
"Keruangan bapak sebentar Din!"
Aku yang sedang menatap layar laptop langsung menengadahkan kepalaku dan mengangguk cepat kearah Pak Burlian yang tahu-tahu telah berdiri di depanku
Aku segera berdiri dan menatap pada pak Kusno yang menatapku dengan pancaran penasaran
Aku mengekor di belakang pak Burlian dengan jantung yang berdegup, menebak-nebak mengapa aku dipanggil ke ruangannya
Tak biasanya, jika pun ada hal yang ingin disampaikannya biasanya beliau akan menelepon atau mengirim pesan padaku
Aku segera masuk begitu pak Burlian mendorong pintu ruangannya
"Duduk!"
Aku menurut dan segera duduk di kursi tepat di depan beliau
Pak Burlian menyatukan jari-jarinya dan meletakkannya di atas meja dan menatap serius ke wajahku
"Maaf jika bapak lancang, tapi apa kamu tidak stress?"
Aku diam dan menebak arah pembicaraannya
"Maksudnya pak?"
"Come on, Tomi itu adik bapak, otomatis semua yang terjadi sama kamu akan diberitahukannya pada bapak"
Aku tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalaku berkali-kali
"Jangan marah sama Tomi, dia sangat perhatian sama kamu Din, entah apa yang merasukinya"
Kembali aku tersenyum mendengar kalimat terakhir pak Burlian
"Aku kuat kok Pak, masalah persidangan In Syaa Alloh tidak akan mengganggu masalah pekerjaan kantor, bapak jangan khawatir"
"Kamu bisa menyerahkan pekerjaan pada yang lain jika kamu lelah, jangan terbebani"
"In Syaa Alloh pak, jika memang aku nggak sanggup aku akan melambaikan tangan"
Kali ini gantian pak Burlian yang terkekeh
"Tomi benar, perempuan ini memang pintar menyembunyikan bebannya dan terlihat biasa-biasa saja"
"Sidang lagi kapan?"
"In Shaa Alloh dua minggu lagi pak"
Pak Burlian mengangguk dan aku tersenyum
"Ya sudah, kamu bisa kembali keruangan mu lagi sekarang, jika butuh libur bilang saja sama bapak"
"Baiklah pak, terima kasih sebelumnya" ucapku sambil berdiri dan menganggukkan kepala pada beliau
Setelah Dinda keluar pak Burlian mengeluarkan hpnya dan menempelkan benda tersebut ke telinganya
"Apanya yang harus dikhawatirkan?, Dinda terlihat biasa saja, kamu saja yang lebai"
Terdengar suara terkekeh dari seberang
"Pokoknya jagain dia kak, jangan kasih kerja yang banyak"
"Heeemmmm"
Kembali terdengar suara terkekeh dan pak Burlian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meletakkan hp
"Tomi.... Tomi, makanya ketika muda jangan bodoh, akhirnya kamu sendirikan yang menyesal"
...----------------...
Jika di persidangan kemarin aku memandang iba pada Adi, tapi berbeda dengan persidangan kali ini
Uluran tangan darinya hanya ku balas dengan jabatan sekilas, lalu aku mendahuluinya masuk kedalam ruang sidang dan langsung duduk bersebelahan dengan Putri
Diluar dugaanku, ketika aku masuk ternyata lima sahabatku yang tidak sama sekali mengetahui jika hampir dua bulan ini aku sidang perceraian ternyata duduk rapi sambil saling berbisik dan tampak melihat hp satu sama lain sepertinya ada topik hangat yang mereka bahas ketika mereka melihat hp
Aku yang menghentikan langkahku segera menoleh pada Putri yang juga sama bengong nya denganku
"Sumpah, bukan aku Din"
Di dalam ruang sidang yang terbuka untuk umum tersebut juga ada beberapa orang yang tak kukenal yang sepertinya selalu hadir hampir di tiap persidangan ku
__ADS_1
Aku kembali melanjutkan langkahku dengan degup jantung yang cukup berdebar
"Bestie....?" sapaku dengan suara bergetar
Refleks kelimanya menoleh padaku dan langsung berdiri dan berebutan memelukku
Aku yang masih bengong hanya membalas pelukan mereka dengan diam tak mampu berkata-kata
Ketika tiba giliran Mila yang memelukku, kutangkap sinar kemarahan di matanya, terlebih karena wajahnya cemberut ketika memelukku
Rohaya, sahabat yang paling rame diantara kami bertujuh berkali-kali memelukku dan mengusap-usap punggungku
Lalu mereka bergantian memeluk Putri, dan pada Putri kelimanya memandang marah
"Selesai sidang ini kalian berdua jelaskan pada kami"
Aku menelan ludahku ketika mendengar ucapan Mila. Aku dan Putri hanya bisa saling pandang dan menganggukkan kepala kami
Kembali Putri menggamit lenganku dan mengajakku duduk di tempat biasa kami duduk
Aku kembali menatap kearah lima sahabatku yang mengepalkan tangan mereka dengan mengucapkan kalimat semangat melalui kode mulut mereka
Aku mengangguk dan tersenyum kaku pada mereka
Kembali aku harus dibuat kaget ketika Tomi masuk berbarengan dengan Adi dan lawyernya
Kulihat Adi menatap ke arahku tanpa berkedip, begitupun Tomi
"Ngapain Tomi juga hadir?" bisikku pada Putri
"Biarlah, ini sidang terakhirmu mungkin kali ini dia ingin menampakkan wujudnya di depan Adi, biar Adi tahu bahwa dia masih ada buat kamu"
Aku langsung memukul pahanya dengan kesal, sedangkan Putri terkekeh dengan tertahan
Lalu terdengar pengumuman yang meminta kami berdiri karena hakim dan hakim anggota akan memasuki ruang persidangan
Aku dan yang lain segera berdiri lalu kami duduk kembali setelah pak hakim beserta anggotanya duduk
Kembali sidang dimulai, aku dan Adi duduk ditengah-tengah ruang sidang menghadap persis pada hakim dan anggotanya, dan karena ini adalah sidang putusan, mau tak mau degup jantungku kian berpacu cepat
Terlebih ketika hakim mulai membacakan putusannya. Berkali-kali aku menarik nafas panjang dengan gelisah, begitu juga dengan Adi yang duduk di sebelahku, dia juga kudengar berkali-kali menarik nafas panjang
Aku menarik nafas panjang dan menunduk sambil menutup wajahku. Begitupun Adi, dia juga menutup wajahnya, detik berikutnya aku mengangkat wajahku dan menatap ke depan
Kulihat Putri dan lawyernya Adi berdiri dan menyalami hakim dan hakim anggota, lalu aku dengan kembali menarik nafas dalam berdiri pula dan ikut menyalami hakim dan anggotanya selayaknya yang dilakukan Putri tadi
Putri merangkulku dari samping sambil terus mengusap bahuku, aku tersenyum getir kearahnya
Karena sidang telah selesai semua yang ada di ruang sidang ini berdiri, sebagian keluar tapi tidak dengan lima sahabatku
Mereka segera berlari cepat ke arahku dan kembali berebutan memelukku
Aku mengembangkan tanganku menyambut mereka yang menubruk ku dengan haru
Kurasakan mereka kembali mengusap-usap punggungku dan kembali bergantian memelukku
"Din....?"
Aku menoleh dan membuang nafas kasar karena Adi telah berdiri di belakang sahabat-sahabatku
Mila langsung memutar badannya dan berhadap-hadapan dengan Adi
"Mau apa kamu?!" bentak Mila
Sahabatku yang lain juga menatap Adi dengan tatapan marah
"Din....?" kembali Adi memanggilku
Aku mendecak kesal dan maju lalu berdiri di sebelah Mila
"Mau apa lagi?" tanyaku pelan
Tanpa kusangka Adi menarik bahuku dan memelukku erat. Tentu saja gerakan refleksnya tak bisa aku cegah, terlebih dia memelukku dengan erat
Sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya agar melepaskan dekapan eratnya padaku
"Tolong jangan dilepas Din, aku mohon...."
Aku tak perduli, aku terus berusaha mendorong kuat tubuh Adi
__ADS_1
"Tolong Din....."
Kudengar Adi terisak, tanganku yang semula aku pakai untuk mendorongnya aku hentikan
Keenam sahabatku saling toleh dan hanya memandangi kami berdua
"Maafkan aku Din, aku menyesal...."
Aku tak menjawab perkataan Adi, dan tak juga membalas pelukannya
Masih kudengar isak tangis Adi, dan ketika kulihat Tomi berjalan kearah kami, kembali aku berusaha mendorong kuat dada Adi
"Lepas, sakit...." geram ku
Tapi sepertinya Adi memang tak berniat melepaskan pelukannya dan aku terus berusaha mendorong tubuhnya sampai akhirnya Tomi tepat berdiri di belakang Adi dan menarik keras bahu Adi
Tubuh Adi sedikit terhuyung kebelakang dan dia segera mengusap wajahnya dan menoleh kebelakang
Tomi menatap Adi tanpa ekspresi, dan kulihat mata Adi seperti menyala marah
"Mau sok jagoan kamu?"
Aku menggeleng cepat dengan menarik tangan Adi yang berjalan kearah Tomi
"Adi, stop!" geram ku
Kulihat Tomi masih seperti tadi
"Adi, cukup!" bentak ku
Adi menoleh ke arahku
"Apa karena dia kamu menggugat ku Din?"
Aku tersenyum getir dengan menggelengkan kepalaku, sedangkan Tomi masih seperti tadi wajahnya, dingin
"Alasan cerai kalian telah kamu dengar sendirikan Adi, apa perlu aku kembali meneriakkan alasannya?!" Putri maju dan menarik bahu Adi hingga menghadapnya
Adi mendengus seakan tak memperdulikan Putri, sedangkan lawyernya langsung mendekat begitu melihat Adi, kliennya sepertinya akan membuat keributan di ruangan yang hanya mereka saja sekarang isinya
"Sudah mas Adi, jangan memperkeruh suasana. Semuanya telah selesai, anda jangan membuat keributan disini"
Adi masih tak memperdulikan ucapan lawyernya dan kembali menatap tajam pada Tomi
"Sejak kapan kamu mendekati Dinda lagi, hah?"
Aku memejamkan mataku sebentar menahan kesal dan memijit-mijit keningku
"Adi, terserah kapan Tomi mendekatiku, yang pastinya mulai hari ini siapa saja bebas mendekatiku karena aku bukan istrimu lagi" jawabku
Adi menggeleng ke arahku
"Tidak Din, tidak boleh ada orang yang mendekatimu" jawab Adi
Kulihat wajahnya yang basah benar-benar tampak kacau ketika mengucapkan kalimat itu
"Kamu jauhi Dinda, kamu telah berjanji padaku"
Aku menatap kearah Adi yang menunjuk Tomi dengan frustasi lalu berganti dengan menatap kearah Tomi
"Iya, dulu aku memang berjanji sama kamu untuk menjauhi Dinda dan tidak akan mengusik hidupnya lagi"
"Tapi aku yakin kamu juga tidak lupa dengan janjimu sendiri"
Kami semua diam, dan aku makin penasaran pada dua lelaki yang sekarang saling berhadapan itu
Adi terlihat tersenyum menyeringai dan kembali seperti orang mabuk mendorong dada Tomi
Tapi Tomi sedikitpun tak membalas perbuatan Adi, dia masih bersikap seperti tadi
"Jadi karena janji yang ku ingkari itu makanya sekarang kamu kembali mendekati Dinda?"
Tomi menangkap tangan Adi yang terus mendorong dadanya
"Aku pernah bilang sama kamu, sekali saja kamu menyakiti Dinda, maka lawan kamu adalah aku, bukan Dinda"
Aku mengedipkan mataku berkali-kali dengan mulut ternganga kearah Tomi
Dan kembali kulihat Adi tersenyum menyeringai
__ADS_1