
Aku yang duduk di kursi langsung membetulkan posisi tubuhku ketika kulihat mobil Tomi masuk ke area parkir toko
Tomi turun dengan menenteng kantong kresek putih, kembali Siska dan yang lain tersenyum sambil menganggukkan kepala mereka pada Tomi
Aku memasang senyum kaku ketika Tomi makin dekat
"Untuk adek"
Aku melirik kantong kresek putih yang diletakkan Tomi di depanku
"Apa ini Tom?"
Tomi hanya menaikkan alisnya, hingga akhirnya aku menarik kantong kresek itu dan melihat isinya
"Rujak?, kamu pikir aku ngidam?" ucapku sambil tak urung mengambil satu dan langsung membuka ikatan karet pada kantong plastik tersebut
Aku mencium sejenak aroma rujak ke hidungku. Dan Tomi hanya memperhatikan Dinda dengan seksama
"Masih tak berubah" batinnya
"Baunya seger banget, tapi kok buahnya mangga semua?" protes ku ketika melihat isi kantong rujak di tanganku
Tomi terkekeh
"Adek kan sukanya mangga muda, lupa apa dulu maksa kakak berhenti di depan rumah orang hanya karena adek ingin makan mangga?"
Aku sontak terdiam dan langsung melengos ketika Tomi mengucapkan kalimat itu
Bagaimana dia selalu ingat kenangan kami, batinku
Dan secara tak sengaja ingatanku melayang ke kejadian dimasa dulu, di masa dimana aku sedang naik motor sama Tomi dan melewati rumah orang yang di halamannya ada pohon mangga yang berbuah lebat.
Saat itu aku memaksa Tomi untuk memutar kembali motor dan memaksanya meminta buah mangga tersebut dengan tuan rumah
Tentu saja saat itu Tomi menolak, tapi aku yang keras kepala memaksanya, jika dia tidak menurut maka aku akan merajuk
Jadilah Tomi saat itu dengan sangat terpaksa mengetuk pintu rumah orang yang sama sekali tak dikenalnya dan mengutarakan niatnya
Aku yang berdiri di sebelah motor hanya berdoa dalam hati jika yang punya rumah berbaik hati memberi satu saja buah mangga untukku
Dan Alhamdulillahnya yang punya rumah baik hati dan mengajakku mengambil buah mangga yang pohonnya pendek itu
Tak menunggu tawaran kedua kalinya, saat itu juga aku mengambil satu buah mangga dan mengelapnya di bajuku lalu aku langsung menggigit buah mangga tersebut dengan nikmat
Aku ingat sekali bagaimana tatapan kaget Tomi dan yang punya rumah saat melihatku langsung menggigit buah mangga tanpa dicuci terlebih dulu
Aku menunduk sambil menahan tawa mengingat kejadian konyol itu
Melihat Dinda tertawa, tak urung Tomi juga tertawa
"Adek tahu tidak apa alasan kakak dulu sama yang punya rumah?"
Aku menggeleng
"Adek lagi ngidam"
__ADS_1
Spontan kami berdua kembali tertawa.
Karyawan yang melihat Dinda tertawa menjadi lega, bahkan mereka ikut tersenyum walau tidak tahu apa sebenarnya yang Dinda dan Tomi tertawakan
Aku langsung melahap rujak tanpa menawari Tomi karena dia tak tahan asam
"Bagaimana tadi?" tanyaku
Tomi lalu menceritakan semuanya, mendengarnya bercerita membuatku memperlambat kunyahan ku dan berfikir keras jalan apa yang harus aku ambil
"Jika kamu tidak keberatan, kakak minta alamat Adi, biar mereka menemui Adi"
Aku meletakkan lidi yang kupakai untuk menusuk rujak lalu menatap wajah Tomi
Tomi balas menatap Dinda, jadilah mereka saling tatap
"Adi tak akan bisa membayar hutang itu Tom, semua ini pasti bakal balik ke aku"
Tomi masih diam dan terus menatap wajah Dinda
"Kakak sangat merindukan mu Din..." lirihnya tanpa sadar
Aku melengos dan menghembus nafas kasar mendengar ucapan Tomi. Tomi langsung tersadar dan berdehem dengan gugup
"Maaf...." lirihnya lagi
Aku hanya membalas dengan tersenyum kaku, dan kembali debaran jantungku menjadi tak karuan
Ucapan rindu Tomi tadi mampu meruntuhkan dinding pertahanan yang sejak lama aku bangun
...----------------...
Jam empat sore toko tutup, setelah memeriksa seluruh ruangan dan berpindah ke toko satunya untuk memeriksa sebentar, aku langsung menuju tempat Putri
Butuh setidaknya tiga puluh menit untukku sampai di kantornya
Saat aku masuk, aku bertanya dulu pada dua karyawan Putri di bagian depan apakah Putri ada
Ternyata Putri sedang ada tamu jadi aku diminta untuk menunggu. Sambil duduk menunggu giliran masuk menemui Putri aku iseng melihat sekeliling kantornya
Aku lihat ada beberapa piagam penghargaan dan juga lisensi izin membuka kantor dan ada juga lisensi advokat yang bertuliskan nama Putri
Aku tersenyum bangga melihat itu semua. Sahabatku satu ini memang lawyer hebat, dan sejak sekolah dulu dia memang terkenal suka berdebat, argumen-argumennya mampu membuat guru kami saat itu berdecak kagum
Aku segera menoleh kearah pintu ketika pintu terbuka dan muncullah wajah Putri dengan dua orang wanita
"Hai...." sapa Putri
Aku tersenyum dan membiarkan Putri mengantarkan tamunya sampai depan pintu
Barulah setelah tamunya pergi, aku berdiri dan kami berdua langsung berpelukan
"Ayo masuk!" ajak Putri
Aku mengikutinya masuk dan kami berdua langsung duduk di sofa. Tak lama muncul seorang pegawai yang tadi di depan, membawakan dua buah cangkir lalu meletakkannya di atas meja
__ADS_1
"Diminum bestie"
Aku mengangguk
"Mau konsultasi apa?" tanya Putri ketika aku selesai meletakkan cangkir teh hangat
Aku menarik nafas panjang lalu menatapnya dengan dalam
Putri langsung mengelus pundak sahabatnya itu ketika dilihatnya mata Dinda telah berkaca-kaca
"Aku stress karena Adi, Put" ucapku bergetar sambil mengusap air mata yang mengalir di pipiku
Putri terus mengelus pundak sahabatnya
"Apa yang harus aku lakukan Put, tiap hari selalu ada orang yang nagih hutang"
Lalu aku menceritakan semuanya pada Putri, bahkan sikap kasar Adi dengan mengacungkan pisau ke arahku tak luput aku ceritakan
Hingga kejadian hari ini, dimana aku didatangi lima lelaki yang kembali menagih hutang padaku
"Aku harus bagaimana Put?, uang kolam dan sawit semuanya lari untuk bayar hutang Adi yang banyak, dan sekarang saat aku ingin ngisi kolam lagi, ternyata Adi berhutang banyak pula pada tauke bibit"
"Untung tadi ada Tomi yang bantuin aku, jika tidak mungkin pak Endro sudah mukul aku"
"Tomi?, Tomi ketempat lu?"
Aku menatap tajam kearah Putri yang kaget
"Lebay" rajuk ku
Putri terkekeh, dan aku dengan wajah yang langsung ku tekuk, menghapus kasar wajahku dengan tissue
"Ya ampun Din, lu nyadar nggak sih kalo kak Tomi itu sweet banget sama kamu"
Aku mendecak kesal mendengar ucapannya, dan Putri kembali terkekeh
"Aku kesini tuh mau konsultasi, bukan dengerin kamu ketawa"
Putri masih terkekeh dan memukul pundak sahabatnya
"Sorry bestie, habisnya aku kaget aja ada kak Tomi, dia datang disaat yang tepat ya, udah mirip kaya akting film India" lanjutnya masih terpingkal
Aku langsung mencubit pahanya dan kembali memasang wajah masam
"Iya iya maaf...."
Aku masih cemberut.
"Ayo, katanya mau konsul, sini aku dengerin"
Aku menghadap Putri dan masih memasang wajah masam
"Sekarang serius" ucap Putri meyakinkanku
Aku diam sejenak lalu mulai berbicara lirih dengan ragu
__ADS_1
"Menurut kamu jika aku menggugat cerai Adi dan tidak membagi harta gono gini sama dia, bisa nggak?"