
"Dari mana dek?"
Aku langsung menoleh kearah suara yang menyapaku ketika aku turun dari mobil
"Dari toko" jawabku singkat
"Adi sudah pulang?" tanya Tomi lagi
Aku menarik nafas panjang
"Iya, ada tuh di rumah, ya sudah pak Tomi aku harus masuk, nggak enak jika telat" ucapku menghindari pertanyaan Tomi selanjutnya
Tomi menatap bengong pada Dinda yang berjalan masuk
"Pak?, nggak salah tadi Dinda manggil aku pak?" gumamnya sambil tersenyum basi
Tak urung Tomi ikut masuk juga kedalam kantor, dan langsung menuju ruangan pelayanan umum
"Permisi..."
Aku langsung mengangkat kepalaku begitu mendengar suara Tomi
"Mau apa lagi orang ini?" batinku
"Ya pak?, ada yang bisa kami bantu?" tanya pak Kusno sopan
Tomi masuk dan duduk di kursi yang ada di depan pak Kusno.
Aku pura-pura tidak terganggu dengan kehadirannya, aku terus fokus pada pekerjaanku
Kudengar Tomi bercakap-cakap ringan dan tampak bertanya pada pak Kusno
Tingg
Notifikasi pesan masuk di handphoneku
Lisa ; Mana...?
Aku segera menepuk keningku dan menggumamkan istighfar
Segera aku membuka tas, mengambil buku tabungan, memfotonya lalu mengirimkannya pada Lisa
Lisa; 👍👍
Me; Thank you
Lalu aku kembali fokus melihat pekerjaanku
"Din?" panggil pak Kusno yang membuatku harus melihat kearah beliau
"Ya pak?"
"Tunjukkan data dan berkas yang dibutuhkan pak Tomi"
"Baik pak"
Lalu Tomi berpindah duduk di sebelahku, aku tak menaruh curiga sedikitpun padanya, aku terus membukakan file dokumen yang dimintanya, dan menjelaskan padanya sedikit
Selagi aku serius menjelaskan pada Tomi, handphoneku kembali berdering
Aku melirik sekilas pada handphone yang tergeletak di dekat laptop, begitupun Tomi, dia membaca sekilas pada layar yang menyala
Suami batinnya tersenyum kecut di dalam hati begitu membaca siapa yang menelpon Dinda
"Maaf pak Tomi, sebentar" ucapku sambil menerima panggilan Adi
Aku memundurkan kursiku agak menjauh dari tempat dudukku semula
"Iya, kenapa?"
"Buk, aku lapar"
Aku memijit-mijit keningku mendengar suaranya
"Ya sana makan!"
"Nggak ada yang bisa di makan"
"Ada, aku tadi sudah masak"
"Sudah habis, kan itu untuk sarapan tadi. Yang untuk makan siang belum ada"
"Sana ke warteg, makan di warteg"
"Nggak enak, yang enak itu masakan ibu"
"Jangan sok sokan ngomong nggak enak, toh ketika kamu diluar, kamu makan masakan orang lain"
Adi langsung terdiam, niat hati ingin membujuk istrinya, tapi ternyata kembali omongan sengit yang diterimanya
"Sudah, nggak usah telpon lagi, aku sibuk" lalu aku langsung memutus panggilan, dan kembali menarik kursi ke tempatku tadi
__ADS_1
"Sampai dimana tadi pak Tomi penjelasan saya?" tanyaku berbasa basi
"Sampai di telepon masuk" jawab Tomi sambil tersenyum
"Nggak lucu" jawabku sambil melengos
Lalu Tomi menjawab sampai dimana tadi penjelasanku
"Jika memang bapak perlu, saya akan mencetaknya"
"Tidak usah, saya bisa kesini setiap hari" jawab Andi
Mulutku langsung ternganga mendengar jawabannya
"Kena jebak aku" batinku
...----------------...
Aku pulang kerumah jam 16.00 lewat, kulihat ada karyawan dari kolam sedang mengobrol dengan suamiku, tampak suamiku seperti mengangkat-angkat dan melebarkan tangannya. Kulihat sepertinya mereka berbicara serius
Ketika mobilku masuk garasi dan berhenti, Adi langsung memasang wajah manis padaku yang turun
Aku membalas senyumnya dengan kerlingan sekilas lalu menoleh pada pekerja kolam yang memandangku dengan serius
"Ada perlu apa mas?" tanyaku berdiri di depan mereka
"Ini buk, mau menyampaikan jika pakan ikan di kolam sudah habis"
"Loh kok sudah habis?, kan baru sekitar dua mingguan yang lalu suami saya beli?"
Dua pekerja dari kolam diam. Dan aku langsung menoleh pada Adi
"Kamu kemana kan uangnya?"
"Uang apa sih buk?" Adi mengelak
"Nggak usah ngeles lagi kamu, kamu kemana kan uangnya?"
Dua pekerja kolam kembali saling toleh
"Sejak kapan habis?" tanyaku pada mereka
"Sore ini bu"
"Sudah, besok pagi saya ke kolam, saya yang akan mengecek langsung, sekarang mas berdua boleh pulang" jawabku sambil meninggalkan mereka
Mata Adi menatap marah pada dua anak buahnya yang tidak menuruti perintahnya tadi
"Buk!" kejar Adi demi melihat istrinya telah menapaki tangga
Aku tak menggubris panggilan Adi, aku terus saja melangkah, hingga sampai kamar aku meletakkan tas dan merebahkan tubuhku
"Ini sepertinya anak buah kita main curang, buk" ucap Adi
Aku diam tak menanggapi ucapannya
"Ibu kan tahu sendiri ayah beli kemarin satu truck" tambahnya
"Maaf Adi, entah siapa yang harus aku percaya sekarang, aku harus percaya ucapan kamu, apa ucapan mereka"
Adi menarik tangan istrinya yang langsung ditepis kasar oleh Dinda
"Aku capek, aku mau istirahat" ucapku sambil segera membelakanginya
Lalu aku mengambil handphone dalam tas
"Naya, ibu nggak masak, malem nanti kita makan diluar nak ya..."
Terdengar suara Naya bersorak kegirangan
Lalu aku meletakkan hp, dan memejamkan mataku
Adi hanya bisa menarik nafas panjang melihat istrinya yang selalu mencuekinya
Sebelum maghrib aku terjaga, masuk ke kamar mandi, menyiram tubuhku
Selesai shalat aku segera menemui kedua anakku yang sedang belajar.
"Kalau sudah selesai, kasih tahu ibu ya?, kita berangkat"
Naya dan Arik mengangguk. Lalu aku duduk di ruang tengah, bengong
sendiri
"Buk..?"
Aku menarik nafas panjang mendengar suara Adi
Adi duduk di kursi di sebelahku, menatapku dengan wajah sedih
"Buk, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan" mohonnya
__ADS_1
"Naik keatas, jangan disini. Disini akan didengar anak-anak" jawabku mendahuluinya berdiri
Adi segera menutup pintu kamar begitu dia masuk ke kamar. Dan langsung duduk di sebelah Dinda yang menatap kosong ke depan
"Aku istri keras kepala seperti yang kemarin kau katakan, iya kan?"
Adi menggeleng
"Kau hancurkan kepercayaanku padamu Adi, ku pikir kau memang mencari uang ternyata kau menemui istri muda mu"
"Bilang sama aku, apa yang membuatmu berpaling dariku? Apa aku tidak cantik lagi?"
Kembali Adi menggeleng
"Aku menyesal buk...."
Aku menggeleng dan kembali menepis tangannya
"Penyesalanmu sudah tak ada artinya buatku Adi, aku sudah sangat kecewa padamu"
"Tolong buk maafkan aku, beri aku kesempatan kedua"
"Kesempatan kamu bilang?, justru karena aku selalu memberikanmu kesempatan itulah makanya kamu bertingkah"
"Aku memberikanmu kesempatan menjadi orang sukses, menjadi orang kaya, menjadi orang beruang, tetapi kesempatan itu kau salah gunakan"
"Aku sakit Adi, aku sakit. Sekarang aku hanya memintamu memilih aku, atau memilih istri muda mu itu"
Setelah berkata begitu aku berdiri dan keluar dari kamar
"Buk tunggu!" kembali Adi mengejar istrinya
Aku tak menjawab, dengan santai aku menggandeng kedua anakku, mengajak mereka masuk ke mobil
Adi dengan cepat masuk sebelum Naya menutup pintu mobil
Di jalan aku hanya diam, begitupun dengan kedua anakku.
Sampai di sebuah rumah makan yang menyediakan masakan tradisional aku berbelok dan turun
Naya berjalan sambil digandeng Adi, sedangkan aku menggandeng Arik
Ketika menu yang kami pesan sampai, tanpa babibu Adi langsung melahap makanan dengan rakusnya
Aku tak berkomentar sedikitpun melihatnya yang makan dengan lahap
"Gimana, enak makanannya?" tanyaku
Adi mengangguk, aku tersenyum sinis
"Ini karena ayah kelaparan buk, coba kalau tidak, makanan di sini kalah enaknya dengan masakan ibu"
Kembali aku tersenyum sinis
"Tidak usah bohong Adi, lelaki yang telah puas mencicipi makanan di luar tak akan menyukai masakan istrinya lagi"
Adi langsung menghentikan kunyahannya dan menatap bengong pada Dinda
"Ayo nak, dihabiskan makannya, setelah itu kita jalan-jalan" ucapku
Kembali Naya dan Arik yang duduk agak jauh dari kami bersorak senang. Dengan cepat keduanya melahap isi piring mereka
Tiing....
Notifikasi pesan masuk
Lisa; Maaf say aku lupa ngasih kabar, atmnya sudah terblokir, dan semua saldo sudah aku transfer ke rekening kamu
Senyumku langsung mengembang begitu aku membaca pesan yang dikirim Lisa
Me; Sekali lagi, terima kasih banyak ya say atas bantuannya🙏🙏
"Ayok buk, sudah selesai" ucap Arik dan Naya yang telah berdiri
Aku segera berdiri berjalan kearah mereka. Adi yang sedang merokok pun langsung berdiri dan segera menggandeng tangan Naya
"Ayah bayar dulu ya nak...." ucapnya meninggalkan kami
Aku membiarkannya pergi dan melihat dari tempatku berdiri bagaimana Adi mengeluarkan atm dari dalam dompetnya
Dan aku pun melihat jelas jika kasir menggeleng sambil mengembalikan atmnya
Dengan terpaksa kulihat Adi membuka dompetnya dan membayar cash
Wajah Adi tampak ditekuk ketika dia sampai di dekatku
"Kasir gila, masa katanya atm aku nggak bisa di pakai, awas dia!!" geram Adi
"Atm kamu sudah aku blokir" jawabku santai sambil membuka pintu mobil dan segera duduk di belakang kemudi
Mulut Adi langsung ternganga mendengar jawaban istrinya. Tanpa sadar dia segera mengusap wajah dan menarik rambutnya dengan frustasi
__ADS_1
Aku yang telah memundurkan mobil tersenyum puas melihatnya yang shock