Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Salah Faham


__ADS_3

Dengan cepat Tomi yang tadi terus menatap ke arahku sekarang menggeser duduknya, dan langsung memiringkan posisi duduknya


“Aku nggak ada waktu ya ngeladeni orang gila macam kamu” lanjutku


Tomi memberi kode dengan menaikkan alisnya ke arahku, sepertinya dia penasaran siapa yang meneleponku. Ibu mertuaku juga melakukan hal yang sama, beliau sekarang juga menatap serius ke arahku


“Buk, aku sudah tiga bulan ini keluar dari penjara” sambung Adi di seberang tanpa mempedulikan nada suara ku yang ketus tadi


“Bodo amat, mau keluar kemarin kek, mau hari ini kek. Emang apa urusannya sama aku. Ingat ya Adi, aku itu sudah menikah. Dan aku sudah bahagia sama suami aku, jadi kamu jangan ganggu hidup aku lagi. Lagian heran deh, ngapain pula kamu masih ngubungin aku. kamu cari itu Yesa sama anak kamu. Urusin mereka, malah ngubungin aku. Dasar saraf” sungutku


Tomi menarik nafas panjang, kemudian menoleh kearah ibunya begitu mengetahui jika yang meneleponku barusan adalah Adi, mantan suamiku


“Sudahlah aku capek, aku banyak kerja. Awas kalau hubungin aku lagi!!!” lanjutku sambil memutus panggilan


Dengan wajah kesal aku langsung menghapus log panggilan masuk dari Adi tadi, kemudian meletakkan hp ku di atas meja. Lalu menoleh kearah suami dan ibu mertuaku


“Semuanya baik-baik saja kan?” tanyaku sambil bergantian melihat kearah mereka


Tomi tersenyum, kemudian mengusap perutku. Sementara ibu mertuaku masih seperti tadi mimik wajahnya, datar


“Baik-baik saja sayang. Jangan khawatir” jawab Tomi sambil terus mengusap perutku


“Heran deh, dari mana pula Adi dapat nomorku” sungutku dengan kesal


“Kamu nggak pernah ganti nomor, jadi wajar dong jika mantan suami kamu masih ingat nomor kamu” jawab ibu mertuaku


Aku langsung menelan ludahku begitu mendengar jawaban dingin dari ibu mertuaku. Tidak pernah beliau seperti ini, dan aku merasa tak enak hati begitu mendengar jawaban ketusnya


“Ibuk ah….. ya bukan salah Dinda juga dong buk. Ngapain juga Dinda harus ganti nomor. Toh, depan kita Dinda ngomong sendiri kalau dia marah sama mas Adi. Lain cerita kalau memang Dinda berhubungan secara diam-diam”


Wajah ibu mertuaku menyiratkan tak suka ketika mendengar Tomi membelaku. Dan aku makin tak enak hati dibuatnya


Untunglah dari luar terdengar suara deru motor, dan tak lama masuklah Naya dan Arik bersama mbak Sri. Aku menarik nafas dalam merasa terselamatkan dari ucapan ketus ibu mertuaku selanjutnya


Naya dan Arik yang berlari masuk kedalam rumah langsung menghambur kepelukanku, kemudian keduanya langsung duduk di sebelahku


“Seru?” tanyaku pada mereka

__ADS_1


Keduanya mengangguk. Sementara mbak Sri yang masuk tersenyum ke arahku. Dan aku tiba-tiba jadi kefikiran dengan mas Adi tadi. Jangan-jangan dia dapat nomor aku dari mbak Sri, jadi begitu mbak Sri berlalu ke belakang aku meminta pada kedua anakku untuk kedapur karena aku haus


“Mbak!” panggilku ketika mbak Sri membuka kulkas dan mengambil botol minuman dingin


Mbak Sri menoleh ke belakang, ke arahku sambil menuangkan minuman dingin ke gelas kemudian menenggaknya


“Ya buk?” jawabnya sambil melihat ke arahku yang duduk di kursi meja makan.


“Apa mas Adi pernah ke rumah?”


Mbak Sri yang menarik kursi juga menghentikan gerakan tangannya, kemudian menatap ke arahku dengan raut kaget


“Pak Adi?” tanyanya dengan nada kaget yang kujawab dengan anggukan kepala.


“Nggak ada buk. Emang pak Adi sudah keluar dari penjara?”


Aku menarik nafas panjang kemudian menceritakan bagaimana tadi Adi meneleponku. Mbak Sri yang mendengarka ceritaku tampak khusyuk dan serius. Dan obrolan kami terpaksa terhenti ketika ibu mertuaku masuk ke dapur


“Kok diam?” tanya beliau


Dan entah kenapa, aku makin merasa jika beliau tak suka karena tadi mas Adi meneleponku. Aku hanya menarik nafas dalam mendengar pertanyaan ibu mertuaku, kemudian melirik kearah mbak Sri yang wajahnya juga menyiratkan tak enak


“Aku pulang buk, sudah sore. Takutnya anak sama suami aku sudah nunggu” ucap mbak Sri yang kujawab dengan anggukan kepala


Ibu mertuaku yang sedang minum hanya menatap kearah kami berdua. Kemudian mbak Sri berpamitan pada beliau, dan aku yang masih duduk di kursi segera memanggil ibu mertuaku ketika beliau mau meninggalkan dapur


“Buk, kita harus bicara” ucapku


Beliau hanya menoleh sekilas, kemudian menoleh kearah dalam


“Perlu panggil Tomi?” tanyanya


Aku menarik nafas panjang mendengr jawabannya, kemudian aku membuang mukaku ketika aku melihat beliau ngeloyor pergi dari dapur meninggalkan aku sendirian


“Mau ngomong apa sayang? Kenapa nggak di depan saja?” tanya Tomi yang membuatku kembali harus kaget ketika mendengar suaranya. Tomi tak sendiri, dia datang dengan ibu mertuaku. Dan sepertinya ibu mertuaku ingin kami bicara bertiga


“Kata ibuk ada yang ingin dibicarain, bicarain apa?”

__ADS_1


Aku menarik nafas panjang, kemudian memasang wajah masam. Kemudian aku melirik kearah ibu mertuaku yang entah kenapa tiba-tiba sangat menjengkelkan di mataku


“Ibuk kayanya curiga deh kak sama aku karena mas Adi tadi nelepon” ucapku


Tomi hanya tersenyum, kemudian dia menghembus nafas panjang


“Kok masih bahas masalah tadi sih, kan sudah Tomi bilang tadi buk, dan Tomi rasa semuanya sudah clear, iya kan?”


Ibu mertuaku melengos, kemudian dia menoleh ke arahku


“Iya sih, clear. Tapi apa kita tahu apa yang Dinda lakukan di luar?”


Mulutku sontak ternganga mendengar jawaban ibu mertuaku.


“Ya ampun buk, ibuk kenapa sih. Semuanya baik-baik saja tadi buk sebelum mas Adi nelepon. Terus kok sekarang ibuk malah jadi curiga gitu?” tanyaku tak percaya


“Please deh buk, aku itu bukan wanita semacam yang ada di benak ibuk. Ibuk tahulah bagaimana sayangnya aku sama Tomi. Dan jikapun aku masih cinta sama mas Adi, aku nggak mungkin gugat dia. Lagian kan ibuk tahu bagaimana aku dulu dengan mas Adi. Apa perlu luka tusukan mas Adi aku tunjukkan sama ibuk?”


Sekarang giliran ibu mertuaku yang memasang wajah masam mendengar ucapanku. Sementara Tomi diam melihat aku berbicara pada ibunya


“Tau ahhhh……..” ucapku merajuk dengan langsung berdiri dan mendorong kasar kursi yang tadi aku duduki


Dengan cepat aku berjalan kearah dalam dan langsung berjalan kearah kamar kami. Sebelum masuk kamar, aku menoleh kearah Naya dan Arik yang menatap curiga padaku. Kemudian tanpa berbicara pada mereka aku langsung masuk kamar dan menutup rapat pintunya


“Kenapa kamu nggak nyusul istri kamu?. Dia marah tuh” ucap ibu Tomi santai kearah Tomi yang masih duduk di tempatnya


Tomi tersenyum kemudian menggeser kursinya mendekat kearah ibunya, kemudian dia menarik tangan ibunya, dan menggenggamm erat jari ibunya yang mulai tampak keriput tersebut


“Jika ada dua wanita yang harus aku pertahankan di dunia ini, maka aku akan mempertahankan ibuk. Karena ibuk yang telah melahirkan dan membesarkan aku hingga aku jadi seperti ini” jawab Tomi sambil tersenyum getir


“Papa!!!!” Naya setengah berteriak begitu dia mendengar ucapan papa sambungnya itu.


Tomi menoleh kearah Naya yang menggelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya


“Memang ada masalah apa sampai papa begitu ngomongnya. Apa tidak begitu berarti ibuk aku untuk hidup papa. Heeemmmm” ucap Naya dengan senyum sinis menahan airmata yang telah mengambang di pelupuk matanya


Tomi menarik nafas panjang, kemudian mendongakkan kepalanya, sementara ibunya hanya bergeming menatap kearah Naya. Karena tak mendapatkan jawaban dari papa sambungnya, Naya segera membalikkan tubuhnya dan berlari kearah kamarnya. Dan Arik yang sepertinya faham jika ada kejadian yang tak beres hanya bisa menarik nafas panjang dan memilih masuk kedalam kamarnya

__ADS_1


“Naya orang lain buk, bukan anak aku. Jadi aku tidak masalah jika dia merajuk atau marah sama aku” sambung Tomi setelah cukup lama dia diam


__ADS_2