
Wajah Naya masih muram, dan aku kembali menasehatinya untuk melupakan kejadian yang telah lewat. Terlebih tentang peristiwa bagaimana dulu kami ditinggal ayahnya, dan hanya hidup bertiga. Apalagi setelah kasus perceraian dan aku ditusuk Adi, aku berusaha untuk tidak mengungkitnya, aku yakin Naya masih sangat mengingat kejadian itu.
“Naya benci sama ayah” lirihnya sambil kembali mengusap kasar wajahnya
Aku tersenyum kaku kemudian membelai rambut Naya.
“Jangan membenci ayah kalian, walau dulu dia pernah membuat kita kecewa, tapi kita pernah bahagia sama dia. Ibuk yakin Naya pasti ingat bagaimana dulu ayah baik sama kita, iya kan?”
Naya diam, wajahnya menengadah, seolah menghindari tatapanku dan aku tahu dia lakukan itu karena dia memang menghindari ucapan ku
“Jangan hancurkan adab kamu sebagai anak baik sayang, ya?. Ibuk tahu kamu tadi sangat emosi karena itulah kamu menampar wanita tadi. Tapi kamu lihat kan sayang, bagaimana tadi dia menyapa dan tersenyum sama kamu. Bahkan kamu tadi juga melihat bagaimana tangannya terulur kearah kamu, kan?”
Naya masih diam, wajahnya berubah ditekuk, dan dia melirik tajam ke arahku.
“Aku nggak mau bersentuhan dengan pelakor itu buk. Kenapa pula tadi papa sama orang pegangin tangan aku. Padahal aku pengen banget mukul perempuan tadi berkali-kali”
Aku kembali menarik nafas panjang, tapi aku tak putus asa, aku terus menasehati Naya sampai akhirnya dia menganggukkan kepalanya
“Ya sudah, ibuk nggak bakal maksa untuk Naya melupakan malam ini juga. Tapi ibuk berharap jika kamu membuang semua kebencian di dalam hati kamu. Hidup jadi lebih tenang nak tanpa dendam, yakinlah sama ucapan ibuk”
Kembali Naya mengangguk, dan dia bergerak memelukku. Aku mengusap punggungnya dengan sayang kemudian aku mengecup pipinya, memegang bahunya dengan kuat, memberinya semangat
Setelah itu barulah aku keluar dari dalam kamar Naya dan turun ke bawah, dimana ibu mertua dan suamiku tampak duduk di ruang tamu, tanpa Arik. Mungkin sekarang Arik sudah masuk kedalam kamarnya, karena memang sudah malam
“Bagaimana?” tanya suamiku begitu aku duduk
Aku menarik nafas panjang kemudian menceritakan bagaimana Naya masih kesal dan marah pada ayahnya. Saat aku menyebut nama mantan suamiku, aku melihat bagaimana reaksi Tomi. Kulihat ada raut tegang di wajahnya. Aku tak tahu apa dia cemburu atau marah, entahlah, ini akan aku tanyakan ketika kami di kamar nanti
“Tapi aku sudah mencoba menasehati Naya. Dan yang paling membuat aku kaget itu ternyata Naya sekarang ikut taekwondo”
“Serius kamu sayang?”
Aku mengangguk kearah suamiku yang juga kaget
“Katanya karena dia terinspirasi dari Mila” jawabku sambil menepuk keningku
“Apa ini rekomendasi dari Mila?” tanya Tomi lagi
Aku menggeleng
“Ya sudahlah, nantilah itu kalian bahas. Yang penting sekarang Naya sudah tenang, dan mulai hari ini kalian harus lebih memperhatikan dia. Dia baru menginjak remaja, masih labil. Ibu nggak mau cucu ibu terjerumus hal-hal aneh”
Aku mengangguk cepat kearah ibu mertuaku
“Ibu mau istirahat. Kalau kalian mau melanjutkan obrolan kalian silahkan. Tapi Yusuf tadi sendirian”
Aku langsung menoleh kearah Tomi dan Tomi ikut berdiri, kemudian mengulurkan tangan ke arahku. Jadilah kami masuk ke kamar dan merajut mimpi
Jam istirahat kantor aku manfaatkan untuk bersantai. Entah kenapa hari ini aku tidak selera dengan makanan yang dikirimkan oleh Tomi. Oleh karena itulah aku berinisiatif untuk keluar
__ADS_1
Tepat di seberang kantor kami ada warung makan dan juga ada tempat jajan yang biasanya sering dijadikan tempat oleh sahabatku menungguku jika mereka ada perlu sama aku
Aku segera masuk, dan langsung melongok kan kepalaku ke jajanan pasar yang tertata rapih di dalam wadah segi empat. Aku memilih beberapa, kemudian aku berjalan kearah yang punya yang menyapaku dengan ramah
“Buk Dinda mau bakso?” tawarnya sambil membuka penutup kuah sehingga aroma kuahnya langsung menusuk hidungku
“Boleh, seperti biasa bu, yang pedas” ucapku sambil tersenyum
Kemudian aku memilih duduk lesehan, dan membelakangi arah masuk. Aku segera mencomot kue yang tadi aku beli, lalu mulai asyik makan sambil menunggu bakso pesananku jadi
“Dinda…..”
Aku menoleh cepat karena aku mengenali suara yang memanggilku
“Yesa?” jawabku tak yakin pada Yesa yang berjalan ke arahku dan langsung duduk di depanku tanpa permisi
“Kamu ngapain ada disini?” tanyaku lagi
Yesa yang telah duduk, segera meletakkan tas yang dibawanya ke atas meja, menyibakkan rambutnya kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja
“Aku sengaja nungguin kamu” jawabnya
Aku segera mengangkat kepalaku dan tersenyum pada pelayan yang meletakkan semangkuk bakso di depanku
“Kamu mau? Kalau mau aku bisa pesankan satu lagi” ucapku sambil mengaduk bakso yang telah aku beri kecap dan saos
Aku ikut tersenyum kemudian menyuapkan bakso ke mulutku. Sambil makan aku menatap kearah Yesa yang masih serius menatap ke arahku
“Aku minta maaf soal semalam. Aku harap kamu mengerti perasaan anakku” lirihku
Yesa kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya
“Aku sadar kok Din. Aku tahu perasaan anak kamu. Tentulah dia sangat membenciku. Benar yang dikatakan anak kamu semalam, aku telah jahat sama kalian, telah merebut dan menghancurkan kebahagiaan kalian. Tapi disini aku juga mau berterima kasih karena kamu memilih memarahi anakmu ketimbang mempermalukan ku. Kamu bisa saja loh Din mempermalukan aku semalam. Tapi itu tidak kamu lakukan, dan aku sangat berterima kasih”
Aku tersenyum kaku mendengar ucapan Yesa
“Aku melakukan itu karena aku sayang sama anak-anakku Yes. Aku tidak ingin Naya semakin brutal. Dan yang paling penting aku menjaga nama baikku dan nama baik suamiku”
Yesa tersenyum mendengar ucapanku. Kemudian kami sama-sama diam
“Anak kamu mana? Kok kamu masih di kota ini?” tanyaku
Yesa menarik nafas panjang, kulihat matanya berkaca-kaca
“Aku memberikan anakku sama orang Din. Sehari setelah aku ke kantormu dulu yang memintamu untuk merawat anakku itu”
Aku langsung meletakkan sendok di mangkuk dan menatap serius ke wajah Yesa yang telah basah
“Aku benar-benar bingung Din harus menghidupi anakku dengan cara apa. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya aku memberikannya pada orang yang tidak mempunyai anak”
__ADS_1
“Gila kamu Yes” gumamku sambi menggelengkan kepala tak percaya
“Aku bingung Din. Kalau anak ku ikut sama aku, dia akan jadi apa. Dulu saja sebelum menemui kamu aku harus memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa sampai sini. Waktu itu di tanganku cuma ada uang lima puluh ribu, berbekal uang itulah aku kembali lagi kekota asalku, dan menemui orang yang bersedia merawat anakku”
Aku terdiam, berbagai pikiran berkelebat di kepalaku. Antara mau mempercayai perkataannya dan tidak. Tapi aku lihat kesedihan yang mendalam di mata Yesa saat dia berkata, dan itu membuat sudut hatiku menjadi iba padanya
“Terus setelah itu?” tanyaku ingin tahu
Yesa menarik nafas panjang, diusapnya wajahnya dengan kasar, kemudian dia kembali menatap wajahku
“Aku kembali lagi keduniaku dulu. Dunia yang sudah lama aku tinggalkan setelah aku bertemu dengan Mas Adi”
“Maksud kamu?”
“Aku kembali menjadi wanita malam Din….” lirih Yesa
Aku kian terhenyak, tak kusangka jika Yesa adalah perempuan malam. Aku benar-benar tidak menyangka jika wanita yang dicintai oleh mas Adi sehingga dia berpaling dariku adalah seorang wanita malam. Kupikir Yesa adalah wanita biasa, yaaaa walaupun tidak ada istilahnya pelakor itu wanita biasa, karena kebanyakan pelakor adalah wanita nakal. Tapi aku tidak menyangka jika mas Adi mainnya sama wanita malam
“Hanya dengan jalan inilah aku bisa hidup Din” sambung Yesa dengan lirih
Seleraku untuk menghabiskan bakso di hadapanku sudah hilang. Berganti dengan iba melihat Yesa yang kembali beruraian air mata
“Terus suami kamu mana?. Apa mas Adi sudah keluar dari penjara?” tanyaku ragu. Karena memang aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana kabar lelaki itu setelah dulu aku tidak mau melihatnya di rumah sakit
Yesa mengangkat bahunya
“Terakhir aku menemuinya aku memberikan kertas talak yang harus dia tanda tangani. Memang kami menikah secara siri. Jadi mudah untuk cerainya. Dan setelah itu aku tidak tahu lagi bagaimana kabar dia. Ada aku mendengar kabar dari pak Bara jika dia sudah keluar dari penjara. Tapi sekalipun kami belum pernah bertemu”
“Kamu masih kontekan sama pak Bara?” tanyaku ragu
Yesa mengangguk, dan tersenyum getir
“Pak Bara tahu latar belakangku Din. Karena itulah aku tidak bisa berkutik ketika dia ke rumah kami dulu”
“Apa…..?” tanyaku menggantung
Dan kembaki Yesa tersenyum
“Aku jualan Din. Siapapun yang bersedia membayarku maka aku tidak memperdulikan dia siapa. Ya termasuk pak Bara juga” jawab Yesa lugas yang mampu membuatku menelan ludah
“Oh iya Din, aku kesini itu sengaja mau meminta maaf sama kamu. Maafin aku ya Din karena telah jahat dan menghancurkan kebahagiaan kamu” kembali Yesa bersuara dengan lirih. Dan kembali matanya berkaca-kaca
Aku menyeruput es yang ada di depanku, kemudian menatap dalam mata Yesa
“Jika kamu mengucapkan permintaan maaf sama aku dulu, ketika aku masih terpuruk dan sakit hati, tentulah maafmu ini kuanggap penghinaan. Tapi karena kamu menemuiku dan meminta maaf padaku dalam keadaan aku yang bahagia dan baik-baik saja, tentulah aku memaafkannya. Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kamu meminta maaf padaku Yes. Aku telah melupakan semua kejadian buruk dulu. Dan aku sudah mengikhlaskan semuanya” jawabku sambil tersenyum dan menggenggam tangannya
Tanpa kuduga, tangis Yesa langsung pecah, dan dia menangis sesenggukan. Hingga aku terpaksa menoleh ke kana kiri kearah orang-orang yang sedang makan, yang memandang heran kearah kami berdua
“Sudah jangan nangis, malu….” Lirihku sambil menepuk-nepuk tangannya
__ADS_1