
Aku meletakkan HP tanpa sedikitpun membuka pesan yang tadi dikirimkan oleh Yesa
Bodo amat, terserah dia mau tinggal di rumah itu lagi kek, dia mau tinggal dimana juga bukan urusan aku, bahkan jika dia tinggal di kolong jembatan pun aku nggak peduli
Jika dia tidak mau lagi berurusan dengan Adi, bagaimana dengan aku? Tentu saja aku ogah banget. Toh yang istrinya Adi sekarangkan Yesa bukan aku.
Lah istrinya aja nggak mau lagi berurusan sama dia, apalagi aku??
Karena aku tak ingin pikiranku terganggu akibat pesan yang tadi dikirimkan oleh Yesa, aku segera membuat diriku sibuk
Sampai akhirnya jam kantor bubar, barulah kami satu ruangan keluar dari ruang kantor kami
Aku sudah memasangkan senyum lebar ketika melihat mobil Tomi sudah menungguku di luar pagar kantor
"Gimana, capek ?" tanya Tomi ketika aku sampai di depannya
Aku menggeleng
"Bagaimana aku bisa capek, orang penyemangatku begini semangatnya?"
Tomi tersenyum seraya mengacak-ngacak rambutku. Lalu Tomi segera membuka pintu mobil, dan mempersilahkan aku untuk masuk
"Tomi tunggu !!" teriak sebuah suara yang membuat Tomi yang hendak masuk ke dalam mobil menoleh ke belakang
Pak Burlian tampak berjalan cepat ke arah kami, yang membuat aku segera menurunkan kaca mobil dan ikut keluar. Lalu berdiri di sebelah Tomi, dan melambaikan tanganku kearah pegawai lain yang juga mulai meninggalkan kantor
"Ada hal penting yang ingin kakak bicarakan sama kalian berdua"
Aku dan Tomi langsung saling toleh mendengar ucapan Pak Burlian. Kemudian Tomi menganggukkan kepalanya
"Mau ngomong apa Kak, apa ada hal penting? kok sepertinya wajah kakak serius banget"
Pak Burlian tidak menjawab pertanyaan Tomi melainkan beliau menatap ke arahku
"Ini tentang mantan suami Dinda" ucap pak Burlian
Aku langsung menarik nafas panjang dan memutar mataku dengan malas mendengar jawaban Pak Burlian. Sedangkan Tomi tampak menoleh ke arahku sebentar kemudian kembali menatap ke arah Pak Burlian
"Bisa kita bicara di kursi di bawah pohon itu?" kembali Pak Burlian berbicara seakan meminta pendapat dari kami
Tomi langsung mengangguk cepat dan segera menggandeng tanganku. Membawaku berjalan di belakang Pak Burlian yang sudah mendahului kami
"Kepala Lapas tempat suami Dinda ditahan itu teman kakak waktu kuliah, cuman kita beda fakultas. Dia bilang bahwa mantan suami Dinda sudah satu minggu ini dirawat di rumah sakit" ucap pak Burlian begitu kami sudah duduk
Aku sontak memasang wajah masam mendengar kalimat yang diucapkan oleh pak Burlian
"Terus Kak ?" tanya Tomi
"Ya teman kakak itu bilang, kalau yang dia tahu dari Adi, jika istrinya itu bekerja di kantor ini. Dan kebetulan dia tahu jika yang memimpin kantor ini itu adalah kakak. Karena itulah dia langsung menghubungi kakak"
Rahangku makin mengeras mendengar ucapan pak Burlian. Enak aja, awas kamu Adi!!! geram ku dalam hati
"Kakak bilang apa sama teman kakak itu?"
"Ya kakak bilang, jika Dinda itu bukan istri Adi lagi, karena mereka sudah sah berpisah lebih dari setahun yang lalu, dan sekarang Dinda itu istri kamu, begitu"
__ADS_1
Tampak Tomi menarik nafas lega dan tersenyum penuh kemenangan saat dia menoleh ke arahku. Tapi tidak denganku, aku masih saja memasang wajah masam
"Apa kalian tidak ada niatan untuk besuk Adi?"
Aku langsung memajukan kepalaku dengan melongo begitu mendengar ucapan pak Burlian
"Bapak tidak serius kan dengan ucapan bapak ?" tanyaku dengan nada tak percaya
"Ya ini pertanyaan serius Dinda. Kakak itu bertanya sama kalian berdua, Apa kalian tidak ada niatan untuk membesuk Adi? ya minimal rasa kemanusiaan lah"
"Nggak, dan nggak akan pernah" aku menjawab dengan nada ketus
Aku tidak menjawab pertanyaan Pak Burlian memposisikan diri aku sebagai bawahannya, melainkan memposisikan diri aku sebagai adiknya agar beliau tidak salah paham ataupun tersinggung
"Kamu yakin ?" kali ini Tomi yang bertanya padaku dengan tatapan dalam
Aku mendecak kesal mendengar pertanyaannya kemudian aku langsung memukul lengannya dengan marah
"Yakinlah. Ngapain juga aku harus besuk dia, buang-buang waktu aku saja"
"Lagian tadi, nomor kemarin yang menelpon aku juga aku beritahu bahwa sekali lagi jika dia menelpon aku, aku akan laporkan dia ke polisi. Dan aku juga tadi ngomong sama Adi untuk dia jangan pernah menyuruh orang lapas untuk menghubungi aku lagi".
"Hubungi lah Yesa karena istrinya itu Yesa, bukan aku. Terus aku juga tadi memberikan nomor Yesa kepada orang lapas. Dan ternyata tadi waktu kami makan siang, ada pesan masuk dari Yesa yang mengatakan jika dia tidak mau membesuk Adi dan tidak mau berurusan lagi sama Adi".
"Sekarang fokus dia itu mencari kerja karena dia tidak tinggal di rumah itu lagi"
Pak Burlian dan Tomi saling toleh kemudian mereka sama-sama tersenyum yang membuat wajahku kian masam
"Kakak dengar sendirikan apa jawaban istriku?"
"Sekarang fix ya kak, istri aku nggak mau berurusan sama Adi, dan nggak mau besuk Adi. Jadi jika teman kakak nelepon lagi, jawab saja seperti yang istri aku bilang tadi"
"Termasuk bilang jika akan dilaporkan ke pihak kepolisian?"
Aku langsung tersenyum mendengar jawaban pak Burlian
"Iya kak, karena kapolda papinya sahabat Dinda"
Aku kian melebarkan senyumku mendapat dukungan dari suamiku
"Angkat tangan kakak kalau begitu" kembali pak Burlian menjawab sambil tertawa lirih yang membuat aku dan Tomi juga ikut tertawa
"Ya sudah, kakak cuma mau menyampaikan itu. Kakak kira kalian belum tahu informasinya"
Aku langsung memanyunkan bibirku mendengar ucapan Pak Burlian
"Kalau sudah, kami mau berpamitan pulang. Karena kemungkinan besar sore ini juga kami akan pindah ke rumah baru" ucap Tomi
"Loh kok mendadak?"
Aku juga menoleh ke arah Tomi dengan cepat menyetujui pertanyaan Pak Burlian
"Nggak dadakan kok Kak. Kita merencanakannya sudah beberapa hari ini. Karena kalau nanti-nanti takutnya berubah pikiran lagi. Jadi lebih baik pindah ke rumah barunya sekarang saja"
"Ya sudah kalau memang itu keputusan kalian. Jika butuh bantuan, Kakak siapa kok bantu"
__ADS_1
Tomi menganggukkan kepalanya mendengar tawaran yang diucapkan oleh pak Burlian
Lalu aku dan Tomi segera berdiri dari kursi kami, dan kemudian Tomi seperti tadi, menggandeng tanganku dan membawaku masuk ke dalam mobil
Di perjalanan pulang aku segera merogoh tas ku karena mendengar hp-ku kembali berdering tanda panggilan masuk
Aku langsung mendecak tak suka Ketika aku melihat di layar tampil nama Yesa
Aku langsung memamerkan layar HP ku ke arah Tomi, kemudian Tomi tersenyum
"Ya sudah, angkatlah. Di loudspeaker, Kakak pengen dengar apa yang akan dikatakan oleh Yesa"
Aku menuruti permintaan suamiku dan langsung menerima panggilan dari Yesa, dan langsung menekan tombol loudspeaker
"Din aku kembali ditelepon oleh orang lapas dan mereka mengatakan bahwa Adi itu sakitnya parah"
"Aku sudah bilang sama mereka, aku tidak mau menemui Adi. Jadi aku minta tolong sama kamu. Kamu saja ya Din menemui Adi. Kan kamu ada kendaraan, Lagian kamu juga dekat dari sana. Kalau aku kan jauh"
"Dan yang paling penting itu adalah kamu kan uangnya banyak, jadi kamu bisa ke sana besuk Adi. Atau minimal kamu bisa lah bahwa oleh-oleh untuk dia"
"Sedangkan aku, kan kamu tahu sendiri aku nggak punya uang. Aku sekarang lagi kerja serabutan. Kerja apa saja, yang penting bisa untuk makan kami berdua. Jadi aku mohon sama kamu ya Din, kamu yang ke sana"
"Enak aja kamu nyuruh aku ke sana!!. Kan yang istrinya itu kamu bukan aku. Kamu juga mikir dong Yesa, uang Adi selama ini kemana?"
"Bukankah kamu yang paling banyak dikasih uang sama Adi?. Adi menghambur-hamburkan uang itu untuk kamu, bukan untuk aku"
"Aku yang pontang-panting kerja, cari uang. Kamu dan Adi yang menikmati uang aku. Dan sekarang giliran Adi sakit parah, kamu mau minta aku untuk membesuk dia?, kemana otak kamu??!"
"Sedangkan kamu nggak mau? enak banget hidup kamu!!!. Apa maksud kamu, hah?"
"Enggak enggak enggak aku enggak mau besuk Adi. Perlu aku jelaskan sekali lagi sama kamu ya Yesa, Aku bukan lagi istrinya Adi. Dan perlu kamu ketahui, bahwa aku sudah menikah. Aku sudah menikah ya Yesa, aku sudah menikah!!!"
"Aku tidak mau lagi berurusan sama suami kamu. Yang istri Adi itu kamu, bukan aku. Jadi tugas kamu untuk membesuk dia. Jangan kamu mau sama dia giliran dia ada uangnya saja. Giliran dia sakit, giliran dia kere, kamu nggak mau!!!"
"Tapi Din?"
"Nggak ada tapi-tapian. Awas kalau kamu nelpon aku sekali lagi, aku nggak akan segan-segan melaporkan kamu sama Mila. Kamu tahu kan sahabat aku Mila?"
"Kalau kamu lupa siapa itu Mila, biar aku ingatkan. Mila itu adalah orang yang menghajar suami kamu. Suami kamu saja bisa dihajarnya sama Mila. Apalagi orang seperti kamu ini, seorang perempuan"
"Bisa patah tulang kamu sama sahabat aku itu. Jadi awas ya sekali lagi Kamu nelpon aku bilang untuk nyuruh aku besuk suami kamu. Aku nggak akan segan-segan mengajak Mila ke rumah kamu"
"Kota dingin itu nggak terlalu luas seperti Jakarta, Yesa. Aku ini orang kantoran. Aku bisa menghubungi orang dinas kependudukan daerah kamu. Aku akan minta sama mereka lacak KTP kamu, lacak di mana kamu berada. Mudah lah bagi aku untuk menemukan di mana tempat kamu berada".
"Makanya kamu jangan main-main sama aku. Oke kemarin aku masih bisa berusaha bersikap baik sama kamu, tapi tidak untuk kali ini"
Setelah berkata seperti itu, aku langsung memutuskan panggilan dan langsung meletakkan HP dengan kasar ke dalam tas kembali
Cuppp!!!
Aku refleks menoleh kesamping ketika merasakan Tomi mencium pipiku
"Biar calm down" ucap Tomi sambil tersenyum
Aku hanya bisa menarik nafas dalam kemudian tersenyum kearah Tomi
__ADS_1