Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Kritis


__ADS_3

Tomi segera menopang kepala Dinda sambil berteriak panik, sedangkan Adi yang tampak shock segera melemparkan pisau yang ada di tangannya dan menyandarkan tubuhnya ke tembok dengan kacau


Tomi menoleh marah kearah Adi, dengan cepat dia bangkit


Bughh bughh bughh


Berkali-kali dihujani nya perut Adi dengan pukulan keras


Ketika didengarnya Dinda mengerang kesakitan dilepaskannya tubuh Adi dengan kasar lalu kembali kearah Dinda


Sekuat tenaga diangkatnya tubuh Dinda lalu setengah berlari dibawanya masuk kedalam mobil


"Tunggu kamu!" teriak Tomi kencang ketika dilihatnya Adi berlari cepat keluar pagar


"Adi, jangan kabur kamu!" kejar Tomi


Beberapa tetangga yang mendengar kegaduhan, keluar dari rumah mereka masing-masing


"Tolong kejar Adi itu pak, dia telah melukai Dinda" teriak Tomi


Beberapa warga tanpa pikir panjang segera mengejar Adi yang telah jauh di depan


Melihat warga telah mengejar Adi, Tomi segera berbalik kembali kedalam rumah, ternyata di dekat mobil Tomi telah ada kedua anak Dinda dan pengasuhnya, dan juga beberapa warga yang terlihat membuka pintu mobil dan ada seorang yang nekad masuk kedalam mobil, menekan luka Dinda dengan kain


"Tolong pegangin Dinda bu, saya akan membawanya ke rumah sakit"


Naya segera mencengkeram lengan Tomi ketika Tomi akan masuk kedalam mobil


"Oom aku ikut"


Tomi menggeleng


"Naya di rumah sama adek dan mbak Sri, biar ibu, oom yang bawa ke rumah sakit, nanti setelah ibu ditangani dokter oom akan jemput Naya"


Naya yang wajahnya basah oleh air mata menggeleng


"Tolong pengertiannya nak, nyawa ibumu dalam bahaya"


Setelah berkata begitu, Tomi melepas tangan Naya lalu segera menghidupkan mesin mobil


Warga yang ada di halaman segera memberi jalan ketika Tomi akan pergi, lalu Tomi membawa mobil dengan ngebut tak menghiraukan jika saat itu sedang maghrib


Sampai di rumah sakit, Tomi segera menghentikan mobilnya lalu segera membuka pintu bagian tengah dengan cepat, lalu kembali dengan cepat dia mengambil tubuh Dinda yang di pangku tetangganya


"Tolooongg!!!" teriaknya panik sambil menggendong tubuh Dinda masuk kedalam rumah sakit


Suasana rumah sakit sepi karena sebagian petugas sedang shalat, dan petugas yang bergantian jaga segera berlari keluar membawa brankar ketika melihat Tomi


Segera Tomi meletakkan tubuh Dinda di atas brankar lalu dia ikut mendorong brankar masuk ke IGD


Pintu IGD ditutup dan Tomi hanya bisa menunggu di luar dengan berjalan mondar mandir


Sementara dokter yang akan masuk kedalam ruang IGD segera dihentikannya


"Tolong selamatkan dia dokter"


Dokter tersebut hanya mengangguk lalu segera masuk kedalam ruang IGD


Dan kembali Tomi berjalan mondar mandir seperti tadi


"Aku harus menghubungi Mila" gumamnya sambil dengan cepat mengambil hp dalam kantong celananya


"Mil, kamu dimana?" tanya Tomi ketika panggilan tersambung


"Di rumah, kenapa kak?"

__ADS_1


"Mil, tolong kamu ke rumah sakit sekarang, Dinda di IGD"


"Gimana bisa?"


"Ceritanya aku juga nggak tahu, pokoknya kamu cepat kesini, aku takut Dinda kenapa-napa"


"Oke, kakak yang tenang ya, aku kesana sekarang"


Panggilan terputus, kembali Tomi berjalan dengan mondar-mandir


Sementara Mila yang begitu mendapat telepon dari Tomi segera menyambar kunci mobilnya


"Mama mau kemana?" teriak anak kembarnya ketika mereka lihat mama mereka berjalan terburu


"Bik, jagain anak-anak, aku mau ke rumah sakit lagi" teriak Mila sambil segera masuk kedalam mobil


"Mama?" teriak salah satu anak kembarnya lagi


"Sayang tolong ngertiin mama, ini urgent"


Kedua bocah itu hanya bisa menarik nafas panjang ketika mama mereka berlalu dari hadapan mereka


Dengan cepat Mila melakukan panggilan grup


"Woy, maghrib, shalat bukannya malah ngajak kita video call" protes Nanda dan Rohaya ketika bergabung


"Gue di jalan menuju rumah sakit, kata kak Tomi, Dinda sekarang di U


IGD, ada yang tahu nggak kira-kira dia kenapa?"


"Di IGD, kapan?"


"Barusan, makanya gue buru-buru balik lagi ke rumah sakit"


"Hati-hati ya Mil, segera kabari kita begitu kamu sampai di sana"


Lalu Mila memutus panggilan dan kembali melajukan mobilnya dengan ngebut


Sampai di rumah sakit Mila langsung berjalan cepat menuju ruang IGD dan segera menghampiri Tomi yang sedang duduk dengan seorang perempuan paruh baya


"Dinda kenapa?" tanya Mila dengan nada panik


Tomi menarik nafas panjang


"Ditusuk Adi"


"What?"


Mila langsung berjalan keruang IGD, dengan kasar didorongnya kuat pintu IGD sehingga dokter dan perawat yang sedang menangani Dinda menoleh kaget


"Dokter Mila?" ucap dokter kaget begitu melihat siapa yang masuk


Mila hanya mengangguk sekilas lalu segera menghampiri Dinda yang masih tak sadar


"Din...?" lirihnya sambil mengecup kening Dinda


"Apakah luka tusuknya parah dokter?"


"Parah dokter, luka tusuknya mengenai ginjal, dan dokter tentu faham jika semua luka tusuk yang mengenai perut itu berbahaya, Apalagi sejak tadi pendarahannya belum juga berhenti"


"Siapkan ruang operasi dokter, kita harus segera mengoperasinya" Mila segera bertindak cepat


"Bertahanlah Din...." kembali Mila bergumam panik


Apalagi ketika dilihatnya jika wajah Dinda semakin pucat

__ADS_1


Secepat kilat Mila segera mendorong brankar tanpa menunggu keputusan dokter yang menangani Dinda ketika dilihatnya jika Dinda semakin lemah


"Bantu aku kak!" teriaknya panik


Tomi segera berdiri dan membantu mendorong brankar, sementara dokter dan perawat mengejar di belakangnya


"Cepat buka!!" kembali Mila berteriak ketika sampai di depan ruang operasi


Perawat yang berlari di belakangnya segera membuka pintu operasi, Mila dan Tomi kembali mendorong kuat brankar


Secepatnya perawat tadi memasangkan baju khusus operasi kepada Mila, dan Mila dengan dibantu seorang dokter dan dua perawat segera melakukan tindakan mengoperasi Dinda


Wajah Mila semakin tegang ketika detak jantung Dinda semakin melemah


"Kamu kuat Dinda, kamu kuat...." gumamnya dengan gemetar


Keringat telah mengalir dari kening Mila tetapi operasi masih juga belum selesai


"Bertahanlah Din....." kembali Mila bergumam panik


"Yang sabar dokter" ucap dokter yang menemani Mila ketika dilihatnya jika tangan Mila gemetar


Kedua dokter tersebut berjibaku menjahit dan menutup luka pada ginjal Dinda yang robek


"Stok darah kita masih banyak kan dokter?" kembali Mila bersuara ketika pendarahan tak juga berhenti


"Masih dokter, tapi tidak tahu golongan darah pasien apa"


"Golongan darahnya A, luka tusuk ini menyebabkan pendarahan masif, dan Dinda butuh banyak darah " gumam Mila lagi


Didengarnya Dinda menarik nafas panjang


Mila yang sedang fokus menjahit langsung mendongakkan kepalanya kearah Dinda


"Dindaaaa....." teriaknya kencang


Jarum jahit segera dilepasnya dan langsung diambil alih oleh dokter satunya


Mila segera menopang kepala Dinda, sambil terus meneriakkan namanya


"Kamu bertahanlah Din, kamu harus bertahan, Dindaaa......" air mata telah berhamburan keluar dari mata Mila


Dan teriakannya makin histeris ketika layar komputer telah berubah menjadi garis lurus dan telah berbunyi tiiitt panjang


"Tidak, tidak. Dinda kamu harus kuat, kamu harus kuat, Dinda...."


Dengan cepat Mila mengambil alat pacu jantung, segera alat tersebut di letakkannya di atas jantung Dinda


"Ayo Din, ayo Din...." ucapnya masih dengan gemetar


Kembali alat pacu jantung diletakkannya di dada Dinda, berkali-kali tanpa henti


"Kamu bisa Dinda, ayo lawan Din, Dinda, bertahanlah demi kami Din...."


"Kamu masih punya anak yang masih kecil Din, kamu nggak boleh menyerah!!!" teriak Mila


Perawat dan dokter yang telah selesai melakukan operasi hanya bisa memandang iba pada Mila yang terus berusaha membuat jantung Dinda kembali berdenyut


Tiiitt... titt.. tiiitt....


Kembali layar komputer berbunyi normal dan Mila segera melepas alat pacu jantung, dia langsung ambruk di lantai dan langsung menangis tersedu-sedu


Dokter yang menemaninya melakukan operasi menepuk-nepuk bahunya hingga Mila segera mengusap kasar wajahnya


Mila bangkit lalu memeluk tubuh Dinda, dan kembali dia menangis terisak

__ADS_1


"Jangan menakuti ku seperti tadi, itu tidak lucu" gumamnya sambil terus menciumi wajah pucat Dinda


__ADS_2