
Terdengar suara berisik sehingga aku tidak jelas mendengar suara Tomi
"Dia pasti di jalan" gumamku lalu mematikan hp, meletakkannya di atas meja lalu masuk kedalam kamar mandi
Selama aku mandi aku mendengar suara hp ku terus berdering, dan aku yakin jika itu panggilan dari Tomi
Aku terus saja mandi, dan begitu selesai aku segera keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan tubuhku, aku meraih hp yang tadi aku letakkan di atas meja
Aku tersenyum ketika di sana tertera tiga panggilan tak terjawab dari Tomi. Aku segera duduk di kursi, masih memakai handuk lalu membuka pesan
Maaf Din, kakak lagi di jalan, ada apa?
Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku membaca pesannya
Nggak ada apa-apa, cuma pengen nanya aja, kok kamu ke rumah aku
Centang dua, dan aku yakin Tomi masih di jalan, belum sampai di rumahnya, makanya pesan yang aku kirim belum dibacanya
Aku segera berganti baju lalu menemui kedua anakku yang sekarang sedang melihat hp Naya dan tampak sekali keseruan mereka
Ketika adzan berkumandang, tanpa diperintah keduanya langsung melesat ke kamar mandi, berwudhu, lalu kami bertiga melaksanakan kewajiban kami, selesai itu aku mengajari mereka. Terutama Arik yang masih TK, masih butuh banyak sekali bimbingan
Jam sembilan malam, keduanya masuk ke kamar mereka, dan aku mengikuti Arik masuk ke kamarnya, menemaninya sambil menggaruk-garuk belakangnya, mengusap kepalanya, setelah yakin jika dia benar-benar terlelap barulah aku naik ke kamarku
Merebahkan tubuhku, dan pikiranku menerawang kemana-mana
Aku menoleh ke meja, dimana hp ku berdering
Tomi
Aku menarik nafas dalam sebentar sebelum mengangkatnya telepon darinya, entah kenapa aku masih saja gugup tiap mendapatkan telepon dari Tomi, dan aku sangat membenci rasa gugup ini
"Ya Tom?"
"Sudah ngajarin anak-anaknya?"
Aku mengernyitkan dahiku
"Naya yang cerita jika kamu tiap malam ngajarin mereka"
Aku ber O panjang mendengar jawabannya
"Tadi kata anak-anak kamu ke rumah?"
"Iya, maaf ya nggak ijin dulu"
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Tomi
"Nggak marah kan?"
"Nggak...."
"Lagi apa?"
"Mau tidur, tapi kamu nelpon"
Terdengar suara terkekeh dari Tomi dan jantungku kembali berdebar mendengar tawa renyahnya
"Anjir...." batinku kesal dengan diriku sendiri
"Gimana sidangnya?"
Aku menggaruk alisku mendengar pertanyaan Tomi
"Maaf jika kamu nggak berkenan jawab, abisnya aku bingung mau ngomong apa"
Aku kembali tersenyum, mengetahui jika Tomi sama gugupnya seperti aku
"Udah ya Tom, nggak ada lagi kan yang ingin diomongin?" elak ku
__ADS_1
"Sebenarnya banyak sih yang ingin aku omongin sama kamu, tapi bingung mau mulai dari mana"
"Ya udah biar nggak bingung konsep aja dulu" candaku
Benar-benar garing candaan ku, karena aku sama hal nya dengan Tomi selalu bingung tiap mau ngomong sama dia
"Din....?"
"Hemmmm....?"
Lalu kami berdua sama-sama diam
"Ya Tuhan, ini mirip ketika kami pacaran dulu" batinku sambil menggigit bibirku
"Aku kangen Din sama kamu..."
Aku menelan ludahku dengan susah payah mendengar suara parau Tomi, memejamkan sebentar mataku lalu menarik nafas panjang
"Kan sering ketemu, kok kangen" jawabku sekenanya
"Beda Din, kamu pasti faham...."
Aku kembali menarik nafas panjang
"Aku masih punya kesempatan kan Din?"
Aku kembali diam, dan kembali menghembus nafas panjang
"Tom, dengerin aku ya, aku itu baru aja jadi janda, masalah aku dengan Adi aja belum kelar, sidang gono gini baru aja tadi selesainya, kok ya kamu malah nanya kesempatan kedua sih Tom?"
Tomi diam, lama dia tak menjawab omonganku
"Jika nggak ada yang ingin diomongin lagi, boleh aku tutup teleponnya?"
"Jangan Din, nanti....."
Aku tersenyum mendengar jawaban cepat Tomi
"Aku masih ingin dengar suara kamu"
Ya Tuhan.... aku langsung menutup wajahku, sumpah Tomi kembali memporak porandakan hatiku
"Ya udah ngomong lah, mau ngomong apa, aku dengerin"
"Aku masih sayang sama kamu Din, dari dulu nggak berubah"
Aku kembali menutup wajahku dengan tangan kiriku dan tersenyum malu
"Udah ah Tom, males aku dengarnya"
"Sumpah Din"
Aku kembali menarik nafas panjang
"Tom, kamu masih punya hutang penjelasan tentang perjanjian kamu sama Adi, aku belum dengar itu" ucapku setelah cukup sekian detik kami berdua sama-sama diam
Kudengar Tomi menarik nafas panjang, mungkin dia kecewa karena aku mengalihkan topik pembicaraan
"Suatu hari pasti aku ceritain Din, tapi bukan sekarang. Sekarang aku hanya ingin ngobrol tentang kita"
Aku langsung terkekeh
"Kita?, lu aja kali" jawabku sambil terkekeh
Dan kudengar Tomi juga terkekeh
"Udah ah Tom, aku mau tidur, hari ini benar-benar nguras energi aku"
"Tapi Din?"
__ADS_1
"Apalagi?"
"Aku bolehkan tiap malam nelpon kamu kaya dulu?"
Aku kembali tersenyum bahkan sampai menggigit bibirku agar tidak terbahak
"Tomi dengerin aku, ya?"
"Apa?"
"Carilah perempuan lain, jangan mengharapkan aku, kamu tahu bagaimana sifatku, aku kalau sudah sakit hati sulit untuk melupakan. Lagian aku yakin kok Tom, di luaran sana banyak wanita yang antri ingin jadi istri kamu, jadi untuk apa kamu buang-buang energi kamu untuk ngarepin aku?"
"Justru karena banyak yang suka sama aku, makanya aku lebih memilih kamu"
Aku langsung terbahak
"Udah deh Tom, nggak usah gila ya kamu"
"Sumpah Din!"
Aku lalu menarik nafas dalam, dan diam
"Din, obrolannya aku rubah video call ya, biar kamu yakin jika kamu tidak pernah tergantikan"
Aku diam tak menjawab, dan hanya menarik nafas panjang ketika panggilan diubah Tomi ke mode video
Aku tarik icon warna biru keatas lalu tampil lah wajah Tomi
Aku membenarkan posisi dudukku dengan bersandar pada sandaran ranjang lalu melihat kearah Tomi yang memandang ke arahku
Degup jantungku kembali berdetak kencang ketika melihat senyum manisnya
"Mau apa?" ucapku dengan wajah cemberut
"Jangan cemberut gitu dong, kamu sadar nggak sih kalau kamu cemberut kaya gitu makin mirip kaya jaman kita pacaran dulu"
Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat mendengar ucapannya sambil tersenyum
"Cepetan, kamu mau buktiin apa sama aku?"
"Bentar Din"
Aku menarik nafas panjang melihat Tomi bangkit lalu kulihat dia berjalan di dalam kamarnya
"Kamu lihat ini Din"
Degup jantungku kian berdetak kencang ketika Tomi mengubah layar kamera menjadi layar belakang, ditembok aku melihat ada fotoku
Fotoku jaman sma dulu, masih memakai seragam putih abu-abu, dimana aku meletakkan kepalaku di pundak Tomi dan tersenyum centil
"Kamu ingat kan Din sama foto ini?"
Aku diam
"Lihat ini juga Din"
Ternyata fotoku tak cuma satu tapi ada beberapa. Bahkan foto ketika kami kuliah dulu pun ada
Aku kembali membuang wajahku menghindari melihat setiap fotoku yang tergantung di tembok kamar Tomi
"Ini juga Din" ucap Tomi menarik laci lalu menunjukkan album foto
Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali karena isinya semuanya adalah fotoku dan juga foto bersama Tomi
"Dinda, aku masih sangat mencintai kamu" lirih Tomi memandang serius ke arahku
Aku diam tak menjawab ucapannya, hanya menatap wajahnya yang serius menatapku
"Din....?"
__ADS_1
Aku tergagap dan mengusap wajahku
"Beri aku waktu Tom, ini tidak mudah untuk aku"