
"Kalian kok nggak bilang kalau mau kesini?" tanyaku mencoba meredakan mereka yang masih terus menggodaku
"Bukan surprise namanya dodol..." jawab Rohaya langsung meneyeng kepalaku
Aku mencibir kearahnya yang segera mendekap ku hangat
"Kak Tomi nggak pulang?" tanya Vita
"Kamu kok nanyanya gitu sih Vit?" protes Lisa
"Maksud aku tuh, kalau kak Tomi pulang aku bisa nebeng dia, biar Putri nggak kejauhan nganter aku, ihhh kamu kok sensi banget sih Sa" bela Vita
Aku tersenyum melihat mereka berdua ribut
"Ya elah, gimana kak Tomi mau pulang, orang sedetik aja dia nggak mau ninggalin Dinda pas di rumah sakit kemarin" goda Mila yang kembali sukses membuat merah wajahku
Kembali sahabatku cekikikan, sedangkan kak Tomi hanya tersenyum
"Eh, sudah. Kasihan itu Dinda, masak nanti wajahnya saking meronanya" goda Putri
Refleks aku memegang pipiku yang malah membuat keenam sahabatku terbahak
"Terima kasih ya karena kalian sangat care sama Dinda" ucap Tomi meredakan keenam sahabatku yang terus menggodaku
Keenamnya berhenti terbahak lalu bersikap normal dan mulai jaim
"Nggak usah berterima kasih kak, ini sudah menjadi kewajiban kami" jawab Nanda
"By the way, kamu masih nggak boleh kerja berat-berat, ngerti?" ucap Mila sambil memegang perutku
"Terus pekerjaan kantor aku bagaimana kalau aku libur terus Mil?" protes ku
"Nanti kalau benar-benar sembuh baru boleh kerja, untuk sekarang kamu harus libur, sekali-sekali makan gaji buta nggak apa-apalah Din"
Aku melongo mendengar jawaban Rohaya
"Emang bisa gitu?" tanyaku bloon
Kembali kepalaku diteyengnya dengan gemas
"Untuk pekerjaan kamu kak Burlian telah nyuruh yang satu ruangan sama kamu untuk handle semuanya, jadi kamu tenang saja Din"
__ADS_1
Aku menoleh kearah Tomi yang barusan menjawab
"Tuh, jadi nggak ada alasan lagi buat kamu ngeyel, ngerti?"
Aku mengangguk kearah Mila yang berkata serius padaku
"Mil, kak Julistiar ada bicara tentang Adi nggak?" tanyaku ingin tahu, karena aku masih terpikirkan dengan omongan ibu-ibu tadi
"Kenapa kamu masih nanya parasit satu itu?, jangan bilang ya Din kalau kamu masih peduli sama dia"
Aku tersenyum melihat wajah Mila yang langsung berubah jutek
"Ada yang bilang dia digebukin di penjara, makanya aku kepo" jawabku
"Masih mending dia cuma aku gebukin, pengen aku sih dia aku matiin" jawab Mila santai sambil mencomot kue yang tadi disuapi nya padaku
"Maksudnya?" tanya Putri
"Aku yang gebukin Adi"
"Hahhhhh???!" teriak kami kompak
Mila menoleh dengan raut wajah tak senang kearah kami yang kaget mendengar jawaban santainya
"Beneran kamu yang gebukin mas Adi?" ulang ku tak percaya
"Ya Iya lah, kenapa emangnya?, nggak usah sok kaget gitu deh Din, biasa aja, kalian juga kenapa malah kaget?" masih Mila bersikap cuek dan terus mengunyah
"Babak belur Mil?" tanya Nanda polos
Mila mengangguk, lalu dia menceritakan semuanya secara detail sampai kami semua terkaget-kaget mendengar ceritanya
Aku bahkan sampai bergidik ngeri membayangkan Adi yang babak belut dihantam tendangan taekwondo Mila
"Kamu benar-benar ya Mil..." gumamku
"Itu balasan karena dia sudah berani nusuk kamu, pengennya aku tuh dia itu aku tusuk juga, terus dia juga koma kaya kamu"
Aku nyengir mendengar jawaban Mila
"Kok kamu bisa gebukin mas Adi gimana ceritanya Mil?" Tomi bertanya, dan aku menoleh kearahnya yang sekarang duduk bersebelahan kursi dengan ku
__ADS_1
"Bisalah kak, kan suami aku yang nangkap Adi, jadi tinggal aku datangin aja dia"
"Iya kakak tahu, maksud kakak kan nggak sembarangan Mil bisa masuk nemuin tersangka, jelas tersangka di BAP dulu, terus di tahan, baru beberapa hari berikutnya bisa dijenguk"
"Kak, polda papi nya Mila, mana berani bawahan papinya membantah ucapan Mila" jawab Rohaya santai yang dibalas Mila dengan pukulan di bahunya
"Nggak gitu juga kali, aku juga sempat nggak dibolehin masuk sama petugas di sana bahkan suami aku sampai melarang aku kesana kok" bela Mila dengan wajah cemberut
"Kok bisa masuk?" kejar Lisa
"Ya aku pura-pura telpon papi dan bilang jika petugas di polsek itu ngelarang aku masuk" masih Mila menjawab dengan santai
Kami langsung terkekeh mendengar jawaban santainya, bahkan aku sampai geleng-geleng kepala
"Kalian tahu nggak sih, bagaimana pucat nya wajah petugas itu saat aku ngomong pi aku nggak dibolehin masuk nih sama petugas yang namanya ini, uhhhhh.... pucat bestie wajahnya" Mila sambil terbahak memperagakan bagaimana paniknya wajah petugas yang dibohongi nya
"Harusnya kamu nggak usah sampai segitunya Mil, kasihan mas Julistiar, dia pasti kebingungan, satu sisi dia harus menegakkan hukum, satu sisi dia harus berhadapan dengan kamu yang keras kepala"
Mila kembali mencibir
"Salahnya kenapa berani-beraninya nyakitin sahabat aku"
"Aaaahhhh...." jawabku terharu dengan nada manja kearah Mila sambil mengarahkan kedua tanganku kearahnya
Dengan cepat Mila bangkit lalu merangkulku.
"Terima kasih ya Mil, aku terharu banget dengan kasih sayang kamu sama kamu"
"Bukan cuma sama kamu, yang lain juga, jika ada yang berani macam-macam sama kalian, aku orang pertama yang akan turun tangan" ucap Mila sambil mengusap punggungku
"Aaaahhhhh....." gantian Rohaya yang terharu mendengar ucapan Mila, spontan dirinya ikut mendekap kami disusul yang lain juga mendekap kami berbarengan
Dan Tomi yang melihat bagaimana solidnya persahabatan kami tersenyum haru
"Salut kakak sama persahabatan kalian" ucap Tomi yang menyadarkan kami sehingga melepas dekapan kami dan terkekeh tak jelas
"Makanya kak jika nanti kakak menikah sama Dinda, jangan pernah mikir buat kdrt kalau tidak mau babak belur oleh Mila" ucap Rohaya yang disambut kami dengan kembali terkekeh
"Jangankan untuk menyakiti Dinda, lihat Dinda tak sadar kemarin saja, nyawa kakak serasa sudah di kerongkongan" jawab Tomi sambil menatap dalam mataku
Aku tersenyum mendengar ucapannya tapi berbeda dengan keenam sahabatku yang terbahak dan saling pukul
__ADS_1
"Cie cieee....." goda mereka lagi yang kembali membuat wajahmu merona