
“Apa?. Malaikat?” tanyaku dengan suara tercekat
“Iya saya malaikat yang bertugas menjemputmu. Sudah waktunya kamu kembali”
Aku diam dan tiba-tiba seluruh tubuhku terasa kaku ketika aku mendengar jawaban sinar yang ada di depanku saat ini. Aku bergeming, ketakutanku yang tadi menderaku kian menyergap ku sehingga seluruh tubuhku menggigil
“Bersiaplah. Aku akan membawamu”
Aku masih bergeming, sedikitpun aku tidak menjawab ucapan cahaya di depanku. Yang kurasakan saat ini adalah keheningan yang semakin membius dan kebisuan yang semakin mencekam
Cahaya yang ada di depanku bergerak, sehingga tanpa aku sadari, aku melangkah mengikutinya. Dan setelah cukup lama berjalan, kembali aku mendengar suara tangisan Yusuf yang kembali membuat langkahku terhenti
“Tapi aku tidak bisa meninggalkan anakku. Anakku masih terlalu kecil untuk aku tinggalkan. Tidakkah kau merasa kasihan mendengar suara tangisannya?” tanyaku ragu
Cahaya di depanku berhenti, dan aku hanya bisa menelan ludahku dengan ketakutan melihat cahaya tersebut berhenti. Tetapi aku berusaha tenang, karena aku memikirkan suara tangisan kejer Yusuf yang sangat membuat nyeri ulu hatiku
“Bawa sini anaknya sus…..” lirih Mila menoleh kearah perawat yang berdiri di samping dokter OpGin
Dokter opGin mendekat dan memberikan Yusuf pada Mila. Tangis Arik dan Naya kembali pecah ketika Yusuf berada di dekat mereka. Segera keduanya kembali merangkul Mila dan ikut memegang tubuh Yusuf
Sementara dokter senior keluar dari dalam ruang operasi dan melihat kearah Tomi yang masih terduduk lemas di lantai sambil memeluk lutut ibunya. Melihat ada dokter keluar, Tomi segera berdiri dan menyongsong dokter tersebut
“Bagaimana istri saya dokter? Istri saya baik-baik saja kan?” tanyanya kalut
Dokter tersebut menarik nafas panjang kemudian menatap wajah Tomi dengan wajah sedih, kemudian dokter tersebut menggeleng lemah
“Maafkan kami pak, kami sudah berusaha. Tapi Tuhan berkehendak lain, bapak yang sabar”
Tomi menggeleng kuat mendengar ucapan dokter tersebut, segera dia berlari kearah pintu ruang operasi dan mendorong kasar pintu ruang operasi tersebut dan langsung menghambur masuk
Dia tidak mempedulikan bagaimana saat ini orang yang ada di dalam ruang operasi ini berwajah basah dan penuh air mata. Tomi dengan cepat memeluk tubuh Dinda dan menangis meraung memanggil nama istrinya
“Sayang bangun. Sayang aku minta maaf. Aku janji aku tidak akan menyakiti hati kamu lagi. Sayang bangun, jangan tinggalkan kami. Kami masih butuh kamu sayang. Sayang bangun, Dinda bangun Din…..” teriak Tomi frustasi dengan terus mendekap erat istrinya
Naya yang sejak tadi menangis, memandang dengan wajah marah kearah Tomi yang saat ini mendekap dan mengguncang-guncang tubuh ibunya. Kebencian kian menggunung di hatinya melihat air mata Tomi. Ingin sekali saat ini dia mengamuk dan memukuli papa tirinya itu. Karena ulah papa tirinya itulah maka ibunya sampai harus meregang nyawa
“Sayang kamu jangan bercanda, kita telah berjanji jika kita akan menua bersama. Kita telah berjanji jika kita akan mengasuh dan membesarkan keempat anak kita. Kamu harus tepati janji itu. Kamu nggak boleh mengingkarinya. Dinda bangun Din…..” isak Tomi sambil memeluk istrinya
Suara kencang tangisan Yusuf membuat Tomi mengangkat kepalanya dari dada Dinda, dengan segera dia mengambil Yusuf dari dekapan Mila dan memeluk anaknya tersebut dan membawanya ke meja operasi
“Kamu lihat anak kita. Dia masih terlalu kecil untuk kamu tinggalkan sayang. Dia masih butuh kamu, tidakkah kamu kasihan melihatnya sayang?” isak Tomi sambil menunjukkan Yusuf yang masih saja menangis kearah Dinda yang matanya sudah terpejam rapat
Yusuf bergerak tak terkendali, kakinya menendang-nendang, tangisnya kian kencang dan tangannya juga bergerak kesana kemari, hingga membuat Tomi yang menangis memilih meletakkannya di sebelah Dinda
“Ini anak kita sayang, dia menangis tak berhenti. Dia merasakan sakit karena harus berpisah dengan kamu…” lirih Tomi berurai air mata
Tomi kembali mengubah posisi Yusuf yang semula berbaring di sebelah Dinda dengan meletakkannya di atas dada Dinda. Dokter OpGin yang hendak menghentikan aksinya dihalangi oleh Mila
“Biarkan dokter, biarkan anaknya memeluk ibunya. Biar dia merasakan jika ibunya masih ada di dekatnya untuk yang terakhir kali” ucap Mila serak
__ADS_1
Naya membalik tubuhnya dan kembali memeluk erat pinggang Mila, dan kembali dia menangis kencang melihat bagaimana adiknya saat ini menangis diatas dada ibu mereka
“Kamu kasihan dengan anakmu?” tanya suara itu padaku
Aku mengangguk
“Iya, dia butuh aku. Hanya aku yang bisa menenangkan tangisnya saat ini” jawabku
Diam. Tidak ada suara antara aku dan cahaya itu sampai akhirnya semenit kemudian cahaya itu kembali bersuara
“Jika begitu kembalilah. Aku tak jadi membawamu. Tapi ingat, aku tak jadi membawamu karena aku kasihan dengan anakmu. Jadi rawat dan lindungilah anakmu tersebut”
Aku mengangguk cepat mendengar ucapan cahaya itu, dengan segera aku berlari menerobos cahaya tersebut, yang ternyata di depannya adalah jalan yang sangat terang dan sangat indah yang belum pernah aku lewati
Aku tak berani menoleh kebelakang, karena aku takut jika cahaya itu kembali akan memintaku kembali padanya, maka dengan segera aku berlari kencang dan terus berlari melupakan kesakitanku karena tujuanku hanya satu, Yusuf. Dia sangat membutuhkanku
Tiiiiitttttt……………..
Seluruh yang ada di dalam ruangan ini seketika langsung menoleh ke layar komputer yang kembali menyala dengan garis yang kembali bergerak seperti gelombang. Dan angka yang tadi nol sekarang mulai naik
“Allohu Akbar….” Teriak Mila menghambur ke meja operasi dan langsung mendekap Yusuf dan Dinda
Begitu juga dengan Naya dan Arik, keduanya juga berlari dan segera memeluk tubuh ibu mereka. Dan Tomi sampai memeluk kaki Dinda dengan tak hentinya mengucapkan kalimat Thoyyibah dengan air mata yang kembali berhamburan
“Minggir dokter, kita harus kembali memeriksa kondisi pasien” ucap dokter OpGin dengan wajah basah sambil menarik bahu Mila
“Kalian tunggu di luar. Semuanya”
Tomi beserta ketiga anaknya segera menuruti perintah Mila, segera mereka keluar dari dalam ruang operasi tersebut. Ketika akan keluar dari ruang operasi tersebut, Naya kembali menoleh dan air mata yang tak henti mengalir kini berubah dengan air mata penuh harap
Dokter senior yang mendengar suara bel darurat yang di tekan oleh perawat segera berlari kembali keruang operasi. Dan dia tak menoleh sedikitpun kearah Tomi dan keluarganya yang saat ini memandang dengan wajah tegang kearahnya
“Pasien sadar kembali dokter” ucap Mila dengan suara bahagia, tapi dengan wajah basah oleh air mata
Dokter tersebut tak menggubris ucapan Mila. Dia langsung memeriksa kondisi Dinda secara intensif kemudian dia meminta pada perawat untuk menyiapkan ruang ICU
“Entah ini mukjizat atau memang pasien mempunyai nyawa yang banyak. Ini adalah kedua kalinya pasien kembali sadar setelah sempat dinyatakan meninggal” ucap dokter senior kearah Mila dan dokter OpGin yang menganggukkan kepala mereka
“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Mila cepat
Dokter senior menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
“Luar biasa. Secara berangsur semuanya kembali normal. Tapi pasien masih perlu kita rawat intensif. Karna itulah saya meminta pasien dirujuk ke ruang ICU”
Mila mengangguk, kemudian dia mendekat kearah meja operasi. Menunduk dan mencium dalam kening Dinda
“Aku tahu kamu wanita kuat Din. Karena itulah kamu kembali. Tolong jangan bercanda lagi, aku takut….”
Kemudian Mila mengusap kasar wajahnya, dan mengusap kepala Dinda dengan sayang. Sementara perawat dan dokter opGin mulai membereskan bekas sisa mereka operasi. Dokter senior dan Mila mengganti baju Dinda dengan baju khusus ruang ICU yang sudah steril
__ADS_1
Tomi yang keluar dari dalam ruang operasi disambut ibunya dengan mata merah dan isak tangis. Segera di dekapnya Tomi dengan sedih dan mengambil Yusuf dari dekapan Tomi
“Apa yang terjadi?” lirih beliau dengan air mata yang masih terus mengalir
“Dinda selamat buk….” Lirih Tomi sambil menangis
Tangis ibu Tomi kembali pecah, dengan segera dia mendekap erat Yusuf dan langsung menangis tersedu-sedu
“Maafkan ibuk Din, maafkan ibuk. Ibuk nggak nyangka jika akan berakibat fatal untuk kamu….” Isaknya
Tomi menyeka air matanya, dan mengusap-usap lengan ibunya. Sementara Naya yang duduk agak jauh dari mereka masih memandang keduanya dengan wajah marah dan kilatan dendam
“Awas kalian berdua. Kalian berdua harus membuat perhitungan denganku” batin Naya sambil memandang marah
Pintu ruang operasi terbuka, dan tak lama keluarlah brankar berisikan tubuh Dinda. Dua orang peraat dengan dibantu Mila dan dokter opGin mendorong brankar tersebut. Naya dan Arik ikut brankar tersebut dan keduanya berjalan di sisi ibu mereka dengan tak hentinya memandangi wajah ibu mereka yang sangat pucat
“Kita hanya bisa nunggu di luar nak, nggak boleh masuk. Ibuk kalian harus istirahat total. Dan hanya dokter khusus yang boleh masuk kesana” ucap Mila memberi pengertian kepada Naya dan Arik
Naya dan Arik menganggukkan kepala mereka dan segera berdiri di depan jendela, mengintip bagaimana dokter saat ini sibuk memasang alat di atas tubuh ibu mereka
“Ibuk akan selamat kan aunty?” tanya Naya
Mila mengangguk, kemudian berjongkok di depan kedua anak Dinda, kemudian di dekapnya erat kedua anak tersebut
“Ibu kalian wonder woman. Dan dia tidak bisa dikalahkan. Bahkan maut saja bisa dikalahkan sama ibu kalian”
Naya dan Arik mengangguk sambil menyeka mata mereka mendengar jawaban Mila. Lalu kembali keduanya berjalan kearah jendela dan mengintip keadan ibu mereka
“Kalian pulanglah nak. Biar aunty sama papa kalian yang berjaga malam ini”
Naya menoleh kemudian dia menggeleng
“Tidak aunty, aku tidak akan meninggalkan ibuk aku. Aku akan terus di rumah sakit ini sampai ibuk aku sadar”
Mila menarik nafas panjang mendengar jawaban Naya
“Sayang, ini sudah dini hari. Dan kalian belum tidur sekejap jua. Apa kalian tidak mengantuk? Kalian tidur ya? Jika kalian tidak mau pulang, oke, kalian bisa tidur di ruangan aunty”
Naya menoleh kearah Arik yang menatap balik kearah kakaknya. Kemudian Naya mengangguk dan menurut ketika Mila membawa mereka berjalan
“Ibu juga ikut aku. Ibu bisa beristirahat di ruang kerja aku. Kasihan Yusuf jika harus di bawa tidur di koridor rumah sakit ini”
Ibu Tomi menoleh kearah Mila yang saat ini telah berdiri di depannya. Beliau yang tadi terpejam segera membuka matanya dan membetulkan posisi Yusuf yang masih berada di dalam dekapannya
“Kak Tomi jika mau istirahat bisa diruangan aku juga. Karena besok kakak harus menguburkan janin anak kakak”
Tomi mengusap wajahnya dengan kasar mendengar ucapan Mila. Dan kembali wajahnya mendung ketika dia teringat jika anak yang dikandung oleh Dinda terpaksa digugurkan dan saat ini tengah disimpan di ruang jenazah untuk besok dimakamkan olehnya
“Baiklah Mil, aku akan mengantar ibuk dan anak-anak ke ruangan kamu. Tapi aku tidak akan istirahat. Jikapun aku istirahat, aku akan istirahat di depan ruang ICU ini” lirihnya
__ADS_1