Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Terpuruk


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Mila masuk ke halaman rumah Dinda. Dengan cepat Mila membuka pintu mobil dan berjalan kebelakang membukakan pintu mobil untuk sahabat-sahabatnya


Di belakang, menyusul masuk mobil Putri dan mobil Tomi, tak lama menyusul pula motor yang dikendarai Julian


Aku segera turun begitu Mila membukakan pintu mobil, mengusap kasar wajahku dan menarik nafas dalam


Kulihat kearah mobil angkutan sawit, truk yang biasa dibawa mas Toro belum kembali, itu artinya dia entah ada di mana, entah benar seperti yang dikatakannya dia sedang ada di Lampung, entah jika nanti dia akan berubah bila sudah mendapat kabar dari mas Adi


"Buk....?"


Aku langsung menoleh kebelakang, kearah pintu. Arik, anak bungsuku berlari ke arahku


Mila dan teman-temannya langsung saling toleh begitu melihat wajah Dinda yang berubah drastis


Wajah Dinda yang semula kusut dan kacau langsung berubah ceria dan seolah tak terjadi apa-apa ketika dia memeluk Arik yang berlari kearahnya


"Ibu kok lama sekali sih pulangnya"


Dinda tersenyum dan meminta maaf


"Yuk bestie masuk, kalian harus masuk loh, ayo kak Tomi, kamu juga dek, ajak sekalian cowok kamu"


Semua yang mendengar dan melihat Dinda menarik nafas panjang dan mengikuti Dinda masuk kedalam rumah


Sampai di dalam, mbak Sri langsung sibuk melihat tamu majikannya banyak


"Bantuin buat minum ya bik"


Mbak Sri mengangguk dan Naya yang melihat teman barunya yang tadi siang bermain bersamanya langsung mengajak bermain kembali


Arik tak maun ketinggalan, dia segera menyusul. Dan kembali wajah Dinda berubah mendung ketika kedua anaknya telah pergi


Melihat itu Lisa kembali mengelus pundaknya


"Yang sabar..."lirihnya


Sahabatnya yang lain hanya menarik nafas panjang, begitupun Tomi dia terus saja menatap dalam pada Dinda yang wajahnya kembali muram


"Kalian kok bisa tahu sih aku ada di sana?" tanya Dinda pada seluruh sahabatnya dengan suara lirih


Kelima sahabat Dinda tersenyum dan kembali kelimanya saling menempelkan kepala mereka ke pundak masing-masing teman hingga akhirnya kepala Lisa dan Mila yang duduk di kanan kiri Dinda menempel di bahu Dinda


"Kitakan bestie, mana mungkin kita akan membiarkan kamu sendiri" jawab Mila


Aku langsung tersenyum haru mendengar jawaban Mila, sungguh nikmat mana lagi yang aku dustakan memiliki sahabat sebaik dan secare mereka


"Makasih ya..."


Kelima sahabatku mengangguk dan menggenggam erat jariku


"Kita selalu ada buat lo, lo nggak sendiri" sambung Vita


Kembali aku harus menampilkan senyum pada sahabat-sahabatku


"Yuk maaf..." lirih Shella yang kembali matanya berkaca-kaca


"Hei... kok malah nangis" ucapku mengulurkan kearahnya yang disambutnya dengan mendekat


Melihat Shella mendekat, Mila menggeser memberi ruang agar Shella bisa duduk


Segera aku memeluk Shella


"Terima kasih ya dek, berkat kamu kebohongan mas Adi bisa terungkap, jika tidak entah sampai kapan ayuk bakal terus dibohongin nya"


Shella terus saja terisak

__ADS_1


"Tapi karena aku ayuk jadi kaya gini"


Aku mengelus lengannya, seraya tersenyum


"Setiap wanita bakal shock dek jika ada di posisi ayuk"


Shella menarik kepalanya, menatapku sambil menyusut air matanya


"Nggak apa-apa, ayuk kuat kok"


Kelima sahabat Dinda beserta Tomi dan Julian kembali menarik nafas panjang


"Kita tuh udah curiga pas lu mau balik tiba-tiba, ditambah si Rohaya nelpon ngasih tahu kalo liat mobil lu ngebut" ucap Vita


"Ya Ampuuunnn gue lupa lagi ngabarin tuh Mahmud, bisa marah dia" sambung Vita lagi yang langsung mengeluarkan handphonenya


"Gimana?" langsung terdengar suara Rohaya begitu panggilan tersambung


"Aman bestie, kita sudah di rumah Dinda"


"Alhamdulillah, spot jantung gue dari tadi nunggu kabar dari kalian"


"Iya maaf lupa"


"Dinda mana?"


"Ini ada sama kita"


"Gue mau ngomong sama dia"


"Ihhh nggak usah kali, besok-besok kan bisa"


Sambil berkata begitu Vita menoleh ragu para Dinda yang telah mengulurkan tangannya


"Sini gue ngomong sama Roh, sekarang atau besok sama aja kan, toh kalian pulang nanti dia pasti sibuk japri kalian"


Dengan ragu Vita memberikan handphonenya pada Dinda


"Ya Roh?"


"Ya ampun bestie, lu ngapa sih ngebut kaya tadi?" langsung terdengar suara Rohaya begitu dia mendengar suara Dinda


"Ngetes nyali aja. Udah lama juga gue nggak ngebut-ngebut, jadi kangen kebut-kebutan"


"Nggak lucu tahuuu"


Dinda terkekeh


"Makasih ya bestie, kalian selalu ada buat gue"


Keduanya terdiam, sebenarnya begitu banyak yang ingin Rohaya tanyakan, tapi dia ragu


"Lu baik-baik aja kan?"


"Iya, doakan gue yaaa..."


"Din?"


Dinda menarik nafas panjang mendengar suara Rohaya yang seperti menuntut jawaban pasti


"Laki gue selingkuh bahkan sudah ada anak sama selingkuhannya" akhirnya kata itu meluncur sendiri dari mulut Dinda


Tomi yang mendengar langsung memandang tak percaya pada Dinda


"Jadi Adi sama selingkuhannya sudah punya anak?"

__ADS_1


Dinda menoleh pada Tomi yang bertanya, dan mengangguk pelan


Tomi langsung mengusap wajahnya berkali-kali sambil menghembus nafas kasar


"What?? seriusan bestie?!!" teriak Rohaya


"Kayanya sih itu anak mereka, wong dari foto yang saya lihat tuh anak sekitar umur enam bulanan gitu"


Terdengar Rohaya menarik nafas dalam


"Terus sekarang setelah lu tau tuh suami laknat lu selingkuh, apa yang akan lu lakuin?"


Aku diam, jika menurut sakit hati tentu aku akan membuang Adi, tapi itu biarlah nanti aku pikirkan. Sekarang yang paling penting buat aku adalah menata hati aku yang terlalu sakit dan shock


"Nantilah bestie, kepala aku terlalu berat untuk berpikir"


Kembali Mila dan Lisa mengusap pundak Dinda sedangkan yang lain menatap penuh iba


"Dah ya Roh, doain gue, semoga gue waras ngadepin masalah ini"


"Pasti bestie, pasti. Tiap lu butuh teman, butuh apa aja hubungin kita. Kita akan selalu ada buat lu"


"Iya terima kasih. Yuk bestie, dahhh..."


Lalu dengan menarik nafas dalam aku mengembalikan handphone kepada Vita


"Gimana nih kita sekarang?" tanya Nanda


"Ya pulang..." jawab Putri sambil nyengir tak enak hati pada Dinda


Aku tersenyum melihat senyum kakunya


"Iya, sebaiknya memang kalian pulang, hari juga sudah malam, nanti suami kalian pada nyariin kalian dimana"


Kelimanya saling toleh dan mengangguk pelan


"Bestie kita pulang ya, pokoknya kita minta lu jangan sedih, jangan mikir aneh-aneh, jika lu butuh teman curhat kita selalu ada" ucap Mila


Aku mengangguk


"Kita nggak bakal ninggalin lu kok Din, jika selalu siap jadi tempat bersandar lu" sambung Putri


"Iya, sekali lagi terima kasih yaaa..."


Bergantian kelima sahabatku memelukku erat, diikuti Shella yang wajahnya masih menyiratkan penyesalan mendalam


"Ayuk kuat kok, jangan khawatir" ucapku ketika Shella memelukku


Tomi menggenggam lama tangan Dinda ketika mereka bersalaman. Rasanya hatinya begitu berat meninggalkan Dinda yang saat ini sangat terpuruk.


Dia yakin setelah mereka pulang Dinda akan menangis pilu dan sibuk menyalahkan dirinya seperti dulu ketika ditinggalnya menikah


"Kakak yakin adek kuat, karena adek pernah melewati masa ini"


Aku hanya tersenyum kaku.


"Tapi ini jauh lebih menyakitkan andai kakak tahu" batinku


...----------------...


Setelah kedua anakku tidur, aku masuk ke kamar dan menelungkupkan wajahku kedalam bantal. Menangis sejadi-jadinya.


Sakit sekali rasanya hatiku mendapati kenyataan pahit ini. Sakitnya jauh lebih perih ketimbang dulu aku ditinggal Tomi menikahi selingkuhannya


Semua kenangan pahit manis selama berumah tangga hampir dua belas tahun dengan Adi makin membuatku kalut

__ADS_1


"Jahat kamu Adi, jahaaatt!!" teriakku dengan kembali membenamkan wajahku di bantal


__ADS_2