Tomi hanya aku baca tanpa berniat membalasnya hingga hp ku kembali berdenting


Sudah makan kan?, tadi kakak sengaja ngirim bakso kesukaan kamu juga, tapi tanpa cabe loh


Aku langsung menelan ludahku begitu membayangkan bakso kesukaanku, dengan cepat aku menoleh kearah karyawanku yang sepertinya telah siap untuk mengantarku


"Pulang sekarang buk?" tanyanya yang ku jawab singkat


Dengan cepat Siska dan dua temannya berdiri dan membimbingku berjalan


"Ibuk bisa sendiri" tolak ku halus ketika mereka memegang kedua tanganku


"Nggak apa-apa buk, kami khawatir ibuk kesakitan" jawab mereka


"Jangan ngebut bawa ibuk" ucap Siska pada temannya


"Kamu sudah mirip teman ibuk kemarin yang dokter itu" jawabku sambil terkekeh ketika melihat Siska berkata ketus kearah temannya yang telah siap melajukan motor


Siska ikut terkekeh juga. Setelah aku siap, mulailah motor melaju dan semua karyawanku yang mengantarkan ku sampai luar segera membuka rolling lebar-lebar dan mulai beraktifitas kembali


...----------------...


Kembali dengan pelan aku turun dari atas motor dan berjalan masuk kedalam kantor dimana para pegawai masih tampak duduk bersantai di luar ruangan


"Stop di sana Din!"


Aku langsung mengangkat kepalaku ketika mendengar suara pak Kusno yang berjalan cepat ke arahku


Dengan sigap beliau mengambil tanganku dan menuntunku berjalan


"So sweet nya sih ini bapak sama anak....." goda pegawai yang lain yang kami balas dengan tertawa


"Kok nggak bilang kalau kamu sudah di depan" protes bu Halimah begitu melihat aku masuk dengan dituntun pak Kusno


Segera beliau mengambil tanganku, dan gantian beliau yang menuntunku kearah kursi kerjaku


"Ini mbak...." ucap Nadia dengan meletakkan piring berisi nasi bungkus dan juga mangkok kosong


"Loh baksonya mana?" ucapku sambil membuka karet yang mengikat bungkus nasi

__ADS_1


"Habis oleh kami" jawabnya santai


Aku langsung memundurkan kepalaku dan memandang kearahnya dengan bengong


"Nggak deng....." jawabnya cepat sambil terkekeh


"Ini mbak, aku panasi dulu kuahnya di kantin kantor" jawab Redho yang masuk dengan membawa mangkuk yang mengepulkan asap


Aku tersenyum kearah Redho dan Nadia, sementara bu Halimah terkekeh melihat ke arahku


"Cuma mbak yang dapat bakso?" tanyaku dengan segera menyingkirkan piring nasi


"He eh mbak spesial, jadi cuma mbak yang dapat" jawab Redho yang membuatku menghentikan sendok yang telah di depan mulutku


"Nggak deng mbak, bercanda....." jawab Redho cepat ketika dilihatnya aku tak jadi makan


"Seriusan?"


"Iya serius mbak, kami semua dapat, tapi kami pakai cabe, dan tahu sendirikan mbak bagaimana rasanya makan bakso anget-anget pedas pula... uhhhh mantaaappp"


Aku segera menggeram kearah Redho yang sepertinya memang sengaja menggodaku, dan Redho makin terpingkal ketika dilihatnya aku kesal


"Maaf ya semuanya, saya makan dulu nih....." ucapku pada mereka yang terus perhatian padaku


"Lanjut mbak, kami sudah kenyang. Dan kalau boleh mbak, besok sebelum pak Tomi ngirimin makan siang buat kita, ada baiknya beliau bertanya dulu pada kita, kita mau makan apa, iya tidak bapak ibuk?" kembali Redho bercanda yang ku balas dengan tersenyum


Redho tidak tahu, jika saat itu aku merekam video singkat saat aku makan, agar Tomi tahu jika aku sedang makan


Setelahnya aku langsung mengirimkan video tersebut pada Tomi dan langsung centang biru


Selamat makan ya Din, kalau kamu tidak keberatan boleh kamu kirim nomor hpnya Redho sama kakak


Aku tersenyum membaca balasan dari Tomi


Hingga akhirnya, aku melanjutkan pekerjaanku sampai mendekati jam bubarnya kantor


Kami segera menoleh kearah pintu ketika mendengar suara pintu diketuk


Muncul Tomi dengan senyum khasnya, berjalan ke arahku setelah sebelumnya menganggukkan kepalanya pada yang lain


"Bagaimana keadaannya sayang?" tanya Tomi yang langsung mengacak rambutku


Aku langsung mendelik kan mataku padanya dan melirik kearah bu Halimah dan Nadia yang menatap kearah kami


"Biasa aja Din, kami nggak dengar kok" ucap bu Halimah yang membuat wajahku terasa panas


"Maaf, keceplosan...." ucap Tomi yang segera duduk di sebelahku


"Tom, keruangan kakak sekarang!"


Aku dengan cepat menelan ludahku ketika tiba-tiba muncul pak Burlian


Tomi segera mengangguk dan berdiri, sebelum berjalan dia menoleh ke arahku yang mendongakkan kepalaku kearahnya


"Tunggu disini dulu ya, kakak keruangan kak Burlian sebentar"

__ADS_1


Aku tak menjawab, tapi dadaku tiba-tiba berdebar kencang


__ADS_2