Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Surat Panggilan


__ADS_3

Sabtu pagi, sesuai dengan pesan yang pak Marsudi kirimkan sama aku semalam, bahwa beliau menunggu aku di kantor beliau jam sepuluh pagi. Setelah aku menyanggupi waktu yang beliau berikan, setelah membereskan rumah dan bilang pada kakak dan kedua orang tuaku jika aku akan menemui lawyer, aku berangkat


Naya memang sudah aku beritahu jika aku akan menggugat Tomi. Diluar dugaanku dia menangis ketika aku mengutarakan niatku tersebut


“Ini pasti gara-gara aku sama adek kan buk?” ucapnya


Aku menggeleng, segera aku bawa Naya duduk dan bicara dari hati kehati padanya. Aku menjelaskan semuanya secara detail tanpa ada sedikitpun yang aku tutupi. Aku ingin Naya tahu apa yang aku rasakan


“Ibuk sangat menyayangi kalian. Dan ibuk sedih ketika mengetahui jika ayah tiri kalian sama sekali tidak menganggap kalian” lirihku yang membuat Naya semakin terisak


“Sudah, cukup nak. Jangan nangis lagi. Doakan ibuk semoga ibuk mu ini kuat dalam menghadapi kenyataan hidup. Kalian bertiga adalah kekuatan ibuk. Apapun akan ibuk lakukan demi kalian, bahkan dengan membunuh perasaan ibuk sendiri”


Naya semakin erat mendekap ku. Di sela isak tangisnya dia menyesali semua perbuatannya. Dia menganggap jika ini semua karena dirinya, jika saja dia bisa lebih bersabar dalam menghadapi Tomi dan ibunya Tomi semua ini tidak akan terjadi


“Ini takdir ibuk nak. Bukan salah kamu. Jika pun kamu tidak mendengar apa yang papa kamu katakan malam itu, entah suatu hari semuanya akan terbongkar juga. Ada saja jalan Alloh untuk membuat takdir ibuk jadi kenyataan, jadi kamu jangan menyalahkan diri kamu. Karena ini semua sudah kehendak dan ketentuan Alloh”


Setelah Naya tenang, aku segera keluar dari kamar dan berpamitan dengan kedua orang tuaku. Kulihat ada raut sedih di mata ibuku, dan matanya tampak berkaca-kaca ketika aku mencium punggung tangannya


“Doakan aku buk. Karena doa ibuk yang aku butuhkan sekarang” ucapku menghiburnya


Setelah itu aku langsung masuk kedalam mobil dan langsung bergegas menuju kantor pak Marsudi. Begitu aku masuk, karyawan beliau yang kemarin menyambut ku segera mengantarku masuk ke ruangan pak Marsudi


Kami tidak perlu ber basa basi lagi, begitu aku duduk,beliau langsung menanyakan secara detail duduk perkara mengapa aku mau menggugat Tomi. Dan aku secara lugas menceritakan semuanya. Sampai bukti dari rumah sakit tidak lupa aku tunjukkan dengan beliau. Ketika melihat bukti dari rumah sakit beliau tampak tertegun


“Anda koma?”


Aku mengangguk


“Iya pak. Dan itu semakin menguatkan tekadku untuk berpisah dengan suamiku. Aku tak ingin aku koma yang ketiga kalinya, masih untung jika aku koma,kalau aku langsung mati bagaimana?”


Beliau tersenyum samar mendengar jawabanku

__ADS_1


“Harta gono gini?” tanya beliau


Aku menggeleng. Segera aku menjelaskan seluruhnya pada beliau. Bahkan dengan bukti transferan dan juga bukti uang yang aku berikan pada Putri beberapa minggu yang lalu juga aku tunjukkan


“Aku ingin bapak masukkan dalam draf gugatan bahwa aku tidak meminta sepeserpun uang Tomi. Uang, rumah, mobil dan seserahan ketika kami menikah dulu akan aku kembalikan seluruhnya pada Tomi, tidak ada satupun yang tersisa. Bahkan jika Tomi nanti menggugat juga tentang EO yang disewanya ketika kami menikah dulu, aku juga sanggup mengganti ruginya”


Lama pak Marsudi memandang ke arahku. Dan aku yang menjelaskan dengan penuh luapan emosi hanya menarik nafas dengan dada turun naik


“Belum pernah aku menjadi lawyer dalam kasus perceraian seperti ini bu Dinda” lirih beliau sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa


Aku tersenyum kaku mendengar ucapan beliau


“Makanya hati-hati pak dengan perempuan. Kami ini adalah pen contoh handal. Ketika logikanya sudah bekerja, dia akan copy paste apa yang dia lihat. Ketika suami mengajarinya berbohong, maka kami akan jadi penipu handal, ketika kami dipaksa mandiri, maka kami akan membeli harga dirinya. Tapi jika kami diberikan perhatian dan kasih sayang, isi dunia akan kami berikan sebagai imbalan” jawabku asal kemudian aku tertawa, geli sendiri dengan ucapanku. Dan pak Marsudi juga tersenyum simpul


“Maksud saya bu, sebanyak kasus perceraian yang saya hadapi, tidak ada istri yang tidak meminta apa-apa dari suami, bahkan kalau bisa harta gono gini itu dibagi rata. Dan ibu ini berbeda, semua pemberian dari suami ibu malah ingin ibu kembalikan”


“Itu karena aku tidak ingin ada ikatan lagi dengan suami aku pak. Biar putus semuanya. Toh, memang itu pemberian dari dia, ketika aku tidak jadi istrinya aku kembalikan dong. Nggak salah kan pak?”


“Baiklah jika ibu inginnya seperti itu, senin besok saya akan ajukan gugatan ibu di pengadilan. Dan ketika akan sidang biasanya ibu akan ada surat pemanggilan dari pengadilan agama”


Aku mengangguk, karena aku sudah ada pengalaman pertama ketika dulu bercerai dengan mas Adi. Jadi sedikit banyaknya aku tahu jika nanti aka nada surat panggilan untukku. Setelah semuanya selesai, aku segera menjabat hangat tangan beliau dan segera pulang


Pesan grup yang sejak aku di kantor pak Marsudi tadi masuk sedikitpun tidak menarik perhatianku. Aku terus saja melajukan mobilku menuju rumah. aku ingin segera sampai di rumah, berkumpul dengan ketiga anakku, dan menghabiskan week end dengan mereka berdua


**


Rabu pekan depannya sejak terakhir aku ke kantor pak Marsudi, itu artinya sepuluh hari yang lalu. Ketika aku sedang fokus bekerja, ada pesan masuk dari bapakku. Pesan gambar, segera aku membuka pesan tersebut yang ternyata adalah amplop coklat yang bertuliskan kop pengadilan agama


Aku tersenyum melihat gambar tersebut. kemudian aku membalas pesan bapakku dengan mengucapkan terima kasih, setelahnya aku segera meneruskan pesan tersebut pada pak Marsudi


Dan Tomi yang bekerja belum mengetahui jika ada surat panggilan dari pengadilan yang sampai di rumahnya. Tapi dalam beberapa hari ini dia sangat gelisah, pesan yang dikirimnya pada Dinda satu pun tidak ada yang dibalasnya, semuanya hanya di baca tanpa ada satupun yang dibalas

__ADS_1


Kegelisahan hati Tomi kian menjadi ketika minggu lalu dia mendapat kabar dari Putri jika Dinda sepertinya marah pada Putri. Dan ketika Putri menjelaskan apa alasan Dinda marah sama dia, jawaban Putri mampu membuat Tomi tak bisa tidur nyenyak


Sepanjang malam dia gelisah, takut jika yang dikatakan Putri menjadi kenyataan jika Dinda memang benar-benar akan menggugatnya.


Karena di rumah sekarang hanya sendirian, Tomi lebih memilih banyak menghabiskan waktunya di luar. Sekedar nongkrong dengan teman lamanya atau bahkan akan duduk berlama-lama di alun-alun kota, tempat biasa yang dia dan Dinda beserta anaknya habiskan dulu jika malam minggu


Jam sepuluh malam barulah Tomi pulang. Rumahnya dalam keadaan gelap gulita, hanya lampu luar saja yang memang sengaja tidak pernah dimatikan olehnya sebagai penanda jika rumah tersebut ada penghuninya


Ketika Tomi membuka kunci pintu, dan melangkah masuk, kakinya merasa menginjak sesuatu. Refleks Tomi langsung mengangkat kakinya dan berjalan terburu kearah saklar lampu. Menyalakan lampu agar ruangan menjadi terang benderang. Barulah setelah itu dia berjalan kearah pintu dan tampak tertegun ketika melihat ada amplop coklat di lantai, tepat di bawah pintu masuk rumahnya


Dengan tangan sedikit gemetar dan degup jantung yang berpacu cepat, Tomi memungut amplop tersebut. dan seketika tubuhnya terasa limbung ketika dilihatnya kop amplop tersebut yang bertuliskan kantor pengadilan agama


Masih dengan tangan gemetar dan degup jantung yang berpacu cepat, Tomi menyobek sudut amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Tubuhnya yang memang sudah lemas semakin tak berdaya ketika membaca isi keseluruhan surat tersebut


Air mata langsung mengalir deras di wajahnya, bukan isak melainkan suara tangis yang cukup kencang. Diremasnya surat tersebut dengan hati hancur. Berkali-kali dia mengusap wajahnya dan meyakinkan dirinya jika ini hanyalah mimpi bukan kenyataan


Setelah cukup lama menangis, segera dia mengambil hp di kantong celananya, dan segera menghubungi Dinda. Dan aku yang telah nyenyak dan tiap kali tidur data selular selalu aku matikan, tidak tahu jika Tomi puluhan kali mencoba menghubungiku. Bahkan telepon biasa darinya luput dari pendengaranku


Malam ini aku tidur sangat nyenyak, hingga hp ku yang puluhan kali berdering sama sekali tidak terdengar di telingaku. Mungkin aku tidur dengan nyenyak karena akhirnya keinginanku sebentar lagi akan terwujud, setelah sekian hari aku menantikan surat panggilan dari pengadilan


Karena tak juga mendapatkan jawaban dari Dinda, kembali Tomi menangis terisak. Pikirannya benar-benar kacau, hingga dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Segera disambarnya lagi kunci mobil, dan dengan terburu kembali dia keluar dari dalam rumahnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang jalan dia masih terus menangis, ribuan penyesalan kembali berlompatan di dada dan kepalanya. Ketika berdiri di depan rumah ibunya, Tomi segera menggedor pintu tersebut, yang menyebabkan ibunya yang tengah lelap tertidur terjaga dengan kaget. Karena didengarnya jika yang memanggil diluar adalah Tomi, perasaan khawatir mulailah menyerang wanita paruh baya tersebut


Begitu pintu terbuka, Tomi segera ambruk di kaki ibunya dengan kembali menangis sesenggukan. Ibunya yang tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya segera mengangkat tubuhnya anaknya dan membawa anaknya masuk


“Dinda mengajukan gugatan buk….” Lirih Tomi dengan suara tercekat ketika dia sudah cukup tenang


Tampak raut kaget di wajah ibunya, tapi cuma sebenar. Setelah itu wajah beliau berubah marah


“Terus kamu ngapain nangis, hah?. Kamu laki-laki. Kamu masih bisa cari banyak wanita yang jauh lebih baik dari Dinda. Ingat Tomi, wanita di dunia ini bukan cuma Dinda. Masih banyak wanita lain. Kamu jangan menjatuhkan harga diri kamu dengan menangis seperti ini. Justru kamu tunjukkan pada Dinda bahwa kamu biasa-biasa saja, kamu tidak terpengaruh sedikitpun. Kalau kamu lemah, kamu akan makin tak ada wibawanya di mata Dinda”


Tomi menarik nafas panjang dan mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan ibunya. Bukannya menenangkannya, ucapan ibunya semakin membuat kepalanya sakit

__ADS_1


__ADS_2