
Dua minggu berikutnya kembali aku dan Adi bertemu di pengadilan. Kembali kami saling tatap dan aku lihat bagaimana perubahan fisiknya
Putri menggamit lenganku ketika aku hanya menatap pada Adi. Dan menggeleng keras
"Tenang aja, aku hanya kasihan melihat keadaannya, tampak sekali dia tak terurus"
"Itu bukan lagi urusan kamu. Ingat bagaimana dia menyakiti kamu"
Aku mengangguk dan melangkah mengikutinya yang terus memegangi lengan tanganku
Kami duduk di kursi, menunggu bapak hakim dan yang lainnya masuk. Aku segera merogoh hp dalam tas yang saat ini ku letakkan di pangkuanku karena terdengar nada panggilan masu
Putri melongok kan kepalanya kearah hp ku dan menyenggol bahuku dengan bahunya sambil menaikkan alisnya berkali-kali dan tersenyum nakal
Aku menghembus nafas panjang dengan wajah berubah kesal, tapi tak urung panggilan itu kuangkat juga
Semangat ya dek
Aku hanya berdehem menjawab ucapan Tomi
"Belum mulai kan?"
"Iya belum, kenapa?"
"Kakak tunggu kamu di tempat Putri lagi ya?"
Aku berdecak
"Nggak usah, mending kamu kerja aja, emang nggak ada proyek apa?"
"Ada, tapi kakak tinggal"
"Jangan suka mengabaikan amanah, ingat setiap amanah itu akan dimintai pertanggungjawaban"
Terdengar suara terkekeh Tomi, sementara kulihat orang yang ada dalam ruangan ini berdiri
"Maaf Tom pak hakimnya sudah masuk, nanti lagi ya"
Semangat dek, kakak tunggu janda kamu
Aku memejamkan mataku menahan kesal mendengar ucapannya, tapi berhubung pak hakim telah duduk mau tak mau aku harus mematikan obrolan dan segera duduk seperti yang lain
Sidang kembali dibuka untuk umum dan mulailah pengacara Adi mengeluarkan bukti mereka yang langsung dipatahkan oleh bukti yang ditunjukkan oleh Putri
Aku hanya menatap kearah Adi bagaimana dia lebih banyak menunduk dan menarik nafas panjang ketika Putri membeberkan segala macam bukti pada hakim
Sidang menjadi sedikit alot karena pengacara Adi membeberkan fakta tentang aku yang menghalangi pekerjaan Adi dan menguasai harta benda
Mataku yang tadi memandang kasihan pada Adi berubah menjadi pandangan benci ketika lawyernya menuduhku dengan yang tidak-tidak
Karena sidang masih juga tak menemukan titik terang, akhirnya sidang kembali ditunda dengan agenda harta gono gini dan juga hak asuh anak
Ketika hakim dan juga hakim anggota serta yang lainnya keluar, barulah aku kembali terduduk dan memijit-mijit keningku
"Are you okay?"
Aku hanya mengangguk kearah Putri yang memandang khawatir padaku.
Adi mendekat dan aku melengos kearahnya
"Kamu kenapa Din?"
Aku mendecak kesal dan melengos melihatnya yang berdiri di depan mejaku
"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Putri sinis
"Aku mau melihat keadaan Dinda, aku hanya ingin memastikan jika dia baik-baik saja"
__ADS_1
Aku segera bangkit tak memperdulikan basa basi Adi yang sok perhatian
"Din....?" kejarnya menarik tanganku
Aku berhenti lalu menoleh kearahnya
"Kita ketemu di sidang minggu depan Adi, aku pusing mendengar tuduhan kamu yang nggak benar itu"
Adi hanya menatap bengong padaku lalu aku menarik kasar tanganku dan berjalan meninggalkannya
Putri yang berdiri di dekatku menatap tajam pada Adi sampai akhirnya dia juga berjalan cepat menyusul ku
"Din.....?"
Adi sepertinya tak tinggal diam, dia berlari mengejar ku
"Mau apa lagi?" ucapku sambil berjalan cepat
"Din, tolonglah kamu kasihani aku, aku terpaksa melakukan ini karena memang saat ini aku benar-benar tidak ada pendapatan"
"Bukan urusan ku"
"Tolong Din!"
Aku berhenti dan menatap tajam padanya
"Kita tunggu apa kata pengadilan, dan kamu juga harus ingat Adi, bagaimana selama ini aku membayar semua hutang-hutangmu"
Adi terdiam dan aku kembali melanjutkan langkahku
Dengan cepat aku berjalan menuju mobil, dan saat aku akan masuk kedalam mobil, Putri menarik pundakku
"Ke Kantorku dulu, kita bahas masalah persidangan hari ini"
Aku mengangguk lalu masuk kedalam mobil lalu segera mengikuti mobil Putri yang telah berjalan terlebih dulu
Aku segera menghidupkan lampu sen saat kulihat Putri menghidupkan lampu sen mobilnya
Dan aku hanya bisa menarik nafas panjang ketika di depan kantor Putri kulihat mobil Tomi telah terparkir
Putri yang duluan turun segera mendekat kearah mobilku dan mengetuk kaca mobil
Aku segera mematikan mesin mobil lalu turun dan langsung memasang wajah bete
"Mobil Tomi kan?"
Aku mengangguk
"Berarti ada dia di dalam?"
Aku mengangkat bahuku. Putri terkekeh karena dia tahu jika aku sedang kesal
Dengan sayang dirangkulnya pundakku dan dibawanya masuk
Sama seperti dua minggu yang lalu, karyawan Putri memberitahu kami jika ada tamu yang telah menunggu kami
Putri segera mendorong pintu ruang kerjanya lalu kami masuk
Melihat kami masuk, Tomi segera berdiri dan memamerkan senyum manisnya
Tomi mengulurkan tangan kearah Putri yang langsung disambut oleh Putri lalu berpindah padaku yang kusambut dengan menempelkan punggung tangannya di keningku
"Cie cie....." ledek Putri
Aku menoleh kearahnya sambil berdecak kesal
"Apa sih Put?" ucapku kesal sambil duduk
__ADS_1
"Emang kamu tiap salim sama kak Tomi kaya gitu?"
Aku menganga dan menoleh cepat kearah Tomi
"Alah maafkan, nggak sadar tadi" ucapku sambil mengibaskan tangan di depan wajahku
Kulihat Tomi mengambil bungkusan yang sejak kami masuk sudah kulihat tergeletak di atas meja
"Makan dulu biar nggak bete"
Aku menarik nafas panjang, tapi tak urung aroma makanan yang menusuk hidung membuatku segera duduk di lantai dan langsung membukanya
"Duduk di atas nah Din"
Aku menggeleng kearah Putri dengan segera membuka ikatan pada bungkusan lalu mulai menuangkan bakso yang kuahnya sangat merah tersebut ke mangkuk yang juga diletakkan Tomi di sebelahku
"Es nya"
Aku hanya mengangguk tanpa menoleh kearah Tomi karena aku telah mengunyah
Putri dan Tomi hanya memperhatikanku yang makan
"Kalian nggak lapar?"
Keduanya tersenyum lalu mengambil makanan mereka masing-masing
"Bagaimana tadi?"
Aku menghentikan sendok yang siap masuk kedalam mulutku, lalu menatap Tomi dengan tajam
"Aku lagi makan, jangan buat mood ku kacau"
Tomi kaget tapi karena dia telah faham watak Dinda dia hanya mengangguk sambil tersenyum kecut, sedangkan Putri kembali menatap dua orang yang ada di depannya dengan lirikan penuh tanda tanya
"Kak Tomi begitu perhatian sama Dinda. Ini Dinda berusaha cuek apa dia memang trauma?" batinnya sambil terus mengunyah
Satu jam selanjutnya, aku dan Putri telah terlibat masalah serius membicarakan tentang sidang tadi
Dan Tomi hanya menjadi pendengar yang wajahnya juga ikutan serius dan tampak melihat ke arahku dan Putri bergantian
"Jadi Din seperti yang telah aku katakan sebelum kamu melayangkan gugatan, bahwa memang nggak bisa jika kamu bersikeras nggak ngasih harta gono gini sama Adi"
Wajahku langsung berubah masam
"Tapi seperti yang telah aku katakan, kita kumpulkan semua bukti pembayaran hutang piutang Adi, korupsi-korupsinya dia, semoga itu menjadi alasan bagi hakim untuk memutuskan seberapa besar dia dapat bagian"
"Dan itu lama?"
Putri mengangguk
"Bisa iya bisa tidak, tergantung bagaimana alotnya nanti dipersidangan. Jika kalian sama-sama ngotot mau menang sendiri, bisa dipastikan bakal lama"
Aku menghembus nafas panjang
"Yang penting, dua minggu lagi kita sidang putusan, baru setelah itu kita ajukan sidang pembagian harta gono gini, jika mau lewat pengadilan artinya akan ada lagi sidang, jika tidak, ya kita selesaikan secara kekeluargaan"
Aku kembali menarik nafas panjang dan merebahkan kepalaku
"Mana baik menurut kamulah Put, aku ngikut aja"
Putri tersenyum sambil mengusap-usap lenganku
"Ini dek, makan coklat dulu. Tadi kakak sudah belikan cake yang full coklat lumernya"
Aku hanya melirik kearah Tomi yang mengulurkan cup coklat padaku
"Ya Tuhan cowok ini....." keluhku dalam hati sambil meraih cup tersebut lalu segera melahapnya tanpa menoleh lagi padanya
__ADS_1