
Jam enam pagi, dengan menguap lebar Mila bangkit dari kursi tempatnya duduk yang ternyata tertidur di sebelah tubuh Dinda. Di rogohnya hp karena benda itulah yang mengganggu tidurnya sampai ia terjaga
“Hem…..?” jawabnya dengan wajah malas dan tampak ngantuk berat
“Beneran Dinda sadar…..??!” teriak kelima sahabatnya kompak
Mila tak menjawab melainkan mengarahkan kamera hp nya kearah Dinda yang terlelap
“Liat aja sendiri”
“Kok masih merem?” protes Rohaya
“Tidur. Sengaja aku kasih obat tidur, biar dia jauh lebih fit”
“Kok dikasih obat tidur lagi sih Mil, kalo dia tidurnya kebablasan lagi gimana?”
Mila mendecak mendengar sahabatnya sibuk protes.
“Please deh. Lama-lama kepala kalian aku operasi, terus otak dodol kalian itu aku buang, aku kasih sama ikan koi di rumah ku”
Kelima sahabatnya cekikikan. Tapi tak lama, karena kembali mereka meminta Mila mengarahkan hp kearah Dinda lagi
“Kita nanti kesana” ucap Putri cepat
“Yaa kalau pagi aku nggak bisa, aku kerja. Kalian tahulah aku terikat” jawab Lisa
“Sama, aku juga nggak bisa. Nanti sepulang ngajar baru aku bisa ke rumah sakit” sahut Nanda
“Sudahlah jangan banyak protes, yang bisa aja. Yang penting kita nggak khawatir lagi, Sleeping Princes kita sudah sadar”
Yang lain kompak mengangguk. Dan sebagian bahkan menangis terharu
“Titip ciuman sayang buat Dinda dari aku….” lirih Putri menahan tangisnya
Mila mengangguk, kemudian dia berjongkok dan mengecup kening Dinda dengan sayang
“Sudah. Yang lain mau nitip juga nggak?”
“Ih, nggak mau. Aku nanti mau datang langsung, aku mau peluk dan cium Dinda secara langsung” jawab Vita cepat
“Suami Dinda sudah kamu kasih tahu Mil?”
Mila menggeleng. Kelima sahabatnya diam, dan video call mendadak hening
“Nggak penting kan?” tanya Mila karena para sahabatnya diam mendengar ucapannya
Putri mendecak, terlihat dia menarik nafas panjang dengan menyandarkan tubuhnya
“Bagaimanapun kak Tomi itu suami Dinda, Mil. Dia berhak tahu tentang keadaan istrinya. Apalagi akhirnya Dinda sadar”
“Tapi kalian nggak lupa kan bagaimana awal Dinda bisa jadi begini?” nada suara Mila mulai meninggi
Kembali suasana hening. Mereka hanya saling tatap kearah layar hp masing-masing. Hanya mata mereka saja yang berkedip yang mengindikasikan jika mereka masih on dalam obrolan
“Putri benar Mil. Bagaimana jahatnya kak Tomi sama Dinda, status kak Tomi masih suaminya Dinda. Jadi memang kamu harus ngasih kabar baik ini sama kak Tomi” ucap Rohaya yang kadang-kadang tengil tapi apabila serius sering jadi panutan para sahabatnya karena sikap dewasanya
__ADS_1
“Selain kak Tomi, jangan lupa Naya kamu kasih tahu juga. Aku nggak bisa bayangkan bagaimana hancurnya hati anak gadis satu itu, ibunya koma, ayah sambungnya malah jahat sama mereka” keluh Lisa
Yang lain mengangguk setuju
“Aku malah nggak kefikiran sampai kesana. Malah kalian yang lebih dulu aku kasih tahu” jawab Mila dengan menahan tawa yang membuat para sahabatnya geleng-geleng kepala
“Lah, jadi Naya sama ibunya Dinda belum ada yang tahu?”
Mila menggeleng
“Kalian yang special. Karena di otak aku yang kepikiran sama aku itu Cuma ngasih tahu kalian. Karena kalian juga bagian penting untuk Dinda”
“Aaahhhhhhh…….” Jawab yang lain kompak dengan nada manja kearah Mila
“Sudah ah, kalian itu nggak mikir ya kalo aku tidur cuma berapa jam doing. Ini malah sudah kalian bangunkan”
“Iya maaf. Abisnya kalau bukan elu siapa lagi yang harus kami hubungin. Kan elu yang ngasih tahu di group”
Mila memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Nanda, kemudian dia menoleh kearah perawat yang masih tampak pulas, kemudian Mila berjalan kearah pintu dan keluar dari dalam ruang perawatan Dinda
“Yang mau kesini nanti, jangan lupa bawain gue makanan sehat dan buah ya. Gue laper”
Langsung kelima sahabatnya pada protes dengan ucapan Mila dan Mila hanya melambaikan tangannya tak peduli dengan protes para sahabatnya
“Dinda kan belum bisa tuh makan buah dan sebagainya. Jadi gue ajalah yang makannya. Kalian pelit banget sih sama sahabat sendiri”
“Yang sakit siapa, yang minta buah siapa” sungut Rohaya
“Iiihhhh….. awas lu!” geram Mila dengan langsung mematikan hp dan masuk ke dalam ruangan kerjanya
“Loh, mbak?” tanya Mila kaget begitu yang masuk adalah asisten rumah tangganya
Perempuan muda yang usianya tak jauh darinya itu tersenyum dan segera menutup pintu
“Mbak baca kopelan yang bapak letakkan di meja makan subuh tadi. Karena itulah mbak cepat-cepat beres-beres rumah dan kesini. Takut rumah sakit sudah mulai aktivitas, tapi ibu masih pakai baju semalam”
Mila tersenyum dan meraih kantong kresek yang diletakkan asisten rumah tangganya tersebut
“Ada sarapan juga bu. Mbak yakin ibu pasti belum sarapan. Sama ada teh hangat juga”
Mila segera membuka kresek tersebut dan langsung mengeluarkan sarapan yang dibawakan oleh asisten rumah tangganya itu, dan langsung meminum teh hangat dan membuka box sarapan, dan mbak asistennya langsung berpamitan begitu Mila selesai sarapan
Mila masuk kedalam kamar mandi yang ada di dalam ruangannya, dan segera mandi. Setelah itu dia dengan cepat berganti pakaian kemudian memakai jas dinas kerjanya. Baru setelah itu dia keluar dari dalam ruangannya. Di koridor menuju ruang ICU, Mila menempelkan hp ke telinganya
“Dinda sadar buk. Iya, dini hari tadi dia sadar, maaf jika aku baru ngabarin sekarang”
Tentulah keluarga besar Dinda langsung mengucapkan syukur tiada hentinya atas sadarnya Dinda dari koma panjangnya, bahkan Naya dan Arik yang telah berada di atas motor untuk berangkat kerja mengurungkan niatnya untuk sekolah
“Kami harus ke rumah sakit nek. Kami rindu sekali sama ibuk” ucap Naya yang sudah berlinangan air mata
Neneknya mengangguk, dan tanpa pikir panjang lagi, semuanya sudah menyiapkan motor mereka masing-masing
“Pakai mobil ibuk” ucap Naya
“Nggak ada yang bisa nyetir” jawab kakeknya
__ADS_1
Naya langsung menempelkan hp ke telinganya
“Yah ke rumah nenek sekarang. Ibuk sadar”
Adi yang mendapatkan telepon dari Naya langsung berdiri dan dengan cepat mengiyakan permintaan anaknya, tanpa berpikir apa yang akan terjadi ketika mantan mertuanya melihatnya. Mbak Sri dan sang suami yang melihat wajah Adi menegang langsung bertanya, dan begitu mendapatkan jawaban dari Adi, tangis mbak Sri langsung pecah
Adi segera berpamitan, dengan diantar oleh suami mbak Sri dia tiba di rumah mantan mertuanya.
“Kok ada dia?” tanya adik Dinda tak ramah ketika melihat Adi turun dari motor suami mbak Sri
“Nggak ada waktu berdebat om, kita harus ke rumah sakit sekarang. Nanti Naya jelaskan. Yang pasti, ayah yang bawa mobil ibu sekarang. Ayo Yah!” ucap Naya sambil menyerahkan kunci mobil
Kedua orang tua dan adiknya Dinda akhirnya tak membantah dan segera masuk kedalam mobil. Naya duduk di sebelah ayahnya. Wajahnya tegang tapi matanya memancarkan kebahagiaan
“Kamu tahu dari mana nak jika ibuk sudah sadar?” tanya Adi ketika di jalan
“Aunty Mila nelepon nenek”
Adi menganggukkan kepalanya. Dan melirik kearah mantan mertuanya melalui kaca spion. Sejak tadi mereka tidak ada yang bersuara walau Adi sudah mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan keduanya
“Cepet yah. Nanti keduluan sama Om Tomi….” Ucap Naya gelisah karena Adi menjalankan mobil dengan kecepatan sedang
“Ini jam pagi nak. Memang banyak yang pergi beraktifitas. Sabar ya….”
Naya menarik nafas panjang kemudian menyandarkan badannya ke sandaran kursi mobil dan fokus menatap ke depan. Dan Adi yang faham jika anaknya sangat antusias ingin bertemu dengan ibunya segera menuruti perintah anaknya. Kemudian dia segera menekan gas mobil yang membuat mobil tersebut melaju cukup kencang
Sepuluh menit kemudian, semuanya telah turun dan dengan tergesa Naya berlari masuk kedalam rumah sakit meninggalkan yang lain. Dengan wajah basah, dia menempelkan hp ke telinganya menelepon Mila
“Di lantai dua sayang, ruang anggrek 2”
Naya langsung memutus panggilan dan kembali berlari masuk menuju tangga. Yang lain mengikutinya dari belakang dengan berjalan tergopoh
Dengan nafas ngos-ngosan Naya akhirnya sampai juga di depan pintu ruang anggrek 2. Dengan cepat didorongnya pintu dan langsung menghambur ke ranjang tempat ibunya yang masih terlelap
Air mata Naya yang sejak tadi mengalir deras kian berhamburan tak terkendali ketika mendekap tubuh ibunya. Mila menarik nafas panjang melihat Naya yang memeluk tubuh ibunya sambil terisak. Kemudian pintu kembali di dorong dari luar. Ibu Dinda dan ayahnya Dinda langsung berjalan cepat kearah Naya yang menyingkir memberi kesempatan pada kakek neneknya untuk mendekap ibunya
“Alhamdulillah kamu sudah sadar sekarang nak…..” lirih ibunya Dinda dengan suara tak jelas karena hilang oleh isak tangisnya
Arik tak mau kalah, dia ikut mendekap ibunya dengan air mata yang juga mengalir deras. Berkali-kali diciuminya wajah ibunya yang masih terpejam tersebut
Adi yang masuk hanya berani berdiri menjauh dari tempat Dinda. Sedikitpun dia tak berani mendekat, dia hanya melihat dengan wajah mendung bagaimana kedua anaknya dan mantan mertuanya menangis ketika memeluk tubuh Dinda
“Ibuk kok masih kaya kemarin aunty. Aunty bilang ibuk sudah sadar” ucap Naya karena ibunya masih juga tidak membuka matanya
Ibunya Dinda menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Naya.
“Tunggulah. Sekitar jam sepuluh atau sebelas nanti, Dinda pasti bangun. Aunty sengaja memberi obat tidur pada infus nya agar ibu kamu bisa istirahat dan pulih lebih cepat”
Naya mengangguk, kemudian dia menarik kursi dan menggenggam erat tangan ibunya. Kemudian ayah ibunya Dinda menanyakan bagaimana kronologi anak mereka sadar. Kemudian tanpa basa basi Mila langsung menceritakan semuanya
Adi kembali harus menelan ludahnya mengetahui bagaimana Mila kembali menjadi garda terdepan untuk mantan istrinya tersebut. Dan kembali dia harus mengakui bagaimana care dan tidak perdulinya Mila dengan kesehatannya demi sahabatnya itu
Menunggu ibunya sadar akibat efek obat tidur membuat jantung Naya deg-degan. Telah tak terhitung bagaimana dia bertanya dengan nada khawatir kepada Mila karena ibunya tak kunjung sadar
“Sayang……..”
__ADS_1
Semua mata langsung tertuju kearah pintu ketika pintu terbuka dan muncul Tomi. Adi yang semula duduk bergabung dengan mantan mertuanya, segera mundur demi melihat Tomi masuk. Naya langsung memasang wajah datar ketika melihat Tomi yang masuk dan langsung menghambur memeluk ibunya