
Degup jantungku berdebar keras saat kembali duduk di ruang persidangan.
Hari ini adalah keputusan pembagian harta gono gini, dan kali ini, selain didampingi kuasa hukumnya Adi juga membawa serta istrinya
Sedikitpun aku tidak terpancing dengan adanya istrinya di ruang persidangan, karena aku juga sudah tidak ada rasa apapun pada Adi
Putri sepanjang persidangan menggenggam erat tanganku, padahal tadi aku sudah bilang jika aku baik-baik saja
"Mila dan yang lain tidak tahu kan?" bisikku
Putri menggeleng yang membuatku lega, aku lega jika memang Mila tidak tahu, aku tidak ingin Mila kembali kalap, apalagi sekarang ada istrinya Adi, aku yakin dokter bar bar itu akan menghajar istri Adi karena dulu ketika kami kerumahnya wanita itu berhasil sembunyi dalam kamar dan tidak keluar-keluar sampai kami pergi
Aku menghembus nafas dalam berkali-kali saat mendengar hakim membacakan keputusan, begitu juga dengan Adi, kulihat dia juga tampak tegang
Yang Mulia Hakim telah menyebutkan seluruh daftar harta kami, semuanya termasuk dengan mobil yang kemarin tidak kumasukkan
Dan aku sesekali memejamkan mataku takut jika keputusan ini diluar kehendak ku
"Dan dari hasil seluruh bukti yang telah disebutkan di persidangan, pengadilan memutuskan jika saudara Adi sebagai penggugat mendapatkan harta seperempat dari seluruh harta yang ada, dan yang lainnya menjadi harta saudari Dinda sebagai tergugat"
Aku menarik nafas lega dan langsung menutupkan kedua tanganku ke wajah
Putri langsung mengusap-usap punggung tanganku dan mataku langsung berkaca-kaca
"Dan yang menjadi harta saudara tergugat adalah ruko kedua yang saat ini surat kepemilikannya beliau serahkan kepada pihak ketiga atas jaminan hutang saudara tergugat"
"Keputusan pengadilan ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat" tok tok tok
Aku dan Putri ikut berdiri ketika yang mulia hakim berdiri, dan setelah mereka pergi aku refleks memeluk erat Putri
Sedangkan Adi yang tampak shock hanya bisa terduduk diam, menundukkan kepalanya dengan dalam
Aku dan Putri segera berdiri, bangkit dari kursi kami, berjalan meninggalkan ruang persidangan
Sedikitpun aku tidak menoleh kearah Adi dimana istrinya juga terlihat shock dan menatap nanar pada kepergianku
Senyum lega tak lepas dari bibirku terlebih ketika aku menuruni tangga menuju parkiran
"Kita rayain kemenangan kita" ucapku antusias sebelum aku masuk mobil
"Kamu serius?"
Aku mengangguk kearah Putri yang tersenyum senang
"Yang lain?"
Aku segera menelepon grup, yang begitu tersambung langsung muncul wajah seluruh sahabatku
"Dimana?" tanyaku
Beragam jawaban mereka yang membuatku yang berdiri di sebelah Putri tertawa
"Kita kongkow, aku menang bestie....." teriakku semangat
Kelima sahabatku langsung berteriak kegirangan
"Kita tunggu ya, nggak pake lama" jawab Putri
__ADS_1
"Gue disini!"
Aku dan Putri refleks menoleh kebelakang dimana Mila dan Rohaya telah berdiri tak jauh dari kami, lalu muncul sahabat-sahabatku yang lain
"Kalian.....???!" teriakku langsung menghambur kearah mereka
Aku langsung memeluk mereka dengan meneteskan air mata
Usapan dan dekapan hangat dari mereka berlima sangat membahagiakanku. Sehingga kebahagiaanku menjadi berlipat ganda
"Sejak kapan kalian disini?" tanyaku sambil menghapus air mataku
"Sejak mobil lu dan mobil Putri berhenti di parkiran" jawab Mila
Aku langsung menoleh kearahnya dan kembali mendekapnya dengan hangat
"Ya ampun kalian ini....."
Mila terkekeh dengan terus mengusap lenganku
"Sudah-sudah, males gue kalau acara bahagia diisi nangis-nangis" protesnya yang langsung menegakkan tubuhku
Aku tertawa sambil kembali menghapus air mataku
"Lisa?" tanyaku memandang kearahnya dengan khawatir
"Tenang, kepala bank nya oom gue"
Aku langsung tertawa dan memukul lengannya yang dibalasnya dengan mendekap hangat ku lagi
"Demi support kamu, kena SP juga gue rela Din"
"Dan kamu Nda, kepala sekolahnya oom kamu juga?" tanyaku sambil mengulurkan tanganku kearahnya yang disambutnya dengan dekapan hangat juga
"Ya Tuhan, kalian lebay banget sih?" teriak Mila yang menarik paksa Nanda yang sedang memelukku
Terpaksa aku tertawa dengan perbuatan Mila, karena aku sangat yakin ini pasti ide dia, jika bukan dia siapa lagi sahabat-sahabatku yang berani bolos jika bukan dia yang memaksanya
"Kalian satu mobil?"
Kelimanya mengangguk
"Bagi aja kita, ada yang ikut aku, ada yang ikut Putri"
Keempatnya mengangguk, jadilah Vita ikut aku, sedangkan Rohaya ikut Putri, Nanda dan Lisa tetap dengan Mila
Saat aku dan keempat yang lain akan kembali ke mobil, kulihat Adi beserta lawyer dan istrinya turun dan berjalan kearah mobil lawyernya Adi
Aku hanya melirik sekilas lalu melanjutkan langkahku tanpa memperdulikannya yang terus melihat kearah kami
"Sini lu kalo berani!"
Aku langsung memejamkan mataku dan memutar tubuhku dengan malas ketika kudengar Mila membentak
"Udah Mil, jangan buat keributan" cegah ku dengan menarik cepat tangannya
"Sini lu pelakor, kemarin lu bisa lolos dari gue, tapi tidak kali ini!" bentaknya dengan langsung berjalan cepat tanpa bisa aku cegah lagi
__ADS_1
"Ya Tuhan Mila...." ucap kami berbarengan dengan langsung mengejarnya
"Adi jaga istri kamu!!!" teriakku panik
Yesa langsung berlindung di belakang tubuh suaminya, dan melihat takut kearah Mila yang berjalan cepat kearahnya
"Serahin istri lu!" bentak Mila
Adi menatap marah pada Mila yang kembali bersikap arogan padanya, sedangkan lawyer Adi berusaha menenangkan Mila, begitupun dengan kami berenam
"Security...." teriakku panik
Seorang security yang sejak tadi memperhatikan segera berlari kearah kami
"Mau apa lu?, mau dipecat sama papa gue?"
Security tersebut langsung mundur dan hanya bisa mengangguk pasrah kearah Mila yang membentaknya
"Ya Tuhan Mila....." ucapku frustasi
"Lu minggir nggak, kalo nggak lu gue hajar lagi"
Adi bergeming, dia masih berdiri di tempatnya melindungi istrinya yang mati ketakutan
"Mil, udah dong!" teriakku lantang
"Lu diem, dulu kita nggak sempat nampar wajah itu pelakor, dan sekarang dia ada disini, ini kesempatan emas buat gue"
Aku mengusap wajahku bingung harus dengan cara apa lagi aku menghentikan sahabatku satu ini
"Gue telpon papa lu Mil kalo lu nggak mau berhenti!" teriakku
"Sana telpon, gue nggak takut. Papa gue akan senang karena anaknya akhirnya bisa membalas sakit hati sahabatnya, papa gue sangat menjunjung tinggi persahabatan, dan gue yakin, papa gue akan setuju jika gue menghajar itu pelakor"
Aku menghembus nafas panjang dan segera menarik bahunya
"Sudah cukup Mil, aku sudah bahagia karena aku menang telak atas harta gono gini ini, dan yang paling penting adalah, aku bahagia karena kamu sangat sayang sama aku, tapi aku akan sangat menyesal jika gara-gara membela aku karir dan profesi kamu hancur"
Mila diam, memandangku dengan dalam, dan aku mengangguk kearahnya, mendekapnya
"Bawa pergi istri kamu Adi" ucapku cepat
Dengan terburu Adi segera berlalu dari kami, tapi rupanya aku salah, dengan cepat Mila melepas dekapanku, menarik kasar pundak istri Adi, lalu
PLAAAAKKKK... PLAAAAKKK... PLAAAKKK...
Aku mendekap mulutku ketika Mila berkali-kali menampar wajah istri Adi
Seketika Adi langsung membalikkan tubuhnya berniat membalas Mila yang tanpa sepengetahuan Adi kakinya langsung disepak Mila yang menyebabkan dia terjerembab
Dengan cepat kami menarik paksa Mila agar menjauhi tempat itu, karena keadaannya makin tidak kondusif
"Lihat wajah gue!" teriak Mila lantang di depan wajah istri Adi yang memegangi pipinya
"Lu perhatiin wajah gue baik-baik ya, lu lihatin!!" bentaknya lagi
Aku dan yang lain makin berusaha keras menarik tangannya
__ADS_1
"Gue Mila, Mila Pelapolri. Inget, itu nama gue, sekali lu berani menampakkan wujud lu di hadapan gue, lu mati"
Lalu dengan keras Mila menarik tangannya yang menyebabkan kami terhuyung lalu mengejarnya yang berjalan cuek kearah mobilnya