
“Anda tunggu di luar!” ucap sang dokter menghentikan langkah Tomi yang sudah siap masuk kedalam ruang operasi
Kembali Tomi beserta dua anak tirinya terduduk lemah di depan ruang operasi. Naya dan Arik yang sejak tadi menangis hanya bisa saling rangkul. Dan Naya dengan sisa kekuatannya, hanya bisa mengelus kepala adiknya
“Arik jangan terus nangis terus dek, ibuk kita akan baik-baik saja…..” lirih Naya sambil berurai air mata
“Ibuk tidak akan mati kan kak?” tanya Arik yang membuat tangis keduanya kembali pecah
Tomi mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan Naya dan Arik. Dan dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan tangisan kedua anak tirinya
Sementara Yusuf yang tampaknya sudah kelelahan karena sejak tadi memangis, sekarang sudah tampak terlelap walau sesekali masih terdengar suara rengekan dari bibir kecilnya. Naya yang masih duduk di depan ruang operasi, tiba-tiba teringat dengan Yusuf sehingga dia bangkit dari duduknya dan berkata pada Arik jika dia akan mengambil Yusuf, dia yakin ibunya akan mendengar jika ada mereka di luar sana
“Mau kamu bawa kemana Yusuf?” tanya ibunya Tomi ketika Naya meminta izin padanya untuk membawa Yusuf masuk
“Ibuk aku di dalam lagi di operasi, kami tidak tahu ibuk akan selamat atau tidak. Tapi aku berkeyakinan jika ada kami di sana , ibuk akan merasa jika kami ada untuknya” jawab Naya lirih sambil menghapus kasar wajahnya
Wajah ibunya Tomi tampak kaget dan dia tidak menolak sedikitpun ketika tubuh Yusuf yang ada di dalam gendongannya diambil Naya. Setelah Yusuf berada di dalam dekapannya, masih dengan berurai air mata, Naya menciumi wajah adiknya
“Doakan ibuk semoga selamat ya dek……” lirihnya kemudian kembali terisak
Tangis Naya semakin kencang ketika dia kembali menciumi wajah Yusuf, sehingga membuat ibunya Tomi membawanya duduk di kursi. Dan Naya kembali menangis kencang ketika dia sudah duduk
“Kita akan jadi anak piatu jika ibuk mati dek…..” isaknya
Ibunya Tomi bergeming, hanya bisa menelan ludahnya dan menoleh dengan wajah sedih kearah Naya yang terus menangis sambil mendekap adiknya
“Kita lihat ibuk ya dek, kakak yakin ibuk bakal dengar doa kita….” lirih Naya lagi sambil berdiri setelah dia menarik nafas panjang
Ibunya Tomi hanya bisa menarik nafas dalam melihat Naya yang berjalan masuk kedalam rumah sakit sambil menggendong Yusuf. Tomi segera menoleh ketika didengarnya suara gerak langkah kaki menuju tempatnya duduk sekarang
Dan dia mengusap wajahnya ketika dilihatnya Naya berjalan sambil menggendong Yusuf
“Sini nak, duduk sini” ucap Tomi menepuk sebuah bangku yang ada di sebelahnya, dimana di sebelah kirinya telah ada Arik yang duduk
Naya tidak menjawab ucapan Tomi, dia berjalan melewati papa tirinya tersebut, dan duduk di sebelah Arik. Kembali keduanya saling rangkul, Arik segera meletakkan kepalanya di pundak Naya dan sebelah tangannya digunakannya untuk mengelus kepala Yusuf
“Kita doakan ibuk ya dek…..” lirih Arik sedih
Naya meletakkan pipinya di atas kepala Arik, kemudian kembali ada air mata mengalir di pipinya. Yusuf terjaga, tubuhnya bergerak sebentar sehingga membuat Naya sigap dengan menggerakkan kedua pahanya agar adiknya tersebut kembali terlelap
__ADS_1
Anak kecil tersabut kembali merengek sehingga membuat Tomi akhirnya bangkit dari duduknya dan berniat mengambil Yusuf dari dekapan Naya
“Nggak usah, adik aku biar aku yang jaga” jawab Naya ketus sambil menepis tangan Arif yang sudah siap mengambil Yusuf
Rengekan Yusuf sudah berubah menjadi tangisan walaupun tidak kencang, dan Arik kembali mengelus kepala adiknya tersebut
“Jangan nangis dek, kita harus berdoa buat ibuk. Semoga Ibuk kita bisa selamat” lirih Arik sambil menghapus air matanya yang kembali mengalir
Tomi menarik nafas panjang, kemudian dia memilih mundur dan duduk kembali di tempatnya. Membiarkan ketiga anaknya menangis. Sementara ibunya, yang sejak tadi berada di luar rumah sakit, perlahan masuk dan mencari ruang operasi sesuai petunjuk yang tadi diberitahu oleh perawat yang dia temui
Dan kembali dia hanya bisa menarik nafas dalam ketika dilihatnya Tomi beserta tiga orang cucunya duduk termenung di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi
Sementara di ruang operasi, dokter yang menangani operasi Dinda selain Dinda dan dokter kandungan, ada juga dokter yang lainnya. Sehingga ada tiga orang dokter yang menanganinya saat ini
Sepanjang melakukan operasi pada Dinda, Mila begitu emosional. Sehingga beberapa kali dia harus ditenangkan oleh perawat yang berdiri di dekatnya. Bahkan dua orang dokter yang saat ini ada bersamanya telah memintanya untuk istirahat dan duduk saja di kursi yang telah disediakan di ruangan ini
Tapi Mila menolak, walau dengan beberapa menyeka air matanya, dia terus membantu kedua rekannya, yang saat ini mengoperasi Dinda dan mengeluarkan janin yang ada di dalam perut Dinda
“Ya Alloh…..” kembali Mila harus mundur dari meja operasi ketika akhirnya janin yang ada di dalam perut Dinda berhasil diangkat oleh dokter
Tubuh Mila setengah limbung ketika dokter meletakkan janin yang masih sangat kecil itu ke sebuah wadah yang disiapkan oleh perawat. Tangis Mila kembali pecah, sampai bahunya berguncang dan wajahnya tertunduk dalam ketika dia menangis
Perawat yang ada di ruangan tersebut kembali mendekati Mila dan memberikan tisu pada Mila agar dokter cantik yang terkenal bar-bar itu menghapus air matanya
“Detak jantung pasien kian lemah…..” ucap salah seorang dokter ketika dia sedang menjahit bekas operasi.
Sementara janin yang tadi telah dikeluarkan, sekarang sedang bersiap dibawa keluar oleh salah seorang perawat. Tetapi langkahnya segera terhenti ketika mendengar ucapan dokter. Dan Mila yang sejak tadi terus menangis ketika menatap janin yang akan dibawa keluar oleh salah seorang perawat segera menoleh cepat dan berlari kearah dua orang dokter yang saat ini sedang berusaha kembali menyelamatkan nyawa Dinda
“Din, kamu bertahanlah Din. Kamu wanita kuat, kamu pernah melewati ini. Dan aku harap kali pun kamu berhasil mengalahkan mautmu….” Isak Mila sambil menggenggam kuat jari Dinda
“Dia pendarahan dokter, banyak sekali darah yang keluar akibat operasi ini. Sepertinya pasien mengalami stress dan tekanan. Walaupun dia dalam keadaan tak sadar, tapi alam bawah sadarnya masih terus bekerja. Dan kita harus segera menghentikan pendarahannya ini”
Mila mengangguk, dengan segera dia membantu dua orang rekannya untuk menutup luka dan menghentikan pendarahan hebat pada Dinda. Keringat sudah menetes dari ketiga dokter tersebut dan kondisi Dinda kian lemah
“Dinda kamu harus kuat. Kamu harus kuat Din…..” ucap Mila dengan tangan gemetar ketika dia akan menjahit bekas sobekan operasi
“Biar kami saja dokter” ucap dokter OpGin yang segera memegang erat tangan Mila
Kembali Mila terduduk lemah, pikirannya kacau. Berkali-kali dia menoleh pada Dinda yang sejak tadi tarikan nafasnya tampak tak teratur
__ADS_1
“Dokter, saya harus keluar. Saya harus membawa ketiga anak Dinda masuk. Saya yakin, Dinda akan kembali kuat ketika mendengar suara ketiga anaknya” ucap Mila sambil mengusap kasar wajahnya
Dua dokter tersebut belum sempat menjawab ketika Mila sudah berdiri dan berjalan cepat menuju pintu
“Aunty bagaimana ibuk?” tanya Naya ketika pintu ruang operasi terbuka dan dilihatnya Mila
Mila tak menjawab, segera dirangkulnya ketiga anak Dinda dan dia kembali menangis terisak
“Mil, Dinda baik-baik saja kan?” tanya Tomi dengan suara bergetar
Mila melepaskan dekapannya pada ketiga anak Dinda, lalu menoleh pada Tomi
“Dinda sekarat, dan aku harus membawa ketiga anaknya masuk”
Tangis Naya dan Arik kembali pecah. Keduanya langsung menangis kencang, dan tanpa komando dari Mila keduanya langsung menerobos masuk. Yusuf yang ada di dalam gendongan Naya nyaris jatuh ketika dibawa Naya berlari.
“Ibuk……” teriak keduanya ketika mereka masuk kedalam ruang operasi
Dua orang dokter yang telah selesai menjahit semua luka bekas operasi menoleh cepat ketika mendengar suara teriakan. Dan keduanya hanya bisa membiarkan ketika Naya dan Arik menubruk tubuh ibu mereka
“Adiknya biar dokter yang pegang” ucap dokter OpGin mengambil Yusuf yang menangis kencang ketika tergencet diantara Naya dan ibunya
Sementara Tomi yang mengetahui jika Dinda sekarat bersikerasi ingin masuk juga, tapi Mila menggeleng kuat
“Aku tidak yakin jika kakak bisa menyelamatkan Dinda. Tapi aku yakin, Dinda begini pasti karena kakak”
Tomi langsung terdiam mendengar ucapan menohok dari Mila. Dia bergeming dan hanya bisa mengusap wajahnya yang telah basah. Sementara ibunya yang juga berdiri di sebelah Tomi tampak shock dengan wajah yang tegang
“Dokter, janin ini diberikan ke siapa?” tanya perawat yang keluar dari dalam ruang operasi
Mila menatap tajam kearah Tomi dengan wajah yang juga basah
“Berikan sama lelaki ini. Karena lelaki ini adalah ayah dari janin yang gugur dari kandungan sahabatku” ucap Mila dengan suara bergetar
Tubuh Tomi langsung limbung ketika mendengar ucapan Mila. Dia langsung terjatuh di lantai dengan suara tangis yang tak terdengar saking sakitnya yang dia rasakan. Detik berikutnya barulah raungan tangisan keluar dari mulutnya
Mila hanya menatap sinis pada Tomi yang sekarang menangis di lantai dengan dipeluk oleh ibunya. Segera dia meninggalkan dua orang yang bertangisan itu, kembali lagi kedalam ruang operasi dimana Naya dan kedua adiknya masih terus menangis dengan memanggil-manggil ibu mereka
“Aku titip anak-anak aku ya Mil…., aku tahu kamu dan lima sahabat kita yang lain sangat sayang dengan ketiga anakku, dan aku yakin mereka tidak akan terlantar dan kekurangan kasih sayang. Aku sangat menyayangi kamu Mil….” ucapku ketika aku mengelus punggung Mila
__ADS_1