Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Tragedi


__ADS_3

Mbak Sri hanya nyengir kearah ibu mertuaku, sedangkan ibu mertuaku segera berlalu dari hadapan kami, berjalan ke depan. Dan aku kembali merebahkan kepalaku mendapati jika semuanya semakin meruncing.


Dan Yusuf yang berada dalam dekapanku tiba-tiba merengek. Dan aku segera membetulkan posisi kepalaku, dan berusaha untuk tenang karena aku tak ingin kejadian dia nangis kejer seperti semalam terulang kembali karena suasana hatiku yang buruk


“Sabar buk, jangan terpancing emosi”


Aku hanya tersenyum kearah mbak Sri, kemudian aku kembali berusaha untuk menenangkan hatiku dengan menciumi Yusuf. Mbak Sri hanya memperhatikan sampai akhirnya dia menoleh karena terdengar langkah kaki dari ruang lain


“Buk….” Naya memanggilku


Aku menoleh dan menatap kearah wajahnya yang masam. Naya duduk di kursi yang ada di sampingku, tapi wajahnya masih ditekuk


“Kita pulang ke rumah kita yok buk”ucapnya masih dengan nada merajuk dan wajah yang kian tak enak dilihat


“Naya!!” sentak ku membentak mendengar ucapannya


“Pulang saja kalau mau pulang ke rumah kalian. Jangan pikir ya eyang akan pergi dari rumah ini. Rumah ini tuh dibeliin oleh anak eyang. Bukan oleh ayah kalian, jadi kalau kalian mau angkat kaki dari sini, terserah”


Tessss……


Air mataku langsung mengalir tanpa aku sadari ketika ibu mertuaku berkata demikian. Dan Naya yang mendengar ucapan ibu mertuaku langsung menoleh kebelakang dan dia telah siap berdiri, tapi dengan cepat tangannya aku tarik, kemudian aku menggeleng kearahnya


“Naya!!!. Ibuk nggak pernah ngajarin kamu kurang ajar. Minta maaf sama eyang!!!”


“Nggak mau buk. Aku nggak salah”


Aku kembali harus menyandarkan kepalaku karena Naya pergi masuk kedalam kamarnya dan dengan kasar dia membanting pintu kamar


“Tolonglah buk jangan memperkeruh suasana. Jika ibuk memang curiga aku mempunyai hubungan dengan mas Adi, oke ibuk bisa pegang hp aku. Ibuk bisa ikut aku kemanapun aku pergi. Tapi tolong jangan nuduh, itu fitnah namanya buk” sambil berkata seperti itu aku telah terisak


Mbak Sri yang masih duduk di dekatku segera mendekat dan mengusap-usap punggung ku. Seakan-akan dia menyabarkanku. Dan Yusuf makin bergerak gelisah sehingga aku harus berusaha tenang dan membujuknya


“Sri, kalau kamu mau pulang, sana pulang. Biasanya kamu begitu Dinda pulang kamu juga pulang. Lah ini kenapa masih disini, sengaja cari informasi tentang keributan kami biar bisa kamu sebarkan diluar?”


Mbak Sri yang sedang mengelus punggungku seketika menoleh kearah ibu mertuaku dan menggelengkan kepalanya.


“Sudahlah mbak, bener yang ibuk bilang. Mbak pulang aja. Besok pagi kesini lagi” ucapku sambil mengusap lengannya


Mbak Sri mengangguk dan membungkuk mencium wajah Yusuf, kemudian barulah dia berpamitan. Ibu mertuaku sedikitpun tidak menggubris ketika mbak Sri berpamitan pada beliau, beliau malah duduk di depanku dengan wajah masam


“Aku masuk dulu buk, mau mandi” alasanku sambil berdiri meninggalkan beliau yang sekarang duduk sendirian


Begitu sampai kamar aku langsung meletakkan Yusuf dan aku langsung menutup wajahku, menangis sejadi-jadinya


“Aku sadar buk rumah ini memang bukan rumah aku. Rumah ini hanyalah mahar yang diberikan Tomi tapi apa ya harus ibuk bilang kaya gitu?” lirihku dalam tangis


Ketika aku dengar suara mobil Tomi di luar, dengan cepat aku menghapus air mata ku dan buru-buru masuk kedalam kamar mandi

__ADS_1


Dan ketika aku keluar dari dalam kamar mandi, Tomi sudah memangku Yusuf dan menoleh ke arahku sambil tersenyum. Aku terpaksa memasang senyum kearahnya, berusaha menutupi hatiku yang terluka. Dan ketika makan malam, seperti biasa aku menyiapkan meja makan dan memanggil seluruh keluarga untuk ke belakang


“Aku nggak mau makan, aku masih kenyang” alasan Naya ketika aku membujuknya untuk kelaur dari dalam kamar


Akhirnya karena Naya tetap bersikeras jika dia tidak mau makan, aku akhirnya keluar dari kamarnya dan turun kebawah


Aku kembali memasang senyum getir saat Tomi dan ibu mertuaku menatap ke arahku yang berjalan sendirian


“Naya mana sayang? Kok nggak turun?” tanya Tomi ketika aku menarik kursi


“Masih kenyang katanya. Biarkan saja kak, toh kalau dia lapar, dia bisa makan sendiri” ucapku sambil mengisi piring suamiku


Kulihat ibu mertuaku melengos ketika aku berkata demikian. Tapi aku kembali berusaha untuk tenang tidak ingin terpancing dengan tingkahnya


“Aku sudah buk….” ucap Arik dengan menolak piringnya.


Memang piringnya telah kosong, karena dia tadi mengisi sedikit sekali dengan nasi. Dan aku meyakini jika suasana hati Arik juga tidak baik-baik saja


“Bagus ya, tadi Naya sekarang Arik” sela ibu mertuaku ketika Arik pergi dari meja makan


Aku masih berusaha tenang dan terus saja menyendok nasi kedalam mulutku, sementara Tomi menoleh kearah ibunya yang juga santai makan


“Memang Naya tadi kenapa buk?”


Aku mengambil air putih dan menelannya sedikit demi mendengar pertanyaan Tomi pada ibunya.


Tomi ganti menoleh ke arahku, dan aku menggelengkan kepalaku


“Nggak ada ah. Hanya salah faham dikit” jawabku masih sambil berusaha untuk tersenyum


“Tumben kamu senyum, nggak nangis kaya tadi. Kenapa? Takut dengan ucapan ibuk tadi?”


Aku kembali mengambil gelas air putih dan meminum airnya, kemudian aku tersenyum kaku kearah ibu mertuaku


“Aku sadar buk, ini memang rumah Kak Tomi. Tapi ibuk jangan lupa, kalau rumah ini tuh atas nama aku karena ini sudah kak Tomi berikan sebagai mahar atas pernikahan kami. Jadi walau ibuk bilang rumah ini semua itu uangnya kak Tomi, memang benar. Nggak salah. Tapi rumah ini tuh rumah aku”


Kulihat Tomi meletakkan sendoknya, dan memandang tajam ke arahku


“Jadi maksud kamu apa Din ngomong kaya gitu? Kamu ngusir ibuk aku?”


“Astaghfirullah kak….. kok kakak malah ngomong kaya gitu sih. Nggak kak, aku nggak ngusir ibuk. Aku cuma menjelaskan. Memang rumah ini dibeli pakai uang kamu, bukan uang aku. Tapi ini kan rumah aku juga karena ini sebagai mahar aku. Jadi aku tersinggung dengan omongan ibuk tadi sore. Kakak nggak dengar yang ibuk bilang” jawabku kencang


“Cukup ya Din. Kamu semakin melunjak sejak Adi nelepon kamu kemarin. Dan sekarang kamu telah berani ngomong kaya gitu depan ibuk aku. Aku sadar Din, ibuk aku memang bukan ibuk kamu, makanya kamu bisa ngomong kaya gitu, tapi asal kamu tahu, aku menyayangi ibuk jauh dari apapun di dunia ini. Termasuk kamu. Seribu wanita bisa aku cari di dunia ini, tapi ibuk aku cuma satu ini, dan dia tidak akan pernah tergantikan”


Mulutku ternganga, aku menggelengkan kepalaku tak percaya dengan ucapan suamiku. Air mataku telah deras mengalir, dan dengan cepat aku berlari meninggalkan dapur, berlari masuk kedalam kamar kami dimana Yusuf kembali menangis ketika aku masuk


“Kita pulang yok buk, kita masih punya rumah. Memang rumah kita tidak sebagus rumah papa. Tapi di rumah kita, kita jauh lebih bahagia”

__ADS_1


Aku menoleh kearah Arik yang berdiri di depan pintu dengan wajah basah. Dengan cepat aku berlari kearahnya dan mendekapnya dengan erat


“Jangan nak, kita yang sabar ya…..” lirihku sambil menciumi puncak kepalanya sambil tersedu


Sementara Yusuf kian menangis kencang yang membuatku akhirnya melepaskan dekapanku pada Arik dan terburu mengangkat tubuh Yusuf


“Ahhhhh…..” jeritku tertahan ketika perutku tiba-tiba terasa sakit


“Ibukkkkk…..” Arik berteriak melihatku terbungkuk dan nyaris jatuh dengan Yusuf yang ada di dalam gendonganku


“Ibuubbukkk…..” kembali dia berteriak


Terdengar langkah kaki di luar, dan tak lama Tomi masuk. Menyusul Naya. Arik yang berusaha sekuat tenaga menahan tubuhku agar tidak jatuh, dengan cepat dibantu Naya


“Ibuk, ibuk kenapa buk?” tanya Naya yang sudah menangis


Aku memejamkan mataku menahan sakit yang sangat hebat pada perutku. Sementara Tomi dengan cepat mengambil Yusuf dan meletakkan Yusuf yang masih saja menangis kencang


“Ya Alloh… astaghfirullah…..” gumamku sambil menahan perutku.


“Ya Alloh……” aku berteriak karena sakitnya kian luar biasa


Kedua anakku makin panik dan mereka sudah semakin menangis melihatku yang duduk dengan sedikit membungkuk karena menahan sakit pada perutku


“Telpon aunty Mila nak…..” lirihku


Naya dengan cepat mengambil hp ku yang terletak di atas meja. Sementara Tomi yang kelihatan panik berusaha memegangi bahuku


“Ya Alloh……” kembali aku berteriak


“Ibukkkk…..” Arik berteriak kencang ketika aku jatuh kebelakang. Nyaris menimpa Yusuf yang berbaring di belakangku


“Ibuuukkk……” Naya juga berteriak


“Dinda…..” Tomi ikut berteriak


Aku hanya mendengar suara mereka, tanpa bisa membuka mataku. Sementara Naya yang saat itu tengah menghubungi Mila tidak menyadari jika panggilannya sudah tersambung. Dan Mila mendengar jelas suara teriakan di dalam hp, terlebih ketika dia mendengar suara Naya dan Arik memanggil ibu mereka


“Din? Dinda? Kamu kenapa Din??!” teriak Mila dengan wajah tegang


Pikiran Mila sudah tak karuan, dia yakin telah terjadi hal buruk pada sahabatnya itu. Maka dengan cepat dia keluar dari dalam rumahnya, dan bergegas ke garasi. Mengeluarkan mobil dan dengan ngebut dia meluncur ke jalan raya


Teriakan anak kembarnya tidak digubrisnya, dia terus saja keluar dari halaman rumahnya. Dan ketika ditengah jalas barulah dia menghubungi suaminya, dan mengatakan jika saat ini dia sedang diperjalanan menuju rumah Dinda


“Ini urgent pa. Papa cepatlah pulang. Jagain anak-anak”


Julistiar suaminya Mila hanya mengiyakan ucapan istrinya dan meminta pada istrinya itu untuk hati-hati di jalan

__ADS_1


“Kamu kenapa lagi sih Din….” Lirih Mila dengan panik


__ADS_2