
Setelah mengantarkan kedua anakku sekolah, mbak Sri langsung masuk rumah dengan tergopoh
"Maaf buk kemarin mbak lupa ngasih surat untuk ibuk" ucapnya sambil memberikan sebuah amplop berwarna coklat ke tanganku
"Dari pengadilan negeri?" gumamku ketika melihat kop surat di amplop coklat yang sekarang ada di tanganku
"Iya buk, ada bapak-bapak yang mengantarkan surat tersebut kemarin"
Aku tak menjawab omongan mbak Sri melainkan langsung membuka amplop tersebut dan langsung membaca isinya
Selesai membaca isinya, kertas tersebut aku letakkan lalu aku diam, dan mbak Sri yang duduk di depanku menatap ke arahku tanpa berkedip
"Kenapa buk?" tanyanya setelah cukup lama kami diam
Aku menarik nafas panjang lalu mengambil kembali surat yang ada di atas meja, lalu memberikannya pada mbak Sri
"Panggilan untuk jadi saksi mbak...." ucapku sambil memberikan kertas tersebut
Mbak Sri yang menerima surat tersebut sama seperti ku tadi, langsung membaca isinya kemudian melihat ke arahku
"Besok buk, keputusan ibuk bagaimana?"
Aku kembali menarik nafas panjang lalu menggeleng
Aku dan mbak Sri refleks menoleh keluar ketika suara Tomi mengucap salam. Mbak Sri langsung berdiri dari kursi lalu berpamitan padaku kebelakang, sedangkan Tomi yang sedang melepas sepatunya memasang wajah ceria ke arahku
"Loh, belum siap sayang...?" tanya Tomi sambil mengusap kepalaku
Aku memanyunkan bibirku karena kembali dengan percaya dirinya Tomi memanggilku dengan panggilan sayang
"Mbak, tolong ambilkan sepatunya Dinda....." teriak Tomi cukup lantang yang membuatku memukul pahanya
Tomi terkekeh lalu mengusap pahanya yang mungkin terasa pedas akibat pukulan refleks ku tadi
Mbak Sri muncul dengan membawa sepatuku yang langsung diambil oleh Tomi
Tomi segera turun dari kursi lalu berjongkok di depan kakiku
"Kamu mau ngapain?, aku bisa kok pakai sendiri" cegah ku ketika Tomi memegang kakiku
"Sudah nggak usah bawel, kamu adalah wanita pertama yang membuat kakak berjongkok di depan kaki seorang wanita untuk memakaikan sepatunya" ucapnya cuek
Aku langsung menarik kakiku yang membuat Tomi mengangkat wajahnya
"Iya maaf, pasti kamu merajuk"
Aku memasang wajah masam, sebenarnya aku bukan merajuk melainkan tersanjung, tapi aku harus menahan gengsiku, aku tak ingin Tomi tahu jika aku sangat bahagia dengan perhatian kecilnya ini
"Ayo sini kakinya...." bujuk Tomi yang kembali menyentuh pelan kakiku
Masih dengan wajah manyun aku mengulurkan kakiku yang membuat Tomi sekarang bisa memasangkan kaus kaki ke kakiku
"Tas mana?" tanyanya
Aku berdiri, dan Tomi memberikan jalan padaku untuk lewat di depannya
Aku masuk ke dalam dan mengambil tas kerjaku yang tadi aku letakkan di dekat meja makan
__ADS_1
"Ini apa Din?" tunjuk Tomi pada kertas yang ada di tangannya
"Dari pengadilan negeri" jawabku singkat
Tomi kembali mengalihkan pandangannya pada kertas yang ada di tangannya lalu menatap mataku
"Besok kakak yang antar"
Aku diam sejenak kemudian mengangguk, lalu Tomi kembali berjongkok memungut sepatuku dan membawanya keluar dan meletakkan di depan kakiku sehingga aku langsung memakainya
"Mbak kami berangkat" pamit ku
Mbak Sri yang muncul tergopoh menjawab singkat lalu mengantarkan ku sampai masuk mobil
Setelah Tomi mengklakson sekali barulah mobil Tomi memundurkan mobilnya kemudian mengantar aku sampai ke kantor. Ketika tiba di kantor, Kembali dengan manisnya Tomi membukakan pintu mobil dan membantuku untuk turun.
Dan kembali seluruh pegawai yang melihat kami berjalan bersama memandang kami dengan tatapan julid
"Pagi pak Tomi......" ucap pak Kusno lantang dengan berjalan cepat kearah kami
Aku yakin beliau melakukan ini agar pegawai yang menatap curiga pada kami berhenti kepo.
"Sini nak......" pak Kusno mengulurkan tangannya ke arahku dan mengambil tas ku
"Terima kasih ya pak Tomi karena telah mau mengantarkan Dinda ke kantor setiap hari, padahal bapak sendiri sangat sibuk" kembali pak Kusno berkata dengan lantang
Tomi mengangguk dan masih terus memegang tanganku
"Mbak....." kami sontak menghentikan langkah kami ketika di belakang Nadia berlari kearah kami
"Mari ibu-ibu......" ucap Nadia seperti sengaja kearah ibu-ibu yang tadi tampak menatap sinis kearah kami
Nadia menurut segera diambilnya tas ku yang tadi dipegang beliau
"Kalian duluan saja masuk ruangan, bapak mau ke wc" ucapnya
Aku mengangguk dan kami kembali melanjutkan perjalanan kami
Sebelum berbelok ke arah ruangan kami, aku menoleh kearah pak Kusno yang tampak sedang berbicara pada ibu-ibu tadi
"Nad....?" ucapku pada Nadia lalu menggerakkan daguku ke arah pak Kusno
Nadia ikut menoleh dan tampak mencibir
"Ibu-ibu itu emang perlu diperingatkan mbak, biar nggak kepo. Kerjanya ghibah aja, heran saya"
Aku terkekeh, sedangkan Tomi yang terus memegangi tanganku tampaknya tak mau melepaskan tanganku sampai aku duduk di kursiku
Setelah meletakkan tas ku, Nadia keluar karena akan apel, sedangkan aku hanya bisa menunggu mereka di dalam ruangan berdua dengan Tomi
"Tuh kan apa aku bilang, bukannya aku nggak mau kamu antar, tapi kamu lihat sendirikan bagaimana tadi orang-orang lihat kita"
Tomi seperti tak mendengar ucapanku, dia segera mengambil sandal jepit dan kembali berjongkok di kakiku
"Ayo dilepas sepatunya"
"Apa sih?" jawabku kesal
__ADS_1
Tomi mendecak
"Kalau kamu seharian pakai sepatu, perut kamu bisa kram dan makin lama sembuhnya"
Aku hanya menarik nafas dalam dan menurut ketika Tomi melepas sepatuku
Selesai apel, semua pegawai masuk ruangan, barulah Tomi keluar dari dalam ruangan kami dan berjalan kearah ruangan pak Burlian
Tak lama dia telah muncul lagi
"Kakak sudah bilang sama kak Burlian untuk memberi kamu izin besok"
Pak Kusno dan yang lain langsung menoleh kearah kami
"Besok Dinda dimintai keterangan jadi saksi disidang kasus penusukan nya kemarin" jelas Tomi
Yang lain ber o panjang, bahkan Nadia dan Redho langsung mendekat ke arahku
"Tugas mbak biar kami yang handle"
Aku tersenyum lebar kearah mereka, dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan mereka
...----------------...
Jam sepuluh pagi, aku sudah di dalam ruang sidang yang akan digelar hari ini
Aku tak sendiri, ada Mila dan Putri bersama ku. Entah mereka tahu dari mana, yang pasti malam tadi grup kami langsung ramai membahas masalah sidang hari ini
Selain aku, ternyata ada juga rombongan pak Endro cs, yang begitu melihatku masuk langsung berdiri dan berjalan mendekat kearah kami
Mereka langsung menyalami kami dan tampak menjabat hangat tangan Tomi
Dilain tempat aku juga melihat ada Yesa, dan kulihat wajahnya agak menegang ketika pandangan kami bertemu
Aku hanya melihat sekilas kearahnya, lalu aku dibawa Mila dan Putri duduk berdekatan dengan rombongan bapak Endro cs
"Awas saja jika dia berani ngelak" gumam Mila datar tanpa ekspresi ketika kami telah duduk
Aku hanya tersenyum simpul kearahnya begitu juga dengan Putri
"Ini minum dulu...." ucap Tomi yang memberikan kami tiga botol air mineral
Mila yang menerima langsung mengambil dan tanpa basa basi langsung menenggaknya
"Bagaimana?, masih emosi?" ledek Putri
Bukannya menjawab malah paha Putri mendapat pukulan refleks dari tangan Mila yang membuat Putri menjerit tertahan dan aku terkekeh
"Ststst......." bisik Tomi ketika hakim dan anggotanya masuk
Tak lama Adi digiring masuk dan pandanganku langsung mengiringi langkahnya sampai dia duduk di kursi pesakitan
Sidang dimulai dan mulailah jaksa penuntut umum membacakan dakwaan pada Adi yang dianggap telah bersalah dalam kasus ini
Kulihat Adi menundukkan kepalanya dengan dalam dan dia tampak terkejut ketika jaksa penuntut umum menyebut jika ada aku yang sebagai korban di dalam ruangan ini
Seluruh mata langsung tertuju padaku ketika aku diminta oleh jaksa penuntut umum untuk berdiri
__ADS_1
Dan kulihat Adi juga menatap sendu ke arahku, aku sedikitpun tidak membalas tatapan sendunya dengan kasihan, melainkan aku memandang kearahnya dengan tatapan tajam penuh kebencian