Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Yusuf Alkahfi


__ADS_3

Wajah kelima sahabatku yang tadi ceria ketika berteriak menyambut ku langsung berubah cemberut. Bahkan Rohaya langsung meneyeng keningku yang membuat kepalaku langsung mundur ke belakang


“Ya Alloh maaf, maksud aku bukan gitu, aku kaget aja ada kalian….” Ralat ku dengan nada menyesal karena aku tak menyangka jika kelima sahabatku akan tersinggung dengan ucapanku


“Kami itu masak di rumah kamu, tahu nggak?” sungut Vita yang mengambil alih tanganku yang sejak tadi di genggam Tomi


Sedangkan keluarga ku yang lain telah masuk kedalam rumah, tidak memperdulikan bagaimana kami di teras masih terlibat adu argumen


Aku nyengir kearah Vita yang memang pandai masak. Sedangkan yang lain ikut memonyongkan bibir mereka ke arahku


“Tahu nih bukannya terima kasih malah ngomong kaya gitu” balas Putri


Aku langsung menarik tangannya, dan memandangnya dengan wajah memelas. Putri masih memasang wajah masam yang membuatku menggoyang-goyangkan tangannya dan meminta maaf pada mereka


“Prank……” ucap mereka sambil ngakak yang membuatku menarik nafas lega dan ikut masuk bersama mereka


Ketika sampai di rumah, ternyata sudah terhidang hidangan besar di atas meja. Bahkan sepanjang meja penuh dengan aneka masakan


“Ya Alloh bestie, kalian pasti repot” ucapku memandang sayang pada mereka


“Sekali-sekali” jawab Lisa yang menarik sebuah kursi untukku


Sedangkan yang lain sudah memegangi piring masing-masing, tak terkecuali Pak Burlian dan kedua ibuku.


“Busui makannya harus banyak, biar asinya cepat keluar” ucap Vita memberikan piring yang sudah berisi nasi beserta teman-temannya ke arahku


“Nggak bahaya aku makan kaya gini?” tunjuk ku pada piring yang tadi diberikannya


“Ya ampun, ini sudah jaman modern bestie, masa kamu makannya sayur bening, mana ada gizinya. Nggak apa-apa kok kamu makan ikan. Ini ikannya aku panggang, nggak aku goreng" tambahnya lagi


Aku mengangguk dan menurut saja apa kata para sahabatku. Keluarga besar ku yang tengah makan, tak lupa menawari mereka untuk makan bersama, tetapi di tolak oleh mereka. Kata mereka, mereka tadi sudah makan lebih dulu


“Loh kak Tomi mana?” tanyaku ketika baru menyadari jika suamiku tidak ada di meja makan panjang ini


“Di kamar, nungguin anaknya sama Naya dan Arik” jawab ibuku


Aku ber O panjang dan melanjutkan makanku. Dan ketika selesai makan ternyata kelima sahabatku kembali dengan telaten membawaku berdiri dan membawaku masuk ke kamar dimana aku lihat Tomi sedang belajar menggendong anak kami


Dia menggendong anak kami ketika dia mengadzankan tadi pagi, lebih dari itu dia hanya duduk di dekatku. Naya dan Arik tampak sangat antusias dengan tidak jauh duduk dari papa mereka. Keduanya sejak tadi terus saja menoel pipi gembul adiknya

__ADS_1


“Namanya siapa pa?” tanya Arik


Aku dan Tomi langsung salin toleh, dan sama-sama nyengir


“Belum nyiapin nama?” tanya para sahabatku yang kami jawab dengan menggeleng


“Ya ampun, kak Tomi, inikan anak pertama bagi kakak, masa sih kakak nggak nyiapin nama untuk anaknya?” tanya para sahabatku heran bercampur bingung


Tomi masih nyengir sedangkan aku ikut nyengir pula. Mulailah kelima sahabatku berebutan membuka hp mereka masing-masing dan mulai googling mencari nama yang cocok untuk anak cowok


Aku hanya bisa menelan ludahku saja melihat kelakuan mereka. Karena mereka terlalu berisik, anak kami yang ada di dalam gendongan Tomi menangis. Suara tangisnya yang nyaring memantik kedua ibuku dan istri pak Burlian masuk ke dalam kamar


Ibu mertuaku langsung mengambil anak kami dari gendongan Tomi dan membawanya keluar


“Maaf ya anak-anak, cucu ibu, ibu bawa keluar dulu. Kalau kalian mau melanjutkan obrolan heboh kalian monggo” ucap ibu mertuaku yang membuat kelima sahabatku langsung nyengir tak enak hati


“Kita bukan lagi ngobrol kok buk, kita lagi mencari nama yang bagus untuk anaknya Kak Tomi sama Dinda” jawab Vita


Kedua ibuku mengangguk, tapi tetap saja pergi meninggalkan kami


“Sudah jangan diambil hati, nenek-nenek memang begitu kan….” Ucap Tomi menenangkan kelima sahabatku yang kembali mulai berebutan menyebutkan nama usulan mereka


“Yusuf Alkahfi” ucap Tomi yang membuat kami semua menoleh cepat kearahnya


Kemudian aku menoleh kearah para sahabatku yang langsung terdiam ketika mendengar jawaban Tomi. Kemudian kelimanya mengangguk setuju


“Bagus kok Din. Yusuf itu nabi yang tertampan. Sedangkan Alkahfi itu kalau aku nggak salah adalah rombongan Ashabul Kahfi, iya kan kak?” tanya Lisa yang dijawab Tomi dengan anggukan kepala


“Kalau begitu, kakak keluar dulu sayang, kakak takut nanti kak Burlian yang ambil alih ngasih nama anak kita” ucap Tomi dengan cepat turun dari atas ranjang


Aku hanya bisa terkekeh melihat langkah terburu nya, dan kembali menoleh kearah kelima sahabatku yang tahu-tahu meminta ku berdiri


“Hei kalian mau ngapain?” tanyaku ketika Putri mengangkat tanganku


“Diem, kita mau mandiin lu!!” bentak Rohaya karena aku terus menghindari tangannya yang hendak menarik bajuku


“What??” jawabku kaget


“Sudah, air hangat sudah kita siapin. Bahkan bukan air hangat biasa. Aku sampai mengambil daun-daun rempah untuk mandi kamu” lanjut Rohaya lagi yang sekarang melepas kancing baju dasterku

__ADS_1


“Steril nggak itu?” tanyaku bercanda yang dijawabnya dengan kembali meneyeng kepalaku


Aku tak mengira jika mereka berlima akan sebegitu nya denganku. Bahkan Vita tanpa rasa jijik,melepas pembalutku dan membuangnya ke kantong kresek hitam. Padahal aku sudah memaksa mereka tidak usah segitunya dengan ku. Tapi mereka tetap ngeyel, dan bersikeras untuk memandikanku


Dengan kain yang dililitkan di tubuhku sebagai basahan, aku dibawa oleh mereka ke dalam kamar mandi yang memang ada di dalam kamar mandi ini. Memang benar yang dikatakan oleh Rohaya tadi, bau air hangat yang akan aku pakai untuk mandi sangat harum khas sereh


Aku duduk di atas kursi yang mereka siapkan, dan dengan telaten mereka menyiramkan air ke seluruh tubuhku. Bahkan mereka tak sungkan menyabuni dan memakaikan shampoo ke kepalaku. Saat aku akan berdiri, aku rasakan ada gumpalan darah yang cukup besar jatuh dari jalan lahirku


Aku kaget melihat gumpalan besar darah tersebut. Saat aku akan memungutnya, tubuhku di tahan oleh Vita, dan kembali dengan rasa tanpa jijik Vita memungutnya dan membuangnya ke kloset. Lalu menyiram kloset hingga bersih


“Itu darah biasa, jangan khawatir” ucapnya karena aku sejak tadi memandanginya


“Aku tahu itu gumpalan darah biasa, yang tidak biasa itu adalah perlakuan kamu ke aku” ucapku dengan mata yang tiba-tiba terasa panas


“Ya Ampun biasa aja kali Din. Kita itu bestie, aku ini nggak ada nasib saja jadi dokter, coba kalau aku jadi dokter, aku tentu sama kaya Mila, nggak jijik an” jawabnya sambil mengeringkan wajahku dengan handuk


Sahabatku yang lain mengangguk setuju, dan kembali membawaku masuk ke dalam kamar. Aku didudukkan oleh mereka di depan meja rias yang ada di dalam kamar Naya, kemudian tanpa ragu mereka menyiapkan seluruh pakaianku


“Biar aku saja” ucapku menahan tangan Vita yang sedang melepas pembalut


Vita tersenyum dan mengusap kepalaku. Sahabatku yang lain membalurkan minyak kayu putih ke tubuhku ketika aku sudah selesai memasang cd.


Dan kembali kami heboh, ketika kelimanya memakaikan stagen ke perutku. Aku sampai terpingkal-pingkal karena mereka bertabrakan ketika memutar tali stagen, dan ketika telah selesai barulah kami berlima keluar dari dalam kamar. Bergabung dengan keluarga besar ku yang duduk di ruang keluarga yang kursinya sudah disingkirkan agak kebelakang agar semuanya bisa duduk di lantai


“Sini buk…..” ucapku kearah ibuku karena sejak dari rumah sakit aku belum sama sekali menggendong anakku.


Ibuku memberikan anakku, dan dengan sayang aku langsung mendekapnya


“Jadi adeknya kita panggil apa mbak?” tanya adik iparku


Aku melirik kearah Tomi


“Yusuf” jawab Tomi


Aku lihat pak Burlian mendecak kesal yang membuat yang lainnya terkekeh


“Kakak ku sayang, Yusuf kan bagus artinya” ucap Tomi sambil merengkuh bahu pak Burlian


“Iya, tapi itu artinya usul kakak nggak kamu terima”

__ADS_1


Tomi terkekeh dan kembali merengkuh bahu saudara sepupunya itu


“Jadi fix namanya Yusuf Alkahfi, kak?” tanya adik-adik Tomi yang dijawab aku dan Tomi dengan anggukan kepala


__ADS_2