Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Lega


__ADS_3

"Kamu nggak tahu Tom betapa sakitnya hati aku saat aku harus merelakan kamu jadi milik wanita lain".


"Bertahun-tahun aku berpacaran sama kamu, tapi akhirnya kamu malah menikah dengan perempuan lain. Saat itu aku sempat berpikir mengapa bukan aku saja yang kamu rusak, mengapa harus wanita itu yang kamu rusak?".


Tommy mengambil bahuku lalu menghadapkan ke arahnya, dan dia menggeleng cepat.


"Aku sangat mencintai mu Din, terlintas di benakku saja tidak pernah untuk merusak mu. Itulah mengapa kita berpacaran bertahun-tahun tapi aku jarang sekali mencium bibir kamu, hanya mencium kening kamu, karena aku sangat mencintai kamu, aku sangat menjaga diri kamu" .


"Tapi aku tidak tahu mengapa ketika malam itu aku bisa khilaf dan akhirnya berujung pada suatu kejadian yang memaksa aku untuk menikahi perempuan itu".


Aku melepaskan tangan Tomi yang ada di bahuku lalu tersenyum ke arahnya.


"Tidak akan mungkin kemarau setahun akan hilang oleh hujan semalam, aku yakin saat itu kamu bermain api di belakangku".


Tomi menarik nafas panjang lalu menatap mataku dengan dalam.


"Iya Din aku akui, aku selingkuh di belakang kamu, tapi aku tidak serius dengan wanita itu".


"Tidak serius kamu bilang?, kamu bohong Tom. Jika kamu memang tidak serius dengan perempuan itu, kamu tidak mungkin menidurinya".


Tomi menggeleng kemudian meraih tanganku lalu menggenggamnya erat


"Sumpah Din aku tidak serius sama perempuan itu, jika memang aku serius sama perempuan itu, aku tidak akan menceraikannya. Itulah mengapa pernikahan kami hanya berjalan 2 bulan apalagi ketika aku tahu saat itu pernikahan kami baru berjalan 2 bulan tapi ternyata dia sudah hamil 5 bulan".


Aku menarik nafas panjang.


"Entah aku harus percaya, atau aku harus kasihan mendengar kenyataan dari kamu ini Tom, tapi yang pastinya aku benar-benar sakit saat tahu kamu menghamili perempuan itu".


Tomi menunduk, tapi tak lama kemudian dia mengangkat wajahnya. Kulihat matanya sangat merah dan berkaca-kaca


"Itu bukan anak aku Din, apalagi setelah dia melahirkan aku memaksanya untuk melakukan tes DNA karena keluarga besarnya meminta pertanggung jawaban nafkah dariku".


"Tapi kenapa kamu tidak menemui aku setelah kamu bercerai Tom?" lirihku menahan isak.


"Dari mana Aku punya keberanian Dinda untuk menemui kamu, sedangkan aku sendiri tahu dari keluarga besar ku jika kamu sangat terpukul dan sedih".


Aku tersenyum getir lalu mengusap kasar wajahku.


"Berbulan-bulan aku menangisi kamu Tom. Siang dan malam, selalu berpikir mengapa bukan aku yang kamu rusak, Mengapa harus perempuan itu?, Mengapa tidak aku saja. Padahal kita bertahun-tahun pacaran. Terkadang aku menyalahkan diriku sendiri, mengapa aku terlalu jaim jika dekat kamu, mengapa tidak menggatal saja?, mengapa bukan aku yang hamil?, kan kalau aku yang hamil tentunya kamu menikahnya dengan aku, bukan dengan perempuan itu".


"Aku nyaris gila Tom. Jika tidak ada para sahabatku dan keluargaku yang menguatkan ku, aku yakin aku sudah stres memikirkan itu. Tapi saat itu aku masih punya iman sehingga aku tidak bunuh diri".


Tomi langsung cepat menarik ku dalam dekapannya dan dia menangis terisak.

__ADS_1


"Maafkan aku Dinda, Maafkan Aku. Aku sungguh meminta maaf atas segala kesalahan yang telah aku lakukan sama kamu".


"Kenapa baru sekarang Tom kamu datang, Mengapa tidak sejak dulu?" isak ku.


Tomi hanya mengangguk dan mengusap-usap kepalaku


"Tidak ada kata terlambat dalam cinta Dinda, mungkin ini adalah cara Tuhan mengatur takdir kita. Kita sama-sama dipertemukan dengan orang yang salah terlebih dahulu, sebelum akhirnya Tuhan kembali mempertemukan kita".


Aku lalu menarik tubuhku dari dekapan Tomi, mengusap kasar wajahku dan menarik nafas panjang.


"Entahlah Tom, dengan banyaknya masalah yang datang kepadaku, Aku tidak yakin jika aku masih percaya pada kesetiaan".


Tomi diam mendengar ucapanku. Kudengar dia menarik nafas panjang, lalu kembali menghidupkan mobilnya.


"Kita pulang ya, obrolannya kita lanjutkan lagi di rumah" bujuknya sambil mengusap kepalaku.


Lalu kembali Tomi melajukan mobilnya dengan pelan dan sepanjang perjalanan tidak ada satu kata pun keluar dari mulut Kami sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumahku.


Keadaan rumah sepi, karena kedua anakku sedang di rumah orang tuaku dan belum pulang. Sedangkan Mbak Sri yang tahu jika aku hari ini ke pengadilan, tidak datang ke rumah.


Jadi begitu mobil berhenti aku segera turun dan berjalan pelan ke arah pintu lalu membuka pintu yang tak lama menyusul Tomi yang kemudian membimbingku masuk.


Sampai di sofa aku segera menghenyak kan tubuhku ke sandaran sofa lalu menatap ke langit-langit rumah.


Tomi diam dan hanya menatap ke arahku yang sejak tadi tidak bersuara sedikitpun.


"Din......?" panggil Tomi pelan


Lalu aku menoleh ke arahnya dan mengangkat kepalaku


"Kenapa? mau ngomong apa lagi?"


Tomi menggeleng dan berusaha tersenyum.


"Apakah obrolan kita di jalan tadi masih ingin kamu lanjutkan?"


Aku menggeleng.


"Tidak ada yang perlu kita bahas kembali Tom, semuanya sudah jelas dan kamu sudah tahu bagaimana aku dulu ketika kamu tinggalkan, dan aku juga tahu bagaimana kamu dulu ketika meninggalkan aku. Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi semuanya sudah selesai".


"Yakin semuanya sudah selesai, Apakah sekarang hati kamu sudah plong?" tanya Tomi ragu.


Aku kembali menarik nafas panjang kemudian merebahkan kepalaku lagi di sandaran sofa.

__ADS_1


"Nggak usah di bahas-bahas lagi Tom, aku nggak mau mengingat rasa sakit yang dulu pernah kamu torehkan. Sekarang yang ingin aku lewati adalah masa Bahagia aku, melupakan kesedihan aku, itu saja".


"Apa itu artinya kamu telah memaafkan semua kesalahan aku?" tanya Tomi kembali.


Aku lagi-lagi menarik nafas panjang dan membenarkan posisi dudukku lalu aku mengulurkan tangan ke arahnya, Kemudian Tomi mendekat dan duduk sebelahku.


"Terima kasih untuk kebaikan kamu selama ini sama aku yang mungkin tidak bisa aku balas" lirihku menatap matanya dalam.


Tomi berusaha untuk tersenyum dan mengangguk pelan.


"Terima kasih karena kamu juga ada di samping aku untuk men-support aku di saat aku disakiti oleh Adi, dan terima kasih juga karena Sampai detik ini kamu terus bersama aku" lanjut ku.


"Sudah aku katakan Din, apapun rela aku lakukan asalkan kamu bahagia, apapun itu. Bahkan jika kamu meminta nyawaku pun aku akan memberikannya sama kamu".


Aku berusaha untuk tertawa mendengar kalimat terakhir Tomi. Dan menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Kalau aku minta nyawa kamu, itu artinya kamu mati Tom. Padahal berkat kamulah nyawaku bisa tertolong".


Tomi ikut tersenyum mendengar kalimatku, dan kembali dia mengacak-acak rambutku yang membuatku merasa tenang. Entahlah setiap kali dia mengusap kepalaku aku merasa bahagia sekali, rasanya Tomi sangat menyayangiku.


"Benar apa yang dikatakan Mila kita sekarang impas, di dalam tubuh kamu ada darahku dan di dalam tubuhku ada darah kamu" lirih Tomi sambil terus tersenyum.


"Darah kamu aku cicil tiap bulan ya Tom?" ucapku menahan tawa.


"Maksudnya?" tanya Tomi bengong sambil mengernyitkan keningnya.


Aku menggeleng cepat kemudian terkekeh


"Nggak, nggak ada maksud apa-apa. Untunglah kalau kamu nggak nyambung" jawabku.


Tomi kemudian melotot kan matanya menggoda ke arahku, kemudian refleks dia menggelitik perutku yang membuatku menghindari tangannya.


"Awwww....!!!" jerit ku tertahan yang membuat Tomi refleks menghentikan tangannya.


"Maaf Din, maaf. Aku lupa kalau perut kamu masih sakit. Sakit sekali ya?, di mana yang sakit?" tanya Tomi dengan nada panik.


Aku memejamkan mataku dan meringis kesakitan menahan rasa sakit pada lukaku yang memang belum sembuh total.


"Maaf...." lirih Tomi dengan wajah sedih.


Aku berusaha untuk mengangguk, kemudian sambil menahan rasa sakit aku kembali menyandarkan tubuhku.


"Apa perlu aku telepon Mila?" tanya Tomi dengan wajah yang masih menyiratkan kepanikan.

__ADS_1


Aku menggeleng, lalu aku segera menarik bahu Tomi dan menempelkan kepalaku di dadanya.


"Cukup ada kamu saja di sini, karena obat sebenarnya dari rasa sakit ku ini adalah kamu" lirihku.


__ADS_2