
Adi hanya bisa menelan ludahnya ketika dilihatnya Mila memandang penuh amarah dengan kilatan kebencian di matanya
“Aunty, dia ayah aku. Aku yang jauh-jauh jemput ayah aku sampai aku bolos sekolah. Aku yang dalam beberapa minggu ini mencari keberadaan ayah aku, sampai akhirnya aku berhasil membawa ayah aku kesini. Jadi tidak ada wewenang untuk aunty marah sama ayah aku. Ayah aku memang bersalah karena dia menelepon ibuk aku. Tapi coba aunty pikir, apa yang dilakukan oleh ayah aku, apa ada dia menyakiti fisik ibuk aku sampai ibuk aku koma dan keguguran? Tidak kan?. Justru yang menyakiti psikis dan mental ibuk aku adalah Om Tomi dan ibunya. Jika memang aunty mau marah, jangan hanya marah sama ayah aku, tapi marah juga lah pada mereka berdua. Karena mereka berdua lah yang menyebabkan ibuk aku jadi koma hingga detik ini”
Mila hanya mengerjap-ngerjap kan matanya mendengar pembelaan Naya pada ayahnya. Dan kembali dia harus menyadari jika hubungan ayah dan anak tidak bisa dia remehkan. Naya memang pernah membenci ayahnya itu, tapi dia tidak bisa mengabaikan hubungan darah antara mereka. Tomi walaupun terlihat baik, tetaplah ayah sambung, dan itu sudah cukup dibuktikan dengan menolaknya Naya dan Arik tinggal kembali di rumah Tomi, walaupun itu adalah rumah ibu mereka yang dijadikan Tomi sebagai mahar
Dan Tomi hanya bisa diam mendengar ucapan Naya, begitu juga dengan ibunya
“Kenapa aunty diam? Aunty marah sama aku? silahkan. Aku tidak takut. Jangan aunty pikir aku tidak berani melawan aunty, karena aku akan melawan siapa saja yang menyakiti orang yang aku sayang. Termasuk jika aunty memukul ayah aku lagi. Aku bukanlah pemegang sabuk hitam seperti aunty, tapi aku yakinkan aku bisa membela ayahku ketika aunty bersikap arogan pada ayahku”
Mulut Mila sampai ternganga tak percaya dengan ucapan berani Naya. Dia bingung kenapa gadis kecil yang disayanginya tersebut sudah berani berkata kasar padanya. Tapi dia berusaha tenang, dan berfikir jernih. Dia yakin Naya terguncang karena keadaan ibunya yang tak kunjung sadar
“Naya, jangan seperti itu nak. Aunty Mila mu itu sangat menyayangi ibuk mu, itulah mengapa reaksinya seperti itu” jawab Adi sambil menarik tangan Naya dan mengelus-elus lengannya
“Kalau aunty sayang sama ibuk, kenapa hanya ayah yang dia salahkan, sedangkan om Tomi tidak? Padahal om Tomi juga bersalah”
Mila menarik nafas panjang dan mendongakkan kepalanya mendengar ucapan Naya, kemudian dia menatap kembali kearah empat orang yang masih duduk di tempatnya itu
“Aunty punya cara yang elegan untuk marah sama om kamu itu Naya” jawab Mila santai yang mampu membuat Tomi menelan ludahnya dengan susah payah
Naya yang tangannya digenggam oleh ayahnya, segera menoleh kearah Mila yang menjawab ucapannya. Kemudian dia melirik sekilas kearah Tomi yang tidak sedikitpun menjawab untuk merespon ucapan Mila. Naya jadi berfikir jika memang antara Mila dan ayah sambungnya telah terjadi perang dingin
“Ini sudah malam Naya, dan kamu masih memakai seragam sekolah, apa tak sebaiknya kamu pulang nak. Untuk urusan ibumu, seperti kemarin-kemarin, biarlah aunty dan pihak rumah sakit yang akan menjaganya”
Naya menatap sendu kearah ayahnya, kemudian dia menarik nafas panjang
“Ayah pulang sama aku. Ayah bisa istirahat di rumah lama kita. Memang rumah itu sekarang ditempati oleh bude Sri, tapi aku yakin bude sama pakde akan senang jika ayah datang”
Sekali lagi Tomi kalah, Naya lebih memilih ayah kandungnya, dan bahkan mengajak ayah kandungnya untuk kembali ke rumah lama mereka
“Baiklah, ayah juga kangen sama Arik. Ayah pengen ketemu sama Arik” jawab Adi sambil tersenyum dalam
Kemudian keduanya berdiri, membiarkan Tomi yang hanya bisa menengadahkan wajahnya melihat kearah mereka. Sementara Mila yang sejak tai berdiri memaksa sebuah senyum kearah Naya yang menggandeng lengan ayahnya
“Titip Dinda ya Mil, aku yakin kamu memang sahabat terbaiknya”
__ADS_1
Mila bergeming mendengar ucapan Adi, hanya matanya saja yang sejak tadi memandang Adi dengan tatapan tak bersahabat. Kemudian Adi menoleh kearah Tomi
“Aku pamit Tom. Aku harap kamu memaafkan kesalahanku dan memikirkan ucapanku tadi. Kamu adalah orang yang Dinda cintai Tom, jangan kecewakan Dinda seperti aku yang telah mengecewakannya”
Tomi bergeming, matanya berkedip merespon ucapan Adi. Kemudian Adi mengulurkan tangannya kearah Tomi yang disambut Tomi dengan diam, begitu juga ketika Adi mengulurkan tangannya kearah ibunya Tomi, beliau juga menyambut tangan Adi, tapi sedikitpun tidak bersuara
Kepada Mila, Adi hanya menganggukkan kepalanya saja. Karena Adi sudah yakin jika uluran tangannya tidak akan disambut oleh dokter cantik tersebut. Kemudian Naya membawa Adi berjalan, bukan kearah jalan keluar melainkan kearah ruang ICU
Tomi tak bisa berbuat banyak kecuali membiarkan keduanya berjalan kesana. Dan berdiri di depan jendela kaca, mengintip keadaan Dinda yang masih terbaring tak bergerak sedikitpun. Hanya layar komputer yang menampilkan detak jantungnya saja yang menandakan jika wanita itu masih hidup
Mata Adi memanas ketika melihat keadaan Dinda, hingga tanpa sadar buliran bening mengalir di wajahnya. Dengan cepat diusapnya kasar wajahnya agar tak dilihat oleh Naya jika dia menangis. Di tatapnya Dinda dengan perasaan menyesal
“Apakah dulu ketika ku tusuk keadaan mu juga seperti ini Buk?” batinnya
“Maafkan aku buk, aku tidak menyangka jika perbuatanku akan sefatal ini berakibat untukmu” kembali dia membatin dengan air mata yang kembali mengalir deras
Adi menoleh cepat kearah Naya ketika dirasanya Naya menyentuh tangannya, kemudian kembali dengan terburu Adi mengusap wajahnya dan memaksakan senyum getir di wajahnya
“Ibuk mu wanita kuat Nay, ayah yakin ibuk kamu akan bangun dan sadar” lirih Adi mencoba menyenangkan hati Naya yang saat ini juga tampak bersedih
Adi yang berdiri di sebelahnya merengkuh bahu Naya yang membuat Naya menempelkan kepalanya di bahu ayahnya. Dan hal itu kembali membuat rasa iri di hati Tomi ketika melihatnya
“Kita pulang sayang, biarkan ibuk kamu istirahat, ya?”
Naya mengangguk, kemudian mengusap kasar wajahnya dan berjalan menjauhi jendela ruang ICU, dan berjalan keluar dari lorong ruang ICU tanpa menoleh kembali kearah Tomi dan ibunya yang terus menatap keduanya
Mata merah Adi jelas tertangkap oleh Tomi, dan itu membuat sudut hatinya berdenyut perih
“Apakah Adi masih menaruh rasa cinta pada Dinda?” batinnya ketika melihat mata merah Adi. Tapi sedetik kemudian, dia tepis prasangka buruk tersebut, karena rasa prasangka itulah akhirnya yang membuat istrinya terbaring di dalam ruang ICU ini
Sepeninggal Naya dan ayahnya, Tomi bangkit dari kursinya kemudian berjalan kearah jendela kaca, melihat Dinda dengan perasaan hancur. Berkali-kali dia menarik nafas panjang dan berkali-kali pula dia berandai-andai di dalam hati merutuki sikap pengecutnya
Sementara Mila telah kembali kedalam ruangannya dan tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya untuk berpamitan atau menyapa ibu Tomi dan juga Tomi. Perasaan kecewanya pada dua orang yang dipercayanya bisa menyayangi sahabatnya itu telah merubah respect nya menjadi acuh. Dan sekarang Mila bersiap untuk pulang karena jam kerjanya telah habis, dan juga dia tidak ada jadwal janji sama pasien, karena itulah dia berniat untuk pulang
Sementara perawat yang selalu stand by di dalam ruang ICU selalu memantau keadaan Dinda sebelum akhirnya dia tidur karena memang hari sudah lewat pukul Sembilan malam. Ruang ICU yang berubah dengan lampu redup membuat Tomi akhirnya mundur dari depan jendela, dan mengajak ibunya untuk pulang
__ADS_1
Pukul 01.24 dini hari
Perawat yang berjaga di ruangan ICU terjaga ketika didengarnya alarm dari layar komputer bersuara lantang dengan ritme yang sangat cepat. Secepat kilat dia melompat dari atas karpet yang menjadi tempat tidurnya dan tergopoh menyalakan lampu
Betapa terkejutnya dia ketika dilihatnya tubuh Dinda bergerak gelisah. Ketegangan dan panik menyelimuti perawat tersebut, tak tahu apa yang harus dilakukannya melihat kondisi Dinda yang demikian. Segera diperiksanya tubuh Dinda semampunya sambil hp sudah menempel di telinganya
“Ya Alloh tolong angkat dokter……” gumamnya dengan nada panik karena panggilannya tak kunjung di angkat oleh dokter senior yang bertugas merawat Dinda
“Mbak Dinda…..” panggil perawat itu dengan suara tercekat penuh ketakutan
Kepala Dinda masih bergerak dengan gelisah, dan tekanan jantungnya yang terekam di layar komputer naik turun tak teratur yang membuat perawat tersebut kian khawatir. Tanpa pikir panjang dia segera menekan tombol alarm yang ada di dekat ranjang Dinda, yang tak lama berselang telah ada beberapa perawat berlarian masuk kedalam ruang ICU tersebut
“Urgent…. Cepat bantu aku…..” teriak perawat itu
Tiga orang perawat yang masuk yang juga tidak tahu harus melakukan apa, hanya bisa panik dengan memeriksa keadaan Dinda seadanya
“Telpon dokter Mila!!!” teriak perawat satu lagi yang menggenggam tangan Dinda. Wajah keempatnya sangat tegang
Mila yang memang selalu meletakkan hp di atas meja di sebelah tempatnya tidur langsung terjaga ketika hp nya berdering
“Ada yang urgent?” jawab Mila cepat ketika dilihatnya di layar jika yang menelepon adalah perawat tempatnya berdinas
“Mbak Dinda bergerak dokter”
Secepat kilat Mila duduk dari posisinya yang semula berbaring
“Saya kesana sekarang. Tolong kondisikan Mila dengan baik. Periksa tekanan jantungnya. Pastikan jika kalian stand by di sana. Telpon dokter senior!”
Sambil berkata seperti itu, Mila telah turun dari ranjang dan berjalan kearah lemari mengambil kunci mobil
“Sayang kamu mau kemana?”
Mila tak menoleh kearah suaminya, melainkan terus menyambar kunci mobil dan tak lupa menyambar jaket
“Urgent?” ulang suaminya dengan suara parau
__ADS_1
“Dinda sadar, dan aku harus ke rumah sakit”