Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
TERPAKSA DIGUGURKAN


__ADS_3

Setelah itu Mila langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena dia sudah over thinking. Dia sudah bisa menebak jika terjadi hal buruk pada diri sahabatnya satu itu


Sementara di rumah kediaman Tomi, Naya yang berteriak karena ibunya ambruk kian panik dan segera berusaha mengangkat tubuh ibunya yang sebagian kepalanya menindih tubuh Yusuf. Arik tak kalah paniknya, dia sama halnya dengan yang dilakukan kakaknya, dia segera membantu kakaknya mengangkat tubuh ibunya, sementara Tomi berusaha menyelamatkan Yusuf


“Buk, ibuk sadar buk…..” ucap Naya sambil berurai air mata


“Tomi cepat kamu siapkan mobil!” teriak ibunya ikut panik yang segera mengambil Yusuf dari dekapan Tomi. Tomi yang mendengar teriakan ibunya segera menyerahkan Yusuf kemudian dia berlari keluar dari dalam kamarnya setelah sebelumnya menyambar kunci mobil


“Ibuk, buka matanya buk……” lirih Arik sambil menggenggam erat tangan ibunya


Yusuf yang menangis di dalam dekapan eyangnya kian menangis kencang. Dan Naya tidak memperdulikan tangisan kencang adiknya, yang ada di benaknya sekarang adalah bagaimana nasib ibunya sekarang


“Mobil sudah siap, ayo!” ucap Tomi yang masuk kembali ke dalam kamar


Sekuat tenaga Tomi mengangkat tubuh Dinda dibantu oleh Naya dan Arik yang memegangi kaki ibu mereka. Dan ketika sampai di depan mobil bagian tengah yang memang pintunya sudah terbuka, kembali ketiganya berusaha sekuat tenaga memasukkan tubuh ibu mereka


Tomi menyeka keringat yang ada di wajahnya ketika tubuh istrinya telah dapat masuk seluruhnya dalam mobil. Dan Naya yang juga masuk, segera memangku kepala ibunya. Disusul Arik yang memegangi kaki ibunya


Sementara ibunya Tomi yang berjalan tergesa segera duduk di sebelah Tomi yang langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi


Tiiiiinnnnnn…….


Suara klakson keras dari mobil yang dikendarai Mila tidak digubris oleh Tomi, dia terus saja melajukan mobilnya dengan kencang. Dan Mila yang melihat Tomi melajuka mobilnya dengan kencang segera memutar kepala mobil dan langsung mengejar mobil Tomi yang sudah jauh di depan


“Aku yakin terjadi hal yang tidak beres ini” ucap Mila sambil segera menginjak gas sehingga mobilnya bisa dengan cepat berada sejajar dengan mobil yang dikemudikan Tomi


Naya yang melihat mobil Mila berada tepat di samping mobil yang dikendarai papa tirinya segera menurunkan kaca mobil yang ada di sebelahnya duduk.


“Aunty……” teriaknya


“Masukkan kepala kamu Naya, bahaya!!!” teriak Tomi


Naya langsung memasukkan kepalanya dan melirik tajam kearah Tomi yang fokus menyetir. Sementara ibunya Tomi yang menoleh kebelakang, memasang wajah marah kearah Naya


Tomi makin melajukan mobinya dengan ngebut sehingga membuat Mila yang ada di sebelahnya mengalah dengan memilih pelan dan berada di belakang mobil Tomi sekarang


“Bagaimana bisa perempuan itu selalu ada untuk Dinda” keluh Tomi


“Maksud om apa? Om nggak mau aunty Mila menolong ibuk? Om lupa sebelum ibuk pingsan ibuk nyuruh aku nelepon aunty Mila?” jawab Naya berani


Tomi mendecak mendengar jawaban Naya, sementara ibunya sudah menoleh lagi ke belakang ketika mendengar Naya menyebut Tomi dengan panggilan om


“Om? Kamu panggil papa kamu om sekarang? Sejak kapan?”


Naya melengos mendengar suara tinggi eyangnya, dia tidak ingin berdebat yang paling penting saat ini baginya adalah keselamatan ibunya. Sementara Tomi hanya diam mendengar ibunya membentak Naya. Arik hanya diam, tangannya terus mengelus kaki ibunya yang mulai terasa dingin


Sementara mobil kian mendekati rumah sakit, dan sudah berbelok masuk kedalam area parker. Mila tidak mengikuti mobil Tomi yang menuju lahan parker. Mila langsung menghentikan mobilnya dibagian jakur IGD, sehingga pihak rumah sakit segera keluar begitu melihat ada mobil berhenti di sana

__ADS_1


“Dokter Mila?” tanya mereka kaget


“Ambil brankar!!” ucap Mila tegang


Dua orang yang tadi berdiri menyambutnya segera berlari masuk kedalam, sementara Mila yang tampak panik terus bergerak gelisah sampai akhirnya dua orang tadi muncul kembali dengan mendorong brankar


“Ke parkiran!” ucap Mila lagi sambil berlari bersama dua perawat yang mendorong brankar


Laju lari Mila kian cepat ketika dilihatnya Tomi tampak kesulitan ketika mengeluarkan tubuh Dinda dari dalam mobil.


“Kakak minggir!” ucap Mila yang membuat Tomi menoleh cepat dan segera minggir


Dua perawat segera masuk, sementara Mila segera menelepon kebagian dalam meminta disiapkan ruang sesegera mungkin dan tak lupa dia juga menelepon dokter ahli kandungan agar segera bersiap masuk ke ruang IGD


“Ya Alloh……” ucap Mila tertahan ketika dilihatnya wajah Dinda pucat Dinda


Tanpa pikir panjang lagi, Mila segera membantu dua rekannya mendorong brankar masuk dan tidak mempedulikan Tomi yang ikut berlari di belakang mereka


“Aunty saya masuk!” cegah Naya ketika Mila akan menutup pintu IGD


Mila menggeleng, kemudian dia mencium sekilas pelipis Naya, dan kemudian dia langsung masuk dan menutup rapat pintu IGD


Naya dan Arik tampak saling berpegangan tangan dan terduduk lemah di lantai tepat di depan ruang IGD. Sementara Tomi tertunduk sedih duduk di kursi, sementara ibunya saat ini kembali berusaha menenangkan Yusuf yang kembali menangis kencang


Sementara di dalam ruang IGD, Mila yang ada di dalam ruangan bersama dengan dokter OpGin sibuk memeriksa keadaan Dinda


Dokter OpGin menggeleng dengan wajah sedih


“Maksudnya dokter?”


Dokter tersebut menarik nafas panjang kemudian menoleh kearah Dinda yang masih tak sadarkan diri


“Pilihannya cuma satu, kita tidak bisa menyelamatkan anak yang ada di dalam kandungan mbak Dinda. Anak tersebut harus kita gugurkan”


Mila langsung menggeleng cepat


“Nggak dokter, malam kemarin saya menemani sahabat saya ini periksa, dan janinnya baik-baik saja. Bahkan saya mendengar sendiri suara jantungnya”


Dokter OpGin mengelus punggung Mila dengan wajah sedih, sementara mata Mila sudah berkaca-kaca


“Tapi itulah yang terjadi dokter. Janinya sudah tidak berdetak lagi”


Mila kembali menggeleng cepat, dengan segera dia berlari kearah Dinda yang masih belum sadar kemudian dia segera mendekap erat sahabatnya itu dan langsung menangis sejadi-jadinya


Suara tangisan di dalam ruang IGD membuat Naya dan Arik yang ada di luar ruangan segera berdiri dan saling tatap dengan wajah tegang. Begitu juga dengan Tomi, dia segera berdiri dan langsung menggedor pintu ruang IGD


“Aunty buka aunty….” panggil Naya dengan suara yang telah berubah suara tangisan

__ADS_1


Dokter, perawat dan Mila yang ada di dalam ruang IGD tidak ada yang berniat membuka pintu ruang IGD, mereka hanya bergeming. Dokter OpGin dan dua perawat yang kebetulan ada di ruangan tersebut hanya membiarkan Mila menangis sambil mendekap sahabatnya tersebut


“Kamu kenapa sih Din, apa yang terjadi sama kamu?” lirih Mila sambil mengusap kasar wajahnya.


Sementara suara gedoran di luar masih terus terdengar, sehingga membuat Mila menganggukkan kepalanya kearah dua perawat yang sejak tadi menunggu perintahnya


“Bukalah, saya ingin mengetahui apa sebenarnya terjadi sama sahabat saya ini” ucap Mila sambil sekali lagi menghapus air matanya


Naya dengan Arik diikuti Tomi langsung berlari masuk ketika pintu ruang IGD terbuka. Dan mereka dapati jika ibu mereka terbujur kaku di dalam ruangan ini


Naya langsung mendekap ibunya dengan berurai air mata, begitu juga dengan Arik. Keduanya tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada Tomi untuk memeluk ibu mereka


“Dinda kenapa Mil?” tanya Tomi lemah


Mila menarik nafas panjang, kemudian menoleh kearah dokter OpGin yang lebih kompeten untuk menjelaskan sebenarnya kondisi Dinda pada Tomi


“Bapak ikut saya ke ruangan saya. Saya akan menjelaskannya di ruangan saya”


Tomi segera berjalan mengikuti doter tersebut, sementara Mila berusaha menenangkan Naya dan Arik yang masih terus mendekap ibu mereka


“Ibuk kenapa belum sadar juga aunty? Tubuh ibuk makin dingin” ucap Naya


Dengan cepat Mila langsung memegang tangan Dinda, dan wajahnya seketika menegang


“Siapkan ruang operasi!!!” teriaknya yang membuat dua perawat kembali berlari keluar


Naya dan Arik yang mendengar kata ruang operasi kembali menangis kencang


“Ibuk kenapa aunty? Ibuk kami kenapa?” isak Naya


“Ibuk baik-baik saja sayang, ya? Kalian tenang” jawab Mila dengan wajah yang masih tampak tegang


Tapi air mata yang lolos dari mata dan raut wajahnya yang tegang tidak bisa membohongi Naya dan Arik jika hal buruk telah terjadi pada ibu mereka


Sementara dua perawat yang berlari tadi menyiapkan ruang operasi, dua perawat lain masuk kedalam ruang IGD dan langsung membantu Mila yang tampak berusaha memeriksa denyut jantung dan nadi Dinda yang kian melemah


“Cepat dorong…..!!!!” ucap Mila yang sekuat tenaga mendorong brankar dibantu oleh dua perawat, Naya dan Arik


Sementara Tomi yang ikut dokter ke ruangannya, sekarang duduk dengan wajah tak kalah tegangnya. Baru saja dokter akan menjelaskan apa yang terjadi pada Dinda, hp nya berdering


“Ke ruang operasi sekarang dokter. Kondisi Dinda melemah” ucap Mila


“Baik dokter, saya akan segera kesana”


Dokter OpGin tersebut yang baru saja duduk kembali bangkit


“Penjelasannya saya pending pak Tomi, kondisi mbak Dinda makin drop” ucapnya yang berjalan meninggalkan Tomi yang tampak sangat shock mendengar ucapan dokter tersebut

__ADS_1


Tomi segera bangkit dari kursinya, berlari keluar dari dalam ruangan dokter tersebut, dan mensejajari langkah sang dokter yang berjalan kearah ruang operasi


__ADS_2