
Mau tak mau pak Burlian akhirnya menyetujui nama anak kami. Aku hanya tertawa saja melihatnya bersungut-sungut pada Tomi
“Aneh dong kak kalau kakak yang ngasih nama, kan ini anak aku” protes Tomi ketika pak Burlian terus ngotot
Istrinya pak Burlian hanya mengelus lengan istrinya, dan itu memantik rasa ingin tahuku
“Anak kami empat-empatnya kan perempuan semua, mungkin karena itulah keinginan terpendam papa nya anak-anak tidak kesampaian, maafin mama ya pa karena nggak bisa ngasih anak lelaki seperti yang papa mau” kembali istrinya pak Burlian berkata sambil tersenyum getir kearah pak Burlian
Aku dan yang lainnya langsung saling toleh, dan kami semua diam. Tiba-tiba wajah Tomi berubah tak enak ketika dia menoleh kearah pak Burlian yang tersenyum getir kearah kami semua
“Memang bapak mau ngasih nama apa?” tanyaku ragu pada beliau
“Berlian…..” jawab beliau sambil tertawa kecut
Aku dan Tomi kembali saling toleh
“Biar itu untuk calon cucu kita nanti pa….” kembali istri pak Burlian berkata menghibur suaminya
“Kenapa kakak tidak ngasih nama ke anak kami, kok mau nya ke anak kak Tomi” ucap adik pertama Tomi
“Kan sudah kakak bilang, anak Tomi itu adalah cucu tertua di keluarga kalian, yak an yunda?” jawab pak Burlian sambil menoleh kearah ibu mertuaku
“Dan posisinya itu sama seperti kakak sebagai cucu tertua di keluarga kita, itulah makanya kakak itu pengen ngasih nama sama anak Tomi. Kalian kan tahu, bagaimana akrabnya kakak dengan Tomi. Apasih rahasia Tomi yang tidak kakak tahu, semuanya kakak tahu. Sampai dia nakal dulu saja kakak tahu”
Aku langsung memasang wajah marah sambil melirik kearah Tomi, sedangkan pak Burlian terkekeh. Aku yakin dia melakukan itu untuk menghibur dirinya, tapi entah kenapa tiap bersinggungan dengan kenakalan Tomi aku nggak suka. Karena itu kenangan menyakitkan buat ku
“Kakak apaan sih, lihat tuh wajah istriku!!!” ucap Tomi cepat sambil menggeram marah kearah saudara sepupunya itu
Aku langsung memalingkan wajahku dan pura-pura tidak mendengar suaranya
“Maaf Din……” ucap pak Burlian karena aku masih saja memasang wajah cemberut. Dan tiba-tiba saja anak yang ada dalam gendongan ibu mertuaku menangis, yang membuat semuanya kaget dan tertawa lirih dan sibuk membujuk
Aku hanya memperhatikan saja ketika pak Burlian dengan sigapnya mengambil Yusuf dan membawanya berdiri. Entah kebetulan entah memang Yusuf memang tidak menangis lagi, ketika sudah di dalam dekapan Pak Burlian secara spontan tangis nyaring Yusuf tadi diam
“Weee,,, tahu ya dia kalau digendong sama orang hebat” seloroh pak Burlian sambil menoleh kearah kami
“Burlian dan Berlian, bagus juga….” Gumam Tomi sambil menoleh ke arahku. Dan aku menganggukkan kepala
“Oke deh kak, kami ambil nama Berlian dari kakak. Kami letakkan di tengah-tengah saja” ucap Tomi akhirnya setelah mendapatkan jawaban anggukan kepala dariku
__ADS_1
“Serius??” tanya pak Burlian dengan wajah antusias
Aku dan Tomi menangguk.
“Serius nggak apa-apa Din?” ulang pak Burlian lagi ke arahku. Dan kembali aku menganggukkan kepalaku. Kulihat pak Burlian mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, mungkin beliau menahan air matanya yang sudah siap tumpah
“Bismillahirrahmannirrahiim…. Pakde kasih nama kamu Yusuf Berlian Alkahfi” lirih pak Burlian sambil mengecup pipi Yusuf
Kemudian pak Burlian menoleh kearah ibu mertuaku, dan ibu mertuaku tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
“Terima kasih Dinda, terima kasih Tom…..” pak Burlian menoleh kembali kearah kami. Aku hanya bisa tersenyum menjawab ucapan beliau, sedangkan Tomi berdiri dan merangkul kakak sepupunya itu
“Jangan mellow kak, kakak itu panutan kami semua” ucap Tomi lagi sambil mengusap-usap punggung pak Burlian
Kulihat istrinya pak Burlian tampak menyusut air matanya, terharu
“Ma, pulang ini kita langsung bayar nadzar papa”
Istri pak Burlian mengangguk dan kembali kami memandang keduanya dengan tatapan curiga penuh ingin tahu
“Nadzar apa kak?” tanya adik-adik Tomi
“Nadzar, jika Tomi menikah lagi dan punya anak dan anaknya itu nanti kakak yang memberikan nama, kakak akan menyumbang dana ke masjid”
Tomi langsung menonjok lengan kakaknya mendengar jawaban kakak sepupunya itu
“Maksud kakak apa? Aku nggak bakal menikah lagi, begitu?”
Yang lain langsung tertawa mendengar pertanyaan Tomi tak terkecuali aku
“Yunda, dia lupa sekarang bagaimana kacaunya hidup dia ditinggal Dinda nikah” jawab pak Burlian sambil tak hentinya tertawa. Sampai anak kami yang ada di dekapannya diambil alih istrinya karena melihat jika Tomi dan pak Burlian tak ubahnya seperti anak kecil yang saling tonjok-tonjokan
“Jadi hidup dia acau juga pak?” tanyaku ingin tahu
Tanpa kuminta pak Burlian langsung menceritakan semuanya, bagaimana Tomi seperti orang gila. Nggak mau kerja, nggak mau ngapa-ngapain, kerjanya mengurung diri di kamar, persis orang depresi. Dan dari sanalah aku tahu mengapa Tomi merokok, karena untuk menghilangkan stress yang dialaminya
“Berarti beda tipis dong dengan Dinda …..” celetuk Putri yang langsung disambut tawa terbahak oleh sahabatku yang lain
“Please ya jangan buka kartu…..” ancam ku sambil melotot kan mata kearah mereka
__ADS_1
“Itulah jodoh, terkadang Alloh kembali menyatukan dua orang yang saling berjauhan setelah keduanya mengira mereka tak mungkin bertemu”
Kami langsung menoleh kearah Tomi yang mengatakan kalimat tadi. Aku diam, dan menatap dalam pada matanya yang juga tak berkedip menatap ke arahku
Enam bulan selanjutnya……
Yusuf berkembang sangat pesat,walau badannya besar karena memang dari lahir sudah besar, tapi semua kecakapan cepat didapatnya. Aku yang mengira jika dia akan lambat tengkurap akibat keberatan badan ternyata, umur empat bulan dia sudah tengkurap
Aku sudah beraktifitas seperti biasa, begitu juga dengan suamiku. Kehidupan rumah tangga kami jauh dari masalah, paling juga aku yang berulah, karena mood ku sebagai ibu dan juga sebagai wanita karir kadang turun naik, sehingga aku terkadang memasang wajah masam kearah Tomi jika aku merasa kecapekan
Dan Tomi yang sepertinya sudah sangat faham dengan watakku, jika aku sudah memasang wajah masam, maka urusan anak kembali sama dia semua. Memang ada mbak Sri yang bertugas menjaga anak kami ketika aku bekerja, dan juga ibu mertuaku yang setiap akhir pekan akan menginap di rumah, membantu kerepotan ku dan mbak Sri. Tugas beliau tidak banyak, hanya menjaga Yusuf, tapi itu juga sangat melelahkan karena Yusuf sangat aktif
Dan aku yang semakin sering badmood tak karuan sebab memantik rasa penasaran ku sendiri. Hingga sore ini sepulang dari kantor aku mampir ke apotek dan membeli test pack. Aku ingat, selepas nifas aku sama sekali tidak mens lagi. Jangan-jangan…… aku hanya bisa menarik nafas panjang dengan jantung berdegup kencang ketika aku berjalan menuju apotek
Ketika test pack sudah ada di tanganku, rasa deg-degan ku kian bertambah. Tapi aku berusaha tenang, aku tak ingin ibu mertuaku menangkap wajah tegangku ketika aku sampai di rumah
Yusuf akan selalu bergerak tak karuan ketika mendengar suara klakson mobil yang masuk ke halaman rumah, dan akan bergumam tak jelas, terlebih ketika aku dan papanya sudah masuk kedalam rumah. sepertinya bau keringat kami saja dia sudah hafal
Tomi, adalah orang yang akan selalu pulang tepat waktu sejak ada Yusuf. Terkadang lebih dulu dia sampai rumah ketimbang aku. Mungkin karena dia kontraktor yang banyak bekerja di luar makanya dia bisa pulang sesuka dia dibanding aku yang terikat dengan aturan
Seperti sore ini, ketika aku pulang, telah ada mobil suamiku di halaman. Dan ketika aku masuk, seperti yang sudah bisa aku tebak, Yusuf akan bergerak tak karuan walaupun dia sedang berada di dalam dekapan papanya
Aku segera meletakkan tas dan langsung mengambilnya yang langsung ngusel-ngusel ketika aku gendong. Aku tahu, dia pasti haus, maka segeralah Yusuf aku beri asi. Naya dan Arik segera duduk di sebelahku dan Arik memainkan kaki besar adiknya yang menendang-nendang
Sedangkan Naya, anak gadisku yang semakin tumbuh besar bermanja dengan neneknya yang saat itu ikut bergabung bersama kami duduk di ruang keluarga
“Kalau sudah selesai, adeknya bibi mandikan ya…..” ucap mbak Sri ketika Yusuf lepas dari asi nya
Aku tersenyum lalu memberikan Yusuf pada mbak Sri, kemudian aku berpamitan dengan ibu mertuaku untuk masuk kamar. Dan suamiku mengekor di belakang ku karena dia mengerti kode yang kuberikan padanya
“Kenapa sayang?” tanya Tomi ketika kami sudah berada di dalam kamar
Aku menarik nafas panjang sebentar, memandang ragu padanya
“Hei, ada apa?” tanya suamiku lagi sambi duduk di sebelahku yang menarik nafas panjang berkali-kali untuk menutupi rasa gugupku
Aku tidak menjawab pertanyaan suamiku, melainkan segera merogoh tas kerjaku dan memberikan test pack yang tadi aku beli padanya
“Test pack?” tanya Tomi kaget begitu benda itu aku letakkan ke telapak tangannya
__ADS_1