
Setengah berlari aku masuk kedalam ruanganku dan segera mengambil tas
Pak Kusno dan yang lain yang melihatku masuk dengan menangis segera menoleh dan langsung bertanya, terlebih Nadia dan bu Halimah
Aku menghindari pertanyaan mereka dan segera berlari keluar dari ruangan dan segera masuk kedalam mobil
"Itu Dinda mau kemana?"
Tomi segera berdiri begitu melihat pak Burlian mengucapkan kalimat tersebut
Dilihatnya Dinda masuk kedalam mobil dengan tergesa sambil menangis
Tak menjawab pertanyaan saudara sepupunya, Tomi segera berlari keluar ruangan pak Burlian dan makin mempercepat larinya ke parkiran
Pak Kusno yang melihat Tomi berlari cepat lewat di depan ruangannya menganggukkan kepalanya saja
"Ada yang tahu Dinda kenapa?" tanya bu Halimah pada rekan satu ruangannya
Redho dan Nadia mengangkat bahu mereka
"Perasaan tadi semua baik-baik saja" gumam Nadia pelan
"Apa ini ada hubungannya dengan gosip yang beredar di kantor ini?" tanya bu Halimah lagi
"Gosip apa?"
Nadia dan bu Halimah saling toleh mendengar pertanyaan pak Kusno yang terkesan marah
Pak Kusno memandang dua rekannya dengan serius
"Kalian berdua pasti tahu, gosip apa bu Halimah?"
Bu Halimah dan Nadia kembali saling toleh
"Gosip tentang suami Dinda yang menikah lagi" jawab bu Halimah pelan
Pak Kusno mengusap wajahnya sambil menggelengkan kepalanya
"Heran saya, sepertinya tembok kantor ini ada telinganya, sehingga kalian tahu semua tentang hidup orang, bisa nggak kalian itu tidak bergosip, kita itu abdi negara, pelayan masyarakat, bukan tukang ghibah"
Bu Halimah dan Nadia menunduk sedangkan Redho terdiam bengong
"Memang apa hubungan dengan kalian jika suaminya Dinda selingkuh?, apa untungnya buat kalian membicarakannya?"
"Harusnya kalian itu sesama perempuan saling dukung, bukannya malah menggosipkan nya"
Bu Halimah dan Nadia masih saja menunduk
"Kami kan nggak ikut-ikut pak, hanya mendengar saja dari yang lain"
Pak Kusno duduk dan meminum tehnya tanpa menoleh lagi pada bu Halimah dan Nadia yang terdiam
Sementara aku yang masuk kedalam mobil segera melajukan mobilku kepinggir kecamatan, tepatnya ke pinggiran desa
Sampai di pinggir sebuah danau, aku menghentikan mobilku dan turun. Lalu aku berjalan masuk ke dalam area pinggiran danau. Duduk di sebuah bangku
Biasanya danau ini akan ramai pengunjungnya jika hari libur, tapi karena ini bukan hari libur, hanya ada beberapa perahu yang berada agak di tengah danau, mungkin para nelayan mencari ikan
Saat aku duduk sendirian, seorang penjual menghampiriku menawarkan pesanan
"Minuman dingin sama cemilan saja bu" ucapku
__ADS_1
Lalu aku kembali menatap ke depan, ke hamparan luasnya danau
Dan Tomi yang juga telah sampai di sebelah mobil Dinda segera turun dari mobil dan kembali berjalan cepat masuk kedalam dan celingukan mencari keberadaan Dinda
Dan dia akhirnya menarik nafas lega ketika dilihatnya Dinda sedang duduk sambil menatap kosong ke depan
"Jika aku kesana, aku khawatir makin membuat Dinda marah" batinnya
Akhirnya Tomi memilih duduk jauh tapi masih bisa memantau keberadaan Dinda dari tempat duduknya
Aku sesekali menarik nafas dalam dan menyeruput minuman dingin di tanganku
Berbagai pikiran berkecamuk di dadaku, aku yakin Putri tidak akan membocorkan masalah perceraianku ini pada Tomi, aku sangat yakin dengan sahabatku satu itu. Putri bukan orang yang akan membongkar masalah kliennya, terlebih kliennya kali ini adalah sahabatnya sendiri
Aku yakin pasti ada seseorang yang membocorkannya. Pak Kusno?, ah tak mungkin, beliau sudah seperti ayahku sendiri, dan aku sekantor dengan beliau sudah nyaris sebelas tahun, tidak mungkin beliau
Terus Tomi tahu dari mana?, Ah, lelaki itu seperti hantu saja, tahu semua tentang hidupku, keluhku
Aku melihat jam di hp, sudah sepuluh menit jam istirahat habis, itu artinya aku harus kembali lagi kekantor
Setelah menghabiskan minuman dan cemilan yang tadi aku beli, aku segera berjalan keluar dari area danau
Dan aku kembali harus menarik nafas dalam ketika kulihat mobil Tomi tepat berada di sebelah mobilku
Aku menoleh kebelakang mencari keberadaan Tomi, aku yakin sekali dia pasti ada di dalam sana
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku lalu aku mengambil hp dalam tasku
Tomi yang memperhatikan Dinda dari jauh segera mengambil hp di dalam celana jeansnya
Dinda? gumamnya ragu
Tapi tak urung panggilan itu diangkatnya
Tomi tersenyum getir mendengar suara ketus Dinda, akhirnya memang mau tak mau dia harus keluar dari tempatnya
Aku menyandarkan tubuhku di badan mobil sambil menunggu Tomi dan wajahku langsung berubah masam ketika kulihat Tomi berjalan ke arahku
"Kamu itu sudah persis hantu, tahu nggak?"
Tomi hanya tersenyum ketika ku semprot
"Bisa nggak sih Tom nggak usah ngurusin hidup aku, aku sudah pusing ngadepin ini semua, ditambah kamu lagi"
"Pokoknya aku nggak mau tahu, awas kalau kamu sekali lagi ngintilin aku, aku laporin kamu ke polisi"
Bukannya marah Tomi malah cengar cengir mendengar ku mengomelinya. Dan wajahku kian masam melihatnya
"Makasih ya Tom...." lirihku akhirnya dengan wajah yang masih cemberut
Tomi kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Doakan semoga aku baik-baik saja" sambung ku
"Pasti Din kalau itu"
Aku tersenyum malu lalu akhirnya aku membuka pintu mobil
Aku menurunkan kaca mobil sebelum melajukan mobil
"Lain kali jangan kepo, udah kaya emak-emak aja kamu"
__ADS_1
Tomi terkekeh dan aku tersenyum
"Hati-hati Din, dan rabu nanti aku akan datang"
Aku mengangguk. Lalu aku segera menjalankan mobil setelah sebelumnya membunyikan klakson terlebih dahulu
...----------------...
Selasa siang ketika kami sedang santai karena pekerjaan sudah hampir selesai aku menghampiri pak Kusno yang mengobrol dengan Redho
Melihatku menarik kursi di sebelahnya Redho berniat untuk pergi
"Disini aja Do, mbak mau ngomong sama kalian semua"
Pak Kusno dan Redho saling toleh dan menatap ke arahku
"Besok jadwal sidang perceraianku pak"
Kulihat wajah Redho seperti kaget tapi tidak dengan pak Kusno karena sebelumnya beliau juga telah tahu
Mendengar ku berkata seperti itu bu Halimah dan Nadia mendekat, bu Halimah langsung mengusap-usap bahuku dan aku mendongak menatap beliau dengan tersenyum getir
"Yang kuat ya Din" lirihnya
Aku mengangguk sambil menempelkan kepalaku di perutnya
"Kami selalu mendukung mu mbak, kami akan selalu ada jika mbak membutuhkan bantuan kami" sambung Nadia
Mataku langsung berkaca-kaca
"Biarlah tugas mbak kami yang handle, mbak fokus saja sama persidangan mbak, In Syaa Alloh kami akan menyelesaikan seluruhnya"
Aku hanya mengangguk sedih mendengar ucapan Redho
"Kami doakan yang terbaik untukmu Din, yakinlah doa kami selalu menyertaimu"
Air mataku langsung mengalir mendengar ucapan pak Kusno
"Suamimu sekarang dimana?"
Aku menarik nafas panjang mendengar pertanyaan bu Halimah
"Selasa kemarin Adi pulang ke rumah, dan hari rabu nya dia kembali lagi ke rumah istrinya"
Kembali aku merasakan bu Halimah mengusap punggungku
...----------------...
Rabu pagi, jam 11.00 aku telah berada di dalam ruang persidangan dengan Putri yang duduk di sebelahku
Dan kulihat Adi juga duduk bersama pengacaranya. Kami berdua saling pandang dan saling mengangguk
Ketika mediasi kembali kami saling pandang dengan dalam. Dan Putri segera menyentuh tanganku karena aku hanya diam ketika memandang wajah Adi
Dengan menarik nafas panjang kami berdua akhirnya menyepakati melanjutkan proses perceraian kami, dan mediasi gagal
Ketika keluar dari ruang persidangan aku dan Adi kembali hanya saling pandang dan tidak saling berkata apapun
Bahkan ketika aku masuk kedalam mobil Putri aku masih tak juga bersuara sampai akhirnya mobil Putri berhenti di kantornya dan masih dengan penuh sayang Putri membimbingku masuk
"Di dalam sudah ada yang menunggu bu"
__ADS_1
Aku menoleh pada Putri dan kami saling toleh dengan kebingungan
Segera aku dan Putri masuk dan kami kembali saling toleh ketika di sofa telah duduk Tomi dengan senyum mengembang di wajahnya