
Kami segera masuk ke dalam mobil Tomi dan langsung menuju ke Cafe seperti yang telah kami rencanakan sebelumnya.
Dan ketika sampai di luar area Pengadilan Negeri kulihat Yesa berdiri di tepi jalan.
Kulihat Yesa melihat ke arah kami karena saat itu kaca jendela mobil sengaja dibuka.
"Din....." panggil Yesa yang mencoba mengejar.
Aku hanya menoleh ke belakang melalui spion melihat bagaimana Yesa berlari di belakang mobil
Lalu aku menarik nafas panjang.
"Tolong kak berhenti aku kasihan lihat Yesa berlari di belakang mobil kita" ucapku yang langsung dijawab nyolot oleh Mila.
"Kamu apaan sih Din? nggak usah Kak. Pokoknya jalan terus, biarkan aja perempuan murahan itu mengejar kita, siapa juga yang nyuruh dia ngejar kita, kan nggak ada" sambung Mila sewot
Tapi aku menggeleng ke arah Tomi dan Tomi langsung menghentikan mobilnya. Begitu mobil berhenti aku langsung turun.
Sementara Mila yang duduk di bagian tengah bersama Putri hanya bisa memandang kesal ke arahku.
"Udah deh Mil apapun keputusan Dinda kita sebagai sahabatnya mendukung aja, kita kan tahu bagaimana lembutnya hati Dinda" kata Putri menenangkan Mila yang sudah siap turun.
"Iya karena kita sebagai sahabatnya itulah makanya aku harus menghentikan Dinda. Aku tidak ingin Dinda kembali tertipu dan wanita bermuka dua itu" bentak Mila.
Sementara aku yang sekarang telah berdiri di belakang mobil, berdiri berhadap-hadapan dengan Yesa.
"Terima kasih Din karena kamu sudah mau turun" ucap Yesa dengan nafas tak teratur.
"Kamu mau apa lagi Yes, kan tadi sudah aku bilang semuanya dengan jelas".
"Tolong Din, Apa kamu tidak bisa mempertimbangkannya kembali?"
"Apa yang harus aku pertimbangkan kembali Yes, tidak ada, semuanya sudah jelas".
"Rumah sama mobil itu sekarang surat-menyuratnya sudah di tangan Pak Bara semua" jawab Yesa.
Aku tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalaku.
"Ya itu bukan urusan aku, itu urusan kamu sama Pak Bara. Kalau kamu ingin mengambil surat-menyurat itu sama Pak Bara, ya kamu selesaikan dong, jangan aku dilibatkan".
"Tapi Din aku tidak punya uang untuk menebusnya"
"Kalau kamu nggak ada uang untuk menebusnya, ya kamu relakan saja rumah sama mobil itu untuk pak Bara" jawab ku santai.
__ADS_1
Wajah Yesa kembali berubah sangat sedih mendengar jawaban santai ku sedangkan aku langsung membalikkan badanku pergi meninggalkannya.
"Din Tolonglah Din, tolong kasihani aku sama anakku" kejar Yesa sambil menarik tanganku yang segera aku tepis kan dengan kasar.
"Stop yah Yes, aku tidak akan mengasihani kamu. Untuk apa aku mengasihani kamu? kamu sudah jahat sama aku dan kamu juga sudah jahat sama kedua anak aku. Dan mungkin ini adalah balasan setimpal untuk kamu karena kamu telah merenggut kebahagiaanku dan kedua anakku" jawabku tajam.
"Sakit yang kamu rasakan sekarang ini tidaklah sesakit yang pernah aku rasakan kemarin Yes, Aku berjuang dari nol sama Mas Adi, Tapi giliran sukses dia malah kamu ambil dia malah memilih kamu dan itu rasanya sangat sakit dan sekarang kamu ingin minta kasihan sama aku? tidak, tidak akan pernah aku mengasihani kamu Yes, tidak akan!!" jawabku kali ini dengan berteriak marah
Mendengar aku berteriak marah, Mila segera turun dari dalam mobil dan langsung berdiri di sampingku dan langsung menunjuk kasar ke arah Yesa.
"Tulang suami kamu itu pernah aku patahkan. Apa kamu juga ingin merasakan patah tulang akibat ku pukulin?" geram Mila.
Wajah Yesa terkesiap mendengar geraman Mila, sedangkan Aku langsung menahan tangan Mila dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobil Aku menoleh ke arah Yesa
"Karma memang tidak semanis kurma Yesa, sekarang nikmatilah hasil yang kau tabur".
Karena aku sudah duduk di dalam mobil, Tommy segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan Yesa yang hanya bisa bengong menatap ke arah kami yang meninggalkannya.
"Arrggghhh......" teriak Yesa kesal
Di dalam mobil aku kembali menoleh ke arah tengah dimana aku melihat wajah Mila mulai berangsur tenang.
"Masalah di persidangan tadi kita bahas ketika kita sampai di Cafe, dengar kamu Din?!" ucap Mila sinis .
"Aduh roman-romannya ini aku bakal kena marah sama Mila" batinku.
Dan benar saja ketika makanan dan minuman yang kami pesan sudah datang, Mila langsung menyerobot dengan memberondong ku dengan banyak pertanyaan.
Dan aku hanya bisa mengusap sebentar wajahku mendengar pertanyaannya.
"Ya pokoknya apa yang aku katakan di persidangan tadi memang itulah yang sebenarnya terjadi Mil" jawabku kepadanya lalu aku melirik juga ke arah Tomi yang juga menatap tajam ke arahku.
"Mengapa kamu tidak bilang jika si Toxic itu mau melecehkan kamu?" geram Mila.
"Ya kan kamu tahu sendiri saat itu aku tidak sadar, aku koma, Jadi bagaimana aku mau cerita?"
"Ya tapi kan kamu bisa cerita ketika kamu sadar Din...." geram Mila lagi.
Aku mencoba tersenyum lalu mengusap tangan Mila
"Semuanya sudah lewat, dan asal kalian tahu, ini sulit buatku, tapi setidaknya karena ada kalian aku bisa menghadapi ini semua dengan santai" jawabku.
__ADS_1
"Andaikan kakak tahu jika saat itu Adi ingin melecehkan kamu, tidak akan Kakak biarkan dia lolos. Pasti akan Kakak hajar dia habis-habisan" jawab Tomi juga menggeram marah.
Aku berusaha untuk tersenyum mendengar jawaban Tomi.
"Oh ya ini adalah pertanyaan yang sangat menggantung di dalam benakku sejak akhir-akhir tahun ini sejak dari awal persidangan perceraianku sampai dengan sidang hari ini" ucapku pada Tomi.
Kulihat wajah Tomi langsung berubah seperti bingung mendengar ucapanku.
"Ada perjanjian apa di antara kamu sama Adi.?".
Kulihat wajah Tomi tampak terlihat kaget dan dia menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal dan dia menoleh gelisah ke arah Mila dan Putri.
"Ayo coba jelaskan ada perjanjian apa diantara kalian?" tanyaku dengan nada lirih namun penuh penekanan.
Mila dan Putri sepertinya juga penasaran sama jawaban Tomi, aku lihat mereka berdua juga menatap dalam ke arah Tomi.
"Sebenarnya perjanjian kami itu sudah lama, sangat lama sekali" jawab Tomi lirih.
Dan aku yang mendengar jawaban singkat dari Tomi itu kian penasaran.
Setelah menarik nafas panjang akhirnya Tomi mulai menceritakan perjanjian apa yang telah dia buat bersama Adi dulu.
”Setelah aku bercerai dengan istriku 2 bulan setelah pernikahan kami, aku berniat ingin mendatangi kamu kembali tapi niat ini aku hentikan karena saat itu aku lihat Adi sedang berusaha untuk mendekatimu" .
"Aku hanya bisa memperhatikanmu dari jauh dan memastikan bahwa Adi tidak melakukan perbuatan macam-macam sama kamu".
"Tapi sepertinya Adi tahu jika aku sering memperhatikanmu dari jauh dan juga menyelidiki kelakuannya. Saat itu Adi menemui ku dan memastikan bahwa dia jauh lebih baik dariku dan dia juga mengatakan bahwa dia sangat mencintaimu dan akan menjagamu melebihi aku yang menyayangimu. Saat itu aku mencoba sadar, Mungkin memang yang dikatakan Adi benar, terlebih saat itu aku juga melihat bahwa kamu merasa nyaman dan bahagia ketika berada di dekat Adi".
"Walau saat itu aku tidak rela melepaskan mu menjadi milik Adi, Tapi saat itu aku mencoba sadar diri. Terlebih melihat usahaku untuk mendekatimu yang seakan sia-sia, saat itu aku bilang pada Adi, aku rela melepaskan diri kamu sama dia, tapi dengan satu syarat jangan pernah dia menyakiti kamu, jika sekali saja dia menyakiti kamu, maka aku akan mengambil kembali kamu dari tangannya, entah bagaimanapun caranya"
Aku hanya menelan ludahku dengan susah payah mendengar ucapan Tomi.
"Jadi walaupun berat hati, aku harus mengikhlaskan ketika akhirnya kamu menikah dengan Adi" jawab Tomi tersenyum getir.
"Jadi itu perjanjian kalian?" tanya Mila dengan mata membulat.
Tomi mengangguk pelan dan kembali berusaha untuk tersenyum.
"Hadeheehh, andaikan saat itu kakak tahu ya apa yang terjadi sama Dinda....." sambung Mila sambil mengerling ke arah Putri.
Putri yang juga tahu apa maksud perkataan Mila langsung melirik ke arah Mila dan keduanya langsung cekikikan.
Dan aku yang tahu apa maksud dari perkataan mereka berdua langsung melotot kan mataku dengan tajam ke arah mereka berdua dan langsung menggeleng cepat.
__ADS_1
"Memangnya apa yang terjadi sama Dinda?" tanya Tomi menoleh ke arah Mila dan Putri.
Aku kian melotot kan mataku dengan tajam ke arah Mila dan Putri sampai aku berusaha untuk menendang kaki keduanya.