Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Mila Kalap


__ADS_3

Adi langsung ambruk dengan posisi miring karena tendangan Mila tepat mengenai pelipisnya


Lawyer Adi yang melihat segera berlari begitupun dengan orang-orang yang melihat


Mila masih dengan angkuhnya berdiri di depan Adi yang terjengkang dan memegang pelipisnya yang aku yakini pasti sakit banget


Aku dan Putri segera memegangi Mila yang menatap tajam Adi dengan wajah marah


"Bangun!!!" teriak Mila


Aku dengan segera menarik tangan Mila menjauhi Adi yang telah berdiri dan memandang marah pada Mila


Adi maju dan langsung melayangkan tangannya kearah Mila yang segera menarik tangannya yang ku pegangi


Aku terpekik karena kali ini tangan Adi dipelintir kuat oleh Mila


"Ya Tuhan, stop Mil...." teriakku panik


"Kamu lupa jika aku pemegang sabuk hitam di taekwondo?" ucap Mila santai sedangkan Adi mengerang kesakitan


"Mil, lepasin dia Mil, cukup!!" teriakku sambil berusaha menarik bahu Mila


Mila yang masih memelintir tangan Adi menoleh marah ke arahku


"Kamu yang stop Din, berhenti baik sama toxic satu ini"


Lawyer Adi juga berusaha menarik tangan Adi yang dipelintir Mila


Aku memegang keningku sambil menghembus nafas kasar karena frustasi


"Mil udah dong, kamu sadar profesi kamu" teriak Putri tak mau kalah


"Jangan bawa profesi gue, toxic ini harus sadar siapa dia sebenarnya"


Adi terus mengerang tapi Mila seakan tak memperdulikannya


Bahkan dengan sadisnya Mila menginjak kaki Adi lalu melayangkan lututnya tepat mengenai wajah Adi


Lalu setelah itu Adi dibantingnya kelantai


Aku yang melihat hanya bisa menutup mulutku dengan mata terbelalak


"Ya Tuhan...." desis ku sambil menutup mulut


Mila tersenyum puas melihat Adi yang kembali jatuh dan mengerang


"Sayang....!!!!"


Kami langsung menoleh kebelakang, dimana Julistiar, suami Mila setengah berlari, berjalan kearah kami


Mila menepuk-nepuk kedua tangannya layaknya membersihkan debu yang menempel lalu memasang senyum manis kearah suaminya


Sedangkan Adi yang masih mengerang dengan hidung berdarah saat ini ditolong beberapa orang dan juga lawyernya


"Astaghfirullah, kamu apakan dia?"Julistiar langsung mendekati Adi yang bersandar di kursi dengan terus mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah


Aku ikut melihat keadaan Adi yang mengenaskan tanpa memperdulikan wajah marah Mila


"Saya laporkan penganiayaan ini ke kantor polisi" ucap Adi memandang marah pada Mila tanpa memperdulikan suami Mila, Julistiar yang ingin melihat luka di wajahnya


"Lapor sana, nggak takut. Ini di depan kamu ada polisi, kenapa kamu nggak lapor dia saja langsung"


Aku menggelengkan kepalaku dengan heran mendengar jawaban santai Mila


"Sayang....!" bentak Julistiar yang membuatku menoleh langsung kearahnya

__ADS_1


"Putri, bawa pergi istriku, semakin lama dia disini, semakin runyam masalahnya"


Putri mengangguk, dan dengan cepat ditariknya lengannya Mila yang masih menolak kasar


Mila mendecak kesal saat menurut ditarik paksa oleh Putri


Dan aku yang membantu membersihkan hidung Adi hanya bisa menarik nafas dalam


"Kok Mila bisa ngamuk?" tanya suaminya padaku


Aku menggeleng


"Lah, mas kok bisa kesini?"


Kudengar mas Julistiar mendecak kesal


"Dia tadi nelpon jika ingin kesini nemuin Adi, dan perasaan aku nggak enak, kalian tahu sendiri bagaimana Mila"


Aku kembali berusaha membersihkan hidung Adi yang saat ini darahnya sudah berhenti mengalir


"Maafin Mila ya mas....." sesalku dengan wajah tak enak pada Adi yang hanya memasang wajah datar


"Din, ayo pulang, ngapain kamu masih ngurusi dia!" bentak Mila dari jauh


Aku buru-buru berdiri dan memegang bahu Adi sebentar, lalu menganggukkan kepalaku kearah mas Julistiar yang memandang tajam kearah Mila, istrinya


Kami bertiga jalan terburu menuruni tangga kantor pengadilan hingga akhirnya kami masuk kedalam mobil masing-masing


Mobil Mila yang berada di depan sebagai patokan kami arah mana yang akan kami tuju, karena tadi dia mengatakan kami harus mengikutinya dari belakang


Dan benar saja perkiraanku, Mila mengarahkan mobilnya ketempat biasa kami nongkrong


Karena tak ingin membuatnya marah, aku terus saja mengikutinya hingga akhirnya mobil kami berhenti dan kami semua turun


"Ayo naik!"


Kedatangan kami disambut lambaian tangan keempat sahabatku yang lain


"Kalian nggak kekantor?" ucapku pada Lisa dan Nanda


"Paling juga kena SP" jawab keduanya pasrah


Aku menoleh pada Rohaya dan Vita dan langsung cipika cipiki pada keempatnya


"Aku tahu, ini karena aku kan?" ucapku dengan penuh penyesalan kearah keenam sahabatku, terutama pada Nanda dan Lisa yang rela bolos kerja


"Bukan, lebih tepatnya karena ancaman Mila" jawab Vita


Aku melirik kearah Mila yang dengan santainya minum jus yang ada di depannya, entah itu minuman milik siapa


"Kalian sih ngeyel, gue bilang ikut gue ke pengadilan pada nggak mau sih"


Aku dan Putri langsung saling lirik


"Habis itu si toxic gue hajar" lanjut nya santai


Yang lain langsung berebutan bertanya seperti apa Mila menghajar Adi, dan tanpa dosa Mila langsung bercerita bagaimana senangnya dia karena kembali bisa latihan taekwondo secara gratis


"Lu ngapain juga tadi bantuin dia?" Mila langsung membentak ke arahku


Aku hanya bisa menelan ludah menghadapinya yang memandang marah padaku


"Ya rasa kemanusiaan aja Mil"


Mila melengos

__ADS_1


"Lu tahu, telat dikit aja gue tadi tiba, gue yakin, elu yang dihajar sama dia, apa lu nggak lihat gimana marahnya dia karena lu bilang dia harus sadar diri"


Aku menarik nafas panjang mendengar Mila mengomeli ku


"Pokoknya, awas saja jika sekali lagi itu si toxic ngancam dan marah-marah sama lu, gue akan hajar lagi dia, bila perlu sampai mampus"


Vita langsung mengelus pundak Mila untuk menyadarkannya


...----------------...


Wajah Yesa langsung terkesiap ketika melihat wajah Adi yang babak belur


"Kamu kenapa pa?"


Adi melengos ketika Yesa memegang wajahnya


"Hidung kamu juga tampak merah, dan ini juga kenapa pelipisnya lebam kaya gini?"


Adi yang baru masuk rumah memilih duduk dan menarik nafas panjang. Yesa segera masuk kedalam dan tak lama telah keluar dengan membawa es batu dan kain


Adi tampak meringis ketika es batu yang dibalut kain menempel di wajah dan pelipisnya


"Papa belum jawab pertanyaan mama, apa yang terjadi sama papa?"


Sambil meringis menahan sakit Adi menjawab


"Papa dihajar dengan temannya Dinda"


Mata Yesa membelalak


"Cowok?"


Adi menggeleng


"Cewek"


"Hah?"


Adi kembali meringis ketika Yesa menekan kuat kain ke wajahnya akibat kaget


"Ceweknya kaya apa kok papa sampai babak belur gini?"


Adi mendecak kesal ketika diingatnya bahwa bukan sekali dua kali ini Mila selalu melawannya, bahkan ketika pertama kali ke rumah ini, Mila lah orang yang paling kalap


Bahkan ketika ulang tahun Dinda kemarin, mereka juga terlibat adu mulut lagi


Dan endingnya hari ini, dimana akhirnya Mila benar-benar menghajarnya


"Ceweknya biasa saja sama seperti cewek kebanyakan, tapi jangan disangka dibalik anggunnya dia, ternyata dia jauh lebih berbahaya dari pada cowok"


"Dia ternyata pemegang sabuk hitam di taekwondo"


Yesa menelan ludahnya mendengar jawaban suaminya


"Papa nggak melawan?"


"Tentu papa melawan, tapi tangan papa malah dipelintir dan dikunci matinya, belum lagi setelah itu papa dibantingnya kelantai"


"Hah?" mulut Yesa menganga


"Jika bukan karena suaminya datang, mungkin dia akan terus menghajar papa"


"Kita harus lapor polisi pa, ini namanya sudah penganiayaan"


Adi menarik nafas panjang

__ADS_1


"Gimana mau lapor polisi, dari ayahnya, kakaknya sampai suaminya semuanya polisi, bisa-bisa malah nanti papa yang mereka tahan bukan anaknya"


Yesa kembali terdiam mendengar jawaban Adi dan hanya bisa menarik nafas panjang sambil terus mengompres wajah suaminya yang sesekali meringis


__ADS_2