Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Meminta Bantuan Putri


__ADS_3

Aku hanya bisa menarik nafas panjang dengan menahan sesak di dalam dada ketika aku selesai menyaksikan video yang kemungkinan diambil diam-diam oleh Arik tersebut. Kemudian aku melemparkan pandanganku pada para karyawanku yang masih sibuk bekerja. Kemudian aku menoleh kedalam rumah, rumah yang telah lama aku tinggalkan.


Suara anak-anakku dan suara anaknya mbak Sri yang berada di dalam rumah memaksaku untuk masuk dan melihat keadaan mereka. Berdesir rasanya hatiku ketika aku masuk kedalm rumahku. Padahal ini adalah rumahku sendiri, tapi ada rasa rindu yang terpendam ketika kakiku menginjak lantai ruang tamunya


Suara tawa anak-anakku yang berada di ruang keluarga membuatku yang semula tertegun segera melanjutkan langkahku. Kulihat kedua anakku dan dua anakknya mbak Sri tampak sedang tertawa dan memberi semangat pada Yusuf yang sedang belajar berjalan


Aku mengembangkan senyum ketika langkah Yusuf terhenti dan dia nyaris terjatuh. Tapi dengan sigap anak gadis mbak Sri menangkapnya


Akupun ikut bergabung bersama mereka dan ikut memberi semangat pada Yusuf yang tertawa ke arahku. Tak sengaja pandanganku mengedar ke tembok dimana fotoku dan juga foto kedua anakku masih tampak tergantung di tempatnya tidak bergeser sedikitpun. Tentu saja hal itu memantik keingin tahuanku sehingga aku menemui mbak Sri yang sedang sibuk memasak


“Jangankan foto, kamar pribadi ibuk saja tidak berani kami tempati” jawabnya yang makin membuatku heran


“Mengapa?” tanyaku cepat


Mbak Sri tersenyum, menoleh ke arahku kemudian menarik nafas panjang


“Tidak sopan ibuk. Kami diberi tempat yang sangat bagus seperti ini saja kami sudah sangat bersyukur, kok ya bisa-bisa nya kami mau melewati batas?”


Aku menggelengkan kepalaku mendengar jawabannya


“Jika ibuk mau, ibuk boleh masuk ke kamar ibuk. Tenang saja buk, kamar tersebut setiap hari mbak sapu, jadi kamarnya bersih, begitu juga dengan jendelanya, tiap hari bibi buka”


Didorong rasa penasaran dan juga memang aku kangen dengan kamar tersebut, aku segera bangkit dari dudukku dan segera naik ke kamarku dulu. Aku hanya bisa mengerjapkan mataku ketika aku melihat jika memang kamarku tidak ada yang berubah.


Di temboknya masih ada foto pernikahanku dengan Tomi. Di dalam lemari juga masih ada barang-barang seserahan pernikahan kami dulu tertata rapi. Iseng aku membuka lemari pakaianku, di sana masih tersusun pakaian yang memang sebagian aku tinggalkan ketika aku pindah rumah


Aku menarik nafas panjang ketika melihat semuanya. Mbak Sri sama sekali tidak meanyentuh barang-barang pribadiku, padahal aku sudah bilang sama beliau, jika beliau bisa ambil pakaian yang aku tinggalkan. Ketika akan keluar dari dalam kamar, aku kembali menoleh kearah pigura besar foto pernikahan kami. Aku tersenyum getir melihat senyum bahagia aku dan Tomi pada foto tersebut


“Tidak ada yang bisa mengetahui rahasia masa depan Mu ya Rabb. Di foto tersebut aku sangat bahagia dan merasa jika Tomi memang benar-benar mencintaiku. Tapi seiring waktu, semuanya berubah” lirihku sambil tersenyum getir


Tak ingin semakin larut dengan perasaan, aku segera turun dan ikut membantu mbak Sri. Hingga kami sampai siang di rumah kami tersebut. Secara bersama aku dan keluarga mbak Sri serta para pekerja pembibitan makan bersama. Makan bersama yang sudah sangat lama tidak kami lakukan


Jam satu siang, panas terik akhirnya aku berpamitan pulang. Dengan senang hati dua pekerja ku mengantarkan kami menggunakan motor mereka. Dan ketika sampai di rumah langsung menelan ludahku ketika melihat ada Tomi di dalam rumah sedang mengobrol dengan kedua orang tuaku


Yusuf langsung bergerak minta turun ketika dilihatnya papanya berdiri menyongsong kedatangan kami. Naya dan Arik memilih masuk tanpa menoleh sedikitpun kearah Tomi. Dan aku membiarkan Tomi mengambil Yusuf dari dalam gendonganku


“Bapak sama ibu tinggal ke belakang dulu” ucap bapakku ketika Yusuf sudah berada di dalam gendongan Tomi. Tomi mengangguk, sementara aku menoleh sebentar kearahnya


“Aku masuk dulu, belum mandi seharian ini” jawabku yang langsung ngeloyor masuk tanpa menunggu jawabannya


Aku menarik nafas panjang ketika aku duduk di atas ranjang di kamarku. Video yang tadi aku lihat di hp Arik kembali mengganggu pikiranku. Segera aku bangkit dan mengambil hp yang memang aku tinggalkan di rumah. Membuka pesan video yang aku kirimkan ke hp ku dari hpnya Arik


Setelah video tersebut tersimpan di memori hp ku, aku segera keluar dari dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi. Selama mandi pikiranku masih kalut dengan berbagai pikiran tentang video tadi. Begitu seterusnya sampai aku duduk berseberangan dengn Tomi yang memangku Yusuf


“Aku sudah bicara sama bapak dan ibuk. Dan keduanya menyerahkan keputusan sama kamu Din. Kamu mau kan Din memaafkan aku?”


Aku melengos, bosan rasanya aku mendengar kalimat tersebut. Rasanya hanya kalimat itu dsaja yang keluar dari mulut Tomi setiap kali bertemu denganku


“Kita bertemu di kantor Putri besok. Jam istirahat kantor” jawabku dingin


Kulihat raut wajah Tomi tampak kaget mendengar jawabanku


“Maksudnya?” tanyanya dengan wajah bingung

__ADS_1


“Besok kamu juga akan tahu” jawabku lagi masih tak ramah


Tomi diam, Yusuf yang ada di dalam pangkuannya merengek sehingga aku meminta Tomi menurunkan Yusuf. Begitu tubuhnya di tegakkan di lantai, Yusuf langsung berjalan ke arahku dengan bantuan mengitari Meja


Ada raut antusias ketika Tomi melihat Yusuf mulai bisa berjalan, senyum terkembang di wajahnya. Dan begitu Yusuf sampai di dekatku aku segera menangkapnya dan membawanya kepangkuanku. Yusuf mulai merengek dan gelisah


“Yusuf ngantuk, maaf kami harus masuk” ucapku yang langsung berdiri


Tomi mengangkat wajahnya begitu melihat aku berdiri, kemudian aku langsung melangkah meninggalkannya


“Jangan lupa, besok jam istirahat ketemu di kantor Putri” ucapku yang kembali melanjutkan langkahku dan tidak menoleh lagi kearah Tomi yang hanya bisa menatap kepergianku dengan hati hampa


Kudengar Tomi berpamitan pada kedua orang tuaku, kemudian aku juga mendengar suara mesin mobilnya. Kemudian deru mesin mobil tersebut menjauh. Aku yang tengah ngelonin Yusuf terus menepuk-nepuk pantatnya agar anak bungsuku tersebut benar-benar terlelap


Setelah memastikan jika Yusuf benar-benar pulas, aku segera bangkit dan segera mencari kontak kakakku, mengiriminya pesan


Kak, tolong ambilkan mobil aku di rumah Tomi. Aku ingin ke kantor sendiri tanpa diantar oleh adik lagi


Centang dua, dan belum terbaca. Tak masalah buatku, toh akhirnya nanti pasti begitu kakakku membukka hp dia pasti akan membaca pesan yang ku kirim. Kemudian aku mencari kontak Putrid an mengiriminya pesan juga


Bestie, besok ada di kantor kan?


Tak butuh waktu lama untukku mendapat balasan dari Putri, karena begitu pesan yang kukirim centang biru, Putri terlihat sedang mengetik pesan


Iya ada, gue selalu disana, kan emang itu tempat dinas gue. Kenapa?


Nggak, Cuma pengen maen aja. Kangen sama kamu


Jam istirahat aku kesana nya.


Yaa, berarti Cuma sebentar dong?


Nggak apa, setidaknya sudah ketemu sama kamu


Lu baik-baik aja kan Din?. Maaf ya kita belum jenguk lu lagi


Aku sehat. Doain terus ya semoga aku sehat


Pasti bestie, kita semua selalu doain yang terbaik buat lu


Makasih para bestieku. Love you all. Maaf ya Put, aku ganggu quality time kamu. Aku yakin, sekarang kamu lagi sama keluarga kamu kan?


Nggak apa. Biasa aja kelesss…. Gue tunggu besok ya?


Lalu obrolan kami berakhir dan aku segera meletakkan hp dan ikut memejamkan mataku


...****************...


Seperti biasa Naya akan berboncengan naik motor dengan Arik ketika berangkat sekolah, dan aku karena mobilku sudah di rumah karena kemarin diambil oleh kakakku di rumah Tomi, jadi mulai hari ini aku memakai mobilku sendiri


Dan sesuai dengan janji, begitu jam menunjukkan waktu istirahat aku segera berpamitan dengan seluruh teman satu ruanganku. Begitu sampai parkiran, aku segera masuk kedalam mobil, dan aku tidak tahu jika dari dalam ruangannya, pak Burlian mengintipku melalui jendela


Aku melajukan mobil dengan cukup ngebut karena berpacu dengan waktu. Hanya satu jam waktu istirahat, makanya kau harus buru-buru sampai di tempat Putri. Dari depan jalan raya yang berseberangan dengan kantor Putri, saat aku akan berbelok, aku lihat mobil Tomi saat itu berbelok kesana.

__ADS_1


“Tepat waktu juga orang itu” gumamku sambil berbelok juga


Begitu mobilku sampai di depan kantor Putri, aku segera turun dan masuk. Aku mengembangkan senyum kearah dua karyawan Putri ketika aku masuk


“Bu Putri ada di dalam kan?” tanyaku berbasa-basi


Keduanya mengangguk dan juga membalas senyumanku. Aku segera mengetuk pintu ruangan Putri, kemudian mendorong pintu tersebut


Kulihat Putri berjalan ke arahku begitu aku masuk dan kami langsung berpelukan hangat dan saling cipika cipiki


“Sehat kan?” tanya Putri sambil menggenggam tanganku dan melihat diriku dari atas sampai bawah. Aku mengangguk dengan tak hentinya memamerkan senyum di bibirku. Kemudian Putri membawaku ke sofa dimana telah duduk Tomi dengan senyum yang juga mengembang di wajahnya


“Mobil kemarin diambil sama kakak. Katanya kamu yang minta Din”


Aku mengangguk mendengar pertanyaan Tomi, kemudian aku menatap kearah Putri untuk menghindari pertanyaan lanjutan darinya.


“Well, ada yang bisa aku bantu?” tanya Putri menatap lekat ke arahku


Diam. Aku dan Tomi sama-sama diam, aku harus menata dulu hatiku sebelum aku mengutarakan apa maksud dan tujuanku mengajak Tomi kesini. Tomi dan Putri tampak menatap serius ke arahku,sampai akhirnya aku mengeluarkan hp dan memberikannya pada Putri


Putri menerima hp yang kuulurkan padanya, kemudian tanpa komentar dia segera menatap layar hp ku. Aku menyaksikan bagaimana seriusnya wajah Putri ketika dia melihat hp ku, tapi berbeda hal nya dengan Tomi. Tampak ketegangan di wajahnya, terlebih ketika di hp ku mulai terdengar suaranya


“Jadi maksudnya?” tanya Putri sambil mengembalikan hp padaku


“Menurut kamu, what should I do?” tanyaku balik


“Dinda, aku sungguh-sungguh tidak serius dengan ucapanku saat itu. Saat itu aku hanya tidak ingin ibuku merasa diabaikan. Itu saja. Tidak lebih. Jadi aku mohon tolonglah janganlah kamu terlalu membesar-besarkan masalah ini. Kalau kamu terus membesar-besarkan masalah ini. Sampai kapanpun masalah kita tidak akan selesai”


Aku dengan cepat menoleh kearah Tomi


“Membesar-besarkan kamu bilang?. Aku justru baru tahu video ini kemarin Tomi. Selama ini kedua anakku tidak ada yang memberitahu ku kenyataan bagaimana kamu menganggap mereka dan juga menganggapku. Jadi aku memaklumi bagaimana sikap kedua anakku sama kamu sekarang, terlebih aku menjadi sadar kenapa Naya memanggil kamu dengan sebutan om sekarang”


Tomi menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan frustasi karena Dinda kembali keras kepala.


“Din, kak Tomi benar. Tolonglah kamu memaklumi apa yang kak Tomi bilang di video itu. Mungkin memang benar saat itu kak Tomi berada diposisi sulit”


Aku menggeleng


“Kamu tahu bagaimana sifatku kan Put. Aku bukanlah orang mudah berpaling hanya karena pasanganku payah. Dan aku bukanlah perempuan yang gampang ninggalin seseorang. Entah karena kekurangan atau kelebihannya, tapi kalo aku capek, aku lebih memilih mundur”


Kembali Tomi menggelengkan kepala mendengar ucapanku


“Aku minta sama kamu, tolong kamu urusi prosedur pembayaran hutang toko ku yang dulu sempat di bayar oleh Tomi. Aku yakin uang aku sekarang sudah cukup untuk membayar hutang aku sama Tomi. Kamu tanya saja berapa nominal dia beli toko ku sama pak Endro. Dan nanti aku akan kirim nomor pak Endro sama kamu biar kamu koordinasi juga sama beliau”


Putri terdiam mendengar ucapanku, begitu juga dengan Tomi.


“Aku minta secepatnya ya Put. Agar masalah ini cepat selesai. Aku nggak mau punya hutang sama orang, apalagi hutang budi”


Putri masih tak menjawab ucapanku, sampai akhirnya aku melihat jam di tembok di dalam ruangannya, sehingga aku memutuskan untuk segera kembali ke kantor karena jam kantor akan berakhir


“Aku pulang Put. Segera kasih kabar ya kalau kamu butuh apa-apa”


Putri hanya menganggukkan kepalanya, dan segera kami saling dekap dan aku langsung keluar dari dalam ruangannya. Dan sekali lagi aku tidak menoleh atau berpamitan dengan Tomi

__ADS_1


__ADS_2