Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Koma


__ADS_3

Ibunya Tomi hanya mampu menunduk dan terisak mendengar ucapan menohok besannya yang berkata sambil berurai air mata. Sekuat tenaga dia berusaha menjelaskan jika dia tidak bermaksud membuat Dinda koma, dia Cuma khawatir dengan hubungan keluarga Dinda dengan Tomi karena Adi yang kembali menghubungi Dinda


Dia tak ingin kehadiran Adi merusak keharmonisan hubungan keluarga yang selama ini dibina oleh Tomi dan Dinda. Dan juga ibunya Tomi mengatakan jika dia memiliki trauma tentang hubungan masa lalu Tomi dengan istrinya yang lalu. Anak yang dikandung istrinya ternyata bukanlah anaknya Tomi


“Jadi maksud ibu, anak yang gugur itu juga bukan anak Tomi, tapi anak hasil hubungan gelap Dinda dengan mantan suaminya?. Tega anda bu, kami memang bukanlah berasal dari keluarga yang alim, tapi saya selalu menekankan pendidikan agama yang baik untuk seluruh anak saya. Dan tuduhan ibu ini sangat melukai hati saya”


Ibunya Tomi kembali menunduk dan berkata sejuta penyesalannya dan meminta maaf pada ibunya Dinda


“Bibi buat malu saya. Saya mengenal Dinda dengan baik bi, dia walau pernah janda tapi dia janda terhormat. Bahkan madunya ke kantor saya saja dihadapinya dengan sopan. Tapi mengapa bibi tega memfitnah yang tidak-tidak tentang Dinda?”


Ibunya Tomi makin tak berani mengangkat kepalanya mendengar ucapan pak Burlian. Karena malu pada ibunya Dinda, pak Burlian segera berpamitan kembali. Dan sebelum pergi, ibunya Tomi beserta Naya dan Arik mencium dalam pipi Yusuf


“Adek jangan rewel ya tempat bukde, nanti jika ibuk kita sudah sadar, adek bakal kami jemput. Kita pulang ke rumah kita” lirih Naya sambil mengusap kasar wajahnya.


Di luar, ketika pak Burlian dan istrinya akan keluar dari rumah sakit, Tomi turun dari dalam mobil bersama ayah mertuanya, di belakangnya juga mengiring adik-adiknya


“Mama duluan ke mobil, papa mau ngomong sama Tomi”


Istri pak Burlian menganggukkan kepalanya kemudian dia berjalan kearah parkiran dengan melindungi kepala Yusuf dengan hijab yang dikenakannya


“Mbak tunggu!” cegah Tomi begitu dia melihat jika istri pak Burlian berjalan cepat seolah menghindarinya


“Berlian akan kami bawa pulang, kakak yakin Berlian akan jauh lebih baik diasuh kami ketimbang di rumah sakit ini. Dinda koma, dan tidak tahu kapan dia akan sadar. Dan kakak turut berduka cita atas gugurnya anak kedua kamu” ucap pak Burlian sambil menepuk bahu Tomi


“Yusuf harus sama aku kak. Cuma Yusuf kekuatan aku sekarang” melas Tomi


Pak Burlian menatap dalam wajah Tomi


“Kakak kecewa sama kamu Tom. Kakak tidak menyangka jika begini sifat kamu”


Tomi dan adik-adiknya saling toleh, sementara ayahnya Dinda sudah sejak tadi masuk ke dalam rumah sakit, tidak mempedulikan Tomi yang menghampiri kakak sepupunya

__ADS_1


“Maksud kakak?” tanya adik-adik Tomi


“Kalian tanya saja sama Tomi apa yang sudah dia lakukan sama istrinya sampai istrinya keguguran”


Tomi bergerak gelisah ketika ketiga adiknya menatapnya dengan curiga


“Jangan berteka-teki kak. Katakana apa sebenarnya yang terjadi” desak adik kedua Tomi


“Kamu punya keberanian untuk mengatakan kejujuran atau kakak yang akan bongkar ini Tom?”


Tomi menggeleng kearah kakak sepupunya itu, berharap sang kakak tidak memberitahu kebenaran yang terjadi. Pak Burlian tersenyum menyeringai melihat Tomi menggelengkan kepalanya


“Ya sudah, bair itu menjadi beban Tomi. Kalian masuklah, lihatlah betapa kakak ipar kalian itu mati dan hidup untuk ketiga kalinya karena ulah kakak kalian yang pengecut ini”


Ketiga adik Tomi masih saling toleh sementara pak Burlian membimbing bahu istrinya mengajaknya berjalan. Tapi sekali lagi langkah istrinya dihentikan oleh Tomi


“Tolong jangan bawa Yusuf kak…..”


“Jika kakak bilang Berlian ini anak kakak, apa kamu akan percaya Tom?”


Mulut Tomi dan ketiga adiknya langsung ternganga. Dengan cepat Tomi menggeleng


“Nggak kak, Yusuf anak aku. Bukan anak kakak. Kakak jangan ngarang”


“Terus mengapa anak tiri kamu, kamu bilang bukan anak kamu, bukankah kamu sendiri yang bilang jika Dinda juga tidak ada artinya buat kamu?. Terus mengapa Berlian ada artinya untuk kamu? Apa karena dia anak kandung kamu?. Jahat kamu Tom….”


Tomi hanya mampu terdiam mendengar ucapan pak Burlian, sementara ketiga adiknya yang mulutnya ternganga menggeleng tak percaya kearah kakak mereka


“Benar kak yang kak Bur bilang?” tanya ketiganya dengan nada tak percaya


Tomi diam, dan bergerak gelisah melihat ketiga adiknya yang kembali menatapnya tidak percaya

__ADS_1


“Ayolah kita masuk. Biarkan kak Tomi, nanti kita perlu bicara sama kak Tomi. Jika yang dibilang kak Bur tadi benar, kak Tomi benar-benar memalukan”


Segera ketiganya masuk dan tampak kaget ketika melihat ibu mereka menundukkan kepalanya sementara di lain kursi, tampak orang tua dan kedua anak Dinda duduk di dekat nenek mereka. Sedikitpun mereka tidak mendekati ibu mereka


“Naya….. Arik…..” sapa ketiga adik Tomi


Naya dan Arik menoleh dan keduanya langsung mencium takzim punggung tangan ketiga om nya. Kemudian keduanya kembali duduk di dekat nenek mereka. Ketiga adik Tomi mendekat kearah jendela, dan ketiganya menarik nafas panjang ketika dapat melihat Dinda dari kejauhan


“Apa yang terjadi buk?” tanya Aldi, adik bungsu Tomi ketika dia duduk di dekat ibunya


Ibunya bukannya menjawab melainkan segera mendekap erat tubuh Aldi dan menangis terisak. Naya dan Arik yang melirik segera membuang wajah mereka melihat eyang mereka menangis terisak


Kemudian tanpa diminta, ibunya Tomi mulai menceritakan semuanya pada ketiga anaknya apa yang terjadi di rumah Tomi dalam dua hari ini. Ketiganya menggelengkan kepala mereka dan menatap tak percaya pada ibu mereka


“Ibuk, ibuk ingat kan betapa sayangnya ibuk sama mbak Dinda. Kok ibuk tega sih buk sama mbak Dinda sampai mbak Dinda sekarat kaya gini. Jika mbak Dinda, menantu yang ibuk harapkan saja ibuk berlaku seperti ini. Lalu bagaimana dengan istri-istri kami?” tanya ketiganya yang membuat ibu Tomi menggelengkan kepalanya dan menatap ketiga wajah anak lelakinya dengan tatapan nelangsa


“Ibuk dan kakak buat kami malu….” Keluh ketiganya


Sorenya Mila betul-betul datang, tapi tidak sendirian. Telah ada lima sahabatnya yang lain datang bersamanya. Dan kembali kelimanya menangis pilu ketika melihat Dinda dari balik jendela


“Bestie……kamu harus bertahan ya……” lirih kelimanya dengan sedih


Tiga hari, satu minggu, sepuluh hari, dua minggu belum ada tanda-tanda Dinda akan sadar dari komanya. Seluruh keluarga besarnya sangat khawatir dengan keadaannya saat ini. Teman sekantornya secara bergantian membesuknya dan mendoakan kesembuhannya


Begitu juga dengan seluruh karyawannya. Mereka juga secara bergantian membesuk Dinda walau hanya bisa melihat melalui jendela kaca tanpa bisa masuk kedalam ruangan ICU. Naya dan Arik yang bersikeras tidak ingin lagi tinggal di rumah Tomi akhirnya memilih pulang kerumah nenek mereka


Mbak Sri telah mengatakan jika nanti Dinda sadar dan berkeinginan kembali kerumah mereka kami dia bersedia kembali ke rumahnya yang lama. Dan Yusuf yang tinggal di rumah pak Burlian benar-benar menjelma dari Berlian kesayangan. Kedua anak pak Burlian yang ada di rumah sangat menyayangi Berlian seperti adik mereka sendiri. Dan yang dua lagi, yang sedang menempuh pendidikan di luar pulau nyaris setiap hari selalu video call ingin melihat wajah Berlian, adik bungsu mereka


Mila setiap hari akan masuk kedalam ruang ICU, secara telaten dia akan membersihkan tubuh Dinda dan mengganti pakaian yang dikenakan Dinda. Setiap selesai membersihkan tubuh Dinda, dia akan betah duduk di dalam sana, mengajak Dinda untuk bercerita panjang lebar. Seakan bercerita dengan orang yang sehat. Terkadang Mila akan tertawa terkadang dia akan menangis karena sahabatnya itu masih saja tak bereaksi


“Sadarlah Din….. kamu wanita kuat. Ayo sadar Din……”

__ADS_1


__ADS_2